Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 31


__ADS_3

Gisel menatap kearah sang ayah dengan nafas yang terengah, dadanya benar-benar sakit menahan semua sesak yang selama ini dia pendam.


"Kamu bilang aku egois, coba jelaskan dimana bagian yang aku pernah egois!" bentak Gisel tampa menyebut orang yang didepannya ini dengan panggilan papa.


Devan yang mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Gisel pun ikut marah, dia merasa bahwa Gisel sudah tidak menggapnya.


"Lihat lah dirimu, kamu bahkan sudah berani menjawab pertanyaan ku." balas Devan dengan nada yang sangat angkuh.


Mendengar jawaban dari sang ayah membuat Gisel tertawa.


"Apa yang harus ku lihat ha! Seorang anak yang dijual oleh orang tuanya, atau seorang anak yang dijadikan tumbal atas musibah buruk yang terjadi, apa yang kamu suruh aku untuk lihat." Amarah Gisel benar-benar terlihat memuncak.


"Jaga ucapan mu." bentak Devan tegas pada Gisel.


"Jaga, seharusnya kamu lah yang harus menjaga ucapan mu. Kamu datang kesini dan langsung menyuruh ku melakukan hal yang tidak pernah ingin aku lakukan. Apa kamu pikir aku mau melakukannya ha!"


"Selama ini apa yang aku perbuat masih kurang cukup sehingga setelah aku menikah pun kamu masih mau menjadikan ku boneka mu. Bukankah pepatah bilang manusia itu memiliki hati yang paling mulia, lantas mengapa masih saja ada orang seperti kalian di dunia ini!" bentak Gisel lagi.


"Gisel.."


"Apa! Selama ini, apa pernah kalian memperlakukan ku layaknya aku ini adalah putri kalian! Apa pernah kalian perlakukan aku layaknya manusia dirumah itu!" lanjut Gisel memotong perkataan Devan.

__ADS_1


"Disaat kalian memperlakukan ku dengan sangat buruk apakah kalian pernah memikirkan perasaan ku, sekali saja, apakah pernah? Tentu saja tidak bukan, siapa aku dirumah itu, sebagus apapun sebaik apapun yang aku lakukan, aku akan tetap salah dimata kalian."


"Apa pernah sekali saja kalian bangga dengan pencapaian ku? Dengan prestasi ku? Tidak pernah bukan, bahkan kalian selalu berusaha agar aku benar-benar terlihat seperti orang yang sangat menyedihkan dan tidak berguna didunia ini." Ucap Gisel lagi yang saat ini sudah benar-benar berada diambang kesabarannya.


"Kalian, orang yang sangat ku harapkan ada disaat aku terpuruk malah sebaliknya, kalian lah yang membuat ku merasakan keterpurukan itu, apakah kamu tau bagaimana rasanya hidup tapi seperti orang mati, pernahkah kamu berpikir bahwa seandainya kamu mati kamu pasti akan lebih bahagia. Apakah kamu pernah sekali saja berpikir tentang itu."


Gisel menarik nafas panjang, dia bahkan hampir menangis menahan amarahnya yang selama ini dia pendam.


"Lebih baik kamu pergi dari rumah ini sebelum kesabaran ku habis." lanjut Gisel.


"Woah berani sekali kamu sekarang iya, dapat keberanian dari mana kamu." balas Devan karena mendengar perkataan itu keluar dari mulut Gisel.


"Kamu bertanya perihal keberanian pada anak yang sejak kecil tidak pernah mendapat kasih sayang, pada anak yang sejak kecil tidak pernah merasakan kebahagian, anak yang sejak kecil kehadirannya dianggap mengganggu, tidak diterima oleh orang-orang, dijauhi, dihujat, dibully, dan bukan hanya oleh orang luar, tapi dari orang tuanya sendiri. Dan kamu masih bertanya dia dapat kebahagian dari mana disaat kematian sudah dianggapnya sebagai teman."


"Kamu.."


"Apa, aku apa! Aku orang selama ini kalian anggap benalu, orang yang selama ini kalian anggap pengganggu, menyebalkan, hina, menjijikan, tidak berguna, dan kalian harap tidak pernah ada, tapi nyatanya apa, aku yang menyelamatkan kalian saat ini."


"Tidakah kamu merasa malu, Ini aku, apakah kami tidak mengingat nama ku, Gisel. Orang yang sejak lahir pun tidak pernah kamu berikan kasih sayang, dan sampai besar pun kamu bahkan tega menjual ku, apa kamu pikir aku ini barang ha!"


"Papa, kata itu sangat tidak cocok untuk mu. Orang seperti mu ini lebih pantas dipanggil binatang!"

__ADS_1


Plak, satu tamparan mengenai pipi Gisel.


Gisel terengah sambil memegang pipi kanannya yang baru saja ditampar oleh ayahnya itu.


"Tampar aku, tampar saja, apa kamu pikir dengan kamu menampar ku semua yang ku ucapkan itu akan berubah, tidak, sampai kapan pun aku tidak akan pernah memafkan perlakuan yang telah kalian berikan pada ku."


"Kamu! Kamu lihat saja bagaimana kamu nantinya akan hancur dibawah tangan ku,"


"Kamu pikir aku akan takut, Gisel ingatlah, aku adalah orang yang paling bisa menghancurkan mu."


"Mari kita lihat, aku bukan lah Gisel yang kamu kenal, dan pastikan kamu tidak akan menyesali perkataan mu kali ini." ucap Gisel.


"Pelayan, Usir orang ini keluar." pinta Gisel pada pelayan yang ada di rumahnya itu.


"Dasar anak kurang ajar, tidak berguna, beraninya kamu memperlakukan ku seperti ini, Yakkk! Memang seharusnya sejak kecil kamu mati saja. Lepaskan aku!"


"Lepaskan!" bentak Devan saat dia sudah berada didepan pintu rumah itu, Dia melihat Gisel yang masih terus saja berjalan manaiki anak tanggal. Dengan perasaan kesal akhirnya Devan pun masuk kedalam mobilnya dan pergi dari rumah itu.


****


Aduhh maaf ya, khayalan ku cuma sampe batas situ jangan lupa beri masukan ya, terimakasih atas supportnya.

__ADS_1


__ADS_2