Tersenyumlah Pelangi

Tersenyumlah Pelangi
9. Kehilangan kedua


__ADS_3

Pagi ini langit begitu mendung, ntah ke mana pergi nya senyum cerah mentari.


seperti biasa nya sila bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah,ntah kenapa hari ini sila tidak bersemangat seperti biasa nya.


sila yang sudah rapi pun segera menuju meja makan.


"pagi sila. sapa bibi".


"pagi bibi, loh Bu Dhe mana Bii? tanya sila yang sedari pagi tak melihat Bu Dhe nya".


"Bu Dhe lagi gak enak badan, jadi bibi yang bikin sarapan sama bekal buat sila. jawab bibi".


"ouh makasih bibi. terus Bu Dhe sekarang di mana bi? tanya nya".


"Bu Dhe tadi pagi di jemput sama anak-anak nya sekarang seperti nya lagi ke dokter sama pak Dhe juga. cerca bibi".


"yeah tadi nya aku mau ketemu bu Dhe, ujar sila yang tampak tak bersemangat".


"sila sekolah dulu aja, nanti pulang sekolah baru tengok Bu Dhe, bibi juga gak tau nanti Bu Dhe di bawa pulang ke sini atau rumah pak deh. jelas bibi".


"baik bi. setelah sarapan dan pamit pada bibi nya, sila pun berangkat ke sekolah".


dua pelajaran berlalu sekarang waktunya istirahat.


"sila kenapa gak di makan bekel nya? tanya Reva".


"gak papa Rev, nanti aja. jawab sila".


"kmu kenapa sila, bilang sama aku ada apa? tanya nya".


"sila bole ijin pulang gak Rev? perasaan sila gak enak sila pengen pulang. ujar sila dengan mata yang sudah mengembun"


"ya sudah sila tunggu sini Reva mintain ijin sama guru dulu. jawab Reva".

__ADS_1


lima menit berlalu Reva kembali menghampiri sila.


"sila kmu boleh pulang aku sudah mintain ijin sama guru. ujar Reva".


"makasih ya Rev kmu emang sahabat baik ku, aku pulang dulu ya assalamualaikum. ujar sila".


"waallaikumsalam hati-hati di jalan sil. teriak Reva".


Sila pulang mengunakan ojek, perasaan nya ingin cepat pulang, tidak sampai lima belas menit sila sudah sampai di rumah.


setelah membayar ongkos ojek silang langsung berlari ke rumah nya.


"assalamualaikum Bu Dhe bibi. setelah beberapa kali memanggil dan tidak ada yang menyahut ,sila memasuki semua ruangan dan memang tidak ada orang di rumah nya".


kemudian sila keluar rumah dan bertemu bibi nya yang sedang berjalan terpogoh-pogoh karena melihat pintu rumah yang terbuka.


"sila ada apa? kmu sudah pulang bibi pikir ada siapa kok pintu sudah ke buka. cerca bibi".


"bibi Bu Dhe mana? tanya sila to the points".


secepat kilat sila menganti pakaian nya.


"Bibi ayo. ajak sila yang mengandeng tangan bibi".


sesampai nya di rumah bu Dhe, sila semakin tak kuasa menahan kesedihannya melihat Bu dhe berbaring lemah di ranjang nya.


"Bu Dhe sila sudah pulang. ujar sila dan langsung mencium punggung tangan Bu Dhe".


"sila sudah pulang, ibu kangen. ujar Bu Dhe yang menyebut diri nya sebagai ibu sila".


ntah sila malah rasa nya semakin tidak karuan, tanpa sengaja sila melihat bubur Bu Dhe masih utuh di meja samping ranjang.


"Bu Dhe belum makan ya? sila suapin ya. ujar sila yang meraih mangkuk bubur".

__ADS_1


"iya ibu mau di suapi sila. jawab Bu Dhe yang membuat semua yang ada di kamar terpaku".


pasal nya mereka dari tadi membujuk Bu Dhe agar mau makan, tapi tak ada satupun suapan yang di inginkan Bu Dhe.


namun kini mereka menyaksikan sendiri begitu lahapnya Bu Dhe yang makan di suapi oleh sila.


"Nah sudah habis sekarang ibu minum obat ya biar cepat sembuh, nanti kita masak-masak lagi. ujar sila yang tanpa ia sadari memanggil Bu dhe dengan sebutan ibu".


'kenapa aku merasa agak gak enak ya dengan panggilan ibu yang sila ucap kan untuk bu Dhe Begitu pun sebaliknya. dalam hati bibi'


"Sila ingat ya pesan-pesan ibu pada mu, kmu harus jadi anak yang soleha, pinter,baik ,sukses ya, di masa depan berguna buat orang banyak dan jangan pernah Sombong dengan apa yang sudah kmu raih ya sayang. ujar Bu Dhe yang tiba-tiba memberi sila nasihat".


"iya ibu, sila gak akan lupa sila akan jadi anak yang sukses dan bahagia sama ibu juga. ujar sila yang berusaha menutupi rasa gelisah nya, dia tersenyum dan memeluk Bu Dhe nya".


"Ibu sayang sama sila, sila anak bontot nya ibu, jangan pernah lupa sama ibu ya nak. ujar Bu Dhe lagi".


sila yang sedang terisak mendengar penuturan Bu Dhe nya, samar-samar mendengar ucapan 'allah' yang keluar dari mulut Bu Dhe nya walaupun lirih.


kemudian anak-anak Bu Dhe mendekat dan membantu Bu Dhe membaca syahadat, dan terdengar sempurna dari mulut Bu Dhe meski sangat lirih.


sila yang tidak faham pun nampak terdiam beberapa saat, sampai suara 'innalilahiwainailahi rajiun' sila tersadar dan menangis histeris.


"Bu Dhe jangan tinggalin sila, Bu Dhe jangan pergi. sila berteriak sambil memeluk Bu Dhe".


bibi yang tak kuasa pun mendekati sila dan memeluk nya, berusaha menenangkan sila.


paman nampak lesu kemudian mencium kening istrinya untuk yang terakhir kali, sebelum jenazah di mandikan.


begitu juga anak-anak Bu Dhe yang nampak begitu terpukul namun bisa apa selain doa? semua sudah takdir.


Begitu lah maut yang tidak pernah menunggu kata siap pada diri kita, jika memang sudah waktunya mau berlari sejauh apapun tak kan pernah bisa.


semoga kita selalu di dekat kan pada yang maha kuasa dan di panggil dalam keadaan beriman 🤲.

__ADS_1


Terimakasih semua yang sudah mampir jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat nih nulis nya🤗


__ADS_2