Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 21


__ADS_3

Setelah cukup lama berdiam diri ditaman, akhirnya Gisel memutuskan untuk kembali kedalam untuk mengikuti acara itu, karena biar bagaimana pun, dia adalah ratu hari ini.


Saat tiba didalam ruangan, mata Gisel tidak sengaja melihat Leon dan Steven sedang berbicara dengan seorang wanita, wanita itu terlihat sangat cantik. Dari segi mana pun Gisel melihatnya, sama sekali tidak ada kurang disana. Dia terlihat sangat pantas berada disamping Leon. Apalagi jika dilihat dari cara mereka, mereka berdua terlihat seperti sangat akrab.


Wanita itu melihat kearah Gisel yang saat ini sudah didekat mereka.


"Gisel? Selamat ya karena sudah bersanding dengan Leon, Kamu tau, kamu sangat beruntung, diantara banyak wanita, Leon memilih mu." ucap wanita itu pada Gisel.


Ternyata benar dugaan Gisel, Leon yang saat ini sudah menjadi suaminya itu memang sangat dekat dengan wanita itu.


"Terimakasih." jawab Gisel singkat.


"Jangan sungkan, oh iya panggil saja aku Angeli. Lagi pula aku dan kak Leon sudah dekat dari dulu, jadi ini hanya pujian biasa." jelas wanita itu pada Gisel.


Gisel hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Oh iya kak, dimana kamu menemukan kakak ipar ini?" tanya Angeli pada Leon.


"Itu bukan urusan mu." jawab Leon dingin pada Angeli.


"Ayolah kak, oh sebentar, jangan bilang bahwa ini adalah kakak ipar yang kakek beli itu." ucap Angeli yang sontak membuat Gisel dan Steven yang berada di dekat mereka menoleh kearahnya.


"Apa? Benar ya, astaga, padahal aku hanya menebak saja."


"Angeli cukup, ini sudah bukan urusan mu lagi." bela Steven. Steven melirik kearah Gisel, ada pandangan tidak suka diwajah Gisel dengan percakapan saat ini.


"Sudahlah, aku ingin menemui kakek." ucap Leon yang kemudian berjalan meninggalkan Steven, Gisel dan Angeli. Steven yang melihat Leon pergi pun tidak ingin mengambil resiko, dia juga langsung pamit untuk menyusul Leon. Hingga tinggal lah mereka berdua disana.


"Apa-apaan ini, kenapa mereka meninggalkan ku disini." batin Gisel.


"Kak Leon biasanya sangat ketus dengan wanita, kenapa tadi dia terlihat tidak peduli dan bahkan bersikap seperti membela wanita ini, tunggu sebentar, apa dia menikah karena memang menyukai wanita ini, tapi itu tidak mungkin. Lihat saja, aku akan merebut kak Leon darinya, hanya aku yang pantas bersanding dengan kak Leon." batin Angeli sambil melirik sinis kearah Gisel dengan senyumannya yang terlihat sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Tunggu, senyum apa itu, dia menatap ku seperti aku telah merebut mangsanya." batin Gisel yang saat ini masih menampilkan senyum diwajahnya.


"Hei, apa kamu pikir kak Leon menikah dengan mu karena perasaan cinta?" tanya Angeli pada Gisel yang sontak membuat Gisel menyipitkan matanya tak percaya dengan pertanyaan yang Angeli ajukan itu.


"Kenapa tidak kamu tanyakan saja sendiri." balas Gisel yang saat ini sudah tidak ada lagi senyum ramah di wajahnya.


"Dengar ya, kak Leon itu membeli mu, kamu itu sangat murah sehingga bisa dikatakan murahan, jangan pernah berharap kak Leon akan menyukai mu, bahkan dalam mimpi pun jangan pernah memimpikannya." maki Angeli pada Gisel. Gisel sama sekali tidak gentar dengan perkataan Angeli, menurutnya perkataan Angeli itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan makian yang selama ini Gisel dengar.


"Lalu kenapa dengan semua itu, nyatanya wanita yang kamu bilang rendahan ini bisa mendapatkan Leon, dan tunggu rendahan oh murahan, jika kamu mengecap ku seperti itu, lalu bagimana dengan mu. Jangan lupa, aku sudah mendapatkan Leon yang kamu bilang sangat sempurna. Jika menurut mu kesempurnaan adalah Leon, dan murahan adalah aku, lalu kamu siapa? Jangan kan mendapatkannya, mendapatkan simpati darinyapun itu untung-untung." terang Gisel yang membuat Angeli sangat marah dengannya.


"Wanita ini, beraninya dia mengatai ku." batin Angeli.


"Kamu mau tau, jika dibandingkan dengan kak Dona kamu tidak ada apa-apa nya, kak Dona adalah orang pertama yang menghabiskan waktu dengan kak Leon."


"Terserah dengan siapa dulunya Leon menghabiskan waktu, tapi yang terpenting saat ini adalah kedepannya aku akan lebih sering menghabiskan waktu dengan Leon." ucap Gisel.


"Kamu." ucap Angeli menunjuk Gisel


"Aku tidak tau apa hubungan mu dengan suami ku, tapi ku harap mulai sekarang kamu jaga jarak darinya."


"Cih, kamu pikir aku senang berada diposisi ini, menikah dengan Leon saja sudah membuat harga diri ku jatuh, aku tidak akan membuat harga diriku jatuh lagi didepan orang lain. Hanya ini cara yang bisa ku lakukan." batin Gisel.


****


Acara puncak telah usai, saat ini hanya tinggal beberapa orang yang tersisah.


"Antar dia kembali kerumah." Perintah Leon kepada supirnya, setelah selesai dia pergi meninggalkan Gisel lagi. Jangan berkecil hati Gisel, ini adalah takdir, kamu harus menerimanya, jangan pernah berharap lebih. Batin Gisel saat melihat mobil laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu pergi terlebih dahulu meninggalkan tempat ini.


Kehidupan baru, baru saja akan menghampirinya, bisa saja ada pelangi disana, bisa jadi hanya awan mendung yang terus menerus menerpa. Gisel sama sekali tidak tau, tapi dia akan terus berusaha menjadi yang terbaik, walaupun pernikahannya ini tidak ada rasa cinta disana, Gisel tetap akan berlaku dengan baik sebagai seorang istri.


"Kita pulang sekarang nona." ucap Supir itu yang hanya dibalas anggukan oleh Gisel. Lalu mobil itu pun berjalan meninggalkan gedung yang menjadi tempat pernikahan Leon dan Gisel.

__ADS_1


Supir itu melihat dengan tatapan kasihan kepada nona barunya itu, karena dia cukup kasihan melihat nona nya saat ini, sedari tadi jika diperhatikan nona nya itu sama sekali tidak mengeluarkan senyum tulusnya, hanya ada rasa sedih dan senyum sayu disana.


"Pak, nanti boleh berhenti sebentar di toko roti. Ada yang ingin aku beli." ucap Gisel.


"Iya nona," jawab pak supir itu.


Gisel sangat lapar saat ini, sedari tadi selama acara, dia sama sekali tidak sempat untuk mengisi perutnya, sehingga sekarang dia sangat lapar.


Mobil yang Gisel naiki pun berhenti disalah satu toko roti ternama. Gisel langsung saja turun dan berjalan masuk kedalam toko itu untuk membeli beberapa roti untuk dirinya dan untuk persiapan dirumah, kalau-kalau saja dia lapar lagi dan tidak ada makanan disana.


Setelah dirasa cukup Gisel lalu membayarnya dan segera kembali ke mobil, dia tidak mau membuat pak supir menunggu lama.


"Sudah pak, ayo berangkat." ucap Gisel.


"Baik non." jawab pak supir itu


Gisel nampak menikmati pemandangan disepanjang perjalanan, saat mobilnya berhenti karena lampu merah, mata Gisel tak sengaja melihat seorang anak kecil berjalan sambil menggendong adiknya yang terlihat masih seperti bayi, mereka meminta-minta kepada pengendara yang berhenti dipersimpangan jalan itu karena lampu merah.


Tak tega melihat itu, Gisel pun mengambil beberapa roti yang tadi ia beli, tak lupa juga dia mengambil uang dengan jumlah yang cukup, lalu dia membuka kaca mobilnya.


"Dek, sini." panggil Gisel kepada anak itu, mendengar ada yang memanggil nya anak itu pun menghampirinya.


"Ini kakak ada beberapa kue untuk kalian, kamu makan ya sama adek kamu, dan ini juga ada air mineral." ucap Gisel sambil memberikan kantong plastik berisi roti dan juga minuman.


"Terimakasih kak." ucap anak itu dengan senyum tulusnya pada Gisel. Gisel terlihat hampir menangis melihat kedua anak kecil itu.


"Iya sama-sama, oh iya, ini untuk uang jajan kamu, beli yang kamu perlukan, jangan dihambur-hamburkan." ucap Gisel yang membuat anak itu menangis karena memegang uang dari Gisel.


"Ya sudah makan rotinya, sudah mau lampu hijau, Hati-hati saat menyebrang,"


"Iya kak, terimakasih, semoga kakak selalu bahagia." ucap anak itu yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu karena lampu hijau sudah mau menyala.

__ADS_1


Pak supir yang melihat aksi Gisel pun hanya tersenyum,


"Nona benar-benar berjati tulus." batin pak supir itu. Tidak lama, lampu hijau pun menyala, dan mobil yang mereka kendarai pun melanjutkan perjalanannya menuju kerumah.


__ADS_2