Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 15


__ADS_3

Kemarin malam Gisel ditelfon oleh ayahnya, dia disuruh untuk segera pulang ke Indonesia, dan sang kakak, semenjak terakhir kali menelfon waktu itu sampai sekarang mereka tidak saling memberi kabar lagi.


Gisel sudah mencoba menghubungi kakaknya, tapi jawabannya tetap sama, nomor yang Anda hubungi tidak aktif. Gisel mengira mungkin sang kakak sedang sangat sibuk.


Akhirnya Gisel kemarin kembali lagi ke Indonesia dan masuk lagi kedalam rumah itu, rumah yang penuh dengan sejuta kisah pilu didalamnya yang terukir dengan sangat jelas dalam memori Gisel.


Gisel kira apa yang membuat sang ayah sampai menelponnya untuk pulang, ternyata inilah sebabnya. Gisel benar-benar tidak menyangka atas apa yang telah terjadi padanya saat ini. Dia dijadikan alat oleh orang tuanya sendiri untuk membayar semua hutang perusahaan.


Berkorban lah sedikit saja untuk keluarga ini. Kami sudah merawat, mendidik bahkan menyekolahkan mu sampai sekarang. Kamu harus tau bagaimana caranya untuk balas budi. Seperti itulah kata Melinda ibu kandung Gisel sendiri padanya.


Ternyata perjanjian yang waktu itu Devan ayah Gisel tanda tangani adalah perjanjian yang bertuliskan, jika Devan menikahkan salah satu putrinya pasa cucu orang itu, maka orang itu akan menyelamatkan perusahaan Devan yang saat ini memang sedang dalam keadaan sulit dan bahkan hampir bangkrut.


"Gisel, papa tidak pernah memohon bantuan mu selama ini, jadi kali ini papa ingin kamu melakukannya. Berjanjilah kamu akan membantu papa, kamu juga harus memikirkan kakak mu, kamu tidak boleh trus membebaninya."


Gisel menangis dalam diam, dia marah, dia kesal dengan keadaan yang saat ini seperti sangat memojokannya. Terlihat kuku Gisel yang warnanya memutih karena genggaman yang sangat kuat, dia menggepalkan tangannya, perasaannya bercampur aduk saat ini, bagaimana bisa orang tuanya memperlakukannya seperti ini.


"Balas budi? Kenapa aku harus melakukan itu, ayolah, apa kalian lupa jika kalian adalah orang tua kandung ku, bagaimana bisa kalian berkata seperti itu pada ku, aku ini juga anak kalian, aku juga punya pilihan ku sendiri, kenapa saat ini aku harus jadi seperti ini. Kalian melahirkan ku, tentu saja aku juga menjadi tanggung jawab kalian, lantas kenapa aku harus balas budi. Aku benar-benar membenci kalian sampai kapanpun." batin Gisel sambil menatap kedua orang tuanya dengan tatapan dingin yang benar-benar sangat dingin.


Gisel seperti tertabrak sebuah truk yang membuat dirinya berasa berada didalam ambang pintu kematian, tapi raganya masih tetap ingin hidup.

__ADS_1


"Pernikahan akan dilaksanakan lusa nanti, semuanya sudah disiapkan, kamu hanya perlu mengikuti semuanya sesuai rencana." ucap Devan kepada anaknya itu.


"Lusa, ini bahkan terlalu cepat, kalian berdua benar-benar keterlaluan." batin Gisel.


Gisel ingin menolak, tapi percuma, karena memang dari dulu orang tuanya tidak akan pernah setuju dengan apa yang Gisel inginkan. Jadi percuma saja jika Gisel ingin menolak saat ini.


"Iya sudah aku istirahat dulu." ucap Devan yang kemudian berjalan kearah kamarnya.


"Kamu istirahat juga ya." ucap Melinda yang saat ini mengikuti langkah kaki suaminya menuju kekamar mereka.


Kenapa? Kenapa kalian bersikap seperti ini pada ku, apa salah ku sampai kalian memperlakukan ku seperti ini, tidakah kalian berpikir sekali saja bagaimana perasaan ku, kenapa selalu aku, apa yang salah dengan ku sampai kalian seperti benar-benar tidak menginginkan ku. Aku ini anak kalian, tapi mengapa kalian malah bersikap begini pada ku, bahkan kalian sampai tega menjual ku seperti ini. Apakah seperti ini seorang anak harusnya diperlakukan. Kenapa? Kenapa? Batin Gisel yang semakin menjadi jadi.


"Aku anak kalian, bukan seorang pengontrak atau tamu dirumah ini." ucap Gisel lirih, selama ini dia mencoba untuk tidak menangis atau pun mempedulikan semua perkataan orang tuanya, tapi nyatanya kali ini, hatinya benar-benar sakit, bahkan rasa sakit itu mungkin akan menjadi rasa benci yang terus membesar.


Hari pernikahan


Gisel masih termenung duduk dikursi yang ada diruang tunggu pengantin. Dia menatap wajahnya didepan cermin rias itu, dia termenung dengan tatapan kosong, tidak ada gambaran kebahagian di hari yang seharusnya menjadi hari impian semua perempuan di dunia ini. Nyatanya Gisel sangat terluka saat ini. Wajahnya yang terlihat sangat cantik sama sekali tidak ada senyuman disana. Hanya ada wajah datar yang mungkin membuat semua orang berpikir bahwa Gisel adalah seorang yang idiot. Tapi kenyataannya memang seperti itu, Perempuan mana yang bahagia dengan pernikahan yang seperti ini. Jangankan untuk suka, tau dia akan menikah dengan siapa saja tidak. Seperti apa wajahnya, sifatnya, Gisel bahkan tidak tau, jangan kan itu, bahkan nama orang yang akan menikah dengannya saja Gisel tidak tau.


"Maaf nona, acaranya akan segera dimulai, saya disuruh kemari untuk menjemput nona." ucap orang yang tidak Gisel kenali itu. Gisel hanya bisa menarik nafas panjang, dan seketika wajah kakaknya terlintas di benaknya.

__ADS_1


"Kakak, apakah jika kamu ada disini kamu akan membatalkan pernikahan ini, aku benar-benar berharap kamu segera kembali dan menghentikan acara ini kak." batin Gisel dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Dia tau, itu hanya akan menjadi harapannya, sang kakak tidak akan pernah datang, karena ayahnya sudah merencanakan ini sejak awal. Gisel benar-benar seperti orang pengecut yang bahkan tidak berani menyuarakan isi hatinya, jangankan untuk menolak, u tuk menggelengkan kepalanya saja dia tidak bisa.


"Mari nona saya antarkan." ucap pelayan itu lagi. Gisel pun mengikutinya dengan berjalan dibelakang orang itu.


Di ruang tamu nampak orang tuanya sedang berbicara dengan seorang pak tua. Mereka terlihat sangat ramah, tidak biasanya mereka bersikap seperti itu. Benar-benar menyebalkan. Mulut kalian benar-benar seperti sampah. Tidak berguna dan hanya bisa kalian gunakan untuk menjikat saja.


"Gisel? Sangat cantik." ucap pak tua itu.


"Benar-benar menyedihkan." batin Gisel.


"Baiklah, mari kita berangkat." ucap pak tua itu, dan berjalan menuntun Gisel untuk mengikutinya dari belakang.


Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir didepan rumah itu.


"Silahkan naik nona." ucap orang itu pada Gisel, Gisel hanya diam.


"Apa yang harus aku lakukan, jika aku sudah pergi dari sini, maka aku tidak akan pernah kembali lagi. Tidak aku harus pergi dari sini, tapi Kakak, bagimana dengan kakak. Walaupun mereka jahat pada ku, ini tetap adalah rumah ku, aku tidak ada rumah yang lain. Jika aku pergi kakak akan tambah terluka, lalu bagaimana dengan perusahaan, jika saat ini aku lari semuanya akan bertambah kacau, bukan hanya orang tuanya yang akan terluka tapi juga kakaknya. Aku tidak bisa membuat kakak kembali berada diposisi sulit, mungkin benar, kali ini aku harus balas budi pada keluarga ini." batin Gisel.


Gisel pun akhirnya masuk kedalam mobil itu. Tidak lama kemudian mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman keluarganya. Sepanjang perjalanan Gisel hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, tidak ada ekspresi sama sekali disana.

__ADS_1


"Tenang saja, kamu tidak akan terluka atau dilukai, mereka semua orang baik." ucap orang tua tadi pada Gisel. Dia seperti tau apa yang Gisel pikirkan sehingga dia berinisiatif untuk memberi Gisel sedikit rasa percaya diri.


Gisel hanya diam, dia tidak berniat menanggapi ucapan orng itu. Baginya sejak awal dia memang sudah tidak ada rumah, jadi kalaupun dia menemukan rumah baru, itu tetap bukan rumahnya.


__ADS_2