The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 3


__ADS_3

...***...


"Anda juga ramah,"


Para pengikut tertawa, segera memulai rapat itu. Sementara itu, aku duduk diam di pangkuan Duke. Dan di tengah-tengah mereka aku menjawab saat mereka bertanya tentang kisah dari kuil atau keluarga kerajaan.


Setelah beberapa saat, pertemuan berakhir. Para pengikut pergi satu per satu, dan kakek, yang tetap tinggal, mendekatiku.


"Terima kasih telah menceritakan kisah ini kepadaku."


'Terima kasih sudah mengatakan itu. Itu juga hal yang bagus bagiku.'


Aku memiliki banyak kebencian mengenai gereja. Ketika anak takdiryang asli muncul, mereka melemparku menjadi korban untuk para roh. Selain itu, kamu tidak dapat menggali oriharkon dari pegunungan kuno yang mengerikan.


"Ini hadiah."


Kakek itu menawarkanku permen. Aku mengelepaskan tangan Duke Dubblede dan mengambil permen itu.


Kakek yang memberikanku permen meninggalkan ruang pertemuan dengan senyum lebar, dan berkata, "Seperti yang diharapkan, anak ini sangat imut."


Hanya ada dua orang yang tersisa di ruang pertemuan, aku dan Duke. Dia melirikku dan mengambil permen dari tanganku.


Terkejut, aku terdiam kemudian menatap tanganku dan permen yang dicuri Duke beberapa kali. Seketika aku merasa sedih.


'Permen. Itu permenku. Dasar brengsek, kau mengambil permen dari anak kecil!'


Duke Dubblede dengan kasar mengupas bungkus permen sekaligus. Dan...


"Mulut."


'Untukku? Mungkin, dia tidak seburuk itu'


Saat aku berpikir begitu, Duke menekan pipiku dengan tangannya. Karena tekanan dari tangannya, mulutku terbuka seperti ikan, sehingga dia memasukkan permen itu ke mulutku.


'Orang jahat.'


Tetap saja, permennya enak. Dia menekan pipiku, yang menggembung karena permen.


"Ketika kamu kembali ke ibukota, jika seseorang memberimu permen, beri tahu mereka siapa keluargamu."


"Tyidak."


"Mengapa?"


'Kenapa aku harus memberi tahu orang-orang di ibukota? Disana ada Istana Kekaisaran, Gereja, dan Duke. Mereka semua adalah orang-orang yang sudah membuatku susah.'


Namun, aku tidak bisa memberitahu alasannya. Jadi aku memberitahunya dengan singkat.


"Kwarena akuh akan ada di sisi Dyuke." (Karena aku akan ada di sisi Duke.)


Sejauh ini, Dubblede adalah satu-satunya keluarga yang tidak meninggalkanku. Memori beberapa hari terakhir sepertinya menanggung siksaan batin untukku setiap kali kembali ke ibu kota keempat kalinya.


Permennya sangat lezat. Selimut hangat. Lagu pengantar tidur yang dinyanyikan Lea enak didengar.


Duke Dubblede tidak seburuk yang kudengar. Saat berpikir begitu, aku melihat Duke.


Eh? Bukankah itu senyuman?


Kemudian, Lea datang menjemputku.


"Nona kecil, Tuan," kata Lea, yang senang melihatku, sambil menundukkan kepalanya.


Duke mengangkatku ke atas meja.


"Jangan biarkan mereka berkeliaran dengan ribut."


'Ya. Seorang pria berdarah dingin tidak akan pernah tertawa.'


...***...


Kembali ke kamar, aku berdiri di depan meja sofa dan jatuh cinta pada permainan balok.


'Oke, satu lagi dan akan menjadi 12 lantai. Satu lagi. Satu lagi!'


Para pelayan, yang menyaksikan aku bermain sendiri, mengobrol sebelum aku menyadarinya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin?"


"Iya."


Ketika Lea mengangguk, para pelayan menutup mulut mereka yang terbuka dengan tangan mereka.


"Ya Tuhan."


"Tidak mungkin."


"Apakah matahari terbit dari barat? Tuan khawatir dengan bayi itu."


Siapa yang peduli padaku? Aku terkejut dan memutar tubuhku. Angin menumbangkan baloknya.


"Heuk!"


Saat aku mengerang, Lea berlari ke arahku dengan cepat.


"Tidak apa-apa, nona kecil. Anda bisa memasangnya kembali. Nah," kata Lea, yang mengumpulkan balok-balok yang jatuh dan menyusunnya perlahan.


"Tolong ceritakan lebih banyak, Lea."


"Betul. Bagaimana bisa Tuan peduli?"


Iya. Katakan padaku. Lea membuka mulutnya, membangun balok untukku.


"Berbahaya saat malam hari, jadi jagalah bayi itu dengan baik."


'Bagaimana bisa kamu mengartikan 'Jangan biarkan mereka berkeliaran dengan ribut' menjadi seolah-olah Duke sangat peduli padaku?'


Aku kagum sekaligus terkesan dengan pemikiran positifnya.


"Kalau begitu, Tuan akan mengadopsi bayi itu?"


"Kuharap begitu, dia akan senang memiliki saudara laki-laki."


Ah, tiga konfusius dari Dubblede. Mereka terkenal sejak aku masih muda. Mereka semua memamerkan ketampanan, keterampilan seni bela diri, kecerdasan, dan kepribadian keren mereka.


Aku belum pernah melihat mereka, tapi aku sudah cukup banyak mendengar namanya.


Ada julukan lain dari Tiga Konfusius Dubblede.


Mereka sedingin dan acuh tak acuh kepada orang lain seperti Duke, tetapi mereka semanis sarang madu terhadap Mina.


Cerita itu sangat terkenal bahwa saat Mina diculik oleh negara lain, mereka bergegas dan menghancurkan negara itu. Terutama putra tertua memiliki cinta segitiga dengan Putra Mahkota dan Mina.


"Tapi apakah akan bagus kalau bayi itu diadopsi?"


"Apa?"


"Kamu tahu. Tuan adalah seorang pria yang bahkan menikam pendahulunya, dan secara emosional baik baginya untuk diadopsi oleh Duke lainnya-"


"Linda!" Seru Lea dengan tajam.


Lea, yang memelototi pelayan, mengirim pelayan lain pergi dengan anggukan. Lalu dia memegang tanganku dengan lembut dan berkata,


"Tuan bukan orang yang jahat."


"........"


"Ini kesalahpahaman besar bahwa Anda tidak memiliki siapapun di sekitar karena keadaan yang rumit!"


"........"


"Tuan tidak berdarah dingin tanpa memiliki kemanusiaan, seperti yang orang-orang katakan. Dia mencintai dan merawat istrinya. Jika dia tidak pergi selama kelahiran, dia mungkin akan memiliki ibu yang baik untuk bayinya."


Mata Lea menjadi gelap karena sedih. Duchess sedang mengandung anak keempatnya? Aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya dalam kehidupan masa laluku. Aku merasa kasihan pada Duke.


'Saat ini aku mengerti kenapa Duke menjadi dingin seperti es di tengah musim dingin. Bagaimana kau bisa hidup dengan sewajarnya setelah kehilangan dua orang yang kau cintai pada saat yang bersamaan?'


"Saya harap Anda tidak takut padanya."


"Iya."


Lea, memelukku dengan hati-hati, membelai punggungku dengan sentuhan lembut.

__ADS_1


"Anda sangat manis."


Suara bisikan di telingaku terasa manis, dan angin yang datang dari jendela itu dingin. Berkat itu, aku memejamkan mata perlahan, menyandarkan wajahku ke bahu Lea.


...***...


Tidak sampai tengah malam aku meletakkan kepalaku di bantal dan bergumul.


'Aku lapar!'


Aku memutar ingatan dikepalaku, ternyata aku tidak makan malam. Lea dan para pelayan sepertinya membuatku tertidur tanpa membangunkanku.


Kupikir aku akan menunggu sampai pagi, tetapi aku tidak bisa menahan lapar.


'Yang aku makan pada sore hari hanyalah permen dan segelas jus.'


Satu-satunya hal yang memenuhi pikiranku saat ini adalah perut kosong ini.


Pada saat masih di Vallua, aku ingat terjebak di ruang kunci selama beberapa hari dan kemudian kelaparan. Pada hari-hari menjadi seorang gelandangan, aku masih ingat rasa sakit ketika kelaparan dan sekarat.


'Aku harus mencari makanan dan memakannya.'


Pada akhirnya, aku mengikuti instingku, dan bangun dari tempat tidur dengan hati-hati. Berusaha mendorong pintu besar dan pergi ke tengah lorong. Aku menahan rasa takut akan kegelapan dan datang menuju ke dapur, tetapi pintunya terkunci.


'Ya Tuhan.'


Aku menjelajahi kastil lagi. Itu berlangsung waktu yang cukup lama, hingga aku menemukan roti di depan tempat tinggal pelayan. Roti Itu dipotong setengah dan hancur ketika seseorang meninggalkan itu, tetapi aku sudah puas dengan menemukan sesuatu untuk dimakan. Sambil memegang roti di lenganku, aku berlari ke aula dengan penuh semangat.


'Kembali ke kamar lalu makan-'


"Hah!"


Aku buru-buru menyembunyikan roti di belakangku. Duke Dubblede menatapku dengan mata dingin. Malam ini, aku sangat ketakutan hingga tangan dan kakiku gemetaran. Pada saat itu, aku teringat sesuatu yang dikatakan Mina di kehidupanku sebelumnya.


'Jadi Jean Valjean bersalah karena mencuri roti, eh, siapa ya namanya-Jean Valjean. Ya, memang itu namanya. Apa hukuman Jean Valjean yang mencuri roti?-Dieksekusi!'


Ketika suara cerah Mina muncul di benakku, semua warna di wajahku menghilang.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Apakah Ibu Suri mengirimmu untuk memata-matai keluargaku?"


Aku menelan ludah kering. Duke Dubblede, bukanlah seseorang yang bisa kutangani. Aku tidak bisa menjawab apapun karena takut, Duke Dubblede bergumam rendah.


"Anak takdir."


"Ya...!"


"Aku benci orang yang berbohong. Yang naif, terutama mereka yang berpura-pura berada dipihakku."


"Mulut mereka semua akan dikoyak."


Punggungku bergidik. Duke sedikit membungkuk ke arahku.


"Apa yang harus aku lakukan dengan tikus kecil ini, hm?"


Aku terduduk dengan tergesa-gesa. Meringkuk dan menyatukan kedua tangan.


"Bu, bu, buk, byukan!"


"Apa?"


"Aku menchurinya..."


"Apa itu uang?"


"Benda suci?"


"........"


"Rahasia militer?"


".............."


Mata Duke bersinar dengan rona biru dalam gelap, benar-benar menakutkan, jadi aku mengeluarkan suara sambil merengek.

__ADS_1


"Rhothi..." (Roti...)


...***...


__ADS_2