
Setelah sang ayah pulang Gisel masuk kedalam kamarnya dan berdian diri sampai sore, bahkan saat Leon pulang pun dia tidak melihat keadaan Gisel, sehingga membuatnya bertanya kepada pelayan yang ada di rumah itu, walaupun sebelumnya Gisel sudah menyuruh para pelayan untuk tidak bilang apa-apa pada Leon, tapi para pelayan itu tetap saja menjawab semua pertanyaan yang Leon ajukan dengan jujur.
"Dimana Gisel?" tanya Leon.
"Nona Gisel sedari pagi berdiam diri dikamar tuan."
"Dari tadi pagi?"
"Iya tuan."
Leon nampak berpikir sejenak.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi selama aku tidak ada?" tanya Leon lagi.
"Itu.. itu.." jawab pelayan itu terbata mengingat no nanya tadi menyuruh untuk tidak memberitahu Leon.
"Beritahu aku apa yang terjadi jika kamu masih ingin bekerja disini." ancam Leon pada pelayan itu.
"Tadi orang tua nona datang kemari, sepertinya terjadi perdebatan antara mereka, dan tadi nona terlihat menangis saat berjalan ke kamarnya." jawab pelayan itu.
"Menangis?"
"Iya tuan." setelah mendengar jawaban itu Leon langsung berjalan menuju kamarnya. Leon kira Gisel hanya akan mengurung diri sebentar saja, tapi ternyata saat makan malam pun dia tidak terlihat sehingga membuat dirinya diintrogasi oleh sang kakek, karena sang kakek mengjri dirinya lah yang membuat Gisel murung.
"Cepat kamu lihat dia, jika ada apa-apa dengannya kamu yang akan kakek salahkan." ancam sang kakek.
"Kenapa aku, kan dia yang tidak ingin makan, toh kalau sakit kan itu karena dia."
"Kamu itu suaminya, kamu harus bisa mengurus istri mu, dan lagi Gisel itu berbeda sehingga kamu tidak bisa menyamakannya dengan perempuan-perempuan diluar sana yang pernah bersama dengan mu." jelas sang kakek lagi, kakek Leon memang tampak sangat menyukai Gisel, padahal tidak ada yang spesial dari diri Gisel.
Leon hanya diam mendengar perkataan sang kakek. Dia tau, jika dia meladeni ucapan sang kakek yang ada malah mereka berdua yang akan berdebat.
__ADS_1
Selesai makan malam Leon langsung masuk ke ruang kerjanya. Dia mengambil berkas yang tadi sudah dia siapkan, lalu dia berjalan ke kamar Gisel.
****
Tok.. tok.. tok...
Mendengar ada yang mengetok pintu kamarnya Gisel pun langsung menoleh.
"Siapa?" tanyanya.
"Aku." jawab Leon singkat.
Gisel langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya.
"Apa?" tanya Gisel, matanya terlihat sangat sembab dengan bibir yang cukup pucat. Tanpa menjawab pertanyaan Gisel, Leon langsung masuk kekamar itu.
"Hei, tidak ada yang mengizinkan mu masuk." ucap Gisel karena kesal dengan tindakan Leon.
Leon berjalan mendekati Gisel yang duduk di atas kasurnya,
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Gisel yang sigap berdiri ketika melihat Leon mendekatinya. Leon tidak menjawab, dia hanya terus berjalan mendekati Gisel dan sontak membuat Gisel berjalan mundur hingga punggungnya terbentur dengan pintu. Gisel memejamkan matanya karena takut, dan jujur Gisel juga dalam keadaan yang kurang sehat.
"Tenang lah Gisel, aku tidak tertarik pada tubuh mu itu, jadi berhenti membuat keadaan seolah-olah aku akan menerkam mu." Ucap Leon dengan penekanan disetiap kaliamatnya.
Gisel masih tidak percaya, orang seperti Leon mana bisa dipercaya pikirnya.
"Aku bilang buka mata mu!" ucap Leon karena kesal.
"Duduk sini." ucap Leon menyuruh Gisel untuk duduk didekatnya. Gisel pun hanya bisa menurut.
"Baca ini." ucap Leon sambil memberikan amplop berkas yang sudah dia siapakan tadi.
__ADS_1
Gisel nampak bingung, dia meraih amplop itu dengan ragu-ragu.
"Aih, aku bilang baca, apakah kamu sudah tidak bisa mendengar perkataan orang lagi, atau kamu sedang tuli." ucap Leon yang sekali lagi dibuat kesal dengan sikap Gisel. Perempuan di depannya ini menang sangat aneh, terkadang dia bisa menjadi sangat berani dan terkadang dia juga akan menjadi sangat penakut.
Mendengar perkataan Leon, Gisel pun dengan buru-buru membuka amplop itu dan membaca semua isinya dengan sangat teliti. Gisel paham maksud isi dikertas itu, tapi dia tidak paham mengapa Leon harus menyuruhnya melakukan itu. Gisel menoleh kearah Leon meminta penjelasan.
"Apakah kamu paham dengan maksud, KAMU SUDAH KU BELI." Ucap Leon dengan penekanan nada yang membuat Gisel sedikit terkejut tapi seketika mengangguk.
"Jadi kamu adalah miliki, kecuali aku kamu dilarang untuk menangis karena orang lain, karena yang bisa menyakiti mu hanya aku, majikan mu." lanjut Leon lagi.
Majikan? Apakah kamu berpikir jika aku ini adalah seekor hewan. Sebegitu rendahnyakah diriku ini. Tidak hanya kamu, bahkan orang tua ku juga tidak pernah menganggap ku seperti manusia. Batin Gisel.
"Kenapa kamu diam, apakah kamu paham maksud ku?" tanya Leon saat melihat Gisel terdiam.
"Aku paham, lalu apa yang kamu mau?" tanya Gisel balik.
"Gampang saja, kamu harus menuruti semua perintah ku, sehingga aku juga akan membantu mu jika kamu menginginkan sesuatu. Dan jangan pernah membantah perkataan ku." lanjut Leon.
"Aku tidak tertarik." balas Gisel.
"Aku sedang tidak bernego dengan mu, itu murni perintah karena aku sudah membeli mu, aku tidak ingin punya barang yang tidak berguna." balas Leon lagi. Gisel menyipitkan matanya mendengar perkataan Leon tadi.
"Kenapa, kamu memang barang ku kan, kamu miliki ku jadi kamu harus menyadarkan diri mu untuk tidak berulah." lanjutnya lagi.
Benar, jika sudah seperti ini seharusnya aku tidak perlu takut lagi, dan aku juga harus melakukan apa yang telah aku ucapkan pada orang itu tadi. Saat ini yang bisa ku lakukan hanya dua diam dan menunggu saatnya aku akan dibuang. Atau bertahan dan mulai membalaskan dendam. batin Gisel.
Melihat Gisel cukup paham dengan maksudnya Leon pun pergi meninggalkannya dan kembali kekamarnya.
"Benar, hanya dia yang bisa membantu ku, aku tidak perlu takut, aku adalah istrinya, bahkan istri sahnya, sekalipun dia hanya membeli ku, tapi dimata publik pernikahan kami sah dan aku adalah istri satu-satunya. Menantu satu-satunya dikeluarga ini." ucap Gisel.
"Dan kamu, mari kita tunggu, aku akan membalas semua yang telah kalian lakukan pada ku. Maaf kak, aku sudah tidak bisa lagi menahan semua ini, aku tidak mau lagi diam, aku sudah terlalu lelah untuk memaklumi semua sikap buruk mereka pada ku."
__ADS_1
"Nenek, maafkan aku, aku tau kamu pasti akan sangat membenci ku karena sikap ku ini, tapi aku sangat lelah nek, aku ingin menunjukan pada mereka kalau aku ini bukanlah orang yang bisa mereka injak seenaknya saja, aku juga manusia yang mempunyai batas kesabaran." ucap Gisel sambil terisak mengingat kenangan pahit yang dulunya hampir setiap hari ia rasakan.