
...***...
Isaac melangkah ke ruang belajar membawa kue cokelat dengan krim kocok di tangannya.
'Aku sangat bahagia!'
Aku mengalami banyak peristiwa dengan orang dewasa hari ini, jadi aku merasa lapar.
"Hmph, aku tidak memberikannya untukmu. Hanya.... Hanya saja aku tidak terlalu suka manis."
"Ishak, aku menwimakti rhoti gula yang kau berikan bebelapa hari yang lalu." (Ishak, aku menikmati roti gula yang kau berikan padaku beberapa hari yang lalu.)
"Aku, aku tidak akan menyukaimu bahkan jika kamu memujiku!"
Telinganya memerah saat dia bergegas ke ruang belajar. Henry hanya melirik ke arahku sebelum menuju ke pintu tanpa banyak bicara.
Aku pergi ke ruang belajar tempat mereka duduk. Aku duduk dan mengamati Henry dari ujung kepala sampai ujung kaki.
'Sepertinya tidak ada yang terjadi setelah kejadian itu.'
Aku menggigit kue, dan mulutku menghembuskan napas tak disengaja.
Rasa apa ini?
'Ini sangat enak!'
Ini berbeda dari semua kue yang aku makan sejauh ini.
Krim kocok menyegarkan yang rasanya tidak terlalu kuat seperti mentega saat dimasukkan ke dalam mulut seseorang.
Kue itu sangat lembab dan halus dengan cokelat seperti beludru di dalamnya.
Kue yang sempurna meleleh dengan lembut di mulutku begitu menyentuh lidah.
'Mereka mengatakan pembuat kue dari kastil bagian barat memiliki tangan Tuhan. Bagaimanapun, ini bukan hanya rumor.'
Aku sangat terkesan dengan rasa kuenya. Ini adalah pertama kalinya aku mencicipi kue dari kastil barat. Aku biasanya mengunjungi aula timur, tempat para VIP biasanya tinggal.
Dengan kedua tanganku membungkus pipiku, aku berkata, "Wow, wow!"
Isaac tersenyum ketika dia melihatku.
"Apakah itu lezat?"
'Ketika aku seorang pengemis, aku pernah kelaparan lebih dari lima hari. Untuk menurunkan rasa lapar, aku akan membayangkan diriku makan kue cokelat yang lezat.'
Rasanya penuh kehangatan yang mengingatkanku pada kehidupanku sebelumnya di mana aku menderita melalui masa-masa sulit yang tak terhitung jumlahnya.
"Twerima kasih banywak...." (Terima kasih banyak)
"Tidak, kamu tidak perlu berterima kasih padaku."
Isaac agak malu dan memutar matanya sebagai jawaban.
"Apakah kamu ingin makan kue coklat besok pagi juga?"
"Kamu yang terbaik!" (Kamu yang terbaik!)
"Aku akan memberikannya kepadamu di malam hari juga."
"Kamu sangat keren!" (Kamu sangat keren!)
"Aku akan memberikannya kepadamu lusa juga."
"Kamu yang terhebat!" (Kamu yang terhebat!)
Isaac menyeringai dari pujian kosongku.
Dari sela-sela, Henry menatap kami seolah-olah kami adalah sepasang badut.
...***...
Henry dan Isaac melanjutkan PR mereka, sedangkan aku melukis dengan tenang di samping mereka.
Saat senja para pelayan datang ke ruang belajar untuk mencariku, tetapi ketika mereka melihatku bersama dengan saudaranya, mereka hanya tersenyum dan kembali pergi.
Aku hanya mencoba menghabiskan waktu bersama saudaraku.
Tanpa kita sadari, hari yang cerah digantikan oleh langit malam.
'Ngantuk....'
Isaac tertidur juga....
Aku mencubit pipiku untuk menjaga diriku dari rasa kantuk.
"Tidurlah jika kamu mengantuk."
Henry berkata dengan mata masih tertuju pada buku itu.
Aku berharap aku bisa pergi, tetapi aku tidak bisa meninggalkan Henry sendirian di kastil bersama Teramore.
"Tidwak apa-apa. Tidwak mengantuk." (Tidak apa-apa. Tidak mengantuk)
"Kamu berbohong."
"Aku akan mencuci muka...."
__ADS_1
Aku melompat dari kursi, lalu berbisik pada Isaac, yang sedang tertidur.
Aku meninggalkan ruang belajar setelah aku melihat Isaac menganggukkan kepalanya dengan lesu.
'Aku sangat mengantuk.'
Tubuhku sepertinya memprotes untuk segera istirahat.
Aku menyeret tubuhku ke kamar kecil dengan gerutuan, tetapi sebelum aku bisa masuk, tangan kasar menyeretku menjauh dari pintu masuk.
'Ahh!'
'Teramore!'
Sebelum aku bisa bereaksi, Teramore telah menyeretku ke kamar redup di dekat kamar mandi. Dia menutup pintu, lalu berbalik perlahan ke arahku. Mulut Teramore berubah menjadi seringai jahat ketika matanya menatapku.
"Kenapa? Kau pikir aku hanya akan mengejar Henry?"
"Aku tidak seperti Henli, jika kamu menyentuhku, itu akan segera terungkap." (Aku tidak seperti Henry, jika kau menyentuhku, itu akan segera terungkap.)
"Kau tidak perlu tangan untuk membuat orang menderita."
Teramore mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Spinel Biru!
Itu adalah instrumen khusus yang digunakan sebagai alat suci untuk mengekstraksi kekuatan ilahi. Semakin jelas warnanya, semakin banyak ekstraksi yang bisa didapatkan.
Tentu saja, Spinel Biru dianggap sebagai harta berharga di pasar, tetapi tidak ada pemegang kuasa ilahi yang memiliki pemikiran yang sama.
Mengekstraksi kekuatan ilahi akan membuat si pengguna kekuatan menjadi gila, atau dalam skenario terburuk, mereka mungkin mati.
Anak normal sepertiku akan kehilangan akal sehat bahkan dengan Spinel apa pun.
'Aku lebih baik mati dan dilahirkan kembali sekali, daripada disiksa dengan Spinel itu.'
Teramore mendekatiku, bergumam dengan suara rendah.
"30 tahun lamanya. Hal-hal yang telah aku kerjakan selama 30 tahun telah hancur. Hanya karena bocah umur empat tahun!"
Kegilaan mulai mengaburkan matanya.
Di malam hari, para pengikut pindah secara tidak terduga dari ruang belajar, dan mereka tampaknya telah diusir dari kursi guru mereka.
"Jangan mendwekat atau aku akan menjwerit." (Jangan mendekat atau aku akan menjwerit.)
"Coba saja. Mari kita lihat apakah seseorang akan datang lebih cepat atau kau akan kehilangan kekuatan ilahimu terlebih dahulu. "
Tiba-tiba, pintu terbuka. Kami menoleh dan melihat sosok Henry berlari masuk.
"Biarkan dia pergi."
"Kau tahu tidak sopan mengganggu orang, kan? Aku pikir kamu kurang pendidikan akhir-akhir ini."
Henry mengatupkan matanya rapat-rapat dan bergegas berlari membabi buta ke arah Teramore.
Akan tetapi, Teramore tidak merasa terganggu seakan kedatangan Henry merupakan perubahan yang tidak berarti terhadap rencananya.
Tidak ada yang perlu ditakutkan karena si jenius itu bahkan tidak bisa melawan traumanya.
Tapi dia membuat kesalahan, tujuan Henry bukan untuk menyerangnya.
Sebagai gantinya, anak itu meraih spinel biru dan melemparkannya ke celah sempit perabot rumah.
"Kamu bangsat....!"
Karena marah, Teramore mencoba untuk memukul Henry, tetapi aku berpegangan erat pada lengan Teramore dengan semua berat badanku.
"Jangan sentuh Henli!" (Jangan sentuh Henry!)
Dia dengan kasar melemparkanku ke lantai dan mengangkat tangannya ke arah Henry sekali lagi.
Kemudian-
Boom!!
Pintu terbuka dan gelombang mana yang luar biasa cepat menuju Teramore.
Mana itu menjatuhkan Teramore ke lantai, "Aggghhh!-"
Teriakannya menggema di seluruh ruangan.
Ketika aku melihatnya, lengannya dipelintir ke sudut yang mengerikan.
Aku cepat-cepat menoleh ke pintu.
Dubblede berdiri di depan pintu masuk. Dingin dan amarah memancar darinya.
"Tu- Tuan"
Mata dingin sang duke menyapuku dan Henry, yang sedang berbaring di lantai.
Teramore berusaha bangkit dan memandangi Sang Duke. Dia tampak bingung, Duke datang ke kamar dan mengakhiri rencananya, bukan bagian dari perhitungannya.
'Bodoh, apakah menurutmu aku akan berjalan sendirian setelah kejadian itu?'
Aku berharap Teramore akan merencanakan beberapa trik curang. Jadi untuk melawan apa pun yang dimiliki Teremore di tangannya, aku telah meminta Isaac untuk memanggil Duke sebelum aku meninggalkan ruang belajar!10
__ADS_1
Aku tinggal di ruang belajar sampai larut malam, tetapi itu bukan hanya untuk melindungi Henry.
Ternyata aku benar, malam ini Teramore benar-benar akan bertindak.
Sang Duke datang bersama Isaac, Nos, dan para pelayan, termasuk Lea, di belakangnya.
Sebelum aku pergi, aku telah meminta Isaac untuk memanggil Duke, namun mempertimbangkan kemungkinan dia tidak akan datang, aku meminta pelayan datang juga.
"Apa.... Apa yang terjadi di sini...!"
Wajah Lea menjadi gelap ketika dia melihat situasi di ruangan itu.
'Aku senang kalian datang di waktu yang tepat.'
Dengan ini, tidak ada yang berani mengangkatkan tangan pada Henry lagi.
"Tu-Tuan, ini... Jadi ini....!! Tolong dengarkan saya dulu."
Teramore memohon, tetapi Duke itu tidak mengindahkan permintaannya.
Nos mengusap alisnya, kerutan menyebar di dahinya. Anggota dewan tinggi memperlakukan anak duke dengan sewenang-wenang. Itu adalah insiden besar, jika berita itu keluar akan ada keributan besar.
Dalam skenario terburuk, akan ada perang saudara?
Tidak mungkin dia bisa membiarkannya begitu saja.
Lea, pembantuku dan Nos, menatap tajam pada sosok Teramore.
Duke berjalan dengan langkah berat menuju Teramore.
Teramore mencoba berlari mundur, sambil menggendong lengannya yang cacat dan bengkok. Namun, tanpa dukungan dia tidak bisa sampai di sana dan malah terjatuh.
Bruk!
Darah merah gelap terus mengalir, keluar dari luka-lukanya yang terbuka.
"Yang, Yang Mulia..., aku, aku, aku tidak... Itu semua adalah bagian dari pendidikan!"
Duke menginjak-injak tangannya yang sudah hancur ketika Teramore mendongak dengan wajah memohon.
"Henry."
"......"
"Ceritakan apa yang terjadi."
Dia sepertinya menyadari bahwa serangan Teramore bukan hanya sekali atau dua kali. Tangan Teramore yang akan mengenai Henry, terangkat dengan reflek, karena kebiasaan.
Henry, yang mencengkeram celananya dengan erat, menelan ludah.
Keheningan berat terjadi selama beberapa waktu, tetapi dia tetap diam.
Hanya setelah Duke sekali lagi memanggil namanya, "Henry!", Dia membuka mulutnya.
"Ini bukan masalah besar."
"Itu terserah aku yang menilai."
Mata duke itu menggelap. Tatapannya yang dingin membuat semua orang di ruangan itu menggigil ketakutan.
Bahkan aku, pengamat yang tidak bersalah pun takut, Teramore yang bersalah secara alami ketakutan karena mengikuti akal sehatnya.
"Ya- Yang Mulia, Anda salah. Itu kesalahpahaman. Biarkan saya jelaskan. Jadi, yang ini,....! "
Duke memutar tangan Teramore. Suara teriakan menyakitkan Teramore bisa terdengar di seluruh kediaman.
Apa....
Aku menatap tanpa berkedip dengan rahangku yang terbuka.
Ini adalah pertama kalinya bagiku melihat penghakiman menggunakan kuasa ilahi.
Ketika aku mendengarnya, kupikir itu sedikit menakutkan, tetapi kenyataannya jauh dari apa yang aku bayangkan.
Banyak tekanan, seperti tekanan kuat ke paru-paru.
'Jika aku tidak menderita karena kekuatan ilahi Paus di kehidupan masa laluku, aku akan tersingkir dingin.'
Henry, yang semakin pucat, menggertakkan giginya. Lalu dia berkata dengan biasa.
"Itu hanya tamparan di wajah."
"Sedikit? Itu kekerasan."
Henry menggigit bibirnya dan melanjutkan.
"Ini adalah peluang untuk mencari kelemahan Teramore. Ketika aku sudah dewasa, aku akan menggunakan informasi ini untuk keuntunganku."
"........"
"Jadi ini bukan masalah besar-"
Sang Duke melangkah dan meraih pergelangan tangan Henry.
"Ugh!"
Lengan bajunya yang lebar meluncur turun dari lengannya yang ramping, memperlihatkan memar berwarna ungu.
__ADS_1
...***...