
Pagi ini Gisel berencana pergi ke kampus untuk mengurus cuti nya, walaupun hanya 2 minggu rasanya sangat tidak enak, terlebih lagi Gisel adalah seorang murid yang cukup genius.
Setelah sarapan Gisel mengambil tas dan langsung keluar, saat dia hendak mengunci pintu apartemen nya, Tiba-tiba Bryan muncul.
"Mau ke kampus?" tanya Bryan. Gisel menoleh kearahnya dan langsung menjawab.
"Iya, kamu mau berangkat kerja?" tanya Gisel balik ke Bryan.
"Tidak hari ini aku tidak ada jadwal." jawab Bryan.
"Owh begitu."
"Mau aku temani?" tanya Bryan lagi pada Gisel. Gisel yang kebetulan sedang merasa bosan pun mengiyakan ucapan Bryan. Lalu mereka berdua pun langsung pergi menuju kampus.
****
Sesampainya di kampus Gisel dan Bryan langsung menuju ke ruang dosen untuk menghap salah satu dosen yang kebetulan menjadi dosen penanggung jawab Gisel.
Gisel masuk ke ruangan tersebut, sementara Bryan menunggunya diluar.
"Tunggu sebentar ya." ucap Gisel yang kemudian langsung masuk ke dalam.
"Iya santai saja, tidak perlu terburu-buru." ucap Bryan sambil tersenyum.
Saat Gisel masuk, Bryan pun langsung duduk di ruang tunggu, dia mengeluarkan ponselnya dan bermain game.
****
"Bryan.." panggil Natasya. Bryan menoleh kearahnya dan sedetik kemudian kembali fokus pada layar ponselnya.
"Woah kebetulan sekali ya." ucap Natasya yang kemudian duduk di sebelah Bryan. Bryan tetap fokus pada layar ponselnya dan tidak menghiraukan Natasya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Natasya lagi yang sepertinya masih belum menyerah.
"Duduk." jawab Bryan singkat.
Natasya tersenyum canggung melihat respon laki-laki itu.
"Aku temani ya, kebetulan aku juga sedang menunggu teman ku." ucap Natasya lagi, dan lagi Bryan tetap tidak menjawab.
"Kamu tidak masuk kerja ya hari ini?" tanya Natasya lagi untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Bryan tetap diam dan sepertinya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.
"Hei ayolah jangan jutek-jutek begitu, kan kita sudah lama kenal." rengek Natasya yang sepertinya sedikit mengganggu telinga Bryan.
Saat Bryan hendak membuka suara, tiba-tiba pintu ruangan dosen pun terbuka, terlihat lah sosok Gisel yang keluar dari ruangan itu.
Melihat itu Bryan pun langsung berdiri dan tersenyum ke arahnya.
"Sudah?" tanya Bryan pada Gisel.
"Sudah, lama ya, maaf ya." ucap Gisel yang terlihat tidak enak karena menyuruh Bryan menunggunya.
"Tidak santai saja." ucap Bryan sambil tersenyum dengan tulusnya.
Melihat Bryan dn Gisel mengobrol, sepertinya dari raut wajah Natasya menunjukkan ekspresi kurang suka.
"Gisel, kapan kamu kembali?" tanya Natasya yang sepertinya ingin mengusaikan percakapan antara Bryan dan Gisel.
"Owh Sya, sejak kapan kamu disini?" tanya Gisel yang memang sedari tadi tidak melihat Natasya disana.
"Dari tadi, kamu saja yang tidak lihat." jawab Natasya dengan judes.
"Ya sudah ayo, katanya tadi mau makan siang bareng kan." ajak Bryan pada Gisel.
"Owh iya, Sya mau ikut makan?" tanya Gisel pada Natasya.
"Bo.."
"Dia sedang menunggu seseorang katanya." potong Bryan dengan cepat, karena jujur dia tidak terlalu suka jika ada Natasya.
"Owh begitu" angguk Gisel.
"I.. iya.." jawab Natasya.
"Ya sudah, kalau begitu kami duluan ya." ucap Gisel sambil melambaikan tangannya.
Setelah itu Gisel dan Bryan pun pergi meninggalkan Natasya.
"Ck bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu di depan Gisel dan bersikap dingin pada ku." ucap Natasya yang terlihat sangat kesal.
"Sya, kamu kenapa?" tanya teman Natasya yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ayo pergi." ajak Natasya pada temannya itu.
****
"Mau makan dimana?" tanya Bryan pada Gisel.
"Mmm aku kurang tau, kamu saja yang tentukan tempatnya." ucap Gisel.
"Oke bagaimana dengan restoran yang di seberang cafe?" tanya Bryan lagi.
"Boleh juga." jawab Gisel. Mereka pun akhirnya kembali berjalan ke arah restoran tersebut.
Saat hendak menyebrang, tiba-tiba ada pengendara yang melakukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Melihat hal tersebut Bryan sontak menarik tangan Gisel yang saat itu sedang bermain ponsel, sehingga tidak melihat pengendara tesebut.
Bryan berhasil menarik tangan Gisel dan memeluknya agar Gisel tidak terjatuh.
Jantung ke duanya berdetak begitu cepat karena sama-sama takut hal buruk akan terjadi tadi, untung saat Bryan sigap menariknya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bryan yang masih dengan wajah paniknya.
"Tidak apa-apa." jawab Gisel,
"Ya sudah hati-hati menyebrangnya."
"Sini tangan mu." lanjut Bryan lagi yang kemudian menggenggam jari Gisel. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke restoran.
****
"Pak itu bukankah nona Gisel?" tanya supir Leon, Leon saat ini hendak bertemu dega teman lamanya, tidak di sangka dia bisa berpapasan dengan Gisel.
Walaupun Leon tau apartemen Gisel dimana, dia tidak berniat untuk kesana.
Leon menoleh ke arah yang di tunjuk oleh pak supir, dia hanya menatap dingin ke arah Gisel yang saat itu sedang di peluk oleh seorang laki-laki.
"Biarkan saja pak, lanjut saja." ucap Leon yang kemudian memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan.
Sial. Umpat Leon dalam hati.
Mobil pun kembali melaju.
__ADS_1