Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 25


__ADS_3

Setelah kakek dan Leon pergi ke kantor, Gisel yang ditinggal sendiri pun akhirnya mencari kesibukan. Dia bertanya pada pelayan yang ada dirumah ini, apa hal istimewa yang ada dirumah ini, karena dari yang Gisel dengar, rumah ini sudah cukup lama, walaupun terlihat masih sangat bagus dan tidak ketinggalan jaman, tapi seharusnya untuk mereka yang mempunyai yang banyak tidak ada salahnya jika ingin pindah ke rumah bau atau mencari rumah yang letaknya lebih strategis lagi.


Dan ternyata hal istimewa yang ada dirumah ini adalah taman belakang, tempat yang pernah Gisel duduki malam itu, taman itu adalah taman yang dirancang khusus oleh nenek Leon yang saat ini sudah tidak ada lagi.


Gisel berjalan ke arah taman belakang, matanya dengan teliti mengamati setiap sudut yang ia lewati sebelum sampai di taman itu, taman itu terlihat sangat indah dan sejuk, lorong yang dibuat pun ditumbuhi dengan dedaunan yang menjalar, sehingga terlihat sangat estetik.


Wajar saja jika tempat ini terlihat sangat indah, pemeliharaannya juga pasti sangat teliti. batin Gisel.


Gisel masih terus berjalan menyusuri jalan yang dilapisi dengan krikil kecil serta beberapa batu yang sedikit sedang, di dedaunan yang menjalar itu juga tumbuh bunga-bunga yang sangat harum, Gisel tidak tau itu bunga apa, karena ini adalah kali pertamanya melihat bunga itu.


Sebenarnya malam itu Gisel sudah pernah ketempat ini dan juga melewati jalan ini, hanya saja waktu itu keadannya cukup gelap, sehingga dia tidak melihat dengan jelas keindahan yang ada ditempat ini.


Gisel nampak menikmati waktunya dari pagi hingga menjelang sore di taman itu.


*****


Alina mengerjapkan matanya ketika sinar matahari memasuki ruang kamarnya dan mengusiknya dari tidurnya.


"Ah sudah pagi." ucapnya. Alina langsung bangun dan duduk, seketika pikirannya teringat lagi dengan tindakan kedua orang tuanya.


Alina bangun dan segera berjalan ke kamar mandi untuk mandi, itu memang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Setelah selesai mandi, Alina berniat turun kebawah untuk sarapan, tapi siapa sangka saat dia hendak kebawah, dia mendengar para pelayan dirumah itu menyambut kepulangan orang tuanya.


Alina pun dengan langkah panjangnya langsung turun melewati anak tangga menuju lantai bawah. Sesampainya dibawah, dia langsung memandang kedua orang tuanya dengan pandangan kemarahan.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu, sini peluk mama dulu, mama dan papa baru saja tiba." suruh sang ibu Melinda pada anaknya itu. Sayangnya Alina hanya diam tidak bergeming, dia menggerakkan kedua tangnya dengan sangat keras, sehingga terlihat kukunya yang perlahan memutih karena genggaman yang terlalu erat itu.


"Alin? Ada apa dengan mu?" ujar sang ayah. Pasalnya tidak biasanya putri tercintanya itu bertingkah seperti ini.


"Kalian tanya kenapa? Tidakah kalian sadar pada apa yang telah kalian lakukan? Apakah kalian berpikir bahwa aku ini sangat bodoh, sehingga kalian dengan mudahnya bertingkah seperti aku ini benar-benar orang bodoh?" ucap Alina yang kini sudah dikuasai oleh amarahnya.


"Alin, apa maksud kamu, mama tidak mengerti." sanggah sang ibu yang tidak mau mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat, karena mereka sama sekali tidak merasa bahwa perbuatan itu salah.


"Jangan bertingkah seperti kalian tidak tau apa-apa! Cukup! Kalian! Kalian berdua adalah orang tua yang sangat kejam, bagaimana bisa kalian menjual putri kalian sendiri hanya untuk sebuah harta! Apa kalian tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Gisel, disaat orang tuanya sendiri lebih memilih menjualnya hanya untuk harta yang hanya bisa dinikmati di dunia! Kalian berpikir tidak sih sebelum bertindak!" maki Alina yang saat ini sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


"Alin cukup! Papa baru pulang dan kamu sudah mengajak berdebat seperti ini."


"Pa, Alin tidak akan protes jika melakukan hal lain untuk menyelamatkan perusahaan, tapi kalii ini, ini Gisel pa, kalian tega bertindak seperti itu padanya, kalian tega memperlakukannya seperti barang." Alina tidak mau lagi berdiam diri saat ini, baginya Gisel adalah segalanya, maka dari itu dia akan melindungi Gisel, walaupun dia tau, ini tidak akan berhasil.


"Pantas? Tolong jangan buat persepsi seperti kalian berdua adalah orang yang paling benar." bela Alina lagi.


"Alin, tidak ada yang bilang benar atau salah saat ini. Ini sudah menjadi keputusan papa, dan kamu juga pasti sudah tau, bahwa keputusan papa adalah mutlak, tidak ada yang bisa mengubahnya. Sekali pun itu kamu."


"Sudahlah, papa lelah, papa istirahat dulu, dan lagi, selesaikan apa yang kamu mulai, pulangkah besok ke Paris, jangan kembali sebelum kamu bisa menyelesaikannya." lanjut sang ayah, yang membuat emosi Alina menjadi bertambah.


"Sebenarnya Gisel itu siapa? Kenapa kalian memperlakukannya seperti orang lain.Siapa dia sebenarnya?" tanya Alina dengan suara yang sangat keras. Dan membuat langkah kaki sang kepala keluarga itu terhenti seketika.


Terlihat raut wajah Devan yang seketika mulai berubah, ada pandangan tidak senang di wajah itu ketika Alina bertanya seperti itu. Seketika kejadian dimasa lalu teringat dan berputar kembali di dalam pikirannya.

__ADS_1


Anak itu, dia adalah pembawa sial untuk keluarga ku dan juga hidup ku. batin Devan.


"Kenapa kalian diam! Apa pertanyaan ku itu sangat sulit? Atau, apa yang kalian coba sembunyikan lagi dari ku. Tolonglah berhenti bersikap seperti anak kecil."


"Alina diam!" Bentak Devan dengan sangat keras sehingga membuat Alina terdiam seketika. Selama ini jika diperhatikan, ini adalah kali pertama sang ayah marah dan bersikap seperti ini padanya, dan hal itu menyangkut tentang Gisel.


"Kenapa aku harus diam! Tidak ada larang seseorang dilarang untuk bertanya atau berpendapat. Jadi ke.."


"Alina, papa bilang diam, cukup, jangan pancing emosi papa lagi."


"Kenapa papa harus emosi, aku hanya bertanya, sebenarnya Gisel itu siapa, itu pertanyaan yang sangat mudah, apa salahnya jika papa tinggal langsung menjawab saja." balas Alina.


Melinda tidak berani berucap sepatah kata pun, karena dia tau, jika Devan akan sangat sensitif kalau harus membahas tentang Gisel., karena semua kehancuran ini bermula dari Gisel. Semua kejadian buruk yang menimpa keluarga ini dianggap adalah kesalahan Gisel.


"Kamu bertanya kenapa? Kamu sunggu ingin tau Gisel itu siapa?"


"Iya, kenapa, apa yang salah dengan itu."


"Dengar, jangan sampai kamu menyesal jka kamu tau siapa Gisel itu sebenarnya."


"Aku tidak akan pernah menyesal." ucap Alina teguh dengan pendiriannya.


Devan menarik nafasnya panjang, dan dengan raut wajah yang sudah berubah, dia menahan amarahnya untuk menceritakan siapa Gisel itu sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2