The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 27


__ADS_3

...***...


Saat pelelangan itu berlangsung, aku tidak bisa menahan untuk tidak berdiri.


Alih-alih menamai tempat ini 'Heaven', 'Hell' adalah istilah yang lebih tepat untuk tempat seperti ini.


'Lelang budak jelas ilegal dan dilarang, tapi mengapa ada begitu banyak orang di rumah lelang?'


"Produk selanjutnya adalah saudara kandung Lunetia. Keduanya memiliki rambut putih bersih dan mata putih.  Mereka berdua bisa membaca... " lelaki bertopeng itu memperkenalkan para budak dengan tersenyum. Tanpa menyadari situasi memuakkan yang dia buat.


Mereka bersaudara diseret ke tengah panggung. Rantai panjang memborgol kedua tangan dan pergelangan kaki mereka. Luka yang tak terhitung jumlahnya mencemari seluruh tubuh mereka, meninggalkan bekas jelek di kulit.


"Bagaimana menurutmu?"


Mendengar kata-kata Isaac, Henry dengan enteng berkata.


"Jika kamu akan membeli satu, beli saja gadis itu. Karena dia bisa membaca, kita bisa membuatnya membaca buku dongeng untuk Leblaine."


Pelelangan berlangsung dan tak lama kemudian mereka berdua dengan paksa ditarik dari panggung.


Giliran budak berikutnya adalah pria jangkung. Rambutnya yang panjang dan lebat menutupi wajahnya. Raungan keluar dari mulutnya, memenuhi seluruh aula, saat dia diseret keluar dari kandang budak.


Sebuah belenggu besi tergantung di lehernya, menghubungkan ke rantai yang tak terhitung jumlahnya yang mengikat seluruh tubuhnya. Penampilannya bahkan lebih buruk dari budak sebelumnya. Mata Isaac berkilau dengan semangat.


"Henry, lihat! Orang itu mungkin bisa menyalakan semua lentera di sekitar kastil setiap hari."


"Tidak. Dia terlalu kejam. Bagaimana jika Leblaine terluka?"


Henry menegur saudaranya.  Menggerakkan pandangannya ke arahku, dia bertanya.


"Leblaine, apakah kamu tertarik salah satu dari mereka?"


"....."


"Leblaine?"


"Aku tidyak mau budhak." (Aku tidak mau budak.)


Isaac memiringkan kepalanya dalam kebingungan.


"Kenapa?"


"Merheka terlalu kuwat." (Mereka terlalu kuat.)


"Itu artinya mereka adalah budak yang bagus. Nenek moyangku mengatakan bahwa menjadi lemah itu buruk."


'Nenek moyang sialan,' aku mengutuk dalam pikiranku.


Mereka pasti memiliki beberapa prinsip yang kacau. Kenapa mereka mengajari anak-anak hal seperti itu? Jika mereka masih hidup, aku ingin mencekik mereka sampai dilupakan oleh sejarah.


"AGGH!"


Raungan marah sekali lagi terdengar dari pria berambut shaggy. Penonton hanya bisa ternganga merasakan hembusan angin yang luar biasa yang berasal dari pusat panggung.


Clank!


Di tengah-tengah hembusan angin, rantai pria itu hancur dan jatuh. Suara gemerincing rantai yang mengenai lantai bergema di aula.


Dia kemudian memukul tanah dengan tinjunya dan melompat menuju bagian VIP di lantai dua tempat kami duduk.


Clank!


Suara logam gemerincing terdengar sekali lagi. Pria itu sekarang duduk di pagar pembatas. Memindai sekelilingnya dengan tatapan ganas, ia mencoba mencari jalan keluar dari lubang neraka ini. Sial baginya, tidak ada jalan keluar atau tempat untuk lari. Dia menggertakkan giginya, kegigihan terlihat di matanya dan entah bagaimana pandangannya tertuju padaku.


'Jangan bilang... dia mau membawaku sebagai sanderanya?'


Seolah membaca pikiranku, pria itu mengulurkan tangannya ke arahku...


'....!'


Reflek aku menutup mata dan memeluk tubuhku, menyiapkan diri untuk serangan yang akan datang. Namun, tidak peduli berapa lama waktu berlalu, tidak ada yang datang. Perlahan aku membuka salah satu mataku dan melihat pemandangan yang mengejutkan di depanku.


Pedang Isaac memblokir tangan pria itu, dan aura merah yang berasal dari tangan Henry, mengelilingiku, mirip seperti kepompong, yang melingkupiku dibawah perlindungannya.


Isaac dengan cepat menyandung kaki pria itu, menjatuhkannya dari pagar. Pria itu, yang tidak mampu melawan gravitasi, segera jatuh kebawah dengan suara keras. Isaac segera naik ke pagar pembatas dan melompat dari balkon, mengejar budak itu. Dia mendarat di samping tubuh pria yang terkapar itu. Bahkan sebelum pria itu bangun, sebuah pedang sudah diarahkan ke dadanya.


Budak itu meraung frustrasi.


Aku meraih pagar dengan tergesa-gesa dan menatap kebawah. Lantai indah itu peok dan retak seolah-olah meteor baru saja jatuh. Tubuh pria itu dikelilingi garis biru yang berasal dari tangan Isaac, garis aura yang tampak tipis mengikat seluruh tubuhnya.


Garis itu mengikatnya lebih kencang dari rantai logam. Karena garis itu, ia bahkan tidak bisa bergerak satu inci pun. Seluruh tubuhnya benar-benar membeku.


Rasa takut merayap di hati para penonton ketika mereka menyaksikan kekuatan anak-anak Dubblede secara langsung.


Isaac melambai padaku dari lantai satu.


"Dik, dia sangat kuat. Kau tidak ingin bermain dengannya?"


"Dia makhluk yang istimewa. Dilahirkan dengan menggabungkan darah hewan dan manusia. Apalagi orang ini masih muda. Nona kecil bisa bermain dengannya untuk waktu yang lama."


'Apa yang kau bicarakan? Kamu gila?'

__ADS_1


Aku hanya bisa menatap dengan tidak percaya pada juru lelang bertopeng yang mengatakan kata-kata itu.


Aku lebih suka kembali ke kastil daripada membeli budak di sini.


'Bagaimana aku bisa membujuk kakak agar tidak melukai orang itu?'


Tidak peduli berapa lama aku merenungkannya, aku hanya bisa menemukan satu cara untuk membujuk mereka.


'... Aku tidak berencana melakukan ini di tempat yang ramai, tapi....'


Menyerahkan harga diriku, "Wow!" Aku berteriak dengan ekspresi penuh kegembiraan.


"Isaak dan Henli sangad kelen!" (Isaac dan Henry sangat keren!)


Mata Isaac dan Henry membelalak saat mendengar pernyataanku yang tidak terduga.


"Bwaine tidyak membutuhkan maenan balu. Aku lebih sukak belmain dengan Henli dan Isaak. Kalian beldua lebih kelen dari merheka!" (Blaine tidak membutuhkan mainan baru. Aku lebih suka bermain dengan Henry dan Isaac. Kalian berdua lebih keren dari mereka!)


Aku memeluk Henry, yang berdiri di sebelahku, dengan erat. Tubuhnya langsung menegang karena terkejut akan tindakanku yang tiba-tiba, tetapi bahkan saat itu aku bisa melihat bibirnya berkedut ke atas dengan kemenangan.


"Lalu... Sebaiknya kita pergi saja?"


"Iya!"


'Ya, mari kita kembali. Secepatnya.'


Begitu aku pulang, aku akan memberi tahu kuil dan keluarga kekaisaran tentang lelaki bertopeng setengah yang menjijikkan itu.


Di sisi lain, seolah mainannya direnggut, Isaac mengalah dengan wajah kecewa.


"Oh, baiklah, jika menurutmu begitu. Ayo pergi saja. Ngomong-ngomong, Dik... "


"...?" Aku memiringkan kepalaku pada pertanyaannya yang belum selesai.


"Seberapa asyiknya bermain dengan kami?"


Kataku dengan senyum lebar.


"Nyang paling mengasyikkan!" (Yang paling mengasyikkan!)


Aku bisa merasakan situasi akhirnya berubah menguntungkanku ketika wajah kedua bersaudara itu menjadi cerah.


Tiba-tiba, pintu masuk dibuka dengan keras, dan seseorang yang sangat kami kenal masuk kedalam


"Dyuke?" (Duke?)


Sebelum aku menyadarinya, Duke telah memasuki tempat ini. Dengan langkah besar, dalam beberapa detik dia sudah berdiri tepat di sampingku. Ekspresinya gelap, seolah langit runtuh.


...***...


Beberapa menit setelah dua bersaudara itu pergi ke 'Heaven', seorang pria yang duduk di kursi kulit mewah mengerutkan kening. Petugas yang melaporkan perjalanan kecil LeBlaine ke toko, bergidik di bawah suasana hati tuannya yang buruk.


'Trik yang buruk,' pikirnya, mengkritik tindakan putranya.


'Hal pertama yang disukai seorang anak adalah hadiah yang paling berkesan,' Duke berpikir demikian, 'Jika memang begitu, maka hadiah dari putra-putranya akan lebih berkesan dari dirinya.'


Ketika pikiran itu terlintas dalam benaknya, ekspresinya yang sudah gelap menjadi lebih mengerikan, menakuti semua orang yang berada di ruangan. Tidak menunggu sedetik pun, ia memakai mantelnya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia bahkan tidak mengindahkan Nos dan dokumen permohonan kerja administrator yang harus diselesaikan.


Pikirannya teringat ketika dia sendirian bersama dengan Leblaine, tanpa dua bersaudara itu di sisinya. Hidupnya sangat damai dan memuaskan. Waktu berjalan lambat dan setiap hari Leblaine akan duduk di pangkuannya sepanjang hari. Suasana hatinya yang biasanya berat itu akan berubah menjadi ringan setiap kali gadis kecil itu berada disampingnya.


Sayangnya, setelah proses adopsi berlalu, waktu antara ayah dan anak itu tampak berkurang. Entah karena insiden yang datang satu demi satu atau meningkatnya dokumen yang harus diperiksa. Tetapi, bahkan dengan jadwalnya yang padat, dia masih termasuk dalam daftar orang-orang favorit Leblaine. Hanya setelah putra-putranya datang, situasinya berubah.


Dubblede ingat interaksi pertamanya dengan gadis itu. Pada awalnya, dia pikir Leblaine adalah gangguan bagi hidupnya. Hanya seorang anak yang tak kenal takut akan tatapan dinginnya dan dengan berani mengejarnya.


Setiap hari, dia akan berjalan dengan antusias di belakangnya, mengikutinya ke mana pun dia pergi. Dubblede tidak pernah menyadari, sejak kapan dia merasa kosong tanpa kehadiran gadis kecil itu?


Dia tidak tahu persis kapan atau bagaimana dia mulai mempedulikannya.


Duke masih bisa mengingat kemarahan yang menyelimutinya ketika pelayan memberitahu bahwa Leblaine jatuh sakit. Kata-katanya terputar di kepalanya seperti rekaman yang rusak, seolah-olah itu kata-kata terakhir yang diucapkan Leblaine padanya.


"Dyuke!"


"Kumwohon, jadwilah ayahku!" (Kumohon jadilah ayahku!)


Dia hampir membiarkan amarah mengendalikannya dan memerintahkan mengeksekusi lebih dari selusin dokter hari itu. Untungnya, Leblaine bangun sebelum perintahnya dilakukan. Dia berhasil mengeluarkan Duke dari awan kemarahan.


Dubblede dengan tenang menutup matanya dan bersandar di kursi kereta yang nyaman. Tanpa disadari, dia mengenang semua saat-saat bahagia yang dia habiskan bersama putrinya. Tiba-tiba ketukan dari kursi penunggang kuda membangunkannya dari tidur.


"Yang Mulia, kita sudah sampai."


Duke mengencangkan mantelnya sebelum dia turun kereta. Nos, yang gagal membujuk Dubblede untuk tidak pergi, sekarang berdiri di sampingnya.


"Di mana Blaine dan putraku?"


"Mereka berada di rumah lelang budak, 'Heaven'."


Duke menyipitkan matanya. Dia tahu 'Heaven'. Itu adalah pelelangan budak yang disamarkan di bawah bangunan yang indah untuk menyembunyikan aktivitas mereka, melelang imigran dan tawanan perang seolah-olah mereka adalah barang.


Tempat itu dari dulu sudah menjadi masalah bagi wilayahnya. Tindakan menjual nyawa manusia itu adalah ilegal; Namun, gedung opera adalah tempat yang tak tersentuh, bahkan bagi penguasa wilayah sekalipun, seperti dirinya.


Lebih tepat mengatakan bahwa tempat pelelangan itu memiliki beberapa trik kotor daripada disebut tidak tersentuh.

__ADS_1


Tidak hanya itu, kebiasaan raja untuk mengabaikan beberapa perdagangan kriminal besar, terutama yang disukai oleh rakyat.


Pelelangan itu sendiri memiliki beberapa sponsor kuat yang menyulitkan siapa pun untuk menjatuhkan tempat itu.


"Apakah mereka memberikan budak sebagai hadiah Hari Anak untuk Leblaine?"


"Sepertinya begitu."


Mendengar jawaban Nos, Duke menaikkan sudut mulutnya, mengutuk rencana kedua putranya.


"Mereka melakukan hal yang tidak berguna lagi."


Dua bersaudara itu ingin membelikan budak sebagai hadiah. Lalu mari kita lihat reaksi mereka saat dia membelikan 20 budak untuk Leblaine.


Duke sedang berjalan menuju pintu masuk, ketika kata-kata Leblaine terdengar di telinganya yang tajam.


"Seberapa asyiknya bermain dengan kami?"


"Nyang paling mengasyikkan!"


Ketika pernyataan konyol itu terdengar di telinganya, Duke berhenti melangkah sejenak sebelum berjalan ke arah dua bersaudara itu dengan langkah panjang. Dia memandang bergantian pada Leblaine yang kebingungan dan putra-putranya sebelum akhirnya memerintahkan Nos dengan nada dingin.


"Ledakkan tempat itu."


"Maaf?"


Merasa entah bagaimana kata-kata Duke tidak masuk akal, Nos menjilat bibirnya dengan cemas dan bersiap diri untuk mendengar jawaban sang Duke. Duke kemudian menyatakan dengan menggertakkan gigi.


"Bakar tempat sialan ini sampai rata dengan tanah."


...***...


Segalanya berlalu dalam sekejap mata, dan aku hanya bisa menatap kosong ke gedung opera yang terbakar.


Duke memerintahkan anak buahnya untuk membakar rumah lelang 'Heaven', bahkan tanpa mendengar penjelasan apa pun.


Segera setelah perintah Duke datang, empat petugas berpakaian hitam, muncul dari bayangan di sebelahnya dan mengeluarkan aura dari udara tipis, membakar gedung yang indah itu.


Tanpa peduli dengan keributan yang disebabkannya, Duke menggendongku di pelukannya dan berjalan ke pintu keluar gedung.


DUARRR!!!


Sebuah ledakan besar tiba-tiba terjadi di dalam gedung sebelum akhirnya bangunan terakhir jatuh ke tumpukan puing-puing. Berita baiknya adalah semua orang di sana keluar tepat waktu dan tidak ada korban.


Semua itu berkat teriakan putus asa Nos sebelum bangunan itu terbakar.


"Mereka yang ingin hidup, cepat lari!" Teriaknya.


'Untungnya, para budak juga berhasil keluar.'


Di pintu masuk, alih-alih panik seperti semua pengunjung, seorang pria yang lesu malah menghitung semua budak yang melarikan diri dan berkata kepada kami,


"Barang-barang itu sekarang milikmu. Bayar itu semua."


'Dia seharusnya ikut terkubur bersama reruntuhan.'


Aku memandang pria itu dengan penuh kebencian.


"Ada apa, Dik? Apakah kamu tertarik dengannya juga?"


Aku langsung mengerutkan kening atas kata-kata Isaac.


'Bagaimana dia sampai pada kesimpulan itu sih?'


Tidak mungkin aku tertarik pada orang yang licik seperti dia.


Tapi saat itulah aku menyadari, mata Isaac tidak tertuju pada pria yang menjijikkan itu. Dia justru menatap pria berambut shaggy yang berjongkok di belakangnya. Ternyata  budak yang mencoba menyanderaku.


"Haruskah kita membelinya? Jika menginginkannya, kau sebaiknya membelinya sekarang. Sekarang setelah bangunan itu runtuh, kita tidak akan bisa memasuki pelelangan untuk sementara waktu."


"......"


"Aku akan membelikannya untukmu, tapi kamu juga harus bermain dengan kami bahkan kalau aku membelinya. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kami yang paling keren di dunia!"


Aku tidak tahu mengapa dia pikir aku ingin membeli budak. Bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk membeli budak. Aku kebetulan tahu tentang pelelangan ini karena mereka. Kalau saja mereka tidak mencoba membelikanku hadiah aneh, aku tidak akan tahu tentang 'Surga' yang mengerikan ini. Aku memang perlu mendisiplinkan mereka berdua.


'Jika wortel tidak berfungsi, maka ia membutuhkan cambuk. Jika dengan cara baik-baik tidak berhasil, maka sudah saatnya melakukannya dengan cara kasar.'


Aku memandang Isaac dan berkata.


"Tidyak, aku tidyak akan bermaen denganmu..." (Tidak, aku tidak akan bermain denganmu.)


"Hah? Kenapa?!"


"Kalaw dipikir-pikhir, kamu tidyak terlalu kelen." (Kalau dipikir-pikir, kai tidak terlalu keren.)


"Kenapa?! Tidak mungkin, kamu bilang aku yang paling keren!"


Isaac berteriak dengan putus asa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2