
Tidak sabar menunggu kedua orang tuanya pulang, akhirnya Alina menanyakan keberadaan sang adik dimana saat ini kepada asisten pribadi orang tuanya.
Alina berjalan keluar dari ruang dapur menuju ke ruang bekerja ayahnya, karena biasanya sang asisten akan ada disana saat orang tuanya pergi keluar kota.
Alina langsung saja membuka pintu ruangan itu tanpa permisi.
"Dimana Gisel tinggal sekarang?" tanya Alina.
"Maaf, saya tidak tau nona, lagi pula, itu bukan hak saya untuk memberitahu pada nona."
"Bukan hak kamu? Kamu bilang ini bukan hak kamu! Cepat katakan sekarang sebelum kesabaran ku habis." ancam Alina kepada asisten pribadi ayahnya itu.
"Maaf nona." balas asisten itu yang masih bersikeras bahwa dia tidak mengetahui keberadaan Gisel.
"Oh, jadi kamu mulai berani menentang ku ya, baik kita lihat saja apa yang bisa ku lakukan agar pekerjaan mu tidak selesai-selesai." ancam Alina lagi.
"Maaf nona, tapi saya benar-benar tidak tau dimana nona Gisel tinggal saat ini, saya hanya tau bahwa nona Gisel sudah menikah dengan seorang pengusaha muda." jelas asisten itu.
"Hanya itu? Kamu pikir aku akan percaya! Apa kamu lupa, jika saja kamu memberitahu ku sejak awal, aku yakin nasib adik ku tidak akan jadi seperti ini. Kamu tau kan dia selama ini sudah menderita, dan hal yang terjadi saat ini pasti juga sangat membuatnya menderita, dan lagi, tidak ada orang disampingnya yang menguatkannya."
"Kalian punya perasaan tidak sih!" Alina menumpahkan amarahnya pada asisten pribadinya itu. Setelah puas, Alina pun hendak berjalan keluar untuk pergi ke kamarnya.
"Ah, dan ingat, jangan beritau papa dan mama kalau aku sudah pulang, kalau sampai mereka tau, aku tidak akan segan-segan bertindak, kamu tau kan bahwa sepenting apapun kamu, mereka tetap akan memilih ku." ancam Alina lagi yang dia ucapkan pada asisten itu sebelum dirinya keluar dari ruang kerja ayahnya itu.
Sementara itu, sang asisten yang saat ini hanya sendirian diruang kamar itu pun hanya bisa termenung.
Nona Alina sangat mengerikan saat marah, wajar saja kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tidak anak, tidak orang tuanya, kalau marah benar-benar mengerikan, bahkan mereka bisa nekat, ucap asisten itu dalam hati.
__ADS_1
Sebenarnya bisnya itu tidak mungkin menelfon nya, ataupun menanyakan bagaimana proyek yang sedang Alina pegang, karena mereka percaya padanya. Mereka percaya bahwa Alina akan siap dalam setiap arahan yang dia berikan.
Sang asisten itu hanya bisa menarik nafas panjang dan mengusap dadanya agar bisa bersikap lebih sabar saat menghadapi sikap Alina yang seperti ini.
Alina berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada dilantai atas, dia langsung membuka dan kemudian menutup pintu kamarnya dengan kasar sehingga terdengar suara yang sangat keras.
****
Gisel terlihat sudah bangun pagi ini, rupanya dia sengaja untuk bangun lebih awal. Dia juga bergegas mandi, setelah mandi dia memakai baju rumah, dan segera berjalan kedapur untuk membuat sarapan.
Gisel menuruni anak tangga dan langsung saja kedapur. Saat sudah sampai didapur, dia melihat sang asisten rumah tangga serta beberapa pelayan sedang sibuk hendak membuatkan sarapan, Gisel yang melihat itu pun langsung saja menahan pergerakan mereka.
"Stop." ucapnya keras, yang membuat semua orang yang ada didapur sontak langsung menoleh kearahnya.
"Ada apa non?" tanya seorang pelayan yang kebingungan dengan sikap majikannya itu pagi ini.
"Tapi non.."
"Sudah bi, tidak apa-apa, lagi pula ini juga tugas ku." ucap Gisel. Mau tidak mau mendengar perkataan majikannya itu, para pelayan yang ada disana pun mengiyakan keinginan Gisel, tapi mereka tetap mengawasi majikannya itu.
Gisel terlihat sangat teliti dan cekaten saat sedang memasak.
Nona kita ini sangat hebat, dia sangat piawai mengola bahan masakan. bisik para asisten dan pelayan yang ada dirumah itu.
Tidak lama kemudian, masakan yang dia buat pun selesai, dia langsung meletakannya kedalam piring saji dan menaruhnya keatas meja makan. hanya masakan sederhana, tapi baunya sangat lezat sekali, dan lagi Gisel membuatnya untuk jumlah porsi yang cukup banyak, dia sengaja membuatnya begitu, agar yang lain juga bisa makan bersama.
"Nona sudah selesai?" tanya seorang pelayan.
__ADS_1
"Sudah bi, tapi beberapa peralatan bekas memasak tadi belum Gisel bereskan." ucap Gisel kepada pelayan itu, yang seperti jika dilihat adalah kepala pelayan.
"Oh itu, biarkan saja nona, nanti saya suruh yang lain untuk membereskannya." balas kepala pelayan itu.
"Tapi Gisel yang mengitorinya bi, masa kalian yang harus membereskannya."
"Tidak apa non, itu sudah menjadi tugas para pelayan disini."
"Tapi bi, Gisel tidak enak dengan kalian."
"Nona ini bicara apa, justru kamu lah yang merasa tidak enak dengan nona." balas pelayan itu lagi.
"Ya sudah kalau begitu, Gisel titip ini untuk dibereskan ya bi, Gisel panggil kakek untuk sarapan bersama dulu." ucap Gisel yang kemudian berjalan keluar ruang dapur dan menuju kamar sang kakek, karena sepertinya sang kakek sudah siap.
Setelah sampai di depan pintu kamar sang kakek, Gisel pun langsung menggedur pintunya, dan tidak butuh waktu lama, pintu kamar sang kakek pun terbuka, dan terlihat sang kakek sudah sangat rapih.
"Gisel? Ada apa?" tanya sang kakek yang bingung karena Gisel berdiri didepan pintu kamarnya.
"Gisel sengaja kemari untuk mengajak kakek sarapan, Gisel tadi sudah memasak untuk kakek." ucap Gisel.
"Woah kamu yang masak, seharusnya tidak perlu, kan ada pelayan yang bertugas untuk membuat makanan untuk kita di rumah ini."
"Tidak apa kek, lagi pula itu tidk sulit, ya sudah, ayo kita kebawah kek." ajak Gisel. Sang kakek pun hanya tersenyum, dia tidak menyangka jika Gisel bisa perhatian seperti ini padanya.
Saat mereka hendak kebawah, Tiba-tiba pintu kamar Leon terbuka, dan terlihat lah sosok Leon yang sudah siap dengan tas kantornya, dia juga terlihat sangat rapih.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanya kakek pada Leon. Leon hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang kakek.
__ADS_1
"Ya sudah, sebelum berangkat, kita sarapan dulu, karena hari ini sarapannya itu sangat spesial, sarapan itu dibuat langsung oleh Gisel. puji sang kakek. Leon tidak menolak, dan akhirnya pagi itu mereka pun sarapan bersama.