
Tanpa Gisel sadari, ternyata sedari tadi Leon berdiri menatapnya, terlihat tatapan Leon sangat tulus pada istrinya itu.
Apalagi barusan dia melihat dia melihat istrinya itu menangis, pemandangan yang sangat jarang dia lihat, bahkan sangat langkah, hal itu tentu saja membuat Leon bertanya-tanya tentang apa yang membuat istrinya itu menangis sampai seperti itu.
Leon sangat ingin memeluk Gisel dan menenagkannya, tapi sepertinya rasa gengsinya terlalu tinggi, bahkan sampai Gisel masuk kedalam rumah, Leon hanya bisa menatapnya, tanpa melakukan apapun.
Leon termasuk salah satu orang yang tidak pernah bisa menunnukan rasa pedulinya secara langsung, mungkin itu termasuk salah satu sifat buruk lain yang dimiliki oleh tuan muda satu ini.
"Maaf." ucap Leon pelan saat melihat Gisel berjalan kembali kedalam rumah.
***
Seharian ini Gisel mengurung dirinya di kamar, dia bahkan melewatkan makan siang.
Awalnya Gisel ingin mencba untuk terlihat biasa-biasa saja, tapi sepertinya dia terlalu takut, bahakn serangan panik nya yang sudah lama tidak dia alami akhirnya kambuh lagi.
Tangannya terlihat sangat gemetar saat hendak membuka pintu kamarnya. Alhasil dia kembali duduk di kursi yang ada di kamarnya itu.
"Nenek, aku kira selama ini aku sudah cukup kuat, aku sudah cukup pintar menyembunyikannya, tapi ternyata aku masih kalah dengan rasa takut ini nek." ucap Gisel yang kembali terisak.
Gisel selama ini sudah menahan semua beban itu sendiri, tanpa ada tempat untuk mengadu, dia hanya bisa diam bahkan terkesan seperti pasrah. Walaupun sang kakak selalu ada untuknya, Gisel tetap saja tidak berani bercerita pada kakaknya. Dia bahkan tidak pernah memberitahu kakaknya tentang apa yang telah dia alami selama ini.
***
Malam ini Gisel memberanikan diri untuk keluar kamar, dia tidak ingin sang kakek khawatir padanya.
"Malam sayang." sapa kakek pada Gisel. Gisel terlihat tersenyum membalas sapaan kakeknya itu.
"Malam juga kek." balas Gisel, masih dengan senyum diwajahnya.
Senyum yang dia paksakan, tentu saja Leon menyadari itu, tapi dia tidak ingin berkomentar karena takut Gisel merasa terganggu.
Mereka makan malam dengan tenang, sesekali Sang kakek mengajak Gisel berbicara. Sementara Leon, dia hanya menjadi pendengar yang baik saja. Bahkan saat ini terkesan Leon lah menantu dirumah ini, bukan Gisel.
"Kamu akan langsung tidur?" tanya kakek pada Gisel setelah mereka selesai makan malam.
"Iya kek, Gisel sudah ngantuk." jawab Gisel dengan sedikit senyuman diwajahnya.
"Ya sudah, selamat tidur." ucap Kakek lagi.
"Selamat tidur kek." balas Gisel.
"Malam." ucap Gisel pada Len sebelum akhirnya kembali ke kamarnya.
***
Setelah Gisel kembali ke kamarnya, Leon dan sang kakek terlihat duduk diruang keluarga.
"Apa yang terjadi pada gadis itu?" tanya kakek pada Leon.
"Aku juga tidak tahu, terlalu banyak hal yang dia sembunyikan." jawab Leon.
"Leon, kakek tahu kalau kamu tidak mencintai Gisel, tapi kakek harap kamu bisa menjaganya, karna biar bagaimanapun saat ini dia istri mu, kebahagiannya adalah tanggung jawab mu." ucap sang kakek pada cucunya itu.
"Kakek tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Gisel." jawab Leon dengan tegas.
"Baguslah, nanti kamu tanya Gisel, apakah dia lusa jdi berangkat atau tidak, kalau jadi kamu urus cuti dulu satu minggu, anggap saja sekalian Honeymoon." jelas kakek lagi.
__ADS_1
"Baik kek." balas Leon.
"Yasudah aku istirahat dulu." ucap Leon yang kemudian berjalan menuju kamarnya.
"Tumben sekali anak itu tidak menentang perintah ku." ucap sang kakek yang diakhiri dengan senyum kecurigaannya.
***
Leon berjalan ke kamar Gisel, dia tau perempuan itu pasti belum tidur.
Tok..Tok...Tok...
Tidak ada jawaban dari dalam, Leon pun akhirnya memutuskan un tuk membuka pintu itu langsung.
Gisel yang sedari tadi melamun sedikit tersentak karena suara pintu terbuka.
"Ah, kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk!" ucap Gisel.
"Telinga mu yang tidak dengar, kenapa aku yang disalahkan." jawab Leon acuh.
Gisel menarik nafas panjang, saat ini dia sangat malas untuk berdebat.
"Kapan berangkat?" tanya Leon, Gisel yang mengerti dengan pertanyaan itupun langsung menjawabnya.
"Lusa." jawab Gisel singkat.
"Kenapa?" tanya Gisel balik pada Leon.
"Tidak ada." jawab Leon yang kemudian langsung melangkahkan kaki nya keluar kamar Gisel.
Gisel tidak kembali merespon, karena dia tau Leon memang orang aneh.
***
Setelah dari kamar Gisel, Leon berjalan keruang kerjanya. Ada beberapa berkas yang harus dia tanda tangani.
Sebelumnya Leon mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya.
"Halo selamat malam pak." jawab Asisten Leon itu.
"Urus jadwal cuti ku untuk satu minggu dan undur semua rapat yang ada." ucap Leon kepada asistennya itu.
"Baik pak." ucap asistennya itu. Leon kemudian mematikan ponselnya.
Dia lalu menghubungi Steven. untuk meminta beberapa bantuan.
"Mau minta bantu apa?" tanya Steven yang sepertinya sudah hapal betul sifat Leon. Temannya itu tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada hal penting atau sesuatu yang perlu bantuannya.
"Pesan tiket pesawat untuk 2 orang, penerbangan lusa."
"Kamu akan liburan, kenapa aku tidak diajak." ucap Steven,
"Sebentar.."
"Handle kantor selama aku cuti." ucap Leon lagi.
"Sial, aku sudah menduga ucapan mu ini."
__ADS_1
"baiklah, bersenang-senanglah nanti."
Percakapan pun berakhir. Leon kembali mengerjakan pekerjaannya tadi, sepertinya malam ini dia harus lembur agar besok pekerjaannya tidak terlalu banyak.
***
Sementara itu ditempat lain terlihat seorang laki-laki sedang duduk sambil tersenyum.
Bryan, dia sedari tadi tidak berhenti tersenyum, pasalnya setelah sekian lama berpisah dengan Gisel, akhirnya mereka akan bertemu kembali, Gisel mengirimnya pesan, dia bilang dia akan kembali lusa.
"Sepertinya aku benar-benar menyukai gadis ini." ucap Bryan.
Dia tidak pernah seantusias ini untuk bertemu dengan seseorang, hanya Gisel yang bisa membuatnya seperti ini.
Ditengah lamunannya, ada seseorang yang memanggilnya.
"Kak.." ucap Natasya yang ternyata sedari tadi mengamati tingkah Bryan.
"Ah, kenapa?" tanya Bryan yang sepertinya sedikit terganggu dengan kehadiran Natasya.
"Kakak dari tadi senyum-senyum sendiri, aku hanya penasaran apa yang membuat kakak ternyum." ucap Natasya.
"Apa aku harus melaprkan semua yang aku alami pada mu?" tanya Bryan.
"Ah tidak, bukan seperti itu, aku hanya penasaran." jelas Natasya, tapi sepertinya Bryan tidak perdulu dengan itu semua. Bryan memilih kembali masuk ke dalam Cafe.
*Aih, kenapa dia masih saja sangat dingin pada ku, padahal ku kira kami sudah cukup dekat, *batin Natasya.
***
Keesokan paginya Gisel mencoba untuk menghubungi kakaknya, biar bagaimana pun dia harus memberi kabar pada kakaknya itu.
Gisel menelfon Alina, tidak butuh waktu lama, Alina pun mengangkat telfonnya.
"Halo kak."
"Gisel, bagaimana kabar mu?"
"Baik kak, kakak tidak perlu khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir, aku bahkan tidak bisa menemukan keberadaan mu saat ini, bahkan tempat tinggal mu saja tidak bisa di lacak."
"Sudahlah kak, aku baik-baik saja sekarang."
"Gis.."
"Kak, besok aku akan kembali ke Singapura."
"Apa?Kenapa tiba-tiba."
"Tidak tiba-tiba, ada beberapa hal yang harus ku urus sebelum menikah."
"Kamu benar-benar akan menikah? Gisel kalau kamu tidak mau kakak akan berusaha untuk membatalkannya."
"Kak, sudahlah, ini sudah takdirnya, berhenti mencoba merubah hal yang sudah ditakdirkan kak."
"Tapi Gis.."
__ADS_1
"Kak..Jaga kesehatan mu, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja."
Lanjut Gisel, tanpa menunggu jawaban dari sang kakak, Gisel langsung mematikan telfonnya. Alina adalah kelemahan terbesar bagi dirinya. Walaupun dia sangat merindukan Alina, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bertemu. Setidaknya itulah yang Gisel pikirkan.