Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Yang Kesepian
Bab 22


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Gisel telah sampai dikediaman mewah keluarga Leon. Gisel langsung turun dari mobil , padahal pak supir hendak membukakan pintu untuknya, tapi karena Gisel memang adalah orang yang mandiri, dia merasa bisa melakukan itu sendiri.


"Bapak langsung saja masukan mobilnya ke garasi, aku tidak ke mana-mana lagi, bapak juga istirahat." ucap Gisel, sebelum dia masuk dia kembali berbicara.


"Oh iya, ini roti untuk bapak," ucapnya lagi, sambil mengeluarkan sebungkus roti untuk pak supir yang mulai hari ini akan menjadi supir pribadinya.


"Ah, terimakasih non." jawab supir itu. Kemudian Gisel pun langsung masuk kedalam rumah. Rumah yang mewah itu terlihat sangat sepi, tidak ada orang disana. Itu mungkin karena para pelayan yang ada dirumah ini masih berada di acara pesta pernikahan tadi. Gisel memilih untuk pulang terlebih dahulu karena dia tidak ingin berada disana terlalu lama.


Gisel berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, saat dia hendak membuka pintu kamarnya, pintu itu ternyata dikunci, tidak bisa dibuka.


"Perasaan tadi saat pergi aku tidak menguncinya." ucap Gisel.


"Mencari ini." ucap sang kakek.


"Kakek, kenapa kuncinya ada pada kakek, dan kenapa pintunya dikunci?" tanya Gisel.


"Kakek sengaja melakukannya, mulai saat ini, kamar Leon adalah kamar mu, kalian berdua sudah menikah, jadi tinggal dalam 1 kamar yang sama bukanlah masalah." ucap sang kakek.


"Tapi kek, ini masih terlalu awal, Gisel dan kak Leon bahkan belum mengenal satu sama lain. Biarkan waktu yang membuat semuanya berjalan menjadi lebih baik kek, Gisel mohon, jangan paksa Gisel kek." jelas Gisel pada sang kakek.


Mendengar perkataan Gisel yang seperti itu membuat sang kakek tersentak, pasalnya sejak datang kerumah ini Gisel tidak pernah menolak apapun keinginannya, baru kali ini lah Gisel melakukan penolakan atas keinginannya.


"Baiklah, kakek minta maaf, ini kunci kamar mu, lakukan lah apa yang kamu inginkan, jangan menyiksa dirimu oke." ucap sang kakek, lalu dia memberikan kunci kamar yang tadi dia pegang pada Gisel.


"Ya sudah, kamu istirahat, jangan lupa untuk membersihkan tubuh mu, kakek ke kamar dulu." ucap sang kakek, setelah itu dia pergi berjalan kearah kamarnya. Gisel hanya menatap punggung sang kakek dari belakang.


*****


Sementara itu, disuatu kamar hotel berbintang 5 terlihat seorang perempuan yang menatap kearah jendela kamarnya. Dia adalah Alina, Alina termenung diruangan itu. Dia memikirkan bagaimana kabar adiknya. Apa adiknya itu baik-baik saja.

__ADS_1


Dia merasa heran, kenapa orang tuanya tidak memperbolehkan dia untuk bertemu ataupun menghubungi Gisel. Alasan yang mereka berikan pun sangat tidak masuk akal.


kamu tidak boleh menghubungi Gisel terlebih dahulu, karena papa tau, kalau kamu menghubungi Gisel, yang ada semua pekerjaan kamu terbangkalai, papa tidak ingin semua itu terjadi, jadi untuk sementara semua hal yang berhubungan dengan Gisel papa ambil dulu.


Begitulah kiranya kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya, sungguh sangat tidak masuk akal. bagaimana bisa mereka berpikiran seperti itu, pasti ada yang mereka sembunyikan dari ku, tapi apa itu. Batin Alina.


Karena seharian ini sudah sangat lelah mengurusi perusahaan, Alina pun memilih untuk kembali ke kasurnya dan tidur terlebih dahulu, besok baru ia cari tau lagi.


Keesokan paginya, Alina terbangun dengan kondisi segar bugar, dia langsung berjalan ke kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap pergi ke kantor.


setelah dirasa penampilan dan riasaan yang dia gunakan pas, dia pun akhirnya keluar dari dalam kamar hotel untuk sarapan dibawah. Tapi saat dia keluar, Alina mendengar sesuatu, Asisten pribadi sang ayah yang ikut bersamanya nampak tengah membicarakan hal penting.


"Baik Pak, iya saya bisa jamin bahwa nona Alina sama sekali tidak mengetahui tentang pernikahan nona Gisel pak."


"Iya Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin menahan nona Alina disini."


"Baik pak."


Lalu panggilan itu berakhir. Alina yang mendengar panggilan itu seketika seperti tertampar oleh badai angin yang sangat keras. Bagaimana bisa semua ini terjadi, bagaimana bisa dia sama sekali tidak mengetahui bahwa sang adik ternyata dijadikan tumbal oleh orang tua mereka.


"Nona." ucap pelayan itu saat melihat Alina terdiam mematung didepan pintu kamarnya.


"Apa lagi yang ingin kamu sampaikan? Apa lagi yang tidak ku ketahui. Kebohongan apa lagi ha!" maki Alina, dia benar-benar tertekan saat ini, dia sudah berjanji untuk menjaga sang adik, tapi nyatanya apa, dia sama sekali tidak tau apa-apa.


"Aku ingin pulang sekarang."


"Tapi non."


"Aku ingin pulang sekarang! Saat ini juga! Siapkan tiket untuk ku!" perintah Alina, sudah tidak ada lagi Alina yang ramah dan meminta sesuatu dengan lemah lembut, dia sangat marah dan kesal saat ini, dia merasa seperti ditip, dan yang lebih parahnya lagi, orang tuanya lah dalang dibalik semua ini.

__ADS_1


Sekertaris itu hanya bisa menuruti kemauan nona nya ini, karena biar bagaimana pun, jika Alina marah, maka semuanya akan berantakan dia buat. Jika kemauannya tidak dipenuhi, nona mudanya itu bisa sangat marah dan mengacau.


Setelah mengatakan itu, Alina segera masuk kedalam kamar hotelnya lagi, dia menangis sejadi-jadinya.


"Gisel, maafkan kakak." ucapnya terus menerus


kakak macam apa aku ini, aku bahkan tidak bisa melindungi adik ku sendiri, aku benar-benar tidak berguna sebagai seorang kakak.


Alina benar-benar terpukul dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui ini. Bagaimana bisa orang tuanya melakukan hal itu kepada adiknya.


*Sebenarnya seberapa besar kebencian kalian pada Gisel, bagaimana mungkin kalian dengan teganya merenggut masa mudanya hanya untuk mengembalikan keadaan perusahaan, aku benar-benar tidak percaya bahwa semua yang aku takutkan ternyata benar-benar terjadi.


Maafkan aku, maafkan kakak Gisel, kakak benar-benar bodoh, seharusnya kakak ada disana untuk mencegah semuanya, tapi nyatanya apa, kamu harus melewati semua ini tanpa kakak,


kamu pasti sangat berharap kakak ada disana saat itu kan, tapi nyatanya kakak bahkan tidak tau sama sekali jika semua ini terjadi pada mu, Gisel. Maafkan kakak,


Ya Tuhan, aku mohon, bantu aku untuk menyelamatkan adik ku, apa salahnya, kenapa harus dia yang menanggung semua ini*.


"Arghh." teriak Alina sambil membuang semua barang yang ada dimeja rias kamar hotel itu.


Alina terus terisak, memikirkan bagaimana keadaan adiknya saat itu, sendirian dan tertekan, tanpa bisa menolak.


Apa yang mereka katakan sehingga Gisel setuju dengan semua yang mereka ucapkan, jangan bilang... Jika ternyata benar seperti itu, aku tidak akan memafkan mereka.


Alina terus saja memikirkan hal yang aneh-aneh, dia dengan paksa mengambil ponselnya yang ada didalam tas, dan mencari no asistennya tadi.


"Sudah belum? Kamu bisa kerja tidak sih, sudah berapa lama aku memberi mu waktu, tapi kamu belum mengabari ku, cepatlah jika kamu masih betah bekerja ditempat ini." ancam Alina pada asistennya itu.


Akhirnya sore itu, Alina bertolak untuk pulang, dari Paris ke Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2