
...***...
"Ya Tuhan...!"
Lea menutup mulutnya dengan tak percaya.
Henry, yang menerima tatapan mencekik Duke, memalingkan wajahnya. Dia dengan keras kepala menggigit bibirnya.
"Aku benci pembohong. Terlebih lagi jika itu adalah anakku."
"......."
"Katakan padaku."
"......."
"Henry!"
"Jangwan!" (Jangan)
Suara Duke yang keras menjadi semakin keras, sampai aku berteriak dan menyelinap di antara mereka. Aku berlari ke lengan Duke, menutup mataku dengan erat dan menggantung di lengannya.
"Henli takwut. Dia takwut padamu." (Henry takut. Dia takut padamu.)
Aku juga takut.
Aku pasti gila. Menggantung ke Duke, yang sedang mode marah, tanpa berpikir.
Merangkak kedalam mulut singa malah tidak semenakutkan dibandingkan amarah Duke. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Genggaman Duke perlahan-lahan melonggar. Henry, yang dibebaskan oleh Duke, mengertakkan gigi dan berlari keluar ruangan. Aku mengekor di belakangnya.
Meskipun aku berhasil meraih tangannya, Henry melepaskannya begitu genggaman itu menyentuhnya.
'Agh!'
Aku hampir jatuh karena tindakannya yang tiba-tiba. Aku kembali bergegas dan berjalan di samping Henry.
"Henli tidwak apa-apa untuk takwut." (Henry tidak apa-apa untuk takut)
"....."
"Aku takwut bendwa tajam. Aku takut pada katak. Tidwak buruk memiliki sesuatu yang kamu takutwi." (Aku takut benda tajam. Aku takut pada katak. Tidak buruk memiliki sesuatu yang kamu takuti.)
"...."
"Aku akwan melindungimu. Ayho pergi ke Dyuke." (Aku akan melindungimu. Ayo pergi ke Duke)
"Siapa yang meminta bantuanmu!"
Teriakan Henry bergema di koridor yang gelap. Aku tercengang dan tanganku yang terulur ditarik olehnya. Henry mengertakkan gigi dan memelototiku.
"....."
"Apakah kamu masih berfantasi kami adalah keluarga bahagia?"
"....."
"Apa kau benar-benar berpikir bahwa kau menjadi saudaraku hanya karena kamu ada dalam daftar keluarga? Jangan buat aku tertawa. Tidak ada orang yang benar-benar menganggap anak yatim tanpa setetes darahpun sebagai keluarga."
Henry mengeluarkan ucapan menyakitkan itu dan mencibir.
"Jangan mengacau dan jangan mencampuri urusanku." Di akhir peringatan, dia berbalik.
'Keras kepala,' pikirku.
Aku berdiri di tempat yang sama dan memandangi sosoknya yang mulai menghilang.
...***...
Ketika aku kembali ke sisi duke, aku mengatakan yang sebenarnya kepada mereka tanpa melewatkan satupun, kecuali bagian di mana aku membuat jebakan untuk Teramore.
"Ketwika aku pergi ke ruang belajar, aku melwihat Henli dan kakwek Teramor. Kakek memukulinya, aku takut." (Ketika aku pergi ke ruang belajar, aku melihat Henry dan Kakek Teramore. Kakek memukulinya, aku takut.)
Nos dan Viscount Dubos sangat sedih ketika mereka mendengar cerita ku, sehingga mereka mengucapkan kutukan yang tidak terkendali di bawah napas mereka.
"Matilah bajingan."
"Kau bangsat!"
Nos, mengerutkan kening dan bergumam.
"Mengapa Henry tidak memberitahuku bahwa Teramore mengangkat tangannya untuk memukulinya?"
"Dia masih anak-anak, jadi dia pasti takut kalau dia mengatakannya, masalah yang lebih besar akan terjadi."
Viscount Dubos menghela nafas dalam-dalam.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?"
__ADS_1
"Biarkan Teramore dikunci di penjara bawah tanah."
"Ini tidak akan terjadi jika dewan tinggi tidak mendorong Teramore untuk menjadi guru Henry. Mereka juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Rahasiakan bahwa Henry telah diserang."
"Baiklah.... Apa?! Saya tahu bahwa insiden hari ini saja sudah cukup untuk menuntut Teramore atas hukuman penjara atau hukuman mati yang lebih buruk, tetapi mengapa Anda merahasiakan penganiayaan Henry?"
Viscount Dubos bingung, tetapi Duke itu tidak menjawab. Ketika Duke meninggalkan ruangan, Dubos dan Nos berbicara dengan suara rendah.
"Aku sempat berharap Duke membubarkan dewan karena kejahatan Teramore, tetapi tampaknya aku keliru."
"Konsekuensinya terlalu besar. Dalam skenario terburuk, pembubaran dewan tinggi dapat menyebabkan perang."
"Aku tahu, tetapi sebagai ayah dari tiga anak, bukankah terlalu dingin mengabaikan kejadian itu seolah-olah itu tidak pernah terjadi?"
Semua orang terus berceloteh, mengatakan bahwa Duke tidak memiliki kasih sayang terhadap anak-anaknya, tetapi aku berpikir sebaliknya. Sebelum pendahulu Duke meninggal, Dubblede menjalankan perintahnya tanpa keributan, bahkan yang paling berbahaya sekalipun. Kepatuhannya mungkin karena fakta bahwa pendahulu Duke itu bertanggung jawab atas ketiga anaknya. Mungkin karena anak-anaknya disandera, ia mengambil semua perintah dengan risiko nyawanya.
"Duke bahkan menyembunyikan fakta bahwa Henry dilecehkan, seolah-olah untuk melindungi Henry."
Terlepas dari konsekuensi bahwa perang dapat pecah jika dewan tinggi dibubarkan. Dalam jangka panjang, perang pada akhirnya akan terselesaikan, bahkan jika perlu waktu lama untuk mencapainya.
Alasan mengapa dia melepaskan kesempatan untuk berurusan dengan dewan tinggi yang licik itu adalah untuk menjauhkan orang-orang dari Henry. Jika dia menuntut dewan tinggi, banyak orang akan menggunakan kesempatan ini untuk mengorek kelemahan Henry.
'Dia menyadari bahwa Henry trauma oleh pendahulu Duke.'
Anak-anak di keluarga yang berpengaruh kuat dan mempunyai kelemahan selalu menjadi target, jadi mereka harus menyembunyikan kelemahan mereka.
"Bagaimana kalau kita pergi, nona kecil? Saya punya susu hangat untuk Anda."
Aku melirik sekali lagi ke arah Duke sebelum aku memegang tangan Lea dan mengikutinya.
...***...
Nos datang untuk memeriksa kondisi Henry. Ketika dia mengkonfirmasi bahwa anak itu tertidur, dia menoleh ke ksatria elit Dubblede.
"Pastikan berita tentang insiden hari ini tidak keluar, keluarkan perintah darurat, dan perketat keamanan di kastil."
"Haruskah kita menempatkan penjaga di sisinya?"
"Tidak. Itu hanya akan mengingatkannya pada kejadian mengerikan tadi."
Ksatria berambut abu-abu tua itu mengangkat bahu.
"Yah... Teramore ada di penjara bawah tanah dan ketua dewan dipanggil, jadi siapa yang bisa melukainya?"
Nos mengerutkan kening ketika dia mendengar ucapan ksatria yang serampangan. Segera Nos dan ksatria meninggalkan ruangan. Anak yang tidur di balik pintu yang tertutup itu sekali lagi terkubur dalam kegelapan yang mencekik sendirian. Nafasnya yang lemah tenggelam dalam kesunyian, dan hanya kesunyian yang ada ke kamar.
Kriek-
Suara berderik kecil terdengar. Bayangan kecil Leblaine dibentuk oleh cahaya yang masuk dari aula. Dia menyelinap ke kamar dengan langkah ringan dan menutup pintu dengan sunyi.
Leblaine kemudian merangkak ke sisi tempat tidur Henry.
"Tidur."
Dia menolak seorang dokter untuk memeriksanya dan tetap di kamarnya sejak itu, tetapi dia tampaknya telah tidur selama ini. Leblaine dengan hati-hati mengangkat lengan baju Henry. Memar yang dilihatnya siang tadi telah menggelap.
Dia mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan mengoleskan salep dengan lembut di atas memar dan luka yang gelap. Tiba-tiba, tubuh Henry bergerak dan berbalik.
"Hah!"
Dia menekan jantungnya yang berdetak kencang dengan tangan kecilnya dan menatap wajah Henry lagi, untuk memastikan dia tidur.
'Ayo kembali saja. Jika dia bangun dan melihatku, suasana hatinya akan menurun.'
Dia memasukkan botol kecil itu kembali ke sakunya. Leblaine berbalik ke pintu, tetapi berhenti dan menatap wajah Henry yang sedang tidur. Dia dengan lembut menepuk rambut Henry dan berbisik.
"Tidak apwa-apa, nak. Tidak apwa-apa." (Tidak apa-apa, nak. Tidak apa-apa.)
Ketika dia dilecehkan oleh Duke Vallua dan disiksa karena dikira berusaha mengambil hidup Mina, dia berharap seseorang untuk menepuk kepalanya dengan lembut dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak apa.
Esok hari akan datang dan semuanya akan baik-baik saja.
Leblaine hanya berharap bahwa tepukan sederhana ini akan dapat menghilangkan setidaknya sedikit rasa sakit Henry.
Setelah Leblaine meninggalkan kamar, Henry perlahan mengangkat kelopak matanya.
"Siapa yang lebih tua dari siapa?"
Pikiran Henry melayang ke tindakannya sebelumnya. Bahkan ketika Henry menunjukkan ketidaksukaan terhadapnya, dia akan terus mengejarnya dengan bodoh tanpa menyerah. Apakah dia benar-benar sebodoh itu?
"Bodoh...."
"Apa kau benar-benar berpikir bahwa kau menjadi saudaraku hanya karena kamu ada dalam daftar keluarga? Jangan buat aku tertawa. Tidak ada orang yang benar-benar menganggap anak yatim tanpa setetes darahpun sebagai keluarga."
__ADS_1
Dia melampiaskan kemarahannya padanya.
Henry menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bermaksud mengatakan itu padanya. Dia malu karena Leblaine tahu mengenai ketakutannya, jadi dia meneriakkan kata-kata menyakitkan itu untuk menutupi rasa malunya.
Sebenarnya, itu menakutkan. Ketika Teramore mengangkat tangannya untuk memukulnya, dia akan selalu mengingat kata-kata kejam kakeknya....
"Mengapa kau tidak bisa memenuhi harapanku? Kau bukan cucuku jika kau adalah barang cacat!"
Dan segera ilusi Teramore dan kakek tumpang tindih di pikirannya.
Namun-
"Aku akan melindungimu, Henli."
Henry membenamkan wajahnya di selimut dan menangis diam-diam.
...***...
Kastil itu gempar. Dua dari tiga senior yang merekomendasikan Teramore dikeluarkan dari jabatan mereka dan mereka kehilangan yurisdiksi mereka. Pembentukan badan penasihat, yang ditentang keras oleh dewan, disahkan.
Terperangkap di dalam gedung penjara bawah tanah, penampilan Teramore sangat buruk. Namun, dia tidak menyerah dan memohon pada prajurit yang berpatroli. Dia mengulurkan tangannya melalui celah batang besi.
"Ketua.... Tolong sampaikan pesan kepada ketua. Aku tahu rahasia anak takdir!"
Jika ketua mengetahui bahwa dia sebenarnya adalah iblis, dia bisa membalikkan situasi. Sebelumnya, dia berhati-hati karena posisinya yang genting, tetapi ketuanya berbeda. Posisinya diamankan dan stabil. Sayangnya, prajurit itu tidak mengindahkan kata-kata omong kosongnya, prajurit itu menendang tangannya.
"Selalu mengatakan omong kosong. Siapa yang akan mempercayai kata-kata orang gila?"
"Aku tidak gila!"
"Ha! Jika kau tidak gila, bagaimana kamu punya nyali untuk mengangkat tangan ke tuan muda?"
Prajurit itu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Ketika ketua melihatmu, dia akan langsung memotong lehermu. Jika kau ingin menjalani hari yang lain, jangan bicara omong kosong."
Segera setelah penjaga penjara menyelesaikan sarannya, pintu yang menuju ke penjara bawah tanah terbuka dan seseorang menuruni tangga.
"Tuan muda."
Para prajurit membungkuk ke arah Henry.
".....!"
Wajah Teramore bersinar dengan kegembiraan dan harapan ketika dia melihat sosok Henry.
'Surga belum meninggalkanku!'
Henry memerintahkan prajurit penjaga.
"Pergilah ke luar sampai aku memanggilmu."
Para prajurit saling memandang, tetapi segera membungkuk dalam-dalam dan meninggalkan pintu.
Teramore, yang ditinggalkan sendirian bersama Henry, berteriak, memegangi batang besi.
"Henry, keluarkan aku dari sini."
"......"
"Aku tidak akan membocorkan traumamu. Jadi izinkan aku bertemu dengan ketua."
"Apa yang akan kamu lakukan ketika bertemu dengannya?"
"Aku pasti akan membalas dendam pada pelacur kecil itu, -Agh!"
Gelombang mana yang berasal dari tubuh Henry, mencekik leher Teramore.
"A-apa yang kamu lakukan...!"
'Tidak mungkin.'
Ada yang salah. Henry tidak akan pernah berani menatap lurus ke arahnya, apalagi memiliki nyali untuk mencekiknya.
"Da-dasar, cacat-"
Di masa lalu, bahkan suara Teramore dapat mendorongnya ke tebing, tetapi sekarang meja telah berputar. Henry mengarahkan pandangannya lurus ke mata Teramore dengan pandangan acuh tak acuh.
"Aku bukan barang cacat!"
Tangan Teramore yang gemetaran menggapai Henry. Henry, yang biasanya gemetar ketakutan karena melihat tangan Teramore yang keriput, menendang tangannya.
Untuk beberapa alasan dia tidak lagi takut.
Kata Henry sambil mencibir. "Dan saudara perempuanku bukan pelacur, namanya Leblaine."
Leblaine, yang tertidur lelap di kamarnya, tidak tahu bahwa hal sebesar itu terjadi di penjara bawah tanah.
__ADS_1
...***...