
Setelah puas berkeliling Alina dan Gisel pun memutuskan untuk pulang. Berbeda dengan saat berangkat tadi, saat ini mereka pulang menggunakan taksi. Alina bilang dia sudah tidak ada tenaga lagi jika harus berjalan kaki. Dan gisel pun hanya menurutinya saja.
Sesampainya di apartemen, Gisel dan Alina langsung istirahat, malam ini mereka benar-bemar lelah.
****
"Yo whats up bro." Ucap seseorang.
"Berhenti sok inggris." Ucap seorang pria yang baru datang tadi.
"Kita sudah lama disini, jadi tidak apa lah jika sedikit melokal." Balas temannya.
"Tapi wajah mu benar-bemar tidak cocok." Ucap orang itu lagi.
"Brayn lu benar-benar minta gibeng iya." Ucap orang tadi.
"Nah, gitu kan enak dengernya Can." Balas Brayn sambil tertawa.
Brayn dan Candra, mereka merupakan orang asli Indonesia. Tapi mereka sudah cukup lama tinggal di Singapore. Baik Brayn maupun Candra mereka sama-sama dari daerah Jakarta. Umur Candra sebenarnya terpaut cukup jauh dari Brayn. Saat ini Brayn berumur 20 tahun, sementara Candra sudah 24 tahun. Meskipun begitu mereka berdua tetap berteman baik, bahkan mereka bersahabat. Bryan di Singapore untuk melanjutkan kuliahnya. Sementara Candra, dia memang bekerja disini. Dia bekerja disebuh caffe mewah yang ada di kawasan Holland Village ini.
Setiap hari caffe tempatnya bekerja itu selalu ramai, dan rata-rata banyak anak remaja yang datang kesana karena memang menu yang ada disana enak-enak. Dan lagi sepertinya ketampanan Candra juga menjadi alasan kenapa caffe itu sangat ramai pengunjung. Apalagi jika Bryan terkadang melakukan konser dadakan. Ramainya bisa-bisa sampai membuat pekerja disana kewalahan.
__ADS_1
Meskipun mereka berdua tampan, mereka tetap welcome kepada semua orang, tidak sombong sama sekali. Itulah yang menyebabkan banyak orang yang suka dengan mereka.
Bryan adalah tipe orang yang ramah dan murah senyum. Dia juga pintar dan pa dai dalam bidang olahraga juga bermusik. Banyak perempuan yang mengakui kalau mereka jatuh hati pada Bryan, tapi Brayn tidak menerimanya. Dia bukan tidak suka dengan perempuan, hanya saja belum ada yang sesuai dengan tipe idealnya. Dia juga selalu menjaga image nya didepan banyak orang. Dia tidak mau disebut sebagai pria murahan karena memiliki banyak wanita disisinya. Baginya cukup satu dan untuk selamanya.
Pernah beberapa waktu lalu, ada seorang remaja perempuan yang menyatakan cintanya pada Bryan, tapi Bryan menolaknya.
"Bryan, I love you." Ucap perempuan itu.
"Sorry sis, we're just friend, I dont have felling for you." Jawab Bryan. Dia tanpa ragu menolak perempuan itu.
"What! But you're care to me, your.. Yo..Ur."
"I'm sorry, but I can't love you. I'm not a good person. Go find a good person more than me. You're a good girl." Ucap Bryan, yang kemudian berjalan meninggalkan perempaun itu.
Perempuan itu terisak, pernyataannya cintanya ditolak mentah-mentah. Padahal sebelum ingin mengatakannya, dia sudah yakin betul bahwa pujaan hatinya akan menerima cintanya. Tapi ternyata, dugaannya salah.
Bryan memanh cukup populer di kampusnya, mengambil jurusan kedokteran tentu saja membuatnya lebih di kagumi lagi oleh kaum hawa. Tampan, multi talenta, ramah, kaya dan tentu saja pintar.
Bukan satu atau dua orang yang tergila-gila padanya, melainkan banyak. Bahkan para remaja perempuan itu sampai membuat club fans untuk Bryan. Bryan tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan, selagi itu tidak mengganggunya, dia tidak masalah.
Malam ini Bryan sudah janjian dengan Candra untuk membantunya menjaga caffe. Dan karena terlalu terburu-buru, Bryan menabrak seseorang.
__ADS_1
"Oh." Ucap orang yang tidak Bryan kenal itu.
"Maaf." Ucap Bryan sekilas lalu kembali melanjutkan perjalannya lagi. Dia sempat melihat wajah perempuan itu. Bryan bahkan mengenali wajah perempuan itu jika suatu saat mungkin mereka akan berjumpa lagi.
****
Pagi hari, suasana didalam apartemen Gisel sepertinya cukup tenang, Alina terlihat masih bergelud dengan selimut dan mimpi indahnya. Sementara Gisel, dia sedang ada didapur. Saat ini dia sedang mencoba salah satu resep Dessert box. Gisel sengaja mencobanya, karena dia sangat ingin memakan makanan itu. Dari pada dia beli, lebih baik dia bikin sendiri, untung-untung sekalian belajar. Pikirnya.
Bukannya tidak mampu ataupun kekurangan uang untuk membeli, hanya saja buatan sendiri terkadang lebih bisa dipercaya.
Saat ini Gisel sudah berhasil membuat brownis untuk lapisan paljng bawahnya, dia juga sudah membuat lapisan untuk coklat, Caramel, buah alpukat, regal dan masih banyak lagi. Gisel tidak takut buatannya gagal, hanya saja mungkin tidak seenak buatan toko ternama.
Setelah memotong-motong brownis, dia lalu meletakkan potongan demi potongan itu kedalam box, setelah itu dia membeli lapisan lapisan yang lain, setelah selesai dia lalu menutupnya dengan bebrapa toping sesuai seleranya dan sang kakak. Seelah dirasa cukup Gisel langsung meletakkannya kedalam frezer.
Percobaan pertamanya telah selesai, Gisel pun merapikan dan membersihkan kekacauan yang telah dia buat didapurnya itu. Setelah bersih semua, dia berjalan menuju wastafel, Gisel mencuci semua peralatan dapur yang tadi dia pakai. Gisel memang sangat mandiri, karena dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah saat dirumah dulu. Mangkanya saat ini dia tidak terlihat gagu saat melakukan semuanya sendiri. Berbeda jika Alina yang melakukannya, yang ada bukannya bersih dan rapih, malah tambah hancur.
Setelah selesai dengan urusan dapur, Gisel lalu mengambil vakum dan membersihkan lantai, mulai dari ruang dapur, pantri, kamar dan ruang tengah. Saat Gisel sibuk membersihkan semuanya, bahkan dengan vakum, Alina tetap tidak bangun. Sepertinya Alina benar-benar kelelahan. Gisel sengaja tidak membangunkan Alina. Biarlah dia istirahat. Pikir Gisel.
Dan jadilah hari ini, hari dimana Gisel sibuk dengan pekerjaan rumahnya, dan Alina sibuk dengan mimpi indahnya. Memang pasangan kakak adik yang saling pengertian. Tidak ada iri satu sama lain. Mereka menyayangi dengan tulus. Alina bahkan siap menjadi Guardian untuk Gisel. Begitu pun sebaliknya Gisel. Dia rela menukarkan semua yang dia miliki agar sang akak bisa terus bahagia.
"Terimakasih." Ucap Gisel yang saat ini sedang duduk dipinggir kasur sambil menatap wajah tertidur Alina. Dia sangat bahagia karena masih ada Alina di hidupnya. Dia tidak pernah berharap ayah atau ibunya akan baik padanya, cukup Alina saja. Dia tidak pernah meminta lebih. Bahkan disaat dia mengontrol kesehatan batinnya, dia selalu mengingat wajah Alina, kakak yang sangat disayanginya dan menyayanginya. Walaupun Gisel sering bersikap dingin, tapi ketulusan hatinya pada Alina tidak pernah berpura-pura. Dia tidak pernah sekali pun iri dengan perlakuan yang Alina terima dari orang tuanya.
__ADS_1