
...***...
Kepada siapa Leblaine, yang seorang yatim piatu, memberikan korsase sebagai hadiah? Satu-satunya orang yang tersisa adalah Duke Dubblede.
‘Oooooh!’
Para pengikut berteriak karena menemukan jalan keluarnya.
"Lihat, Yang Mulia!"
"Anyelir!"
"Dia orang yang akan memberi Anda korsase anyelir!"
Para pengikut menyambut anyelir Leblaine dengan senang, siap untuk melompat jika mereka bisa.
Duke berhenti di depan dan melirik Leblaine dengan lembut. Anak itu menggeliatkan tangannya dengan wajah malu-malu.
...***...
Aku pikir kata 'anyelir' hanyalah alasan mereka untuk melalaikan urusan perebutan kekuasaan.
Aku tersinggung dengan apa yang mereka katakan tadi karena aku tidak punya pengalaman dengan hal itu.
Itu hanya sepotong hal yang tidak berguna untuk diterima.
Tapi, rasanya tidak terlalu buruk untuk mendapatkan satu.
...***...
‘Apa kesalahan yang telah kuperbuat?’
Mata Duke menatapku begitu tajam.
Apakah kamu marah karena aku menghabiskan banyak uang di toko?
Atau ketika aku menggambarmu di sketsa, apakah kau melihatku menggambar tanduk diatas kepalamu?
‘Kenapa kamu menatapku seperti itu?’
Bagian dalam diriku kepanasan, dan para pengikut malah tersenyum.
"Apakah kamu membeli korsase sendiri?"
"Iya."
Para pengikut sangat senang ketika aku menjawab.
Duke mencibirkan mulutnya.
‘Wow, hari ini dia lebih menakutkan dari biasanya.’
Aku meraih kaki Lea, tetapi para pengikut tersenyum dan mendorong punggungku dengan pelan.
"Bagaimana kalau menyerahkannya sekarang?"
"Ya, itu bagus."
Haruskah? Aku tahu aku membeli korsase, tetapi aneh kalau menundanya.
‘Ini pertama kalinya aku memberi anyelir, jadi aku agak malu.’
Aku menggerakkan tanganku.
Kemudian para pengikut mulai capek dan mendesakku, "lakukan!"
Orang-orang di sekitarku terbagi dua seperti Laut Merah, dan Duke berada di depan.
Dan aku dengan malu-malu menjulurkan korsase.
Untuk Lea.
"...........!"
"...........!"
"...........!"
"Oh ya ampun."
Lea menutup mulutnya dengan pandangan seolah dia tidak pernah berpikir akan menerimanya.
‘Karena aku memberimu ini, kamu akan memberiku lebih banyak camilan, kan?’
Lea menekuk lututnya di hadapanku.
"Apakah Anda mencoba memberikannya kepada saya?"
"Nea aku menyukaimu, terima kacih." (Lea aku menyukaimu, terima kasih.)
"Terima kasih, nona kecil. Aku akan memasangnya di dadaku."
Lea memelukku, dan aku mengusap wajahku ke lehernya.
Tapi aneh.
‘Kenapa belakang kepalaku terasa dingin?’
Aku menoleh ke belakang, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Kecuali pelayan dan Lea, orang-orang itu melihat korsase dan Duke secara bergantian dengan wajah kebiruan.
Kemudian, Duke memanggilku.
"Leblaine."
"Iya?"
__ADS_1
"Milikku."
".....?"
"Punyaku tidak ada."
"Iya!"
Aku tidak membelinya karena kamu tidak akan suka. Aku melakukan hal bagus, bukan?
Duke mengangkat alisnya saat aku tertawa dalam pelukan Lea.
Dan untuk beberapa alasan, aku menatap para pengikut yang memasang wajah ketakutan mereka, dan mereka semua pucat, menelan ludah kering.
Malam itu, perintah penghapusan hari Thanksgiving dikeluarkan oleh Duke Dubblede.
...***...
Lea memasang korsase merah di dadanya sepanjang hari. Aku sangat senang, setiap kali melihat cermin.
Tentu saja, aku juga ikut merasa senang karena Lea bahagia.
‘Lea memberiku banyak camilan.’
Aku sangat senang bahwa aku makan camilan sampai perutku penuh, lalu, Nos datang untuk menemuiku.
"Bisa kita pergi sekarang?"
Hari ini adalah hari di mana aku memberi tahu Permaisuri bagaimana keadaanku.
"Iya!"
Nos tertawa ketika aku menjawab dengan keras.
"Kamu juga sangat bersemangat, kali ini."
Aku mengangguk dan pipiku memantul.
Ketika Nos melihatnya, dia mengulurkan tangannya. Sepertinya dia ingin menyentuh pipiku.
Tapi tiba-tiba, para pelayan! Mereka melompat dan menghalangi Nos.
"Oh tidak.... Aku dalam masalah"
Nos menurunkan tangannya agak kasar. Para pelayan berteriak dengan tatapan tidak setuju, meskipun dia sudah menarik tangannya.
"Kamu harus mengantri!" Kata Linda, dan pelayan lain, dengan nada tidak setuju, juga merendahkan.
"Kamu memiliki kesempatan seminggu sekali dan selesai dalam dua detik."
"Jika kamu menyentuhnya dalam waktu yang lama, kulitnya tidak akan lembut lagi."
‘Kapan kamu menetapkan peraturan itu?’
Aku melihat pelayan itu dengan tatapan bingung.
Tidak seperti aku, Nos mengangguk.
Mereka segera mendiskusikannya dengan wajah yang serius.
"Kamu harus menunggu tiga minggu!"
Nos, yang melihat daftar itu, berteriak, "Aku harus menunggu selama tiga minggu?!"
"Aku memberimu waktu lebih cepat. Jika sudah selesai, kamu harus menunggu selama sebulan."
"Apakah ada begitu banyak orang yang menunggu giliran?"
Para pelayan mendengus mendengar kata-kata Nos.
"Pipi bayi kita itu cantik, imut, dan paling lembut di dunia. Mereka semua ingin menyentuhnya."
"Tentu saja kamu ingin menyentuhnya."
"Jika kamu manusia, kamu tidak bisa tidak ingin merasakannya."
Nos menggelengkan kepalanya keras lagi, sedangkan aku tercengang.
"Ayok pergih." (Ayo pergi.)
Baru setelah dia mendengarku dia sadar bahwa dia sudah membuka pintu, berkata, "Oh, ya."
Aku berjalan menyusuri lorong menuju kantor Duke.
Ada setumpuk barang di aula, dan para karyawan dengan panik mengaturnya.
Ketika aku memandangnya dengan tatapan ingin tahu, Nos berkata, "Kami sedang mengatur hadiah untuk pesta ulang tahun Kaisar."
Kalau dipikir-pikir, para bangsawan sibuk mempersiapkan hadiah pada tahun ini.
Duke Amity, ayah di kehidupan pertamaku sama sekali tidak tertarik, dengan sopan memberikan sejumlah kecil hadiah.
Tetapi Duke Vallua bahkan meminjam uang untuk menyiapkan hadiah.
Pada saat-saat seperti itu, ia menghamburkan uangnya, tetapi ia sangat pelit kepada orang lain.
Terutama padaku.
Ketika aku masih anak dari Duke Vallua, aku membeli pulpen yang agak mahal. Pada saat itu, Duke Vallua sangat marah dan mengunciku di loteng selama tiga hari.
Terkunci di dalam loteng tua yang gelap, aku menggigil dan menangis karena kesalahanku.
Aku ingat pernah mendengar putra kedua Vallua bertanya kepada putra tertua. "Saudaraku, apakah kamu tidak diizinkan membeli pulpen?"
"Kenapa tidak? Ayah dan ibu akan senang kalau kamu minta untuk dibelikan. Mana ada orang tua yang tidak suka anak-anak meminta perlengkapan sekolah?"
"Tapi kenapa Leblaine dimarahi?"
__ADS_1
"Dia bukan anak kandungnya."
Saat itulah aku tahu.
Aku bukan anak kandung mereka, jadi aku harus berusaha mati-matian untuk mendapatkan benda yang sepele.
‘Sekarang aku harus melakukan sesuatu yang akan menarik bagi Duke Dubblede’
Jika kamu tidak bertindak baik, adopsi akan terbang menjauh.
Berpikir demikian, aku memasuki kantor Duke. Duke yang sedang duduk di mejanya, merasakan kehadiranku dan mengangkat kepalanya.
Kacamata berbingkai perak, yang dipakai untuk melihat dokumen, cocok dengan mata birunya, dan lidahku tercekat.
Tetapi apakah karena kacamata? Entah bagaimana dia terlihat lebih garang dari biasanya hari ini.
Ketika aku menempel di kaki Nos, Nos tersenyum canggung.
Dia mendudukkanku di sofa Duke dan berbisik, sehingga Duke tidak akan mendengar.
"Dia tidak marah padamu."
"Aku pikir dia marah pada dirinya sendiri karena sudah menantikannya..." Kata Nos, dengan terkesan sedih.
‘Apa apaan’
"Lain kali tolong siapkan dua anyelir."
Ah.... Baru saat itulah aku menyadarinya dan aku terpukau.
Semua uang telah kuhabiskan di toko milik Dubblede. Pasti barangnya cukup mahal karena aku sudah membeli banyak barang.
‘Dia pasti kesal karena aku tidak membeli apapun untuk Duke walaupun aku menghabiskan banyak uang.’
Seharusnya aku membeli dua korsase. Dia sepertinya sangat suka anyelir.
Tapi itu sudah lewat.
‘Sebagai gantinya, mari kita lakukan sesuatu untuk menyenangkannya.’
‘Dari hal-hal yang aku tahu, mana yang bisa membantu Duke?’
Aku berpikir keras, dan aku melihat sesuatu di atas meja sofa. Di dalam kotak perhiasan yang mewah ada sebuah batu.
‘Mengapa batu itu disimpan di dalam kotak perhiasan yang sangat mewah?’
Begitu aku memiringkan kepalaku.
Paru-paruku menegang karena getaran.
Suara Nos tidak jelas dan sekitarku terasa sangat lambat.
Seolah waktu dunia dan yang aku rasakan berbeda.
Sekelompok cahaya mengalir di atas batu hitam dan segera tersebar dengan cepat membentuk garis. Segera itu berubah menjadi enam bintang di mana dua segitiga bersilang. Tulang belakangku merinding.
Beep-!
Sesuatu terlintas dalam pikiranku
[ Aku.... ]
[ Tu....nggu.... ]
Suara itu terasa seperti merembes langsung ke kepala tanpa masuk melewati telinga.
Terlalu kecil untuk didengar, tetapi satu hal, terasa sangat keras.
[ Anakku. ]
Baru kemudian suara Nos kembali jelas, dan gerakan lambat tadi kembali ke keadaan semula.
Nos bergumam dengan suara kaku, "Apakah ini gempa bumi?"
Tapi getarannya memudar dalam sekejap.
Duke menarik tirai dan memeriksa jendela.
"Kirim ekspedisi ke Gunung Rubbs. Itu bisa jadi tanda letusan gunung berapi."
"Iya."
Sementara Duke dan Nos sedang berbicara, aku menekan dadaku dengan wajah pucat.
Jantungku berdetak sangat kencang hingga aku sulit untuk bernapas.
Apa-apaan itu?
Cahaya berkilau yang menimpaku.
Dan suara itu terus mengalir di kepalaku.
Suara yang keluar dari batu memanggilku. Tanganku bergerak ke arah batu seolah-olah ada yang mendesakku, sesuatu yang tidak kuketahui. Seolah-olah ada magnet di tanganku.
Dan ketika batu itu ada di tanganku.
"......."
Batu itu hancur dalam sekejap.
Baru saat itulah aku sadar, dan aku mengelus bibirku dengan sangat terkejut.
‘Ap, ap, apa!!’
Dengan enggan, aku melihat Duke dan Nos.
‘A, apa yang sudah kulakukan! Apa yang sudah kulakukan!’
__ADS_1
Nos sangat terkejut melihat sisa-sisa pecahan batu yang berada di celah tanganku. Mata Duke juga membesar.
...***...