
Tadi malam setelah mengobrol dengan Bryan lewat telfon Gisel langsung tidur. Dia benar-benar menikmati waktu tidurnya.
Pagi ini Gisel bangun dengan kondisi yang lebih baik dari kemarin. Dia langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi, setelah selesai dia langsung menggunakan pakaian yang sebelumnya dia bawa. Dia menguncir rambutnya, setelah itu dia langsung kebawah untuk sarapan, karena sebelumnya ada seorang pelayan yang datang ke kamarnya dan menyuruhnya untuk segera turun dan sarapan bersama.
Gisel pun keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah dan berjalan ke ruang makan. Di meja makan terlihat dua orang pria, yang satunya adalah Leon, dan yang satunya lagi sudah bisa Gisel pastikan adalah kakek dari Leon.
"Selamat pagi. Maaf membuat menunggu." sapa Gisel kepada Leon dan kakeknya.
Leon terlihat diam saja, tidak menjawab atau menanggapi perkataan Gisel. Tentu saja sangat berbeda dengan kakeknya yang terlihat ikut tersenyum pada Gisel.
"Nak, kemari, ayo kita sarapan bersama." ajak kakek Leon dengan nada yang sangat ramah pada Gisel. Gisel pun mengangguk dan tersenyum mengiyakan ajakan sang kakek.
"Bagaimana, kamu nyaman disini?" tanya kakek Leon di sela-sela acara sarapan mereka.
"Ah, sangat nyaman." jawab Gisel, yang tentu saja itu semua adalah kebohongan. Orang mana yang bisa merasa nyaman saat berada dirumah orang yang awalnya belum dia kenal, Tiba-tiba akan menjadi pasangannya, bukan hanya pasangan, mereka akan dibersatukan oleh sebuah ikatan pernikahan.
"Baguslah, kakek ikut senang jika kamu nyaman disini, jika kamu perlu sesuatu atau butuh sesuatu kamu katakan saja pada Leon, dia akan membantu mu." ucap sang kakek masih dengan nada ramahnya pada Gisel.
"Iya kek, terimakasih." jawab Gisel dengan ragu-ragu.
"Bagaimana bisa kakek dan cucu ini memiliki sifat berbeda, dan sangat bertolak belakang sekali." batin Gisel.
Melihat Gisel yang melirik kearahnya, Leon pun sontak menolehkan pandangannya kearah Gisel.
Dia menatap Gisel dengan pandangan yang merendahkan, yang membuat Gisel langsung saja membuang mukanya dan melanjutkan makannya.
"Kamu masih berkuliah?" tanya sang kakek lagi.
__ADS_1
"Iya kek, ini sudah hari ke-4 aku tidak masuk."
"Benarkah seperti itu? Kenapa kamu tidak bilang. Kamu berkuliah di Universitas of Singapore kan?" tanya sang kakek lagi.
"Iya kek." jawab Gisel sambil memakan sarapannya.
"Iya sudah, karena acara pernikahan kalian masih 1 minggu lagi, sebaiknya kamu kembali dulu kesana, urus libur dulu nanti untuk beberapa saat." suruh sang kakek pada Gisel.
"Iya kek, nanti Gisel urus." ucap Gisel pada sang kakek. Disaat Gisel dan kakeknya terlibat pembicaraan, Leon hanya diam saja menikmati sarapannya tanpa berniat untuk menimbrung dalam pembicaraan itu.
"Oh iya, disana kamu tinggal dengan siapa?"
"Gisel tinggal sendiri kek, di apartemen." jawab Gisel.
"Nanti jika kalian sudah menikah, kamu tinggal di apartement Leon saja, jangan menyewa." pinta sang kakek lagi pada Gisel.
Mendengar perkataan sang kakek, membuat Gisel segera menoleh kearah Leon, dan benar saja, Leon memasang wajah tidak sukanya dengan keinginan sang kakek itu.
"Aih, ya sudah, terserah kamu saja, tapi ingat pesan kakek untuk mengurus surat libur dulu, jadi kamu tidak ketinggalan smester." ucap sang kakek lagi. Gisel yang mendengarnya pun tersenyum.
Saat ini mereka sudah selesai dengan sarapannya, Kakek dan Leon pun sudah berpamitan untuk pergi ke kantor. Gisel yang memang tidak mempunyai kesibukan pun berinisiatif untuk mencuci piring kotor yang tadi mereka gunakan untuk sarapan.
"Nona, tidak usah, biar saya saja." ucap sang pelayan yang bertugas untuk bersih-bersih daerah dapur.
"Tidak apa bi, ini hal mudah, sudah bibi lakukan pekerjaan lain saja." suruh Gisel pada palayan itu.
"Tapi non, jika tuan besar tau, saya bisa mendapat masalah." tolak pelayan itu.
__ADS_1
"Tidak akan bi, sudah biar aku saja ya." ucap Gisel sambil terus mencuci piring yang kotor itu. Pelayan yang melihat itu pun mau tidak mau pasrah dan menyerah dengan keinginan nona baru dirumah ini itu.
Setelah selesai mencuci piring, Gisel kembali ke kamarnya dan berinisiatif untuk menelfon Natasya. Karena sebelumnya dia tidak berpamitan dengan Natasya saat ingin kembali ke Indonesia.
Gisel berjalan ke kamarnya dan mengambil ponselnya, dia langsung mencari nama Natasya di ponselnya dan langsung saja menelponnya.
Panggilan pun terhubung, dan tak butuh waktu lama Natasya langsung mengangkat telfon dari Gisel.
"Halo Gisel, ada apa?"
"Apa kabar, maaf waktu itu tidak berpamitan saat ingin pergi."
"Oh itu, iya tidak apa, santai saja."
"Kamu tidak bekerja?"
"Ini sedang siap-siap untuk pergi kerja."
"Oh begitu, iya sudah, nanti aku telfon lagi saat kamu sudah pulang kerja. Hati-hati iya. Bye." ucap Gisel yang mengakhiri percakapan mereka.
"Apa hanya perasaan ku saja, atau memang ada yang aneh dengannya, tidak biasanya dia bersikap seperti ini." pikir Gisel.
****
Dring... Dring...
Ponsel Natasya berbunyi, dia melihat ternyata ada panggilan masuk, dan itu dari Gisel.
__ADS_1
"Tumben sekali dia menelfon, apa yang ingin dia sampaikan." ucap Natasya. Setelah itu dia pun mengangkat telfon itu.
Mereka pun mengobrol singkat, karena Natasya bilang dia sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja, padahal hari ini dia sedang libur, entahlah apa yang dipikirkan Natasya sehingga dia membohongi Gisel yang sudah mempercayai dan menganggapnya sebagai teman