
"Bagaimana menurut mu?" tanya putri kepada Bryan secara tiba-tiba.
"Bagaimana apanya kak?" tanya Bryan balik.
"Bagaimana jika kakak kembali lagi, apa menurut mu Leon akan menerima kakak kembali?" tanya Putri lagi.
Bryan melihat kearah Putri dan nampak berpikir. Bukan tidak mungkin jika Kakaknya itu akan menerima Putri kembali, tapi kemarin dia mendengar kabar bahwa kakaknya telah menikah, bagaimana nasib kakak iparnya jika kakaknya nanti kembali bersama dengan masa lalunya.
Lagi pula itu sudah sangat lama, apakah mungkin dia masih memiliki perasaan yang sama.
"Bryan?" panggil Putri saat mengetahui bahwa Bryan tengah melamun.
"Ah iya, aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan kalian, jadi jika menurut kakak itu baik maka lakukanlah.
"Oh iya, bagaimana kakak bisa sampai di singapura?" tanya Bryan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu tau kan bahwa kakak seorang model, ada acara pembukaan peresmian produk dan kakak jadi modelnya, jadi iya kakak harus datang, dan kebetulan sekali kita bertemu disini." jelas Putri pada Bryan.
__ADS_1
"Nampaknya nama kakak cukup terkenal sekarang." puji Bryan.
"Iya seperti itu lah." sambung Putri yang diakhiri dengan gelak tawa mereka berdua.
Pertemuan antara Bryan dan Putri ini benar-benar suatu kebetulan yang sangat membuat Bryan gelisah, entah apa yang dia pikirkan saat ini, dia hanya berharap bahwa kakaknya akan bahagia dengan pilihannya.
****
Terlepas dari rencana pulangnya Putri, nampaknya semakin hari hubungan antara Leon dan Gisel semakin membaik, biasanya mereka selalu diam atau bahkan tidak saling sapa, tapi saat ini, lama kelamaan kebiasaan saling menyapa itu muncul di diri mereka. Dan lagi saat ini Leon sudah terbiasa menanyai keberadaan Gisel saat dia sedang senggang, dan Gisel pun tidak segan menjawab pesan dari Leon.
"Bi, sedang membuat apa?" tanya Gisel pada pelayan yang ada dirumah itu.
"Oh begitu, Iya sudah bibi lanjutkan saja, aku akan pergi ke taman belakang." balas Gisel kepada pelayan itu.
"Baik nona." jawab pelayan itu.
Cukup lama berada dirumah ini membuat nya sedikit terbiasa, jika dibandingkan dengan saat pertama kali datang ke kediaman ini rasanya sekarang cukup nyaman. Apalagi jika mengingat jika disini dia tidak perlu mencemaskan apapun.
__ADS_1
Setibanya di taman belakang, Gisel melihat taman bunga ini masih tetap sama seperti waktu pertama kali dia datang, nampaknya pekerja disini benar-benar merawatnya dengan baik, batin Gisel.
Lama mengamati akhirnya Gisel termenung. terlihat ada butiran air mata di matanya yang siap untuk jatuh membasahi pipinya.
"Nek, Gisel sudah menikah sekarang, tapi entah lah apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Apakah nenek melihat ku dari atas sana, kenapa nenek begitu cepat pergi, padahal aku masih membutuhkan nenek, aku masih memerlukan nenek disamping ku, nenek bahkan tidak melihat ku saat aku lahir."
"Nek, menurut nenek apakah aku akan mendapatkan kebahagian yang seperti orang lain, atau selamanya aku hanya akan menjadi bayangan saja, yang tidak akan pernah melihat indahnya cahaya nek."
Seketika Gisel yang selama ini sudah cukup kuat dan menahan semua perasaan nya agar terlihat tegar pun akhirnya rapuh, dia menangis sesegukan ketika mengingat sang nenek.
setelah cukup lama menangis Gisel pun akhirnya memilih kembali ke kamarnya untuk beristirahat,
"Kenapa aku kembali seperti ini!" ucapnya pada dirinya sendiri di depan cermin setelah kembali kekamar barusan.
"Aku sudah berjanji untuk menjadi kuat demi nenek, tapi kenapa sekarang aku seperti ini." ucapnya masih dengan air mata yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Ayok Gisel, kamu bisa, kamu sudah berjalan sampai sejauh ini, jangan menyerah, kamu harus ingat nenek sangat menyayangi mu, ingat pengorbanannya." ucap Gisel lagi pada dirinya.
huff, helaan nafas Gisel yang terdengar begitu berat, dia terus meyakinkan dirinya untuk tetap kuat karena setelah ini tidak ada yang tau apa yang akan terjadi pada dirinya, dan satu-satunya orang yang bisa dia andalkan adalah dirinya sendiri.