
Gisel kembali ke kamarnya dan langsung bersiap untuk mandi, karena hari memang sudah sore dan lagi tadi Leon mengajaknya untuk ikut ke acara kantor, entah itu acara seperti apa.
Selesai mandi Gisel mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, saat dia sedang sibuk dengan urusan mengeringkan rambut, Tiba-tiba pintu kamarnya digedur.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sebentar." jawab Gisel yang kemudian berjalan untuk membuka pintu, saat pintu terbuka terlihat seorang pelayan berdiri dengan sebuah kotak bingkisan yang ada ditangannya.
"Apa itu?" tanya Gisel yang penasaran.
"Ini dari tuan Leon nona, tuan menyuruh saya untuk memberikannya pada nona." jawab pelayan itu.
Gisel mengambil kotak bingkisan itu lalu si pelayan pun izin untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Gisel membawa kotak itu masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamarnya.
"Apa ini?" tanyanya penasaran dengan apa yang ada didalam kotak itu. Tanpa berpikir panjang, Gisel pun membuka kotak itu dan dia terlihat sedikit terkejut dengan apa yang ada didalam kotak itu.
__ADS_1
"Dress?" ucap Gisel.
"Hills? Apakah dia berencana menyuruh ku menggunakan semua ini." ucap Gisel tidak percaya saat melihat isi yang ada didalam kotak itu.
"Kenapa semuanya berwarna hitam, apakah ini pesta pemakaman." ucap Gisel, tapi dress itu cukup bagus menurutnya.
Gisel sudah mengeringkan rambutnya, tapi dia belum mencoba menggunakan drees itu, saat Gisel sedang berbaring diatas kasur, suara ketukan pintu kembali mengganggunya.
Dia berencana untuk membuka pintu itu, tapi belum sempat dia berjalan kesana, pintunya sudah terbuka, dan pelakunya adalah tuan muda kita Leon.
"Apa kamu tau sopan santun?" ucap Gisel yang kesal dengan sikap Leon ini.
"Hei, kamu pikir siapa dirimu, kamu ingin mengajak ku secara tiba-tiba, apa kamu ingin membuat ku malu, atau membuat dirimu malu." caci Gisel pada Leon, butuh waktu yang lama jika dia sendiri yang harus melakukan semuanya jadi wajar saja jika Gisel sedikit marah.
"Kamu terlalu berisik, kalian masuklah." ucap Leon menyuruh orang yang sedari tadi menunggu diluar kamar untuk masuk.
"Urus dia." ucap Leon yang kemudian pergi meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap orang-orang suruhan Leon itu.
"Mari nona, tuan muda tidak suka jika kita membuatnya menunggu terlalu lama." ucap orang itu. Mendengar kata-kata itu pun membuat Gisel hanya pasrah saja.
Orang-orang ini sepertinya sangat ahli dalam bidangnya, mereka bahkan membawa semua peralatan lengkap. Gisel didandani dengan sangat cantik dengan make up yang terlihat natural tapi sangat berkesan diwajahnya. Kulit Gisel yang memang sangat bagus membuat mereka tidak terlalu kesusahan untuk mem makeover wajah Gisel. rambut Gisel bahkan ditata dengan sangat cantik menggunakan catokan sehingga rambutnya tampak terlihat lebih lurus, tataan rambut Gisel memang sangat simple, sesuai dengan dress yang akan dia gunakan tapi biar pun begitu, dia tetap terlihat sangat cantik.
Tidak butuh waktu lama Gisel pun telah selesai didandani. Gisel melihat wajahnya didepan cermin, dia cukup terkejut melihat dirinya yang terlihat sangat berbeda, sangat cantik. bahkan orang-orang yang mendandani nya pun tidak berhenti memuji kecantikannya.
Setelah itu Gisel pun segera bergegas untuk turun kebawah.
"Aku sudah siap." ucap Gisel saat dirinya sudah berada di dekat Leon.
Mendengar suara Gisel membuat Leon sontak mengalihkan pandangannya dari ponselnya menuju ke sumber suara.
Leon cukup terpanah melihat kecantikan Gisel. walaupun terlihat sangat sederhana, Wajah Gisel tetap terlihat sempurna dengan apapun yang akan dia gunakan.
__ADS_1
"Baiklah, ayo berangkat." ucap Leon yang kemudian berjalan mendahului Gisel menuju mobil yang sudah disiapkan oleh supirnya didepan pintu rumah ini. Gisel pun mengikutinya dan berjalan di belakang Leon.