The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 31


__ADS_3

...***...


Tidak hanya Henry dan Isaac, tetapi banyak para pengikut, administrator, petugas, dan karyawan tingkat tinggi juga ikut hadir.


Tercium bau darah disini. Jacob, yang telah dipukuli sampai menjadi bubur, ditutupi dengan selimut. Darah menetes dari pedang Isaac dan tangan Henry.  Sementara itu, Seria berlutut dengan kepala menunduk menyentuh lantai.


Aku khawatir para ksatria akan menyeret Seria pergi, tapi aku pikir mereka punya sesuatu untuk ditanyakan pada Seria tentang Jacob.


Duke bertanya dengan suara rendah.


"Apakah kamu terluka?"


Aku langsung menjawab


"Tidak terluka!"


"......."


"Sedikit pusing." Tatapan Duke menajam saat mendengar gumaman ku.


Kemudian tangan Henry bersinar biru dengan pola seperti api kemudian mengelilingi Jacob, membentuk seperti anak panah, dan menusuk melewati selimut.


"Agh!"


Jacob menggeliat seperti dicekik. Di sisi lain, Isaac bergegas ke arahnya.


"Dasar bajingan."


Dia melampiaskan kemarahannya dengan menginjak kepalanya beberapa kali. Tidak ada yang berani menghentikannya.


'Dia sangat menakutkan.'


"Berhenti."


Isaac berhenti ketika mendengar ucapan Duke, berdecak, dan kemudian mundur. Kemudian para administrator berbaris di depan sang Duke dan menekuk lutut mereka. Di bagian paling depan adalah Nos, yang bertanggung jawab atas semua petugas di dalam kastil. Tiba-tiba, satu pengikut berteriak.


"Saya memohon pada Anda dengan hati yang sangat sedih. Iris tenggorokan Eugene Nos, yang telah membawa orang yang tidak setia kedalam kastil!"


Nos tidak ikut dalam menyeleksi kandidat administrator baru. Karena kasus adopsi ku dan kasus Etwal, belum lagi kasus Teramore yang harus diurus.


'Itulah sebabnya pengangkatan administrator baru dalam kekacauan seperti itu.'


Hanya saja Nos yang bertanggung jawab untuk ini, jadi mereka menyalahkannya.


"......."


Aku memandang Duke dan Nos dengan gugup. Duke tidak akan mudah memaafkannya hanya karena dia adalah asisten yang paling dekat dengannya.


Sangat disayangkan. Dia adalah pria yang sangat berbakat.


Duke menjawab ketika dia dengan lembut menekan pelipisnya dengan mata terpejam.


"Kalau begitu, lakukan."


Nos menjawab tanpa sedikitpun ekspresi,


"Tidak ada alasan untuk saya menolaknya."


'Nos, kamu pembohong! Ada alasan untuk itu.'


Di Dubblede, alasan mengapa mereka bersikeras melakukan pemeriksaan pada karyawan baru untuk kemungkinan kalau karyawan adalah mata mata. Karena mereka yakin bahwa tes tidak akan mudah dilalui oleh siapa pun, dan alasan mengapa bangsawan Dubblede tidak membutuhkan pengawal adalah karena Henry, Isaac, dan Duke jauh lebih unggul dari para ksatria, jadi mereka aman bahkan tanpa mereka.


"Semua administrator yang terlibat dalam proses perekrutan harus muncul di pengadilan."


Duke melanjutkan.


"Eugene Nos, potong pergelangan tanganmu."


Sebuah belati jatuh di depan Nos. Orang-orang tampak sedih seolah-olah mereka tahu ini akan terjadi. Nos perlahan mengambil belati dengan tangan gemetar. Begitu belati akan menyentuh pergelangan tangannya,


"Jangan-!"


Aku menangis. Semua orang menatapku dengan terkejut. Mata Duke dan Henry menjadi semakin besar karena keterkejutan. Henry dan Isaac berlari ke arahku.


"Kenapa kamu menangis? Siapa lagi yang memukulmu? Siapa orangnya, siapa?! "


"Leblaine...."


"Dyuke menakutkan!"


Ahh... martabat ku.


"Duke juga sangat menakutkan bagiku! Banyak orang juga takut padanya! Itu hal yang wajar untuk takut!"

__ADS_1


Isaac berkata dengan gelisah dan Henry menghapus air mataku. Duke, yang masih menatapku dengan mata terbuka lebar, mengatakan sesuatu kepada kepala pelayan.


Kepala pelayan menggendongku dan membawaku ke Duke.


"Leblaine."


"......."


"Blaine."


Aku menggerakkan tanganku sambil memegang hidungku yang berair.


"Tangan Nyos... Jangan dipotong."


"......"


Duke terlihat agak terbebani.


'Benar, ini saatnya.'


Aku memegang kakinya dengan erat dan wajahku tampak kusut.


"Dyuke, maafkan Nyos."


"... Aku mengerti. Berhenti menangis."


Itu yang dia katakan, saat dia memegangku di pangkuannya dan menghapus air mataku.


"......!"


"......!"


Ketika aku melihat ke belakang, Nos menatapku dengan tatapan kosong.


'Kamu milikku sekarang karena aku sudah melindungimu sampai sejauh ini.'


itu momen ketika letnan Duke datang dengan sendirinya ke pihakku.


...***...


Berkat air mata Leblaine, para administrator tidak jadi diseret ke pengadilan.


Dan pergelangan tangan Nos aman.


Mereka semua berlutut di depan Leblaine dan mengucapkan terima kasih.


Setelah semuanya berakhir, Isaac dan Henry masuk ke ruang belajar pribadi mereka. Setelah memasuki ruangan, Isaac terdiam.


"Kak."


"Apa?"


"Adik perempuan kita, apakah dia akan menjadi seperti budak yang kita lihat saat itu kalau dia dibawa pergi?"


Tangan Henry, yang sedang menulis sesuatu di atas kertas, berhenti.


"Mungkin...."


Leluhur itu, yang telah mendidik mereka berdua sejak mereka masih bayi, mengatakan sudah umum bahwa yang lemah akan selalu dimakan oleh yang kuat. Mereka pikir dia benar.


Keduanya tidak pernah berada dalam posisi lemah.


Bahkan Mana dan keluarga mereka menjadikan mereka predator tertinggi.  Tidak ada satupun orang di sekitar mereka yang lemah, sehingga mereka tidak pernah bersimpati pada yang lemah.


'Tapi Leblaine.'


Di kepala Isaac dan Henry, gambaran Leblaine yang mengenakan belenggu seperti saudaranya Lunetia, muncul di benak mereka.


Leblaine yang ditangkap, meringkuk di depan cambuk dan terus terisak sambil memanggil Henry dan Isaac.


Wajah mereka mengeras.


Mereka merasa aneh.


Isaac berdiri dan menatap lurus ke arah Henry.


"Apakah kau akan membangun kembali 'Heaven'?"


"Kenapa? kamu ingin membeli budak?"


"Aku tidak membeli apa pun. Tapi tidak bisakah kita membiarkan mereka pergi?"


Kemudian Henry menjawab Isaac, yang sudah memegang gagang pintu.

__ADS_1


"Idiot, jika kamu pergi dan menjatuhkan mereka, apakah mereka akan membiarkan budak pergi begitu saja?"


Henry melempar dokumen yang sedang ditulisnya kepada Isaac.


"Pergi, beri tahu Nos."


"Apa ini?"


Henry menyeringai, menyender ke kursi mewah.


"Aku yakin kamu akan segera mendengar kabar bahwa pemilik Heaven bunuh diri malam ini."


"Kamu.... "


Isaac menatapnya dengan kagum.


"Kamu keren..."


Malam itu, hampir seratus budak yang dimiliki Heaven semuanya dibebaskan.


...***...


".... Nona."


"Nona Kecil."


Ketika aku tidur, aku membuka mata ketika mendengar suara yang berbisik di telingaku. Lea dan para pelayan menatapku dari samping ranjang.


"Sudwah pagi?"


"Masih malam."


"Aku ingin tidur lebih lama... "


Ketika aku menggosok mataku dan mengatakan itu, Lea menepukku.


"Tuan sedang menunggumu. Bagaimana kalau kita pergi ke sana sebentar dan segera kembali?"


'Duke?'


Aku bangkit dari tidur. Di sore hari, aku meminta Nos untuk menyelidiki 'pelanggan' Jacob. Aku sudah mengetahui jawabannya. Aku meninggalkan kamar bersama dengan para pelayan.


'Baunya enak sekali.'


Apakah makanan disiapkan pada jam selarut ini? Aku membuka pintu, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, tetapi disana ada banyak karyawan, termasuk Duke, Henry, dan Isaac.


Meja itu penuh dengan segala macam hal yang lezat. Duke dan kedua bersaudara itu membawa sebuah kotak di sisi mereka.


'Oh, benar.'


Hari ini adalah Hari Anak-Anak. Aku telah menerima hadiah dari pelayan, tapi aku lupa. Isaac berlari ke arahku dan membawa sebuah kotak besar.


Itu sangat besar dan berat sehingga aku tidak bisa mengangkatnya.


"Cepat. Buka itu."


Aku membuka kotak itu. Itu adalah busur pelatihan tanpa panah. Cukup ringan untuk seorang anak.


Berikutnya adalah Henry.


Aku membuka kotak yang dia berikan kepada ku, ada gaun kecil yang sangat lucu. Kain lembut, seperti gumpalan salju, dengan sayap kecil menempel di punggungnya.


Hatiku penuh dengan rasa syukur kemudian aku memeluk Henry dan Isaac sekaligus. Sudut mulut mereka merayap ke atas. Pada saat yang sama, Duke mengeluarkan sebuah amplop untukku.


"Buka."


Aku meliriknya, membuka amplop, dan memeriksa isinya.


Aku memasukkannya kembali dengan cepat begitu melihatnya dengan sekilas.


'Kurasa aku baru saja melihat sesuatu yang luar biasa.'


Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan perlahan mengeluarkan kertas itu.


Itu adalah surat di atas selembar kertas mewah yang dihiasi dengan tinta emas.


[Sertifikat Hak Milik]


Ya Tuhan.


Aku melihat Duke dengan wajah hampa.  Tanganku yang memegang kertas itu bergetar. Jantungku berdetak sangat kencang hingga aku menekan dadaku.


Apakah ini kegembiraan memiliki ayah yang kaya?

__ADS_1


Aku bisa mendengar suara terompet dan kembang api muncul di atas kepalaku.


...***...


__ADS_2