
Gisel duduk terdiam sambil memegang gelas minumannya, ia tampaknya cukup menikmati pemandangan pada malam hari di tempat itu. Sepertinya sedikit pun tidak ada rasa cemburu di hatinya karena melihat kejadian tadi, bahkan dia terlihat acuh tak acuh.
"Lihat lah, bukankah dia pasangannya Leon, kasihan sekali nasibnya." ucap salah seorang perempuan yang terlihat sangat senang menjadikan Gisel sebagai topik pembicaraan.
"Baguslah jika dia tidak memberontak, itu artinya dia cukup sadar diri dan sadar posisi." ucap temannya menyahuti perkataan temannya itu.
"Orang seperti dia mana pantas jika harus bersanding dengan Leon, kita lihat saja, sebentar lagi juga akan ada berita perceraian." sambung mereka dengan gelak tawa yang dibuat seelegan mungkin.
Gisel terlihat tetap diam dan tidak menanggapi perkataan dan hujatan yang terlontar kepadanya itu, karena memang dulunya dia sudah terbiasa dengan orang-orang yang seperti ini.
Jangankan untuk menanggapi, bahkan sekedar menoleh untuk melihat siapa yang membicarakannya dia enggan.
"Hei! apakah kamu tuli?" ucap sesorang yang sepertinya mulai kesal karena Gisel sama sekali tidak menunjukan reaksi sama sekali.
Gisel hanya menanggapinya dengan menarik nafas bosan.
"Hei! Berani sekali kamu bersikap seeprti ini." maki orang itu pada Gisel.
Gisel mengarahkan pandangannya pada orang yang baru saja berteriak dengannya itu.
"Jangan mengganggu ku." ucap Gisel memberikan peringatan lebih awal.
__ADS_1
"Kamu pikir kamu itu siapa sampai bisa menggertak kami."
"Benar, kamu itu hanya istri sementara Leon saja, jangan terlalu merasa bangga." ucap mereka yang tampaknya semakin menjadi-jadi.
"Apa mau kalian!" balas Gisel dengan nada dinginnya dan tatapan matanya yang mulai mengintimidasi.
"Hei, apakah kamu pikir dengan seperti ini kami akan takut dengan mu!" balas mereka tidak mau kalah.
"Aku hanya bertanya, tidak ada niat sama sekali untuk menakut-nakuti." balas Gisel dengan santainya sambil berdiri dan berjalan menuju segerombolan orang yang sedari tadi mencercanya.
"Dengarkan baik-baik, kalian bilang apa tadi? istri sementara? Dengar dengan jelas, walaupun aku hanya sementara setidaknya saat ini aku menyandang status yang sangat kalian impi-impikan itu."
"Kamu!" ucap seseorang yang hendak menampar Gisel, tapi dengan cepat Gisel menangkisnya.
"Sudah ku bilang dari tadi, bahwa kalian bukanlah tandingan ku, jdi jangan terlalu berharap." ucap Gisel dengan nada dinginnya.
Gisel lalu menepis tangan itu dan berniat untuk pergi meninggalkan kerumunan itu, tapi perkataan seseorang membuatnya menghentikan langkanya.
"Hei anak haram, jangan terlalu berharap untuk kebahagian, karena kebahagian tidak akan pernah ada untuk orang seperti mu." ujar orang itu yang membuat Gisel menghentikan langkahnya.
Gisel memutar tubuhnya dan menghadap orang yang berbicara tersebut.
__ADS_1
"Coba kamu ulangi lagi perkataan mu tadi." ujar Gisel sambil menahan amarahnya.
"Kamu itu hanya anak.."
Plak...
Belum sempat ucapan itu terselesaikan satu tamparan sudah mendarat di pipi perempuan itu.
"Kamu!"
"Apa? apa kamu pikir aku akan takut pada mu!" ucap Gisel lagi dengan penuh penekanan.
"Ingat, saat ini aku adalah nyonya muda yang harus kalian hormati dan takuti, jika kalian membuat masalah dengan ku, maka aku pastikan kalian akan membayar berkali-kali lipat." ancam Gisel yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Semua orang disana memandang kepergian Gisel dari tempat itu, banyak yang tidak menyangka jika Gisel akan melakukan hal itu.
*****
Selama perdebatan itu, rupanya ada sepasang mata yanh sedari tadi tidak berhenti mengawasi setiap gerak gerik yang terjadi.
Leon, dari tadi matanya tidak lepas dari Gisel, dia memperhatikan setiap yang Gisel lakukan, ada senyum bangga terlihat diwajahnya ketika wanitanya berhasil membungkam mulut orang-orang yang ingin menghinanya itu.
__ADS_1