
...***...
Hari sudah malam saat aku keluar.
Aku ingat bahwa Etwal disimpan di kantor Duke dan segera menuju ke sana.
Saat aku berjalan menyusuri koridor gelap menuju kantor, aku melihat cahaya merembes keluar melalui celah di pintu kantor.
Lalu terdengar suara.
"Lihat Cattlea! Itu semua karena anak takdir itu!"
Saat istri baron berteriak dengan suara gemetar, baron juga menyuarakan keluhannya.
"Kenapa dia menyerang putriku? Dia tidak melakukan kesalahan apapun!"
"Kami harus meminta pertanggungjawaban anak takdir. Seseorang yang memiliki kekuatan sebesar itu tidak termasuk dalam kategori anak-anak!"
"Berisik."
Isaac-lah yang mengatakannya.
Anak itu duduk dan dengan entengnya menopang kepalanya dengan tangan, lengan lainnya berada di sandaran tangan sofa.
Ketika baron dan istrinya bertanya, "Maaf?" Isaac bergumam dengan suara lemah.
"Aku ingin membunuhmu."
"Bagaimana Anda bisa begitu kejam? Cattlea adalah sepupumu..."
Kemudian Henry meletakkan cangkir teh dan tersenyum.
"Baron."
Melihat senyuman manisnya, harapan muncul di wajah pasangan itu. Baron menjawab dengan ekspresi cerah.
"Seperti yang diharapkan, Tuan Henry mendukung Cattlea... "
"Aku menoleransimu hanya untuk saat ini."
"Apa....?"
"Itu tidak akan terjadi jika kamu tidak main-main sejak awal."
"Tu-Tuan."
'Terlalu ramai. Haruskah aku mundur saja dan kembali besok?'
Tapi aku harus menemukan Etwal sebelum suara itu membuatku terlalu lelah.
Kemudian, saat aku memikirkannya,
"Dik!"
"Leblaine."
Kedua saudara itu, yang berhasil menemukanku, berdiri.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Kenapa kamu tidak tidur?"
"Akuh disini kwarena aku baek-baek saja." (Aku disini karena aku baik-baik saja)
Aku terkejut dengan cara aku berbicara. Pengucapanku, yang sejauh ini membaik, telah memburuk.
'Seperti dugaan, aku harus menemukan Etwal hari ini dan bertanya pada suara itu bagaimana cara kembali ke kondisi normal.'
"Aku merindukan dyuke..."
Kemudian Henry dan Isaac membuka pintu lebar-lebar dan membiarkanku masuk.
Ketika aku memasuki ruangan, aku bisa melihat apa saja yang tidak bisa kulihat dari luar.
Orang-orang yang hadir di ruangan itu menatapku dengan ekspresi orang yang menilai sesuatu.
Aku mendekati Duke dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sniff..." (T/N : misal pas lu lgi pilek, disedot lgi tuh lendirny biar enggk kluar.)
Duke dengan cepat memelukku saat aku menggosok mataku.
"Apa yang terjadi?"
Kedua saudara itu mendatangiku dalam waktu singkat.
"Apa yang salah? Hah? Apakah kamu terluka?"
Aku membenamkan kepalaku di dada Duke dan menunjuk ke arah baron dengan jari telunjukku.
"Akuh bwenci pak tua itu, dia telihat menakwutkan." (Aku benci pak tua itu, dia terlihat menakutkan)
Setelah mendengar kata-kataku, Isaac memelototinya.
"Aku akan menarik matanya."
Henry, menatap Baron dengan mata dingin, menjawab Isaac.
"Aku akan menyuruhnya menggunakan kata-kata manis di depan Leblaine. Dan juga, aku akan mencungkil matanya."
Bagaimanapun, dia benar-benar bermaksud untuk menarik bola matanya.
Baron tersenyum canggung dan tertawa gugup sebagai jawaban.
Segera, dia buru-buru membungkuk pada Duke dan menuju pintu. Yang lain mengikutinya.
Cattlea hanya menatapku sebelum dia keluar.
Semuanya keluar, kecuali Nos dan beberapa pengikut, termasuk Dubos.
Duke membelai rambutku dan bertanya.
"Bukankah kamu perlu lebih banyak istirahat?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja."
"Keras kepala. Apa ada yang ingin kamu makan? Apa yang kamu butuhkan?"
Segera setelah aku mendengar itu, mataku melebar saat kesadaran menghantamku.
'Ya, aku tidak bisa mencuri Etwal dari kantor secara terang-terangan.'
Maka aku tidak punya pilihan selain menyelinap dengan bantuan suara itu. Tapi, aku tidak bisa mengontrol kekuatan ilahi ku, jika penyihir keluarga Dubblede muncul lagi, itu akan menjadi sangat sulit.
'Jadi, saat dia mengatakan akan memberiku apapun, itu berarti aku harus mengatakan apa yang aku inginkan.'
Aku menatapnya dengan hati-hati dan berkata,
"Mau etwal."
Para pengikut dan mata Nos tampak menonjol keluar. Bahkan Isaac dan Henry tampak seperti menerima kejutan besar.
"Hah? Dik, itu..."
"Leblaine, Etwal...."
Aku tidak bisa begitu saja meminta sesuatu yang berharga seperti Etwal melihat dari reaksi semua orang...
'Mari kita lakukan sesuatu.'
Aku mengatupkan kedua tanganku dan menatap Duke dengan mata berbinar.
"Papa... Bwaine, berikan aku Etwal."
Aku merasa merinding di sekujur tubuhku, tapi aku mencoba untuk berbicara selucu mungkin.
Aku lebih memilih melepaskan martabatku daripada buang air kecil di tempat tidur.
'Kenapa begitu sepi? Bukannya ini berhasil?'
Saat itu,
Duaar!!
Beberapa suara menggelegar terdengar.
Saat aku membuka mataku dengan pelan, ada kotak kayu yang setengah rusak diletakkan di atas meja.
Saat Duke membuka kotak itu, aku mendengar bom meledak.
Itu adalah suara penghalang yang sebanyak 12 kali lipat jumlahnya, yang dibuat oleh 100 penyihir Dubblede siang dan malam terus menerus selama seminggu.
Duaar!!!
Rantai terakhir dari kotak itu berderak, dan darah melonjak seperti air mancur dari tangan Duke.
Duke yang menangkap Etwal saat mengulurkan tangan kepadaku berkata,
"Apakah kau ingin aku mengambil apa yang ada di gereja?"
"..... Tidak usah."
...***...
"Papa."
"Papa."
"Papa~ ...."
'Sampai kapan aku harus melakukan ini?'
Duke, yang mendengar suara ini sepanjang malam, bersikap seolah-olah dia tidak bosan dengan itu.
Akhirnya, aku bisa turun dari pangkuan Duke dengan penampilan yang penuh gairah seperti aktris panggung, "Oh, kepalaku...!"
Henry dan Isaac menatapku dengan ekspresi yang sangat redup di wajah mereka saat mereka memegang gagang pintu.
'... Sepertinya ini buruk.'
Lalu aku meninggalkan ruangan dengan Etwal.
'Aku tidak bisa melakukannya di depan Lea.'
Aku melihat sekeliling dan menemukan tempat yang cocok untuk berbicara dengan suara itu.
Akhirnya, aku pergi ke taman.
'Apakah aku memenuhi syarat sekarang?'
—pikirku, tapi suara itu tidak menjawabku kembali.
'kenapa tiba-tiba menjadi sunyi?'
Aku mendengus dalam hati dan mengguncang Etwal.
'Apakah aku membutuhkan jumlah kekuatan ilahi yang sama seperti sebelumnya?'
Pada saat dia menanamkan kekuatan ilahi dengan sangat sangat lembut ke Etwal yang dia pegang, embusan angin bertiup. Daun dan kelopak bunga bercampur tertiup angin dan berserakan, jadi Leblaine menutupi matanya dengan lengannya.
"Akhirnya ini saatnya untuk menyapamu seperti ini."
".....!"
Suara itu tidak terdengar langsung di kepalaku seperti sebelumnya, itu terdengar seperti berada di dekat telingaku.
Aku menurunkan lengan yang menutupi mataku.
Di bawah bulan purnama berdiri seorang pria cantik berambut perak panjang, mengingatkan pada bunga lily.
"Aku pilar kedua puluh dua, Boone."
Rambut perak halusnya berkibar tertiup angin. Di belakangnya ada pilar api yang menyala-nyala.
"Aku sangat menantikan untuk bertemu denganmu."
"....."
__ADS_1
Saat aku tidak mengatakan apa-apa, dia menatapku dan menggaruk kepalanya.
"Hmm? Apakah kamu terkejut? Kenapa kamu tidak bicara?"
"Api."
"Apa?"
"Cepwat matikan aphinya!" (Cepat matikan apinya!)
'Bagaimana jika orang-orang tahu aku ada disini?!'
Suara itu, tidak, Boone menghapus apinya. Dia baru saja menghapusnya.
Setiap kali dia mengayunkan tangannya di udara, pilar itu menghilang seolah dia menggunakan penghapus di atas kertas.
"Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu, Nak. 'tiang' ku adalah sesuatu yang hanya bisa kamu lihat."
"Kenapa aku bisa melihatnya?"
"Karena kamu yang memanggilku."
"Lalwu, bisakah orang laen memanggilmu?" (Lalu bisakah orang lain memanggilmu?)
"Jika mereka memiliki kegigihan yang kuat dan memiliki keberuntungan yang sangat langka dengan harga tertentu, tentu saja, mereka bisa."
"Berapa harganya?"
"Jiwa mereka."
Aku terkejut.
"Apwakah akuh harus memberwimu jiwaku uga?" (Apakah saya harus memberikan jiwaku juga?)
"Tidak mungkin. Jika seseorang tumbuh menjadi sekuat ini, mereka yang memenuhi syarat, tidak perlu membayar harga. Kamu bisa membuat kami tetap hidup hanya dengan kekuatan ilahi mu."
Aku senang mendengarnya,
'Boone. Aku pernah mendengar tentang nama itu sebelumnya.'
Dan cerita seperti pilar dan jiwa.
Saat aku memikirkannya, aku menjadi sangat gugup sehingga aku tiba-tiba berdiri.
"Tuwan, tidak mungkin...."
"Kata 'tuan' membuatku sedikit sedih."
"Tidak mungkin."
"Ya."
"Apwakah kamu iblis?!" (Apakah kamu iblis)
Dia tersenyum cerah.
"Itu jawaban yang benar."
Ayahku licik. Salah satu saudaraku adalah penggemar perang dan yang lainnya adalah ular berbisa.
Para pelayan adalah pembunuh berantai, penjahat, dan rentenir.
Dan aku tiba-tiba memanggil iblis di tempat seperti ini.
'Kebetulan macam apa ini.'
Mereka memilihku sebagai anak takdir untuk mewakili gereja, tapi aku bisa memanggil iblis.
Aku meraih punggungku dan mendesah.
Tapi bajingan, yang menatapku dengan mata berbinar, memelukku. Dia mengusap pipinya di wajahku. Berkat dia, pipiku menjadi merah.
"Oh tidak, apa yang harus kulakukan? Kamu jauh lebih manis dari yang aku kira."
"Pipimu tembem, dan tanganmu lembut."
Dia bergumam dengan suara gembira.
"Biarkan aku pelgi-"
"Matamu bulat, dan rambutmu mengembang."
"Sekarang!"
Karena berteriak dengan frustrasi, aku membuat Boone cemberut.
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku suka bayi. Aku sudah lama menunggu untuk bertemu dengan seseorang. Makhluk istimewa yang akan memanggil kita."
"Bagaimana bisa?"
"Kami selalu mengabulkan keinginan seseorang. Tapi tidak ada yang bisa mengabulkan keinginan kita. Itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan Gaman."
Dia menyeringai dan berkata, "Jadi, manis, kamu bisa meminta apapun. Tapi agar kami bisa mengerahkan kekuatan, kami akan membutuhkan banyak kekuatan ilahi darimu."
"Tapih kenapwa kekuwatan ilahi? Jika kamu adalah iblis, kamyu seharusnya tidak menyukai keilahian." (Tapi kenapa kekuatan ilahi? Jika kamu adalah iblis, kamu seharusnya tidak menyukai keilahian.) "
"Aku juga mau bertanya."
"Apa?"
"Menurutmu kenaoa kita tidak membenci kekuatan ilahi?"
"Kamu tidak membwencinyah?" (Kamu tidak membencinya?)
"Ya, tapi ada beberapa keinginan orang yang menggunakan kekuatan ilahi dalam jumlah besar."
Aku mengangguk.
"Oke, apa yang bisa aku bantu?"
"Kamu akhirnya menanyakan itu padaku!"
Dia melakukan kontak mata denganku dengan sangat gembira.
__ADS_1
"Jadi apa yang kamu mau?"
...***...