
...***...
"Dijuwal sebagai budyak... Sangad malang. Dia pasti sedih. Isaak, kalaw Leblaine dijuwal sebagai budak, Leblaine juga akan merasa sangat sedwih..." (Dijual sebagai budak... Sangat malang. Dia pasti sedih. Isaac, kalau Leblaine dijual sebagai budak, Leblaine juga akan merasa sangat sedih.)
"Itu... Karena dia lemah, Dik. Itu sebabnya pedagang budak menangkapnya. Itulah yang dikatakan leluhurku, 'Yang kuat akan selalu menekan yang lemah',"
"Lalu, apakah aku juga produk buruk?"
Ekspresi wajah Isaac tercekat ketika mendengar kata-kataku.
"Apa yang kamu katakan!"
"Aku juga lemwah. Akwu kecil dan akwu tyidak cekuat Henli dan Isaak." (Aku juga lemah. Aku kecil dan aku tidak sekuat Henry dan Isaac.)
Ekspresi anak itu langsung menjadi sedih mendengar kata-kataku. Melihat wajahnya yang sedih, aku menarik lengan bajunya dengan paksa.
"Apwakah kaw masih maw membweli Blain sebagai budyak?" (Apakah Anda masih akan membeli Blaine sebagai budak?)
"Aku tidak akan membelinya. Aku tidak pernah membeli budak sebelumnya. Aku hanya ingin memberimu mainan terbaik, dan aku mendengar bahwa akhir-akhir ini para bangsawan mengoleksi budak sebagai mainan mereka. Aku ingin membelikanmu mainan terbaik, itu sebabnya aku membawamu ke sini... "
"Tidwak apa apwa kalaw begitu. Aku belubah pikiran, Isaak masih yang terkeren!" (Tidak apa-apa kalau begitu. Aku berubah pikiran, isaac masih yang terkeren!)
Wajah kecewa Isaac menjadi cerah saat dia mendengar pernyataanku. Aku menghela nafas dalam hati pada pikirannya yang sederhana.
'Sulit mendisiplinkan anak-anak.'
...***...
Ketika Duke kembali ke kastil, temperamennya tampak memburuk. Karena suasana hatinya yang mudah berubah, para pekerja dan administrator seperti sedang berjalan di atas es yang tipis.
Lea dan pelayanku sama-sama mengantuk. Mereka tertidur saat mereka menjagaku. Tapi itu hal yang bagus untukku.
'Aku akan mengambil kesempatan ini untuk melihat administrator baru.'
Aku memutar otak untuk mengingat jalan ke ruangan di mana administrator baru ditempatkan. Aku sudah mengamati kantor mereka dengan dalih mengerjakan PR ku dan mencari Nos.
"Lea, aku ingwin pelgi ke ruang administwator." (Lea, aku ingin pergi ke kamar administrator)
"Ruang administrator... Yuni, pergi dengan bayinya."
Dia memerintahkan salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menemaniku.
Aku menggelengkan kepala mendengar kata-kata Lea.
"Tidak apwa apa! Aku bisah pelgi sendiri." (Tidak apa-apa! Saya bisa pergi sendiri)
"Nona kecil, Anda harus hati-hati ketika bertemu dengan orang baru di kastil. Karena Duke menerima orang tanpa memandang latar belakang dan status mereka, itu sebabnya kita harus berhati-hati. Akan lebih baik bagimu jika Yuni ada di sisimu."
Lea dengan sabar menjelaskan kepadaku. Aku tidak bisa menyangkal logika dan keputusannya, karena aku memang tahu ada penjahat yang bersembunyi di dalam kastil dan aku akan mencari tahu siapa dia...
"Oke...."
"Itu bagus sekali."
Lea menciumku dengan lembut di pucuk kepalaku.
Dan begitulah Yuni dan aku akhirnya berjalan bersama menuju ruang administrator. Ketika aku hendak memasuki ruangan, sebuah suara teriakan frustasi yang berasal dari ruangan, mengejutkan Yuni dan aku.
"Jadi? Itu terlalu mahal! Bibit lobak biasanya dijual hanya 40 franc!"
Administrator baru, Seria, terlibat pertengkaran dengan pemasok. Segera administrator lain, Charlie, ikut bersuara.
"Harganya lebih dari dua kali lipat dari harga di pasar. Pada jumlah ini, kita bisa berasumsi bahwa seseorang mengantongi uang itu."
Orang yang dituduh segera membantah tuduhan itu.
"A-Apa yang kamu bicarakan!" Dia berteriak dengan marah.
Charlie mendengus.
"Seria, kamu tidak tahu karena ini adalah pertama kalinya bagimu, tetapi kaum bangsawan sengaja membawa barang-barang dengan harga murah. Itu semua dilakukan untuk memamerkan kekayaan mereka."
"Tapi, ini terlalu banyak...!"
"Inilah yang dilakukan orang biasa."
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan? Aturan utama petugas administrasi adalah tidak menyebarkan identitas mereka—Nona kecil!"
Ketika dia hendak menegurnya, matanya secara tidak sengaja menemukanku bersembunyi di balik pintu kantor administrator, dia segera berbalik untuk menghadapku.
"Ya ampun, nona kecil yang cantik... Halo, namaku Seria."
Pria itu, yang menyaksikan pertarungan antara Charlie dan Seria, segera membungkuk ke arahku.
"Na-nama saya Jacob."
Dia adalah orang yang memanggilku 'bocil' pada hari pertamanya. Sebagai akibatnya, ia dibawa oleh Nos dan dinasihati karena kesalahan itu. Cukup aneh, dia sepertinya tidak membenciku. Sebaliknya, matanya terpaku pada tanganku yang memegang rok Yuni.
Tiba-tiba dia berbisik, "Sekitar sembilan sentimeter... Itu kecil... "
Berbeda dengan kedua rekan kerjanya, Charlie hanya berdiri di sana seolah-olah aku tidak ada. Seria menatap perilakunya yang aneh sebelum menyikutnya di tulang rusuk.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Dia berbisik dengan kasar, kesal pada sikutan teman kerjanya.
"Katakan halo kepada nona kecil," jawab Seria dengan suara rendah.
"Yah, namaku Charlie Mayroll."
Dia berkata dengan acuh tak acuh seolah-olah keberadaanku hanyalah anak biasa dan posisi yang sama dengannya. Seria dan Jacob menatapnya dengan tatapan bingung.
Sementara pelayanku, wajah Yuni, berubah menjadi ketidaksukaan.
"Sungguh orang yang kasar!"
"Hah?"
Charlie menatap Yuni seolah-olah dia gila.
"Seorang administrator berani untuk tidak menghormati nona kecil!" Yuni menegurnya.
"Ha? Apa masalahnya?"
"Siapa namamu? Aku akan menyerahkanmu ke pertemuan hukuman."
Pertemuan hukuman adalah pengadilan bagi mereka yang tidak menghormati perintah bangsawan. Pelanggar akan dibawa ke depan para ketua daerah distrik untuk diadili. Jika lebih dari setengah ketua mengakui kejahatannya, penjahat akan dihukum. Jenis hukuman yang akan dihadapinya beragam, dari didenda atau dipenjara hingga digantung.
"Hentikan, Charlie. Kamu memang tidak menghormati nona kecil."
Charlie menarik tangannya yang dipegang Seria. Dia merasa dikhianati. Bagaimana dia bisa berpihak pada gadis kecil itu, yang bahkan tidak dia kenal, dibandingkan dirinya, rekan kerjanya.
Dia mendecakkan lidahnya dengan kesal, sebelum berjalan menuju pintu. Begitu dia melewatiku, aku mendengarnya bergumam.
"Itu salam yang cukup baik untuk anak yatim sepertimu."
Memang, hanya sedikit yang percaya bahwa aku adalah Anak Takdir yang asli.
Di bait suci, mereka menyebarkan surat pengumuman tentangku sebagai cara untuk menyebarkan spiritualitas Tuhan yang mereka yakini.
Tetapi di luar kuil, perlakuan orang-orang terhadapku berbeda-beda. Banyak orang yang tidak percaya bahwa aku adalah Anak Takdir, bahkan permaisuri pun tidak sepenuhnya percaya kepadaku. Itulah sebabnya ketika dia mencari seseorang untuk mengadopsiku, dia mengeluarkan ayahnya sendiri, Duke Marche, dari daftar.
Tindakannya itu memicu keraguan orang-orang. Dihadapkan dengan kata-kata kritikan yang sudah akrab ditelingaku, perkataan Charlie tidak terasa asing ataupun menjengkelkan.
'Tapi....'
Aku meraih lengan bajunya.
"A-ada apa?" Charlie berhenti saat lengannya aku tarik dengan kuat.
"Sapa aku dengwan benar dan pergwi." (Sapa aku dengan benar dan pergi.)
Mendengar perintahku, Charlie tertawa terbahak-bahak.
"Sudah kulakukan, Nak. Yang baru saja aku lakukan tadi adalah salam."
Dia menatapku dengan pandangan meremehkan di matanya.
Aku kemudian berkata sambil tersenyum. "Menyapwa ketika beltemu, dan ucapkan selamat twinggal ketika akan pelgi. Apakah kaw tidak tauk sopan santwun, tuwan?" (Menyapa ketika bertemu, dan ucapkan selamat tinggal ketika akan pergi. Apakah kau tidak tahu sopan santun, Tuan?)
"Hah..."
Dia menatapku seolah aku adalah orang bodoh dan kemudian mencibirku.
__ADS_1
"Ya ya. Selamat tinggal, selamat bersenang-senang," dengan nada sarkasme tercampur dalam kata-katanya, dia berjalan menjauh dariku.
Namun sebelum dia bisa mengambil langkah lain, aku menendang lututnya dengan semua kekuatan yang bisa aku kumpulkan.
"Aghh!"
Teriakan menyakitkannya bergema di aula administrator. Aku menatap dengan dingin ketika dia menggosok lututnya yang memar, berusaha meringankan rasa sakit.
"Lakwukan dengan benal. Ketika kaw mengucapkan selamat twinggal, tekuk lutut dan tundukkan kephala ke lantai. Sekalang, lakukan sekali lagih." (Lakukan dengan benar. Ketika kau mengucapkan selamat tinggal, tekuk lutut dan tundukkan kepala ke lantai. Sekarang, lakukan sekali lagi.)
Charlie mengeraskan rahangnya karena marah. Semua administrator yang hadir sekarang melihat keributan itu. Yuni yang berdiri di sampingku, terkejut melihatku tiba-tiba meledak emosi.
'Akan sulit bagiku jika aku membiarkan orang yang tidak punya rasa hormat dan melakukan hal sesuka mereka.'
Aku tidak tahu hal itu dalam kehidupanku sebelumnya dan membiarkan diriku tidak dihargai oleh semua orang yang tidak percaya aku adalah Anak Takdir. Pada akhirnya, tidak ada yang menghormatiku. Semua orang memperlakukanku seolah-olah aku hanya anak kecil dengan gelar kehormatan—palsu.
Charlie malu dan marah. Terutama ketika dia melihat semua administrator melihat kerusuhan yang terjadi, dia ditegur oleh seorang anak kecil. Mencoba untuk menyelamatkan harga dirinya, dia mengalihkan perhatian kepadaku.
"Apa apaan!"
Aku pura-pura tidak mendengar rengekan kecilnya dan malah mengguncang rok Yuni.
"Yuni, Yuni."
"Ya, nona kecil."
"Kata Lea, semua orang kecwali dyuke dan kakakku halus menyapaku, kwan?" (Lea berkata, semua orang kecuali Duke dan kakakku harus menyapaku, kan?)
"Itu benar, nona kecil."
"Lalu... Bhagaimana dengan orang lain yang tidyak menyapwaku? Sepelti tuwan ini." (Lalu... bagaimana dengan yang lain yang tidak menyapaku. Seperti tuan ini.)
Yuni menatap Charlie dan tersenyum lembut padaku.
"Mereka akan dihukum mati dengan memotong tenggorokannya."
Kemudian dia bertanya, "Haruskah saya melaporkan ini kepada Nos, nona kecil?" Ketika Charlie mendengar kata-kata pelayan itu, wajahnya menjadi pucat.
Sikap sombong yang sebelumnya dia tunjukkan, menghilang, dia membenturkan dahinya ke lantai dan memohon ampun.
"Saya kasar pada Anda, nona kecil. Tolong maafkan saya!" Suaranya dipenuhi dengan keputusasaan.
Aku tersenyum lebar melihat sosoknya dan melangkah mendekatinya.
"Lain kali jangan lupa." Aku berbisik di telinganya.
'Bahwa aku adalah nona kecil Dubblede.'
Khawatir aku akan berubah pikiran, dia menelan ludah dan mengangguk dengan penuh semangat.
...***...
Seria dan Jacob menatapku dengan ekspresi kaku. Kejadian sebelumnya masih segar dalam ingatan mereka. Mengingat apa yang aku lakukan pada Charlie, mereka menjadi kaku setiap kali aku terlihat di garis pandang mereka.
Sementara itu, aku duduk dengan dagu di tangan dan fokus pada pikiranku.
'Hari ini adalah hari yang mengerikan.'
Aku tidak berhasil mencari tahu siapa penjahat itu dan aku harus menghadapi pria sombong itu. Aku berharap dia adalah penjahat yang dicari itu, tetapi penjahat itu sendirian menyerang rumah bangsawan dan membunuh orang tanpa tertangkap.
'Penjahatnya pasti sangat pintar.'
Sayangnya, Charlie agak kurang di bagian yang itu. Yang paling pintar yang aku tahu adalah Seria....
Aku tidak berpikir dia orang yang melakukan kejahatan. Bahkan kesan pertamaku tentang dia adalah orang yang sangat tulus dan rasional
'Apakah Jacob orangnya?'
Aku melirik Jacob. Dia menatap kakiku dengan tatapan aneh. Matanya mengikuti arah kakiku yang berayun di udara, ia bergumam, "14 sentimeter... "
'Dia tampak seperti orang bodoh yang menyukai anak kecil.'
Sebuah ide yang tak terduga muncul di benakku, aku memukul lengan kursi dengan tinjuku ketika mengetahui petunjuk yang tiba-tiba terpikir olehku.
'Kenapa aku tidak memikirkannya dari awal! Uangku, eh bukan, penjahat buronan adalah dia.'
__ADS_1
...***...