Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 6


__ADS_3

Tibalah saat ini, hari dimana Gisel akan pergi meninggalkan rumah ini untuk waktu yang lama dan pertama kalinya. Hari ini dia akan bertolak ke negri seberang yaitu Singapur, Gisel kesana untuk melanjutkan pendidikannya. Dia sudah memilih salah satu universitas terbaik di negara itu, dan lagi bukan tanpa alasan Gisel memilih singapure dan bukannya negara lain. Hal itu dikarenakam Alm sang nenek memiliki beberapa toko roti disana. Gisel sendiri sebenarnya menyukai setiap proses dalam pembuatan roti. Tapi selama ini dia tidak pernah menunjukan ketertarikannya, tentu saja itu karena dia yakin, semua usahanya akan sia-sia dan tidak ada artinya. Jadi dia memutuskan untuk mengubur semua keinginannya.


Tapi entah kenapa kemarin waktu pengacara neneknya menemuinya dan memberikan sebuah bingkisan dimana didalamnya ada surat yang ditulis oleh sang nenek. Gisel yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah meneteskan air matanya sampai menangis tersedu-sedu membacanya. Dia tidak menyangka neneknya begitu menyayanginya, bahkan saat dirinya belum terlahir didunia ini. Bagi Gisel saat ini satu-satunya orang yang menyayanginya selain kakaknya adalah almarhumah neneknya.


Gisel tidak memberitahukan perihal surat yang dituliskan oleh sang nenek untuknya pada Alina, dia menyimpannya sendiri, dan lagi pengacara neneknya juga berpesan agar hanya dirinya saja yang tau.


****


Gisel sudah menyiapkan kopernya, hanya tinggal menunggu sang kakak untuk berangkat. Dia pun keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Sesampainya dilantai bawah dia langsung duduk di sofa yang ada diruang tamu rumah itu. Tidak lama dia duduk, dia mendengar percakapan kecil antara kakak dan kedua orang tuanya. Terdengar rengekan dan tawa dari pembicaraan itu, entah lah mereka membicarakan apa, Gisel tidak terlalu peduli.


"Kamu sudah siap?" Tanya Alina.


"Mm." Jawab Gisel singkat.


"Iya sudah, kita berangkat sekarang saja, nanti ketinggalan pesawat lagi." Ucap Alina pada Gisel. Gisel pun berdiri dari duduknya dan mengambil kopernya. Orang tua mereka bilang ingin mengantar sampai ke bandara. Padahal biasanya mereka tidak punya waktu, tapi kali ini karena Alina juga ikut pergi bersama Gisel ke singapur jadilah mereka juga ikut mengantar. Jika saja hanya Gisel yang pergi, pasti mereka bersikap tidak tau menau.


Mereka sekeluarga pun masuk kedalam mobil dan berangkat menuju ke bandara. Didalam mobil Melinda ibu mereka tidak hentinya menyuruh Alina mengurungkan niatnya. Karena dia takut Alina akan kenapa-kenapa di sana, secara ini adalah kali pertama Alina pergi jauh dari orang tuanya. Biasanya kemana pun Alina pergi, sang ibu pasti ikut. Sangat berbanding terbalik dengan Gisel. Bahkan jika dia tidak pulang atau terlambat pulang tidak akan ada yang menanyakan keberadaannya dirumah selain kakaknya. Tapi sekali lagi, gisel tidak pernah peduli dengan hal itu. Bukan tidak peduli sih, lebih tepatnya hanya mencoba tidak peduli.


"Sayang, kamu tidak usah ikut saja ya." Bujuk Melinda pada Alina.

__ADS_1


"Tidak ma, aku harus memastikan adik ku disana benar-benar mendapatkan tempat yang layak." Ucap Alina.


"Dia kan sudah besar, dia pasti bisa melakukan semuanya sendiri. Masa dia mau merepotkan kita terus." Ucap Melinda sambil melihat kearah Gisel yang sedari tadi hanya menoleh kearah luar jendela.


"Ma, Gisel adik ku dan juga anak kalian, sebagai kakak yang baik, tidak ada salahnya jika aku meluangkan waktu ku untuknya." Ucap Alina lagi.


"Tapi sayang.."


"Sudahlah ma, aku mau berangkat, masa iya mama mau ngajak ribut lagi. Apa mama tidak lelah, setiap kali kiga disatu ruangan yang sama dan ada Gisel disana, kita selalu bertengkar." Ucap Alina yang mulai kesal dengan sifat ibunya. Bukan sekali dua kali ibunya bersikap seperti itu, bahkan sudah sering kali. Seperti Gisel itu benar-benar parasit baginya, semua yang dilakukan Gisel pasti selalu salah. Tidak pernah benar. Sedangkan sang ayah, selalu diam, dia tidak menolak keberadaan Gisel, tapi tsrkadang dia juga terlihat kesal jika harus berlama-lama berada didekat Gisel. Alina sampai saat ini tidak mengetahui hal apa sebenarnya yang terjadi, sehingga kedua orang tuanya begitu membenci adiknya. Tapi kabar yang dia dengar selama ini adalah kematian neneknya diakibatkan oleh kelahiran Gisel. Jika saja waktu itu sang nenek tidak mengantar ibunya ke rumah sakit untuk melahirkan, maka sang nenek pasti masih hidup sampai sekarang.


****


****


Lama di perjalanan akhirnya mereka pun sampai. Gisel langsung turun dari mobil dan mengambil kopernya.


"Biar saya saja non." Ucap pak supir.


"Tidak apa, aku saja pak." Tolak Gisel dengan sopan. Akhirnya pak supir pun mengalah dan hanya membawakan koper Alina.

__ADS_1


Alina dan Gisel belum masuk kedalam, mereka berpamitan dulu. Alina mencium pipi kedua orang tuanya dan menyalami mereka. Sementara Gisel, dia hanya menyalami saja. Itupun sang ibu terlihat tidak sudih. Sangat berbeda dengan Devan, dia bersikap biasa saja saat Gisel menyalaminya.


Setelah berpamitan Alina dan Gisel pun mengantri untuk masuk kedalam.


"Bye Alina sayang." Ucap Melinda.


Devan hanya diam dan memberi sedikit sunyaman. Dan mungkin itu menjadi senyuman pertama yang Gisel lihat dari wajah ayahnya itu. Tidak lama Alina dan Gisel pun menghilang dari pandangan kedua orang tuanya.


"Pa, tumben senyum." Ucap Melinda yang terheran karena melihat suaminya yang untuk pertama kalinya memberikan senyuman pada anak yang mereka benci.


Devan hanya diam tidak menanggapi ucapan Melinda. Lalu dia berbalik arah dan pergi berjalan kearah mobilnya terparkir.


****


Gisel dan Alina saat ini hanya tinggal menunggu pesawat mereka take off. Mereka sudah didalam pesawat sekarang, Gisel duduk didekat kaca jendela pesawat. Saat pesawat sudah mengudara, dari bibir Gisel terucap.


"Selamat tinggal."


Lalu dia sedikit membuang nafasnya dan tersenyum. Hari ini dia akhirnya terbebas dari dalam rumah yang selama ini mengurungnya. Dia berharap di sana nanti, akan ada kehidupan baru yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Itulah yang ada dipikiran Gisel, padahal yang sebenarnya adalah, kehidupan baru yang akan dia temui malh juh lebih berat lagi nantinya


__ADS_2