
Terlalu asik memakan mienya, Gisel sampai tidak sadar jika ada orang didekatnya. Sehingga saat dia hendak berdiri untuk menaruh mangkuknya yang sudah habis dia terkejut karena.
"Woah..." ucap Gisel saat dia melihat Leon ada di belakangnya. Mangkuk yang Gisel pegang pun hampir terjatuh, untung saja Leon langsung dengan sigap mengambil mangkuk itu.
Setelah mendapatkan mangkuk itu, Leon sontak memelototi Gisel karena tindakannya yang tidak hati-hati.
"Kamu ingin menghancurkan barang dirumah ini?" tanya Leon dengan nada dinginnya.
"Mana ada, kamu saja yang tiba-tiba datang dan membuat ku terkejut." balas Gisel.
Mendengar ucapan Gisel, Leon pun menyeringai dan menunjukan senyuman iblisnya.
"Terkejut? Kamu takut dengan ku? Kenapa harus terkejut, aku tadi sama sekali tidak mengagetkan mu." ucap Leon sambil memajukan tubuhnya sehingga jarak dirinya dan Gisel semakin terpangkas.
"Aa... paa yang kamu lakukan, jauh-jauh sana." ucap Gisel sambil mencoba menjauhkan tubuh Leon darinya.
"Kenapa dengan mu? Nampaknya kamu memang sangat takut dengan ku ya." ucap Leon lagi.
Melihat Leon yang semakin jadi menjahili nya, Gisel pun mengambil inisiatif untuk langsung pergi ke kamarnya saja, tanpa menaruh mangkuk kotor yang tadi ia pakai.
"Terserah kamu saja." ucap yang kemudian berjalan terburu-buru meninggalkan Leon disana dengan mangkuk kotor yang masih ada ditangannya.
Gisel berjalan menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya.
"Ada-ada saja tingkah orang itu." ucap Gisel setelah dia berhasil sampai ke kamarnya.
"Untung saja jantung ku tidak lepas dan masih ada ditempatnya." ucapnya lagi.
Jika dilihat saat ini Gisel memang sedikit berubah, pasalnya Gisel yang dulu adalah Gisel yang tidak pernah mau berbaur atau pun memberikan ekspresi pada orang lain. Tentu saja sangat berbeda, dan itu semua karena temannya, Natasya dan Bryan. Walaupun belum terlalu dekat dengan keduanya, tapi hubungan Gisel dan mereka berdua cukup baik. Gisel tidak tau bagaimana keadaan Natasya saat ini, mereka bahkan tidak saling bertuka kabar.
****
"Perempuan ini sangat aneh." ucap Leon pelan, saat ini dia masih berada di ruang dapur dengan mangkuk kotor yang masih setia berada di tangannya.
Seharusnya tadi Leon tidak pulang kerumah, tapi entah mengapa dia jadi pulang kerumah, dan menyuruh supirnya untuk mengantarnya lagi, padahal tadi mereka sudah sampai di lobi apartemen Leon, dan mau tidak mau supirnya mengantar Leon lagi.
Setibanya dirumah Leon merasa ada yang aneh, karena sudah jam segini, tapi lampu di dapurnya masih menyala, saat dia memeriksa ternyata Gisel yang ada disana. Dia sebenarnya hendak mengambil minum, tapi siapa sangka Gisel malah berbalik kearahnya dan terkejut melihat kehadirannya.
Leon menaruh mangkuk kotor itu wastafel, setelah itu dia mematikan lampu dapur dan berjalan ke kamarnya, tubuhnya sangat lelah saat ini, dan dia ingin segera tidur dan mengistirahatkan pikirannya saat ini.
"Ini semua karena kakek." ucap Leon saat sudah didalam kamarnya,
"Kenapa dia harus menikahkan ku dengan perempuan itu."
"Haaahhh menyebalkan." ucapnya lagi. Leon mengganti pakaiannya menjadi piyama tidur, dia tidak berniat untuk mandi, karena matanya benar-benar sudah mengantuk.
****
__ADS_1
"Hei bro." ucap seseorang.
"Bicara formal saja, jangan seperti orang asing." ucap Bryan.
"Baiklah-baiklah, kemana Gisel?" tanya orang itu pada Bryan. Bryan yang tadinya sibuk dengan kopinya pun menoleh kearah orang itu.
"Gisel? Aku tidak tau, dia tidak memberitahu ku." jawab Bryan,
"Ku kira kalian dekat." ucap orang itu yang kemudian pergi meninggalkan Bryan sendiri.
"Dekat? Dia bahkan sangat jauh dari ku." batin Bryan.
Bryan dan Gisel memang terlihat dekat, tapi Bryan selalu merasa ada yang Gisel sembunyikan darinya, Gisel seperti sangat tertutup dengannya, walaupun mereka terlihat begitu dekat, tapi kedekatan mereka hanya sekedar saja, tidak ada yang istimewa disana.
Bahkan saat ini, Gisel pergi kemana pun Bryan tidak tau, dia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk bertanya ataupun menelfon Gisel, padahal dia sudah menyimpan nomor Gisel di ponselnya.
"Kak." ucap Natasya yang membuat Bryan tersadar dari lamunannya.
"Iya, ada apa?" tanya Bryan.
"Kakak tau Gisel pergi kemana?" tanya Natasya kepada Bryan.
"Tidak tau, kenapa memangnya?" tanya Bryan balik ke Natasya.
"Tidak ada, hanya bertanya saja, soalnya dia tidak ada kabar, sudah 3 hari dia pergi." ucap Natasya.
"Benarkah? Aku tidak terlalu memperhatikan." ucap Bryan.
"Hubungan kami bukan hubungan yang seperti itu. Kami hanya berteman baik." ucap Bryan lagi.
"Berteman baik? Benarkah, tapi teman baik mana yang tidak tau keberadaan temannya?" tanya Natasya lagi.
Bryan terdiam, bagaimana bisa Natasya bertanya dan berkata seperti itu.
"Entahlah, sudahlah, aku sedang bekerja." ucap Bryan yang kemudian pergi meninggalkan Natasya sendirian.
Natasya yang melihat gerak gerik dari Bryan pun akhirnya hanya tersenyum, entah apa yang membuatnya menampakan senyum seperti itu.
"Hei, kenapa kamu senyum sendiri." ucap salah seorang pekerja lainnya. Natasya menoleh kearah orang itu.
"Tidak ada, hanya sedang bahagia saja."
"Ya sudah, ayo lanjut bekerja." ajak Natasya kepada orang itu.
Setelah itu Natasya kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Bryan yang tersulut ucapan Natasya pun akhirnya memberanikan diri untuk menelfon Gisel. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Gisel disana. Tidak lama dia langsung menekan tombol panggilan disana. Panggilan keluar pun terjadi, dan akhirnya terdengar suara dari Gisel.
__ADS_1
"Halo Bryan, ada apa?" tanya Gisel.
"Sedang apa?"
"Aku? Ingin tidur."
"Ah, aku menganggu ya. Ya sudah tidur lah, istirahat."
"Tidak, santai saja."
"Benarkah?"
"Iya, ada apa menelfon jam segini?"
"Ahh, itu.. Kamu dimana?"
"Aku pulang ke Indonesia, ada sedikit urusan."
"Benarkah, kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja."
"Cepat pulang kesini, tidak ada yang membuatkan ku bekal."
"Kamu sudah makan?"
"Belum, pekerjaan disini terlalu banyak hari ini."
"Benarkah, apakah terlalu melelahkan, bukannya bahagia ya kalau bisa melakukan apa yang kita inginkan."
"Gisel, dengar, semua orang punya jalannya sendiri, dan semua orang punya hak sendiri untuk menentukan ingin melakukan apa. Gisel, jangan menyerah, aku akan selalu mendukung mu."
"Apasih kamu, aku tidak bilang aku sedang seperti itu, aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi, oh iya, tolong kamu cek apartement ku, jangan sampai kotor."
"Tenang saja, semuanya akan aku bereskan, kamu fokus saja disana, dan jika selesai pulanglah kesini."
"Iya."
Bryan, ada pesanan lagi, kamu bantu dulu. Teriak orang itu pada Bryan.
"Iya sudah lanjut kerja sana."
"Iya sudah, aku lanjut kerja ya, kamu istirahat ya."
"Iya, dahh."
"Dah."
__ADS_1
Panggilan pun berakhir, walaupun hanya sebentar, nampaknya Bryan cukup bahagia karena bisa mendengar suara Gisel,
Bryan pun kembali kedalam caffe dan melanjutkan kerjanya dengan senyum yang terpahat diwajah tampannya itu, yang membuat semua orang yang melihatnya pun ikut tersenyum.