
...***...
"Ap, ap, apa...."
Ketidakpercayaan menyebar ke seluruh wajah Teramore.
Aku berbisik padanya, "Bodoh sekali."
"......"
"Tunggu saja, pak tua. Dyuke akan cegera tahu tentyang ini." (Tunggu saja, pak tua. Duke akan segera tahu tentang ini.)
Aku berjalan melewati Teramore sambil tersenyum. Aku meraih tangan Henry dan meninggalkan ruangan.
"Kamu gila? Apakah kamu tidak takut?"
Aku menatap Henry dengan wajah kaku. Mungkin dia terkejut melihat aku mengganggu usaha Teramore, tapi sepertinya itu hal yang baik. Dinding antara aku dan dia telah sedikit menghilang.
"Kamu akan berada dalam masalah. Teramore adalah pria yang kejam."
"Tidwak takut." (Tidak takut)
"......"
"Olang jahad memukul Henli. Aku sama sekali tidyak takut." (Orang jahat memukul Henry. Aku sama sekali tidak takut.)
Mata Henry melebar, ketika aku berkata dengan penuh tekad. Aku benar-benar tidak takut pada Teramore. Aku telah bertemu orang-orang jahat yang tak terhitung sebelumnya dan Teramore hanyalah salah satu dari mereka. Dia hanyalah orang cabul yang merasakan kenikmatan dari melecehkan anak-anak.
Aku lebih khawatir tentang Henry. Pipi yang dipukul Teramore sekarang bengkak merah dan bahkan kerahnya yang rapi pun kusut.
"Ayho pergi ke Dyuke. Henli terluka." (Ayo pergi ke Duke. Henry terluka.)
"Cukup...."
"Henli...." (Henry...)
"Cukup!"
Henry berteriak, keras kepala tergambar di matanya.
"Jangan memberi tahu siapa pun tentang hari ini."
Henry lalu berjalan pergi.
'Bukannya aku tidak mengerti pikiran anak itu. Anak-anak yang dilecehkan biasanya menghabiskan seluruh hidup mereka untuk menghindari orang lain atau tumbuh secara agresif. Dengan demikian, traumanya berkembang. Bahkan aku, yang telah dilahirkan kembali tiga kali tidak dapat sepenuhnya mempercayai orang-orang karena kehidupan masa laluku.'
Aku menghela nafas ketika melihat punggung Henry menghilang.
...***...
Teramore berjalan mondar-mandir di aula sambil menggertakkan giginya karena marah.
'Gadis gila itu...!'
"Apa ini? Kamu diswentuh oleh cinta, dasar kepwarat."
Kapan pun Teramore mengingat ekspresi anak itu, ia akan merasa amarahnya naik sekali lagi.
'Dia bukan anak takdir, dia iblis! Setan kecil itu pasti telah dikirim oleh gereja untuk memata-matai Dubblede. Apakah dia pikir aku akan takut dengan tindakan kecilnya?!'
Teramore bergegas melangkah menuju kantor Duke dan mengetuk pintu.
"Ini Teramore, tuan."
Segera dia mendengar jawaban Sang Duke, memperbolehkan masuk ke ruangan. Teramore memasuki ruangan dengan wajah penuh kegembiraan, dia tidak sabar untuk melaporkan tindakan Leblaine ke Dubblede.
Dia berbicara dengan tergesa-gesa, "Yang Mulia, anak takdir-"
"Itu pak tua!"
"......!"
Leblaine, yang duduk di pangkuan sang duke, tersenyum. Teramore terkejut dan berlari ke arah anak itu.
'Gadis kecil itu sudah...!'
Leblaine bukan satu-satunya. Dia bersama dengan Viscount Myshank, Nos, letnan dan beberapa anggota dewan tinggi. Mereka menatap Teramore dengan ekspresi aneh di wajah mereka.
'Apakah dia sudah memberitahu duke tentang bagaimana aku memperlakukan Henry?!'
Viscount Myshank mengerutkan kening dan berkata, "Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu kepada anak-anak Duke?"
__ADS_1
Teramore datang dengan alasan cepat, "Yang Mulia, tolong dengarkan saya! Mengapa saya melakukan itu? Semuanya bohong."
Dia kemudian menunjukkan tangannya yang terluka dengan tergesa-gesa ke Duke.
"Bayi itu bukan hanya anak-anak. Dia menusuk punggung tanganku dengan pena. Bukankah itu mencurigakan?! Dia terlalu pintar sejak awal. Dia menawarkanmu cerita tentang gereja dan keluarga kekaisaran-"
"Apa yang kamu bicarakan?" Viscount Myshank memotong pernyataan Teramore.
"Maksudku, ini meragukan!"
Viscount Myshank memandang Teramore dengan aneh, "Kami berbicara tentang bagaimana kau mengintimidasi dan menakuti putri Duke hanya karena sedikit kesalahan yang dia buat."
"Apa?"
"Kau terlalu keras pada anak itu! Dia bahkan langsung menangis begitu melihatku!"
"Itu, uh...."
"Dan kamu mengatakan hal semacam itu? Apa lagi yang kamu lakukan?"
Teramore terkejut. Dia melihat sekeliling ruangan dengan mata gemetar, ketika matanya bertemu dengan Leblaine. Mulut Leblaine naik menjadi seringai kecil.
Dia seperti berkata, 'Apakah kau pikir Viscount berbicara tentang Henry?'
Gadis kecil itu juga membawa Myshank, yang merupakan musuh baginya, dan membuatnya tidak mungkin untuk memikirkan alasan lain karena melecehkan Henry.
Saat wajah Teramore memucat, Myshank menginterogasinya, "Izinkan aku bertanya lagi, apa yang telah kau lakukan?"
"Itu, itu lidahku tergelincir."
Tapi tidak ada seorang pun di ruangan itu yang percaya padanya.
Myshank berkata kepada Duke, "Ini mencurigakan, Duke. Itu aneh bertindak seperti itu karena masalah kecil. Bukankah perilaku seperti ini akan mempengaruhi karakter anak-anak dengan buruk?"
Bahkan Nos dan para dewan tinggi menyuarakan keprihatinan mereka.
"Kami perlu konfirmasi."
"Kecuali jika ketidaktahuannya terbukti, kita tidak bisa menyerahkan pendidikan anak-anak kepada pria seperti itu."
Tatapan tajam Duke menembus Teramore.
Teramore berteriak, "Tunggu, tuan!", Tetapi Duke Dubblede tidak mengindahkan permohonannya. Dia segera memerintahkan orang-orangnya untuk menyelidiki Teramore.
...***...
Aku melompat dari pangkuan Duke dan mengikuti Myshank. Wajahku penuh kegembiraan.
"Tuwan Mishang." (Tuan Myshank)
Dia melihat kembali ke arahku.
"Ya, nak. Ada apa?"
Aku menarik baju Myshank dengan tampilan polos.
"Apakah pak tua itu orang jahat?"
"Teramore?"
Dia melanjutkan dengan seringai.
"Ya, benar. Orang yang sangat, sangat jahat."
"Jika gurunya jwahad, bagaimana kalau Henli dan Isyak tumbuh menjadi olang jahad juga?" (Jika gurunya jahat, bagaimana kalau Henly dan Ishac tumbuh menjadi orang jahat?)
"Jangan khawatir. Aku akan membantu mereka."
"Besok aku akan meminta para bangsawan lain untuk datang ke kastil dan memohon kepada ketua untuk menunda kelas anak-anak sampai kasus ini diselesaikan."
Aku bertindak polos dan berkata, "Wow!" kemudian aku melompat-lompat.
'Tidak disangka, kau memihakku.'
Itu hal yang baik bagiku, jadi aku memberinya senyum lebar.
Setelah Myshank pergi dengan senyum lebar, Teramore keluar dari kantor Duke.
'Kamu pasti kesulitan berbicara dengannya.'
Teramore, yang melihatku, menggertakkan giginya.
__ADS_1
"Kamu...!"
Melihat sekeliling dengan cepat, dia menarik lengan dan kepalaku ke sudut ruangan.
"Pelacur kecil ini! Apakah kau pikir aku akan menerima perlakuan ini?"
"Apa yang akyan kau lakukan?" (Apa yang akan kau lakukan?)
"Kamu pasti iblis yang dikirim oleh gereja...!"
"Kakwek, apakah kau bodoh?" (Kakek, apakah kamu bodoh?)
"Apa?"
"Kamulah nyang mengakui kesalahan itu." (Kamulah yang mengakui kesalahan itu.)
"Kamu jalang...."
"Bagaimana kamu tahu? Nama panggilanku adwalah jalang!" (Bagaimana kamu tahu? Nama panggilanku adalah jalang.)
Aku menatap lurus ke mata Teramore dan berbicara dengan nada rendah.
"Jika kau menyentuh mwereka lagi, aku akan menggigwitmu." (Jika kau menyentuh mereka lagi, saya akan menggigitmu.)
"......!"
Aku terus berbicara dengan senyum lebar.
"Jadi lepaskan aku. Sekarang."
Aku pernah menjadi pengemis dalam kehidupan masa laluku. Ancaman Teramore tidak menggangguku sedikit pun.
Kekuatan cengkeraman Teramore perlahan mengendur.
Aku menepis tangannya dengan mudah dan berbalik berjalan pergi.
...***...
Dua hari kemudian, Myshank datang ke kastil bersama para bangsawan lainnya dan memohon untuk memberhentikan Teramore.
Teramore menjadi guru Henry dan Isaac karena pengambilan suara dari dewan tinggi, tetapi sekarang setengah dari suara dewan ada di pihak Myshank. Mengingat bagaimana perkembangannya, sekarang posisi senior kemungkinan besar akan diberikan kepada Myshank, karena posisi Teramore menjadi tidak stabil karena peristiwa baru-baru ini.
"Ke, ketua...."
Aku bersenandung di koridor sambil mendengar suara Teramore yang memohon keringanan hukuman kepada ketua.
Aku berpikir untuk memeriksa kondisi Henry.
Kehidupan seorang bangsawan sangat menyedihkan. Alih-alih mengkhawatirkan makanan, mereka khawatir belajar. Bahkan dengan kelas yang ditunda, keduanya duduk berdampingan dalam belajar dan mengerjakan PR mereka.
Aku mengintip wajahku di depan pintu ruang belajar untuk mencari bayangan mereka.
'Hah? Tidak ada seorang pun....'
"Hei kau!"
"Aahh!", Aku melompat kaget, kaget dengan suara yang datang dari balik pundakku.
Aku memegangi dadaku erat-erat dengan kedua tangan ketika aku mencoba untuk menenangkan detak jantungku. Aku berbalik dan mendapati Isaac dan Henry berdiri di belakangku.
"Kenapa, kenapa diswini?" (Kenapa, mengapa di sini?)
Ketika aku bertanya, Isaac mengangkat buku ke sampingnya dan mengangkat bahu.
"Ada buku di sini yang tidak tersedia di perpustakaan. Kenapa kamu di sini?", Jawabnya.
Isaac mengerutkan hidungnya, menatap gerakan gugupku, "Apakah kamu melarikan diri?"
"Tidak, tidak!"
"Jadi?"
"Hanya melihat-lihat." (Hanya jalan-jalan.)
Aku mengayunkan tanganku ke sekeliling ruangan dan membuat alasan, Isaac menggerakkan alisnya.
Aku melirik sosok Henry.
'Apakah kamu akan marah jika aku mengatakan aku datang untuk memeriksamu?'
Aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan, ketika Isaac berkata, "Tidak mungkin, kamu... Kamu pasti mendengar di suatu tempat bahwa camilan hari ini adalah kue."
__ADS_1
Apa?
...***...