
Leon saat ini tiba di salah satu restoran bintang 5 yang ada di daerah sini.
"Hallo kek." ucap Leon, saat sampai tadi kakeknya tiba-tiba menelfon.
"Bagaimana kabar mu dan Gisel?" tanya sang kakek dari seberang telfon.
"Aku baik, begitu juga Gisel."
"Bagaimana dengan pengurusan cuti nya?"
"Sepertinya sudah di urus kek, aku tidak sempat mengantarnya karena ada kesibukan juga disini."
"Apa yang lebih penting dari menemani istri mu."
"Kek, dia sudah dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri."
"Walaupun begitu kamu punya kewajiban atas Gisel, jika dia terluka maka kamu lah yang akan kakek salahkan."
"Iya kek."
"Ya sudah hati-hati." ucap sang kakek yang kemudian menutup telfonnya.
Leon bahkan tidak memberitahu kepada sang kakek jika Gisel tidak tinggal di apartemen nya, karena jika kakeknya tahu urusannya bisa jadi lebih panjang.
"Hei bro." sapa teman Leon yang ternyata sudah datang.
"Maaf membuat mu lama menunggu." ucap nya lagi.
"Santai saja, aku juga baru sampai." balas Leon.
Mereka berdua pun duduk dan memulai percakapan mereka. Leon membahas berberapa proyek yang baru saja dia diskusikan dengan asisten pribadinya.
Cukup lama mereka berdiskusi soal proyek.
"Kenapa kamu tidak membuka cabang di Shanghai saja?"
"Resikonya terlalu berat, lagi pula belum ada jaminan akan berhasil."
"Tingkat keberhasilannya hanya 20%." lanjut Leon.
"Benar juga, kalau seperti itu belum mendapat keuntungan prusahaan sudah lebih dulu gulung tikar." ucap teman Leon yang membenarkan ucapan Leon.
"Oh iya bagaimana kabar istri mu?" tanya teman Leon.
"Za, bisakah kita tidak membahas nya." ucap Leon pada temannya yang bernama Reza tersebut.
"Wow ada apa ini, baru menikah masa sudah seperti ini." ucap Reza yang terlihat mengolok Leon.
Leon menatap Reza dengan pandangan kesalnya. Entahlah semenjak melihat Gisel di peluk oleh seorang laki-laki di jalan tadi, mood Leon langsung hancur.
"Baikah-baiklah, jangan memandang ku seperti itu." Ucap Reza yang menjadi sedikit ciut.
Akhirnya mereka melanjutkan pembahasan mereka sambil menikmati hidangan yang ada di restoran tersebut.
__ADS_1
****
"Besok ada waktu?" tanya Bryan pada Gisel.
Saat ini mereka sudah berada di cafe yang tadi hendak mereka kunjungi, dan Bryan juga sudah memesan makanan untuk mereka berdua.
"Sepertinya free, kenapa?" tanya Gisel balik.
"Mau jalan?" tanya Bryan lagi.
"Kamu punya saran tempat yang bagus?" tanya Gisel yang sepertinya tidak akan menolak ajakan Bryan.
"Ada beberapa tempat yang ingin ku kunjungi, jika kamu tidak sibuk ayo pergi bersama." ucap Bryan mengajak Gisel.
Gisel menoleh kearah Bryan dan nampak sedikit berpikir sebelum akhirnya.
"Baiklah, tapi jangan sampai mengecewakan." ucap Gisel sambil tersenyum.
"As your wish princess." ucap Bryan yang kemudian tersenyum lembut dengan Gisel.
Mereka berdua sepertinya larut dalam pembicaraan bahkan tidak terasa hari sudah mulai sore, dan makanan yang mereka pesan tadi pun juga sudah habis semua.
"Ingin langsung pulang?" tanya Bryan saat melihat Gisel membenahi barang-barangnya.
"Kamu belum?" tanya Gisel balik.
"Ya sudah ayo ikut aku dulu." ajak Bryan yang kemudian Menggandeng tangan Gisel. Baru kali ini Gisel nyaman saat bergandengan dengan seseorang.
****
"Kamu senang?" tanya Bryan pada Gisel saat melihat senyum lebar di wajah gadis itu.
"Iya, tempat ini sangat bagus." ucap Gisel sambil tersenyum.
"Baguslah jika kamu senang." ucap Bryan lagi.
Sejak tau bahwa Gisel hanya punya waktu 3 hari disini dan kemudian akan pulang lagi ke Indonesia, sepertinya Bryan ingin menghabiskan waktu dengan Gisel lebih lama.
Mereka berdua nampak menikmati pertunjukan kembang api tersebut.
"Hei hei, lihat itu." ucap Reza sambil menunjuk ke arah luar. Leon mengikuti arah tangan Reza dan disitu dia lagi-lagi melihat Gisel bersama dengan laki-laki.
"Bukankah itu Gisel." ucap Reza lagi.
Tidak mendengar, Leon hanya terdiam di tempat duduknya sambil menatap kearah Gisel. Gisel terlihat tersenyum lebar disana, entah apa yang Leon pikirkan saat ini.
"Bagaimana bisa dia tersenyum seperti itu saat bersama dengan orang lain." batin Leon.
"Gisel, kamu sungguh luar biasa." batin Leon lagi.
"Hei Leon mau kemana kamu." teriak Reza saat Leon berjalan keluar dari restoran.
"Aih, ternyata pria tampan seperti Leon juga bisa di campakan ya." gumam Reza yang ikut berjalan keluar dari restoran tersebut.
__ADS_1
****
Leon saat ini sudah berada di dalam mobilnya. Dia langsung menelfon sekertaris pribadi nya.
"Pesankan tiket pesawat untuk besok, satu orang saja." perintah Leon.
"Baik pak."
Setelah itu Leon langsung mematikan telfonnya secara sepihak. Dia terlihat benar-benar kesal saat ini, bagaimana bisa dalam satu hari ini dia melihat gadis itu sangat romantis dengan laki-laki lain, sementara saat bersamanya gadis itu hanya memperlihatkan tatapan datarnya yang sangat dingin itu.
"Arghhh." teriak Leon frustasi. Dia kemudian memejamkan matanya sambil berbicara kepada supirnya.
"Langsung ke apartemen saja." ucap Leon.
****
"Aku senang." ucap Bryan saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Gisel.
Gisel tampak bingung dengan ucapan Bryan tersebut, dan memilih untuk diam sampai Bryan melanjutkan ucapannya.
"Karena kamu terlihat sangat bahagia hari ini, bahkan aku tidak ingat berapa kali aku melihat mu tersenyum." lanjut Bryan lagi.
"Benarkah? Aku bahkan tidak menyadarinya." balas Gisel.
"Sudah sejak lama aku tidak seperti ini." lanjut Gisel.
Bukan sejak lama, bahkan dari awal Gisel tidak pernah seperti ini, Hari-hari nya hanya di rumah saja, keluar hanya untuk sekolah, tidak ada waktu untuk menikmati hal seperti ini.
"Hei, kenapa raut wajah itu, aku sudah susah payah membuat mu tersenyum hari ini, jangan pikirkan hal yang membuat mood mu hancur lagi sekarang." ucap Bryan yang terlihat khawatir karena melihat raut wajah sedih Gisel.
"Terimakasih untuk hari ini, kamu sudah melakukan banyak hal untuk ku." ucap Gisel dengan senyumannya yang tulus.
"Sama-sama, jangan lupa masih ada hari esok, dan yang pasti harus lebih bahagia dari pada hari ini." ucap Bryan.
"Iya, ya sudah aku masuk dulu ya." ucap Gisel yang berpamitan pada Bryan.
"Ya sudah masuk sana, sudah malam, aku juga pamit dulu." ucap Bryan yang juga berpamitan pada Gisel.
Gisel masuk ke dalam apartemen nya.
"Rasanya hari ini aku melakukan banyak hal, tapi kenapa tidak terasa lelah." ucap Gisel yang kemudian mengambil handuknya untuk segera mandi.
Selesai mandi Gisel mengecek ponselnya, seingatnya Leon mengirimnya pesan tadi siang, tapi dia belum sempat membalasnya.
"Jangan lupa urus cuti mu." baca Gisel, rupanya Leon mengingatkan Gisel.
"Sudah ku urus." balas Gisel. Setelah itu Gisel langsung mematikan lampu dan memejamkan matanya untuk tidur.
****
drrt.. drrt
suara notif pesan masuk di ponsel Leon. Leon langsung mengeceknya dan ternyata dari Gisel, Leon membaca pesan itu hanya dari notif dan tidak berniat untuk membukanya.
__ADS_1
"Banyak waktu, dan kamu baru membalasnya jam segini." gumam Leon sambil tersenyum pahit.