
Mendengar suara deheman yang terdengar lebih seperti intrupsi yang menyuruh ayah dan anak itu untuk menghentikan pertengkaran mereka.
"Ah, maaf atas ketidak nyamanannya. Tapi saya minta maaf sebelumnya, saya ingin berbicara dulu dengan anak saya." ucap sang ayah pada orang yang tidak diketahui oleh Alina.
Alina tampak tidak percaya pada apa yang dia lihat saat ini, ayahnya yang biasanya tidak pernah bersikap terlalu merendah, kita terlihat sangat sopan sekali, seperti orang itu adalah raja saja.
Alina nampak berpikir dan kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin seperti itu kan. Batinnya.
Pak tua itu nampak mengangguk setelah mendengar ucapan dari ayah Alina. Sang ayah langsung menarik Alina keluar dari tempat itu dan menuju ke arah tangga yang saat itu kebetulan sedang sepi.
"Alin dengar, sudah cukup, saat ini, biarkan papa yang menyelesaikannya, kamu cukup diam saja."
"Pa, mana bisa seperti itu."
"Alin papa belum selesai bicara!"
Ucap sang ayah yang ikut tersulut emosi karena anak ke sayangnya itu terus membantah perkataannya.
"Apa yang mau papa bicarakan, tentang kegagalan papa, atau tentang kehancuran perusahaan ini pa, apa! Coba papa jelaskan." ucap Alina yang semakin kesal dengan ayahnya itu.
"Papa tidak akan membiarkan perusahaan ini hancur, papa akan mempertahankannya bagaimana pun caranya." ucap sang ayah dengan penuh keyakinan.
"Kamu tenang saja, perusahaan ini tidak akan hancur begitu saja."
"Apa maksud papa, jangan coba membodohi ku, di dunia bisnis ini tidak ada yang gratis, apa yang papa korbankan?" tanya Alina pada ayahnya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu tau, yang terpenting adalah perusahaan ini selamat. Sudah kamu pulang dulu saja, ayah mau menemui orang tadi." ucap ayah Alina lagi.
Setelah mengucapkan itu, sang ayah lalu pergi masuk lagi kedalam ruangannya untuk menemui orang tadi. Sementara Alina yang ditinggal sendirian berpikir dengan sangat keras, apa yang akan ayahnya berikan kepada orang itu sebagai imbalannya. Tib-tiba saja sesuatu terlintas kedalam pikirannya.
"Tidak, tidak mungkin sepeti itu, tidak, Alina tenang, jangan berpikir yang aneh-aneh, papa tidak mungkin melakukan itu." batin Alina lagi.
Setelah itu, dia pun berjalan ke arah lift untuk turun ke lantai bawah, niatnya ke perusahaan untuk menyelesaikan masalah ternyata tidak jadi, karena sang ayah memiliki rencana lain. Dan semoga saja rencana yang ayahnya ambil itu, tidak berhubungan dengan apa yang Alina pikirkan tadi.
*****
Setelah berbicara dengan anaknya, Devan kembali masuk keruangannya. Dia kembali duduk dikursi sofa yang tadi dia duduki.
"Maaf tadi ada sedikit masalah, tapi sudah selesai." ucap Devan meyakinkan orang tersebut.
"Baiklah, jadi kita sepakat dengan perjanjian tadi. Aku harap kamu dapat memegang perkataan mu." ucap orang itu lagi sambil melihat kearah Devan.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan mengecewakan mu." balas Devan.
"Baiklah jika begitu, senang bisa bekerja sama dengan mu. Berikan berkasnya." ucap orang itu, sambil menyuruh sekertarisnya untuk memberikan surat perjanjian yang harus Devan tanda tangani. Devan pun tanpa basa basi langsung saja menandatangani berkas tersebut. Dia sepertinya sudah sangat yakin dengan keputusannya itu.
"Terimakasih." ucap Devan sambil bersalaman dengan orang itu, setelah itu orang tersebut pun berjalan keluar dari ruangan Devan.
Devan sepertinya sedikit tenang, karena perusahaan yang dia bangun akhirnya bisa dia selamatkan, tapi dia takut juga jika nantinya Alina akan marah dengan keputusannya ini.
Sebenarnya sedarintadi yang menjadi permasalahan bagi Devan saat mengambil keputusan ini adalah anak ke sayangnya Alina, tentu saja dia tidak ingin membuat Alina terluka, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Itu adalah jalan satu-satunya agar perusahaan mereka selamat.
Devan berjalan menuju kursinya dan mengambil telfon untuk menelfon sekertarisnya. Tidak butuh waktu lama, panggilannya akan segera diangkat, terdengar suara sapaan dari telfon tersebut.
"Tolong kamu buat surat tugas untuk Alina, agar nanti dia tidak bisa menyaksikan apa yang akan diaa saksikan."
"Baik Pak." setelah itu panggilan pun dimatikan.
*****
Alina baru saja sampai dirumah, dia langsung berjalan kearah kamarnya, tapi tib-tiba langkahnya dihentikan oleh sang ibu, Melinda. Melinda memanggil Alina untuk datang dan duduk dulu didekatnya.
"Kamu tadi ke perusahaan?" tanya Melinda saat Alina sudah duduk disampingnya.
"Iya, ada apa?" tanya Alina balik pada ibunya.
"Iya ma, ya sudah aku mau ke kamar dulu."
"Iya, istirahat, nanti mama bangunkan untuk makan malam."
Alina hanya mengangguk menanggapi ucapan sang ibu. Setelah itu dia berdiri dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Sebenarnya Alina cukup senang saat ini, tapi ada perasaan was-was disana takut-takut apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan.
Alina membuka pintu kamarnya dan menaruh tas yang tadi dia gunakan ke atas mejanya. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya keatas kasur.
Belum lama Alina berbaring tib-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk. Alina melihat panggilan itu, ternyata dari kantornya. Dia pun segera mengangkatnya.
"Selamat siang bu."
"Iya siang, ada apa?" tanya Alina penasaran, karena tidak biasanya dia ditelfon pada jam segini.
"Saya ingin memberitahu, bahwa ibu besok ada jadwal dinas ke Paris selama 2 minggu, ada perusahaan cabang disana yang harus di awasi, dan pihak perusahaan setuju agar ibu lah yang menjadi perwakilan."
"Kenapa bisa mendadak seperti ini, kenapa tidak dari kemarin di beritahu, dan kenapa tidak bertanya dulu apakah aku setuju atau tidak."
__ADS_1
"Maaf Bu, saya hanya menyampaikan pesan saja."
"Aih, keterlaluan, iya sudah."
"Baik bu, selamat malam."
Setelah itu panggilan pun berakhir. Alina nampak kesal dengan semua ini.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi dengan begitu saja."
"Papa.Papa pasti dalang dibalik semua ini, tapi untuk apa papa melakukan ini, apa yang dia sembunyikan sampai harus mengirim ku keluar negri."
"Ini terlalu kelihatan, astaga."
"Arggg."
Alina sangat kesal, bagaimana semuanya bisa seperti direncanakan, seolah-olah ada yang ingin orang tuanya tutupi dari dirinya.
*****
"Kakek, aku kan sudah bilang jika kakek tidak perlu mencarikan wanita untuk ku, aku sudah dewasa, aku bisa mencari sendiri."
"Bisa mencari sendiri? Kamu hanya bermainmain dengan mereka. Jangan pikir kakek tidak tau."
"Apa salahnya dengan itu, aku masih muda, waktu ku masih panjang, ayolah kakek, kakek tidak berniat mengekang ku kan. Aku berhak memilih."
"Mengekang, kamu pikir selama ini seperti apa kakek membebaskan mu, karena kakek terlalu membebaskan mu mangkanya kamu jadi seperti ini. Tidak ada perasaan saat menyakiti hati wanita."
"Kakek."
"Leon! Sudah, lakukan seperti yang kakek suruh, jika kamu berani menyakitinya, maka kamu berurusan dengan kakek."
"Sudahlah, kakek ingin istirahat, nikmati sisa waktu mu untuk bermain saat ini. Karena jika sudah bersama dengan wanita pilihan kakek, kamu tidak bisa bermain dengan wanita lainnya, tidak ada pengecualian, kakek tidak peduli, kakek sudah cukup tua, sudah saatnya kakek memiliki cucu."
"Cucu? kita bisa mengangkat anak dari panti asuhan kek."
"Hei! anak ini." ucap sang kakek diiringi dengan pukulan ringan tapi cukup sakit ditangan Leon.
"Aduh, sakit kek."
"Salah siapa berbicara sembarangan, sudahlah, tidak ada bantahan, jika kamu berani membantah, lihat saja apa yang akan kakek lakukan." ancam sang kakek pada cucu pertamanya itu.
__ADS_1
Leon pun hanya terdiam melihat kakeknya yang bejalan pergi meninggalkannya.