
...***...
‘Aku perlu mencari tahu apakah gereja menjualnya kepada orang lain selain Ibu suri.’
Aku mengikutinya yang meninggalkan aula untuk minum obat.
Saat aku mendekati Ibu Suri yang baru saja keluar dari pintu, dia bertanya padaku,
"Kenapa kamu tidak di aula?"
"Saya ingin bersama dengan Anda. Saya takut karena ada begitu banyak orang di aula."
Hanya sedikit orang yang membenci anak kecil yang membuntuti mereka.
Ibu Suri tertawa saat dia melihatku dengan bersusah payah mengikutinya, seperti anak ayam yang mengejar induk mereka.
‘Ibu Suri tidak menganggapku begitu istimewa saat aku masih kecil. Kurasa aku melakukannya dengan baik kali ini.’
Tapi kemudian,
"Yang Mulia."
Suara familiar mengalir ke telingaku. Aku melihat ke belakang dengan heran.
‘Pendeta Adolf.’
Lima tahun lalu, dia adalah orang yang menekan Dubblede dengan spinel dan terus-menerus menyiksaku di kehidupan pertamaku,
“Kenapa kamu tidak gantung diri saat kau dinyatakan palsu? Tidakkah kau lihat betapa rusaknya reputasi gereja karenamu?”
Ibu Suri terlihat senang, tapi segera melirik kearahku dan berkata,
"Apa yang kau lakukan disini? Dubblede akan marah jika mereka melihatmu."
"Saya membawa lebih banyak obat. Saya khawatir obat anda tidak cukup."
"Iya, stoknya hampir habis karena aku meminumnya setiap siang dan malam."
Saat Ibu Suri tertawa, pendeta itu memberikan kotak berisi botol obat kepada pelayannya.
Permaisuri mendorong sedikit punggungku. "Ini anak takdir. Dia berkembang dengan pesat, bukan?"
Orang yang mengatakan sebelumnya bahwa dia tidak akan memanggil pendeta ke istana saat aku datang, menerima sekotak obat, lalu orang itu memperkenalkanku kepada pendeta.
Ibu Suri memang orang yang seperti ini. Dia akan segera berpindah sisi jika seseorang memberinya sesuatu yang lebih besar.
Adolf tampak sama sekali tidak tertarik padaku, tapi dia menyapaku untuk menyenangkan Ibu Suri.
"Senang bertemu dengan Anda, nona kecil. Saya Adolf dari gereja pusat. Anda memang sudah banyak berkembang."
"Halo."
"Berbaktilah dan tetap fokus, anda memiliki misi yang lebih besar dari yang anda pikirkan, jadi anda membutuhkan kesabaran tanpa batas."
Adolf menatapku seolah melihat parasit, tersenyum dan kembali menatap permaisuri.
"Kulit anda terlihat membaik.”
"Semuanya berkatmu. Khasiat obatnya luar biasa."
"Pasti menyakitkan sekali, saya sudah berusaha keras membuatnya untuk Anda karena obat aslinya dijual dengan persediaan terbatas."
Dia tidak tahu malu sudah mencuri resepku.
Adolf dari dulu sampai sekarang, akan selalu mencuri dari orang lain.
Sudah beberapa kali dia mencuri formula suci yang dengan susah payah aku selesaikan dan memberikannya ke Vatikan.
"Terimakasih. Puncak hope menghasilkan jumlah yang rendah, dan aku tidak bisa membelinya kecuali aku pergi kesana sendiri".
"Jangan khawatir. Saya akan menyiapkan banyak obat sebelum habis."
"Menjual obat sebagus ini akan menjadi hal yang baik, tapi bukankah kamu akan terlalu sibuk untuk mengurus wanita tua ini setelah kamu mulai menjualnya?"
"Tidak mungkin. Saya hanya membuat obat untuk Ibu Suri."
Berkat keduanya, aku bisa mengetahui situasinya.
Mina melihat kemanjuran obat Luminous dan berkata:
“Ah, aku melihat steroid berasal dari tanaman obat ini.”
Steroid adalah obat dengan efek samping yang serius jika disalahgunakan.
Jika mereka menggunakannya secukupnya, ini adalah obat istimewa yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, tapi jika mereka menggunakannya secara tidak benar, mereka akan mati dalam kasus yang paling parah.
Bukan tanpa alasan aku menyewa dokter untuk memeriksa gejala efek samping dan menjual obat luminous hanya kepada mereka yang benar-benar membutuhkannya.
Itu untuk melindungi para pelangganku.
'Jika dia hanya memberikannya kepada Ibu Suri, yang lain akan aman.'
__ADS_1
Mereka hanya meminum sedikit obat sesuai dengan petunjuk dokter yang telah aku tempatkan, sehingga mereka cenderung tidak mengalami efek samping.
Namun, jika Adolf membuat begitu banyak obat, Ibu Suri akan menderita efek sampingnya.
Obatku tidak ada efek sampingnya karena dosisnya yang kecil, tapi lain ceritanya jika dalam dosis besar.
Berarti, dia harus bertanggung jawab penuh atas Ibu Suri yang menderita akibat efek samping.
Ibu Suri tertawa dan memberitahuku.
"Bukankah pendeta itu baik?"
"Ya, dia sangat baik!"
Aku berbicara dengan ceria saat pendeta tersenyum.
...***...
Sekembalinya dari pesta, aku melihat sekeliling dan pergi ke sudut ruang ganti dan mengambil perangkat komunikasi.
Aku menghubungkan perangkatku ke Seria dan menjelaskan apa yang terjadi hari ini.
"Segera akan ada kasus yang melibatkan obat Luminous. Bangun kepercayaan sehingga pelanggan tidak akan langsung menghentikan pengobatan."
"Karena berbahaya jika mereka tiba-tiba berhenti meminumnya."
[Iya, nona kecil. Tapi bagaimana dengan Ibu Suri?]
"Yah, itu... Bukan urusanku."
[Maaf?]
Aku bukan orang baik. Leblaine yang baik yang mengkhawatirkan kehidupan Ibu Suri yang menghancurkan hidupku berkali-kali, tidak ada di sini.
‘Yang harus aku lakukan adalah menunggu.’
Berkat keserakahan Adolf, yang aku lakukan hanyalah melihatnya menggali kuburannya sendiri.
...***...
Seminggu kemudian.
Aku keluar dari kamar dan berjalan di lorong.
'Aku harus melihat-lihat sekeliling mansion!'
Karena banyak acara sedang berlangsung, tidak ada waktu untuk melihat sekeliling mansion dengan benar.
Pemandangan antara mansion dan kastil Dubblede sangat berbeda.
Kastil selalu ramai dengan banyak karyawan yang melewati koridor.
Tapi di mansion ini sangat sedikit orang yang lewat. Agar mereka tidak terlihat oleh tuannya.
Aku tidak tahu kenapa, tapi itulah aturan para karyawan Dubblede.
Mereka seperti alat, jadi mereka harus berjalan tanpa menggangu pandangan tuannya.
Begitu pula di mansion Vallua. Namun di mansion Amity hanya memiliki satu kepala pelayan dan sedikit pembantu karena sifatnya yang suka berhemat.
‘Tempat ini sangat sepi.’
Bukankah orang yang tinggal di sini akan kesepian?
Aku pergi untuk berjalan-jalan tanpa ada seorang pelayan yang mengikutiku, jadi aku sedikit bersemangat.
Para pelayan berkata bahwa aku bisa pergi kemana saja kecuali kamar bibiku, Javelin.
Mansion ini begitu luas sehingga aku bisa berlari dari ujung ke ujung koridor dengan bebas.
Berjalan di sekitar lantai dua, aku menemukan sebuah ruangan yang didekorasi dengan pola yang sedikit berbeda.
'Dimana aku?'
Saat aku membuka pintu sedikit, aku menemukan sebuah ruangan kecil tanpa jendela.
Kurasa ini gudang, tapi gudang ini sangat terawat. Ada meja, kursi cantik, lemari, dan tempat tidur kecil.
'Apakah ini ruang pelayan?'
Tapi memangnya ada pelayan yang bisa mendapatkan kamar di mansion?
Tanpa jendela dan cukup sempit, tidak mungkin ini kamar Javelin.
Aku duduk di kursi. Ada laci kecil di bawah meja, dan saat aku membukanya, ada seikat surat.
Bolehkah aku membacanya? Aku merenung sejenak
Mereka bilang tidak apa-apa pergi ke mana pun, jadi jika ada sesuatu yang tidak boleh aku baca, mereka pasti melarangku, bukan?
[Kamu tidak sopan tadi! Jadi minta maaflah padaku. Bukankah permintaan maaf adalah sesuatu yang harus dikatakan saat seseorang merasa menyesal?]
__ADS_1
[Aku tidak tahu mengapa tidak sopan menurunkan seorang wanita yang menangis. Jika kamu terganggu saat aku melihatmu menangis, jangan khawatir. Kamu tidak cukup istimewa untuk disimpan dalam ingatanku.]
[Aku tidak menangis! Aku baru saja berlatih menunggang kuda! Cukup kasar untuk mencengkeram tengkukku saat berlatih menunggang kuda.]
[Kamu menempelkan seluruh tubuhmu ke kuda seperti tupai terbang sambil menangis. Itu bukan menunggang kuda.]
Itu tulisan tangan orang dewasa yang rapi.
Catatan itu tidak ada habisnya.
[Maaf aku berteriak kemarin. Aku baru saja akan meletakkan obat di kamar mandi atas permintaan kepala pelayan untukmu agar pulih dari kelelahan. Aku tidak pernah menyangka kamu akan datang ke kamar mandi dengan tubuh telanjang.]
[Aku menulis lagi karena sepertinya permintaan maafku tidak tersampaikan dengan baik di surat terakhir. Maafkan aku. Dan aku tidak pernah membuat rumor tentang ular kobramu.]
[Satu lagi pembicaraan tentang ular kobra, aku akan membakar kamarmu.]
[Maaf jika aku melihatnya, sungguh. Kuharap kamu tidak melotot padaku seperti sebelumnya, itu menakutkan. Memang benar kata-kataku tentang ular kobra di kamar mandi sebelumnya merujuk pada ular kobramu, tapi aku benar-benar tidak membuat rumor.]
[Aku benar-benar akan menyalakan api di kamarmu.]
Aku terkikik dan membaca surat lain.
[Apakah kamu baik-baik saja dengan cedera kemarin? Jika kamu tidak mendapatkan perawatan, lukanya akan semakin parah.]
[Itu bukan urusanmu. Jangan tinggalkan apa pun yang tidak berguna di depan kamarku.]
[Itu tidak sia sia, itu obat. Ini hari yang indah. Ngomong-ngomong, aku harap hari ini ada puding dingin. Tolong beritahu kepala pelayan tentang itu. Dan aku minta maaf karena meminta bantuanmu saat kamu cedera.]
[Kamu berhutang padaku.]
[Terima kasih atas pudingnya.]
[Tahukah kamu betapa bahagianya aku jika merendam kaki di air es di bawah naungan pohon saat musim panas?]
[Terima kasih untuk air esnya.]
Mereka tiba-tiba saling menghormati satu sama lain, dan aku merasakan cinta dalam tulisan tangan dan kalimat mereka.
[Kenapa kamu tidak keluar kemarin?]
[Jika tubuhmu sakit, katakan itu sakit, jangan menahannya.]
Pihak lain sepertinya mulai menulis surat lebih dulu.
Jantungku berdebar kencang. Apakah ini surat cinta?
[Aku tidak akan menikah.]
Aku benar!
[Kenapa kamu mengatakan itu padaku?]
[Lalu mengapa kamu tidak merilekskan matamu saat mendengar aku akan menikah?]
[Karena ada sesuatu di mataku!… Tapi apakah kamu benar-benar tidak akan menikah?]
[Iya.]
Surat itu menjadi lebih manis.
[Aku ingin kamu sedikit tenang.]
[Itu bukan permintaan maaf. Jika kamu tidak tahu aku hampir melompat ke danau karena kamu menciumku di depan rumah waktu itu, kamu tidak akan pernah meminta maaf.]2
Dia menciumnya!
Jantungku berdebar kencang dan aku membungkus pipiku yang memerah.
[Apakah kamu baik-baik saja kemarin?]
[Aku tidak lemah.]
[Sudah tiga bulan.]
Tiga bulan apa?
'Apakah dia sakit?'
Tidak ada catatan lagi. Aku menyentuh ujung catatan itu dengan wajah khawatir.
Aku hanya mengintip surat-surat mereka sedikit, tapi hatiku sakit dan aku bertanya-tanya bagaimana kabar mereka sekarang.
"Mmmm." Aku mengerang sedih dan mencoba mengikat surat itu dengan baik dan mengembalikannya ke laci.
Tapi aku bisa merasakan sesuatu di sudut laci.
Saat aku mengeluarkannya, itu adalah sepasang cincin. Tidak ada apa-apa di sampingnya, tapi di tengahnya ada batu delima.
Aku melihat sekeliling cincin dengan lingkar yang lebar dan menemukan ukiran di dalamnya.
"Ri, sette... Risette?!"
__ADS_1
...***...