
...***...
Puncak hope membutuhkan penjaga yang akan sering terlibat dalam pertempuran kecil dengan bandit. Aku yakin Zachary bisa membantu.
Aku menatap ke arah Henry dan Isaac.
"Aku ingin sesuwatu."
"Apa itu, Leblaine?"
"Apa! Katakan padaku. Aku akan membelikanmu segalanya!"
"Anak anjing."
Keduanya bergumam,
"Anak anjing...."
...***...
Aku, Henry, Isaac, dan para pelayan keluar dari kastil.
Hanya karena aku ingin memelihara anak anjing, kami akan membelinya bersama-sama.
Isaac berkata dia akan membelikanku anjing tercantik, tapi aku bersikeras bahwa aku akan memilihnya sendiri.
"Bagaimana kalau anak anying yang isaak beli, tidak menyukai Bwaine?"
Dua bersaudara itu menjawab dengan ekspresi bingung di wajah mereka.
"Tidak ada makhluk di dunia ini yang akan membencimu, kan?"
Tapi akhirnya kedua orang itu kalah dariku, jadi aku bisa pergi dan melihat anak anjing seperti ini.
Tujuan kami adalah Plum Street, di luar area Dubblede. Karena disana ada toko hewan peliharaan untuk para bangsawan.
'Disana juga dekat dengan panti asuhan tempat Zachary berada.'
Kereta berhenti saat aku berpikir demikian.
Aku memegang tangan kakakku dan keluar dari kereta. Kemudian, aku melihat ke sekeliling jalan yang mewah seperti distrik perbelanjaan Dubblede.
"Wow...."
Aku berseru. Kemudian, para pelayan tersenyum dan berkata,
"Luar biasa, bukan? Plum street memiliki kasino terbesar di kerajaan. Ada banyak hal yang bisa dilihat karena ada banyak restoran dan distrik perbelanjaan."
Ini benar-benar tempat yang menyenangkan untuk melihat-lihat.
Aku meraih tangan pelayan dan mengejar Henry dan Isaac.
'Kasino ini sangat besar.'
Tiba-tiba, Lea menoleh ke belakang dan berbisik kepada Henry dan Isaac.
"Ada seseorang yang mengikuti kita."
"Ya, aku juga merasakannya."
Mata Isaac menjadi dingin.
"Empat... tidak, mereka berlima."
"Orang-orang ini telah dilatih. Mereka pintar menyembunyikan diri."
Saat aku membuka mataku lebar-lebar, Henry dan Isaac menatapku dengan biasa.
"Leblaine, tinggallah bersama para pelayan untuk sementara waktu."
"Aku akan segera kembali."
Dengan wajah sedikit gugup, aku meraih kemeja keduanya.
"Apa kamu khawatir? Bodoh, kami sangat kuat. Kamu tidak perlu khawatir. "
Isaac meraihku dan meletakkan wajahnya di pipiku. "Ini pasti membuatmu merasa lebih baik."
Kemudian Henry mencengkeram kerahnya dan melemparkannya ke samping.
"Jangan khawatir. Kami akan segera kembali."
'Yang aku khawatirkan adalah orang-orang yang mengikuti kami...'
Aku pikir Isaac akan mematahkan leher mereka.
Aku menjawab, "Cepat kembali."
Isaac dan Henry meninggalkanku dengan para pelayan dan menghilang.
"Nona kecil, haruskah kita pergi ke toko roti? Serbet plum khas Plum Street sangat lezat. Tempatnya di bangunan emas setelah melewati gang ini."
"Baik."
Lea, para pelayan, dan aku menuju toko roti.
Para pelayan terus membicarakan ini dan itu, takut aku akan cemas.
"Anjing jenis apa yang akan Anda beli? Anjing yang besar dan halus akan bagus, bukan?"
"Pudel kecil yang terlihat lucu seperti nona kecil akan lebih bagus."
"Apakah Anda ingin saya membawa katalog hewan peliharaan saat Anda berada di toko roti? Apakah Anda ingin melihatnya?"
Saat aku memasuki gang, aku melihat seseorang di gang.
"Kalian mengambil semua uangku, brengsek."
Bocah itu bergumam dengan geram dan melemparkan bara api ke gedung.
Para pelayan menatap gedung yang mulai terbakar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ini rumah judi. Jika dia tertangkap, dia akan mendapat masalah." Kata Yuni, mantan rentenir.
"Haruskah saya membantunya?"
Itu adalah kata-kata Dahlia, seorang pembunuh berantai yang lebih ramah diantara tiga pelayan Leblaine
"Tapi itu bukan urusan kita?" Tanya Linda si penipu.
Jujur saja, Leblaine, seorang dewasa yang pesimis, setuju dengan pemikiran para pelayan. Tapi sebagai seorang anak, aku merasakan simpati.
'Dia terlihat berumur tiga belas, dan aku tidak bisa hanya menonton gangster memukulinya sampai mati.'
Cukup mematikan bara saja, tidak sesulit itu.
Aku menghela nafas dalam-dalam dan meraih rok Lea.
"Mataku panass."
Baru kemudian para pelayan berlari untuk menghentikan api.
"Bara api buruk yang membuat mata nona kecil kita panas."
"Api yang buruk!"
Bocah itu mengerutkan kening melihat penyusup yang tak terduga.
"Omong kosong apa ini?" Dia menatap kami dengan konyol.
"Nyonya, kenapa kau mengganggu pekerjaan orang lain!"
"Itu kejahatan."
Saat aku bergumam demikian, dia menatapku.
"Apa kau pemilik dari para pelayan ini?"
"Iya."
"Kamu mau mati? Jangan mengganggu dan keluar dari sini. Dasar jelek."
Kemudian, para pelayan yang menginjak bara itu menghentikan langkahnya. Mata Lea, yang memegang tanganku, ikut menajam.
"Kamu, apa yang baru saja kamu katakan?"
"Siapa yang jelek?"
"Yuni, lepaskan dia."
Lea tersenyum padaku dan berkata,
"Nona kecil, tutup mata Anda sebentar dan hitung sampai 30."
Aku melirik anak laki-laki kasar itu dan berdiri diam, menutupi mataku dengan tangan.
"Satu, duwa, tiga..."
Teriakan anak laki-laki itu menggema di gang sempit.
...***...
Anak itu memegang tangannya di dekat dinding dan menangis, dengan hidung berair.
Para pelayan memandang anak laki-laki itu dan berteriak.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya? Cepat!"
Anak kecil itu menangis saat para pelayan berteriak.
"Nona kecil adalah yang paling lucu di dunia!"
"Sekali lagi!"
"Nona kecil...."
Begitu dia berteriak, aku mendengar suara gemuruh dari perut anak itu. "Lapar?"
"Memangnya apa pedulimu?..."
Saat dia berkata begitu, dia dengan cepat memperlakukanku dengan hormat saat dia melihat tatapan tajam para pelayan.
Aku mengayunkan tangan pada para pelayan yang telah mengintimidasi bocah itu.
Para pelayan mundur dengan cemberut saat aku mengulurkan tangan padanya. Kemudian anak laki-laki yang terkejut itu mundur. Dia pikir aku mencoba untuk memukulnya.
Aku mengusap jelaga di pipi anak itu dengan ujung jariku dan menyekanya.
"Nah."
"......"
"Kami akan pergi ke toko roti. Ayo pergi bersama."
"Aku tidak punya uang..."
Aku mengobrak-abrik tasku dan mengeluarkan segenggam koin emas.
Itu adalah uang yang diam-diam diberikan oleh para pengikut kepadaku saat mereka mendengar aku akan pergi ke Plum Street bersama Henry dan Isaac.
"Apakah itu semua milikmu?"
"Iya."
"Wow, kau bisa bermain rolet tiga puluh ronde dengan uang sebanyak itu."
...------ I N F O ------...
*Rolet : sebuah permainan kasino dan judi. Dalam permainan, pemain dapat memilih untuk bertaruh pada satu nomor, berbagai pengelompokan nomor, warna merah atau hitam, apakah ganjil atau genap, atau jika angkanya tinggi (19-36) atau rendah (1-18)
...-------------------------...
__ADS_1
Anak laki-laki itu mengangguk, matanya mengkilat saat dia melihat para pelayan.
Segera, kami memasuki toko roti.
Para pelayan menumpuk roti di atas nampan seperti gunung.
Roti-roti ini cukup mahal, jadi petugas dan pelanggan melihat kami dengan mulut terbuka lebar.
Aku mengulurkan roti yang dibawakan oleh para pelayan kepada anak itu.
"Ini."
"......."
Dia tampak sedikit waspada padaku dan mengambil roti. Matanya membesar setelah mencicipi. Kemudian, dia memasukkan semuanya ke dalam mulutnya dengan ketakutan.
"Kek!"
Aku khawatir makanan akan tersangkut di tenggorokannya saat makan terburu-buru, jadi aku memberinya susu.
"Bukankah orang dewasa memberimu makan?"
"Siapa yang akan memberi makan anak yatim piatu?"
Yatim piatu?
Satu-satunya panti asuhan di dekat sini adalah panti asuhan pribadi tempat Zachary berada.
'Apakah dia Zachary?'
Aku menatapnya dan menggelengkan kepalaku.
Zachary adalah salah satu dari empat ksatria yang memamerkan keahliannya yang luar biasa.
Tidak masuk akal bahwa pria kuat yang sebanding dengan Isaac selemah ini.
Biasanya, orang kuat waspada terhadap kehadiran orang.
Isaac, yang lima tahun lebih muda dari bocah itu, juga menyadari kehadiran seorang penguntit sebelum Lea menyadarinya.
Tapi anak itu membakar tanpa mengetahui ada suara tepat di sampingnya. Tidak menyadari tanda-tanda, itu berarti indranya tumpul.
Selain itu, bocah itu tidak terlihat sebagai karakter yang serius dan bijaksana seperti dalam rumor.
'Aku ingin bertemu Zachary, tapi jika anak ini berada di panti asuhan yang sama, aku mungkin memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.'
Aku menjawab sambil mengambil cangkir susu.
"Aku juga yatim piatu."
"...Bohong, kamu punya pelayan."
"Aku diadopsi."
"Kamu pasti dari panti asuhan negara atau umum, kan?"
"Tidak, panti asuhan pribadi."
Mata anak laki-laki itu membelalak.
"Wow, kamu dapat jackpot."
Hanya ada beberapa kasus adopsi dari panti asuhan pribadi. Kalaupun ada, kebanyakan dari mereka dibawa ke ladang yang pekerjanya tidak cukup.
"Kenapa para pelayan itu tidak membunuhku sebelumnya?"
Anak laki-laki itu berbisik dengan roti di tangannya
"Karena meleka tidyak akan memukul anak kecil."
Pelayanku adalah penjahat, tapi jenis penjahat yang baik.
'Hal yang aneh untuk dikatakan.'
Anak laki-laki itu memasukkan sisa roti ke dalam mulutnya.
Kemudian, sambil mengawasi sekitar, tanpa disadari oleh para pelayan, dia menyembunyikan roti di bawah kemejanya.
"Kamu mengganggu pekerjaanku, tapi kamu memberiku sesuatu untuk dimakan, jadi aku akan melupakannya."
"Rumah judi. Kenwapa kamu mencoba menyalakan api?"
"Aku mencoba berjudi dengan harapan mendapatkan lebih banyak uang untuk keluargaku, tapi ternyata, mereka memanipulasi rolet."
"Tapi kamu berjudi."
"Apakah kamu idiot? Bagaimana bisa kamu tidak melakukan sesuatu yang begitu menyenangkan?"
Dia bodoh....
Aku menghela nafas panjang.
"Jika kamyu udah bermaen lima kali, kamyu akan kehilangan organmu, bukan uangmu."
"Oh, kamu masih anak-anak, tapi kamu tahu tentang kehilangan organ... kamu juga yatim piatu. Aku merasa bersalah."
Anak laki-laki yang menyeringai itu dengan lembut menekan pipiku dengan satu tangan.
Lalu.
"Apa yang kamu lakukan bajingan?"
Suara dingin terdengar dari pintu.
Dia melangkah dan meraih pergelangan tangan bocah itu.
"Jangan sentuh adik perempuanku."
Isaac menatapnya dengan sengit.
...***...
__ADS_1