
****
Gisel mengambil gelas diatas meja yang berisi air putih dan menyiramkan nya ke muka Leon yang masih terlihat tertidur pulas. Dan
Byurrr...
Air yang Gisel tumpahkan tepat kesadaran, yaitu wajah Leon dan sontak hal itu membuat Leon terbangun dari tidurnya dan langsung menatap kearah sang pelaku.
"Hujann." ucap Leon yng terbangun dari tidurnya karena Gisel menyiramkan air ke muka nya.
Leon menoleh dan mendapati Gisel sedang berdiri sambil memegang gelas kosong, karena airnya sudah tumpah ke muka Leon semua.
"Hei, apa yang kamu lakukan!" bentak Leon saat melihat ternyata Gisel lah yang melakukan itu padanya.
"Apalagi, ya membangunkan mu lah." jawab Gisel dengan santainya sambil memberi sedikit senyuman yang lebih terlihat ke menyebalkan.
"Membangunkan? Dengan cara seperti ini?" tanya Leon lagi dengan nada yang mulai meninggi.
__ADS_1
"Menurut mu, ahh apakah kamu berharap aku akan membangunkan mu dengan penuh kelembutan sementara orang yang ku bangunkan ini ketika tidur seperti orang mati." jelas Gisel lagi masih dengan senyumannya yang sangat terlihat menyebalkan dimata Leon. Terlihat Leon terdiam menahan amarahnya.
"Kenapa, tuan muda kita tidak terbiasa dibangunkan seperti ini iya." ucap Gisel lagi.
"Aduhh kasihan, masih pagi sudah mandi iya." tambah Gisel, mendengar itu pun membuat Leon semakin kesal.
"Kamu!"
"Aih sudahlah, cepat mandi dan kemudian turun kebawah, aku sudah membuatkan sarapan." ucap Gisel sembari melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar Leon.
Sebelum benar-benar keluar Gisel berhenti dan menatap ke arah Leon yang masih setia duduk diatas kasurnya.
"Aiss perempuan ini." ucap Leon yang kesal dengan apa yang telah Gisel lakukan padanya. Leon pun bangun dari tempat tidur dan menarik nafas panjang.
"Bagimana bisa dia membuat ulah padahal ini masih pagi. Aihh." ucap Leon dengan penuh kekesalan dan segera berjalan ke kamar mandi.
Dan pagi ini diselesaikan dengan sarapan bersama sebelum sang kakek dan Leon pergi ke kantor. Tinggalah Gisel yang masih bingung ingin melakukan apa. Padahal jika masih di Singapura dia pasti sudah berangkat Kuliah, tapi apa boleh buat, dia belum mendapat izin untuk kembali kesana.
__ADS_1
Saat sedang duduk bersantai diruang tamu, Tiba-tiba bel pintu utama berbunyi, membuat Gisel yang mendengarnya pun langsung sontak berdiri.
"Biar saya saja." ucap Gisel pada pelayaannya, saat dia melihat pelayan itu juga hendak berjalan untuk membukakan pintu.
Gisel berjalan untuk membuka pintu, dan berapa terkejutnya dia saat dia melihat orang yang ada didepannya saat ini adalah ayah nya, ayah yang telah tega menjualnya. Seketika mulut Gisel terasa kaku, dia memang sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padanya, tapi untuk memaafkan, dia masih belum bisa.
Sekitar Gisel tersadar dan buru-buru menyuruh ayahnya untuk masuk. Mereka berdua duduk di sofa yang ada diruang tamu.
"Aku tidak ingin berlama-lama disini, aku hanya ingin menyampaikan bahwa, tolong kamu bujuk Alina agar dia berhenti dan menuruti apa kata ku saja." ucap sang ayah pada nya, sekali lagi Gisel dibuat terdiam dengan apa yang ayahnya ucapkan.
"Apa papa datang kesini hanya untuk itu?" tanya Gisel pada ayahnya, sebenarnya bukan pertanyaan, lebih tepatnya memastikan.
"Gisel tolong jangan egois. Kamu tau kan kondisi keluarga kita baru saja normal. Dan kamu juga tau kan jika Alina itu sangat keras kepala. Hanya kamu yang bisa membuatnya menyerah." jelas Devan pada Gisel.
"Egois? Aku egois? Apa papa yakin dengan apa yang papa ucapkan?" tanya Gisel lagi pada ayahnya.
"Gisel, bisa kah kita tidak berdebat sekarang, kamu taukan."
__ADS_1
"Cukup!" bentak Gisel memotog ucapan sang ayah.