The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 44


__ADS_3

...***...


Saat aku memiringkan kepalaku, Boone menjadi cemberut.


Kenapa dia depresi lagi? Aku menusuk stroberi dengan garpu, bertanya-tanya apa yang harus dilakukan dengan iblis ini.


Saat aku memasukkan banyak krim kocok ke dalam mulut, aku terpesona dengan kombinasi rasa asam manis yang gurih, dan rasanya yang lembut.


'Aku tidak akan pernah bosan dengan rasa ini.'


Saat aku memasukkan stroberi terakhir ke mulutku dengan ratapan, pintu terbuka.


Itu Isaac.


"Ayo kita lihat hadiahnya!"


Hadiah?


Henry, yang mengikutinya, berkata, "Jangan kaget,"


Dia dengan lembut menyeka krim kocok dari mulutku.


"Hadiah apwa?" Saat aku bertanya padanya, Isaac terkikik.


Anehnya, aku merasa gelisah.


Aku menatap mereka berdua saat aku pergi untuk melihat hadiah.


Mengembalikan hadiah?... Tidak mungkin.


Hari Anak sudah berakhir, jadi bukan mainan.


Ulang tahunku juga masih jauh.


Jadi hadiah apa yang mereka bicarakan?


Setelah aku tiba di tempat tujuan, Perasaan cemas ku benar.


Di depan Duke, banyak pengikut berdiri dengan kepala tertunduk.


"Bunuh kami, Nona Kecil!"


"Selamatkan kami, Nona Kecil!"


Satu sisi berteriak meminta hukuman mati, sementara sisi lainnya memohon pertolongan.


Aku mengalihkan pandanganku dan menatap Duke, Henry, dan Isaac.


Duke menatapku dengan tatapan seolah dia menyukai apa yang sedang terjadi, dan Isaac tampak bangga.


"Apa ini...?"


"Mereka orang-orang yang sebelumnya mencoba membuat Duke mengadopsi Cattlea Waltson."


Setelah mendengar Isaac yang dengan bangga menjawab, aku melihat mereka lagi.


Beberapa mengalami luka dan memar.  Kebanyakan dari mereka baik-baik saja, tapi jika mereka tertekan lebih dari ini maka mereka mungkin akan pingsan.


"Jadi, ini...."


Saat aku bergumam, Isaac berkata, "Ah," dan menyeringai.


"Berapa banyak yang hilang? Benar, tepatnya tiga hilang, dua di ruang penyiksaan, dan satunya digantung di kastil agar seluruh orang melihatnya sebagai tontonan."


Aku memang berharap untuk melihat hari ketika orang-orang ini pada akhirnya akan membayar harga atas tindakan mereka.


Tapi aku tidak pernah menginginkan yang seperti ini.


"Dyuke, dan Henli, Isaak."


Tiga orang itu menatapku saat aku menggumamkan nama mereka.


"Ya."


"Haruskah aku memotong tenggorokan mereka semua?" Mendengar perkataan Isaac, wajah mereka menjadi semakin pucat.


"Tidak!" Kataku sambil meringis.


"Aku akyan membencimu jika kamu membunuh meleka." (Aku akan membencimu jika kamu membunuh mereka)


Tiga orang yang dituju kata-kata itu tercengang.


...***...


"Aku tidyak menginginkan ini, aku tidak mauk hadiah. Suruh meleka pulang!" (Aku tidak menginginkan ini, aku tidak ingin hadiah. Suruh mereka pulang!)


Seolah pijar cahaya menyinari mereka, para pengikut yang dihukum sangat tersentuh oleh kata-kata Leblaine yang mencoba menghalangi Duke dan dua bersaudara itu.


Dua hari lalu, setelah Leblaine berangkat ke gereja, orang-orang di Dubblede sangat terpukul.


Semua yang terlibat dalam kasus Cattlea Walston dibawa ke kastil.


"Ya- Yang Mulia. Mengapa kami dibawa ke sini?"


Saat seseorang akhirnya berhasil berbicara dengan keras tapi dengan gemetar, Henry tersenyum manis dan menatap mereka.


"Kamu telah melakukan kejahatan yang bisa dihukum mati."


"I- itu konyol! Kami hanya tidak ingin melihat anak takdir mengendalikan Dubblede! Jadi, kami lebih memilih kerabat sedarah, Cattlea—!"


Mereka berani mengatakan itu karena mereka mengira para Dubblede tidak akan berani menyentuh mereka.


Semuanya adalah keturunan dari keluarga bergengsi yang memiliki kekuasaan hukum, yang telah lama mengabdi untuk Dubblede, sehingga mereka tidak mudah disentuh.


"AGGHH—!"

__ADS_1


...Mereka pikir dia tidak akan menyentuhnya.


Sampai salah satu pergelangan tangan tetua itu dipotong.


Theodore Dubblede telah memimpin keluarga itu selama lima tahun. Baru saat itulah para pengikut menjadi terbiasa dengan kedamaian.


Mereka lupa bahwa, pria itu adalah orang jahat yang membantai saudara-saudaranya dan menjatuhkan leluhurnya yang perkasa.


"Kepalamu akan digelindingkan dari bukit."


Saat Duke berbicara dengan santai, para pengikut, dengan kulit pucat, langsung menundukkan kepala mereka ke lantai.


Dan begitulah situasi saat ini terjadi.


Duke dan dua bersaudara itu telah melakukan segala macam hal kepada mereka selama beberapa hari. Mereka menempatkan segala macam pelanggaran di kepala mereka.


[Penggelapan dana]


Hanya tiga franc.


[Menerima suap di pusat perbelanjaan.]


Pemilik toko bunga memberi mereka sepotong bunga tulip.


Itu kejahatan kecil yang konyol, tapi itu cukup untuk membuat para pengikut bergidik.


Itu sangat sepele sehingga mereka melupakannya, tapi itu berarti Duke tahu semua yang tidak diketahui orang lain.


Dengan kata lain, semua pengikut berada di pengawasan Duke.


Dia sengaja membuat daftar kejahatan kecil. Aku bertanya-tanya apakah mereka tidak punya pilihan selain mati seperti ini. Tapi,...


"Tapi dik, mereka memperlakukanmu dengan buruk."


Saat Isaac berkata demikian, Leblaine menjawab dengan tegas.


"Kamu tidak bole mbunuh orang karena hal itu." (Kamu tidak boleh membunuh orang karena hal itu)


Di sebelahnya, Henry juga membujukku.


"Kau harus mencabut akar buruk. Begitulah cara kerjanya, Leblaine."


"Orang byukanlah benda." (Orang bukanlah benda)


Duke mengulurkan tangannya, memanggil "Blaine."


"Tidak."


"Kenapa?"


Leblaine mengerutkan kening, saat dia melihat ketiga orang yang sedang gelisah itu.


"Aku nggak akan bermaen dengan Dyuke, Henli, dan Isaak lagi."


"......!"


"......!"


"......!"


"Ahh, nona kecil...."


Tidak salah untuk mengatakan bahwa Leblaine telah memberi harapan pada mereka semua.


Nona kecil sangat baik!


...***...


Orang-orang dibebaskan tanpa cedera.


Di depan kastil, terdengar teriakan tangis keluarga mereka karena takut bahwa anak, suami, dan orang tua mereka akan mati.


"Sayang, istriku! Aku sangat takut!"


"Ayah, kamu baik-baik saja? Apa tubuhmu ada yang sakit? Sungguh melegakan, lehermu masih utuh!"1


Tapi Boone tidak puas.


[Kenapa kamu membiarkan mereka hidup padahal mereka pantas mati?]


'Kejahatan mereka tidak cukup berat untuk membayar dengan kematian mereka.'


Mereka tidak menyiksa seorang anak seperti Teramore atau memaksa wanita seperti Urso.


Dan yang terpenting, aku mengerti kenapa mereka mencoba mengusirku.


Beberapa orang mencoba membuat Cattlea masuk ke rumah Duke, karena pasti ada posisi kosong untuk Dubblede.


Aku adalah anak takdir, yang ditemukan oleh gereja, dan sangat berbahaya bagiku untuk mengambil kendali penuh atas Dubblede.


Di atas segalanya, status Dubblede akan anjlok jika dia dipengaruhi oleh orang biasa, dengan gelar palsu.


'Dan jika kita membunuh mereka semua, ketua akan turun tangan.'


Ketua terkuat, Noanoke


[Siapa dia?]


'Umm, sederhananya... orang yang sangat menakutkan?'


Alasan para leluhur, yang terkenal dengan kebengisannya, menyerahkan rakyatnya ke dewan bukan hanya karena mereka diwajibkan.


Alasan terbesarnya adalah ketua dewan adalah Jean Marc Noanoke.


Noanoke memiliki ikatan yang kuat dengan para dewan bangsawan, bahkan gereja memprioritaskan kata-katanya daripada keturunan langsung Dubblede itu.

__ADS_1


[Kenapa dia memiliki begitu banyak kekuatan?]


'Saat berbicara tentang ketua, dia bukan hanya pengikut. Dia nomor dua dalam hirarki Dubblede.'


Selain itu, dalam waktu dekat, dia akan memiliki koneksi yang lebih kuat.


'Tapi kenapa belakangan ini begitu tenang?'


Aku seharusnya melangkah maju lain kali.


Setelah aku memikirkannya, dua saudara itu, yang telah mewaspadaiku, mendatangiku.


"Dik, apa kamu masih marah....?"


"Leblaine, apa kamu ingin jalan-jalan?"


Duduk di sofa, aku melihat mereka dari sudut mataku.


Mereka menjadi cemberut.


"Lain kali, kamu tidak akan memperlakukan olang seperti itu?"


Keduanya tampak cerah.


"Kami tidak akan!"


"Iya."


Aku menghela nafas dan turun dari sofa.


"Ayo jalan-jalan."


"Haruskah kita pergi ke taman?"


"Bagaimana kalau rumah kaca?"


Aku meninggalkan ruangan bersama dua orang itu, yang tampak seperti sedang mengibas-ngibaskan ekornya yang tak terlihat.


Setelah perdebatan kecil, ketiganya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman.


Itu karena Isaac bersikeras bahwa ada bunga yang ingin dia tunjukkan padaku.


Saat keluar ke taman, aku terkejut.


"Wow-!"


Beberapa hari yang lalu, hamparan bunga, yang tadinya kosong, penuh dengan bunga.


Bunga liar, primrose, dan violet, jarang terlihat sebagai bunga di hamparan bunga rumah bangsawan. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai bunga yang mahal dan seukuran tangan, seperti Tulip.


Tapi aku lebih suka bunga liar. Terutama violet, itu bunga favoritku.


"Bwaine menyukai bunga ini!"


Isaac terlihat sangat senang.


"Aku menyuruh tukang kebun untuk menanamnya!"


"Telima kasih."


Henry tersenyum penuh semangat saat dia mencium aroma itu.


"Akhirnya seorang idiot telah melakukan sesuatu yang patut dipuji."


"Aku bukan idiot."


"Ya, untuk hari ini kuakui kamu bukan idiot. Tapi tidak tahu kalau besok."


Mereka mulai bertengkar lagi, jadi aku menarik lengan baju mereka.


Saat mereka berjongkok di sampingku, aku memberi mereka cincin bunga.


Sesuai dugaanku, keduanya terkejut.


"Dik, bagaimana kamu tahu cara membuat ini?"


"Akuh belajar di pwanti asuhan."


Isaac tampak penasaran kenapa panti asuhan mengajarinya membuat cincin bunga seperti ini.


Sambil mengupas rumput kering kecil di batang cincin bunga, aku berkata,


"Bangsawan menyuruh bayi mereka yang baru lahir memakai cincin."


"Iya. Mereka dipakaikan cincin Ruby."


Cincin itu berarti bahwa mereka perlu tumbuh dengan sehat sampai setempel keluarga dapat dipakai oleh mereka.


"Rakyat jelata membuwat cincin bunga dan meletakkannya di jari tangan meleka.  Anak-anak di panti asuhan tidak punyak ibu, jadi anak-anak di sana membuwatnya bersama dan memakainya."


"Kenapa rakyat jelata menggunakan cincin bunga?"


"Karena itu artinya mereka mencintaimu."


Artinya, meskipun kamu tidak bisa memberi seorang anak cincin ruby ​​yang mahal seperti seorang bangsawan, cintamu untuk seorang anak tidak berbeda dengan seorang bangsawan.


"Jadi, para guru mengajari kita cara membuat cincin bunga— ...Hah?"


Mereka bahkan tidak mendengarkanku dan menatap cincin bunga yang aku buat untuk mereka.


"Kalau cincin bunga berarti cinta,..."


"Karena Leblaine memberi kami ini..."


"Berarti kita berdua...."

__ADS_1


Kemudian, wajah mereka memerah dan mereka menggenggam cincin bunga di tangan mereka.


...***...


__ADS_2