
...***...
Nos bergumam, menelan ludahnya yang kering. "Itu Newt...."
Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Nos tentang batu di kotak perhiasan itu.
‘Newt!?’
Ketika aku memucat, Nos berkata dengan wajah menunduk.
"Maaf Tuan. Ini bukan kesalahannya, kondisi penyimpanannya yang tidak bagus. Kalau tidak, Newt itu tidak akan tiba-tiba menjadi debu."
Nos berusaha keras untuk mencari alasan, tetapi wajah Duke tidak berubah.
Sambil memegang ujung rok, aku meraih lengan Duke, bergetar.
"Ti, tidwak.... Aku tidwak bermaksud untuk...." (Ti, tidak.... Aku tidak bermaksud untuk....)
Namun, Duke menyingkirkan tanganku dan mengerutkan kening.
Bibirnya mengeluarkan napas panjang.
"Kamu menggangguku."
Seluruh tubuhku bergetar seperti pohon aspen.
Alih-alih disukai, aku malah membuat kekacauan.
Kupikir aku terlalu takut untuk mengatakan bahwa harapan hidupku semakin buruk.
Selain itu, mataku mulai berputar-putar, dan pandanganku menyipit.
"Jangan ganggu aku lagi dan kembali ke kamarmu."
"Ugh...."
Begitu aku mengerang, tubuhku miring dan jatuh di bawah kursi.
"Nona kecil!"
Dalam pandanganku yang sempit, Duke itu menegang dengan mata terbuka lebar.
Lalu sunyi...
...***...
Dalam kegelapan aku melihat punggung Duke Amity dari belakang.
Ayahku, yang baik hati, yang sangat cermat dan adil.
Aku menghormati dan sangat mencintainya.
Aku harus menyerahkan banyak hal untuk hidup sebagai putrinya, tapi tidak apa-apa. Tidak masalah...
Andai saja dia akan tertawa denganku saat memanggil namaku.
Tapi aku tahu. Bahwa ada tembok di antara kami.
Duke Amity memberiku kamar untuk tinggal, mengajariku etika kaum bangsawan, dan makan bersama, tapi hanya sejauh itu.
Dia tidak menganggapku sebagai anaknya.
Tetap saja, aku melakukan yang terbaik karena aku menyukainya.
Aku ragu-ragu untuk waktu yang lama dan kemudian mengulurkan tangan kepadanya
"Ay-"
"Papa!"
Mina berlari melewatiku menuju ke arah Duke Amity.
Entah bagaimana, Mina memeluk tangannya tanpa keraguan.
Ketika Mina tersenyum dengan mata menyipit, Duke Amity membelai kepalanya dan tersenyum.
Tidak masalah. Itu memang terjadi. Mina benar-benar Anak Takdir.
Dia gadis baik yang membawa hujan saat musim kemarau, dan memberi harapan bagi orang miskin dan orang sakit.
Jika aku bekerja lebih keras, ayahku juga akan menyayangiku..
Lalu kegelapan di sekitarku bergetar.
"Bodoh!!"
Suara menggelegar marah terdengar dari udara.
Aku terkejut ketika melihat tangan mencuat dari kegelapan yang hitam.
Sebuah tangan dengan cincin yang terukir nama Vallua menarik perhatianku.
"Jika kamu bersembunyi, aku khawatir aku tidak bisa menemukanmu. Tikus kecil."
Duke Vallua menendangku tanpa ragu-ragu. Duchess Vallua, datang.
"Gadis tidak berguna."
__ADS_1
Mereka mendekatiku perlahan demi perlahan. Aku gemetaran dengan telapak tangan ke belakang.
Jangan pukul aku.
Kumohon.
Maafkan aku.
Maafkan aku....!!
"Heuk!"
Aku terbangun sambil menendang selimut.
Punggungku penuh dengan keringat dingin, dan tanganku gemetaran.
Setelah melihat jam yang akrab di depanku, aku kembali sadar.
"Ini mimpi."
Hanya suara hujan yang mengenai jendela memecah keheningan di ruangan ini.
Ada baskom dan handuk di samping tempat tidur. Kursi itu masih hangat seolah baru saja ada seseorang di sini.
"Benar, aku pingsan."
Aku sulit bernapas ketika mengingat apa yang terjadi sore hari tadi.
"Benda itu, apa yang sudah kulakukan."
Setelah tiga kematian, akhirnya aku menemukan tempat yang layak.
Pelayan Dubblede benar-benar ramah, dan Duke Dubblede cukup baik.
Tetapi ketika orang-orang ini mulai membenciku,
Mata Duke akan dingin seperti awal. Lea dan Nos juga tidak akan tertawa denganku.
Tiba-tiba kilat menyambar, memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak terlihat karena terlalu gelap.
...***...
Lea membawa beberapa pakaian baru untuk Leblaine, yang berkeringat saat tidur.
Para pelayan mengikutinya sambil menangis.
"Apakah bayinya baik-baik saja?"
"Aku mendengar dokter tidak tahu apa penyebabnya. Apa yang terjadi?"
Lea menghela nafas.
Leblaine, yang seharusnya berbaring di tempat tidur, tidak terlihat.
"Apa...."
Saat para pelayan panik dan bergumam, Lea berteriak.
"Temukan bayinya!"
Para pelayan yang terkejut menggeledah kamar mandi, mencari di lorong, tetapi Leblaine tidak ditemukan.
Lea dengan wajah pucat menyampaikan berita itu kepada Duke.
Pada tengah malam, lampu menyala di area kastil Dubblede. Semua orang sibuk mencari Leblaine.
Nos berlari kearah Duke yang berjalan di lorong.
"Dia tidak ada di dalam gudang."
"Dapur. Dia mungkin berkeliaran mencari roti."
"Saya sudah mencarinya disana."
Wajah Duke mengeras. Banyak orang sudah dikerahkan, tapi mereka tidak becus menemukan satu anak kecil.
Apakah dia diserang oleh seorang pembunuh yang datang ke sini untuk membunuh Dubblede?
Atau dewan tinggi, yang tidak menyetujui adanya anak takdir, mungkin mulai menggunakan tangannya.
"Kerahkan pasukan. Cari di berbagai tem—"
"Yang Mulia!"
Kemudian terdengar suara mendesak dari luar jendela.
Kepala pelayan dan tukang kebun mengelilingi seseorang.
Lea, yang menemukannya, berlari secepat yang dia bisa.
"Nona kecil!"
Leblaine menggerakkan tubuhnya ketika dia melihat Lea memegangnya.
Duke melangkah ke arah anak itu.
Para penjaga yang ditempatkan di sekitar daerah itu memayungi, dan akhirnya Leblaine terlihat dengan jelas
Piyamanya tertutup dengan debu, dan kaki telanjang tanpa sepatu dikotori oleh goresan dan kotoran.
__ADS_1
Tubuh anak kecil, yang kehujanan, menggigil, dan bibirnya biru. Leblaine terhuyung-huyung melewati Lea dan berjalan kearah Duke.
"Kamu....."
Ketika Duke mengerutkan dahinya, Leblaine mengeluarkan sesuatu.
Dia memegang bunga merah dengan tangannya yang bergetar.
"Anda sukak anyelir."(Anda suka anyelir)
"......."
"Maap." (Maaf)2
Ketika Newt itu pecah, Leblaine, yang tidak tahu harus berbuat apa dan memegang lengan bajunya,
"Maapkan aku."(Maafkan aku.)
Duke tidak memberikan jawaban. Leblaine menggosok tangannya dengan putus asa untuk meminta maaf dengan wajah pucat.
Dan seketika, Duke merasa menyesal akan perlakuannya terhadap gadis itu.
...***...
Berkat kilatan, aku tahu ada anyelir di taman di luar jendela. Jadi aku bergegas mencari bunga-bunga itu.
Tidak masalah kehujanan. Aku harus melakukan sesuatu agar tidak dibenci.
Aku menatap Duke dengan wajah ketakutan. Setelah lama diam, dia menggendongku.
‘Waaa!’
Kemudian, Lea dan Nos datang berlari dengan cepat.
"Ah, tuan. Bayi itu tidak sengaja membuat keributan. Dia masih anak-anak, jadi dia tidak tahu apa-apa."
Tapi Duke membawaku ke istana tanpa mendengar apa pun.
‘Apa yang akan kamu lakukan padaku?’
Aku berdoa sebaik mungkin, tapi memecahkan barang tidak bisa digantikan dengan seikat bunga.
Namun, Duke masuk kedalam kamar mandi.
‘Penyiksaan dengan air?’
Aku sangat takut sehingga aku menjadi sangat kaku.
Duke mengulurkan tangannya setelah dia menempatkanku di bak mandi.
‘Kepalaku akan ditenggelamkan!’
Refleks aku memejamkan mata. Aneh. Itu tidak menyakitkan.
Ketika aku membuka mata dengan hati-hati, aku melihat Duke dengan satu lutut ditekuk.
Setelah itu, dia mengambil kakiku. Aku tercengang dengan apa yang dia lakukan.
Dia mulai menyeka kakiku. Ketika air menyentuh kakiku, aku tersentak.
"Sakit?"
"Tidak..."
"........"
Dia menatapku tanpa sepatah kata pun, jadi aku bergumam.
"Sedikit...."
Sentuhannya melembut.
Setiap kali lumpur dan debu di kakiku dibilas dengan air dan mengalir ke lantai, lukanya menjadi lebih jelas. Aku tidak merasakan sakit karena aku terburu-buru saat itu.
Duke menatap kakiku.
"Jangan berkeliaran di sekitar kastil saat larut malam."
Kupikir aku akan berada dalam masalah sekarang, tetapi mulutnya tidak terbuka lagi.
‘Itu saja? Itu bahkan lebih menggangguku karena Duke tidak marah.’
Aku menggerakkan tanganku dan bergumam.
"Dyuke, tidak marah?" (Duke, tidak marah?)
Keheningan aneh menyelinap ke kamar mandi.
Dia menatapku untuk waktu yang lama dan membuka bibirnya.
"Aku tidak marah."
Benarkah?
Apakah kamu yakin?
Aku memandangnya dengan tatapan curiga, dia menyipitkan dahinya dan mengetuk dahiku. Sama sekali tidak sakit.
...***...
__ADS_1