
Malam ini suasana kota Singapore cukup dingin karena baru saja hujan, jalanan di kota singa itu nampak sepi. Terlihat seorang anak muda tengah duduk di salah satu kursi yang ada didekat cafe itu.
Bryan duduk termenung disana memikirkan pesan apa yang harus dia kirim pada Gisel agar tidak terlihat seperti mengejar Gisel.
"Apa yang harus ku kirim." fikir nya sambil menghela nafas panjang, sudah hampir satu jam dia terduduk disana.
"Aih ayolah Bryan kamu tidak mungkin sebodoh ini." ucapnya lagi. Jari-jari tangannya mulai mengetik huruf yang ada di ponselnya, tapi saat hendak mengirim dia urungkan lagi lalu menghapus pesannya, hal itu sudah dilakukannya berulang kali.
"Argg kenapa jadi sesusah ini." ucapnya sambil mengacak rambutnya. Dia benar-benar terlihat frustasi hanya karena memikirkan pesan apa yang harusnya ia kirim. Lama berpikir tiba-tiba ponselnya berbunyi satu notif pesan dia Terima dan ternyata itu pesan dari Gisel.
"Malam ini aku tidak bisa menemani mu mengobrol karena ada acara, Hati-hati di jalan." ucap Bryan yang membaca pesan dari Gisel itu,
"Yes." teriak Bryan yang sangat senang karena mendapat pesan dari Gisel.
"Akhirnya ada cara untuk terus berkomunikasi dengannya." ucap Bryan. Sepertinya hanya karena Gisel dia bisa lupa kalau dia adalah orang populer yang banyak diincer para gadis di kampusnya, bahkan bukan hanya orang kampus para pelanggan di cafe ini pun juga banyak yang mengidolakannya.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa, pergi ke acara apa?" ketik Bryan di ponselnya dan langsung mengirimnya pada Gisel.
"Sebentar, kenapa aku bisa sebahagia ini hanya karena menerima pesan darinya. Memangnya siapa dia, astaga kenapa aku ini. Aih sudahlah." ucap Bryan yang kemudian berdiri dari duduknya dan hendak berjalan kembali menuju cafe, tapi saat dia hendak melangkah, langkahnya terhenti karena ada seorang perempuan yng menghadang jalannya.
"Halo kak." sapa perempuan itu, Bryan hanya diam karena dia tidak mengenal siapa orang didepannya ini.
"Aku Lisa, anak baru di kelas yang kakak ambil." ucapnya memperkenalkan diri pada Bryan.
Bryan hanya menunjukan ekspresi diam yang bisa di isyaratkan seperti pertanyaan apa mau mu.
"Apa ini?" tanya Bryan, karena dia tidak ingin sembarang menerima barang dari orang lain.
"Ini adalah tanda pertemanan dari ku." ucap Lisa pada Bryan.
Bryan pun mengambilnya dan langsung saja masuk kedalam cafe.
__ADS_1
"Astaga astaga, dia menerimanya, aku sangat senang." ucap Lisa yang meloncat kegirangan hanya karena pria yang dia idolakan menerima pemberiannya.
"Astaga jantung ku rasanya ingin copot, tatapan kak Bryan ya ampun, siapapun tolong selamatkan jantung ku." ucapnya lagi. Setelah itu dia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menarik dalam nafasnya.
"Bryan, lihat saja kamu akan jadi milik ku, tidak akan ada orang yang boleh bersama mu kecuali aku, karena hanya aku yang pantas untuk bersanding dengan mu." ucap Lisa.
****
"Kamu sudah mau pulang?" tanya teman Bryan yang satu shif dengannya.
"Iya," jawab Bryan, cafe memang sudah mau tutup jam segini, karena sudah sudah jam 11 malam, jadi sudah tidak ada lagi pelanggan yang akan datang, dan lagi semuanya sudah mereka bereskan, jadi tinggal pulang saja.
"Iya sudah nanti aku akan mengunci pintunya." ucap orang itu lagi.
"Terimakasih." ucap Bryan yang kemudian berjalan keluar dari cafe itu, jarak cafe ini memang tidak terlalu jauh dari apartemen nya jadi Bryan selalu berjalan saat berangkat maupun pulang dari cafe ini.
__ADS_1