
...***...
Ayah juga tertawa kecil.
"Blaine."
"Iya?"
"Minggu depan kami akan pergi ke perjamuan. Kamu akan tetap disini bersama Dubos dan Ketua."
"Bolehkah aku ikut juga?"
Saat aku bertanya, Isaac, yang tadinya tertawa, seketika berteriak, "Tidak!"
"Dik, apa kamu tahu betapa menyebalkannya pesta bangsawan itu?"
Aku tahu.
Aku mengangguk dalam hati, tapi berkedip seolah-olah aku tidak tahu.
"Gereja dan Ibu Suri akan menunggumu, dan begitu kamu masuk, mereka akan mengejarmu dan membawamu ke gereja pusat."
"Ya, Leblaine. Jangan ikut." Bahkan Henry berkata demikian.
‘Tapi aku akan memisahkan gereja dari permaisuri.’
Aku tidak bisa tetap seperti ini selamanya.
Dubblede adalah keluarga yang kuat, dan jika mereka ikut terseret dalam kemalanganku di masa depan, dalam skenario terburuk mereka akan musnah.
Aku harus membangun kekuatan.
Aku harus menjadi wanita yang kuat, dan tidak terpengaruh oleh istana kekaisaran dan gereja lagi.
‘Sudah 5 tahun aku bersiap untuk itu.’
Aku siap untuk keluar.
Aku bangkit dari kursi dan berlari kearah ayahku.
"Jadi, aku akan dipisahkan dari ayah dan kakak?"
"Apa?"
"Aku tahu semuanya. Aku mendengar para pengikut dan pelayan berbicara. Sejak pertama kali aku berada disini aku sama sekali tidak mengikuti perkumpulan sosial."
"…."
"Karena ayah, aku tidak pernah keluar rumah. Jika aku terus seperti ini, aku akan diusir dari masyarakat. Itu akan berpengaruh buruk bagi Dubblede."
Ini benar.
Itu juga bagian yang paling membuatku khawatir.
"Aku ingin ikut ke perjamuan bersama dengan ayah."
"Kamu benar-benar..." Ucapnya, membelaiku yang sedang cemberut.
"Aku sangat khawatir menjadi tidak berguna."
"........"
"Baiklah. Kamu boleh menghadiri perjamuan."
"Aku senang!"
Aku dengan cepat memeluk ayahku
...***...
Di taman istana kekaisaran.
Para wanita tua yang menghadiri pesta teh Ibu Suri Marcia Louerg bertukar salam.
"Kamu terlihat lebih baik sekarang."
"Kurasa karena saya diundang oleh Ibu Suri setelah sekian lama."
"Yang Mulia, tolong hubungi kami sesering mungkin. Saya sangat sedih karena pesta musim dingin dibatalkan."
Ibu Suri tersenyum, memegang cangkir teh.
"Aku tahu perasaanmu. Tapi aku tidak dapat melakukannya karena aku tidak tahan akan dingin."
"Yang Mulia lemah terhadap cuaca dingin. Bahkan saat usia mudanya, yang mulia mengalami masa sulit di musim dingin."
"Pada usia ini, musim dingin semakin dingin setiap tahun."
Dalam suasana yang bersahabat itu, permaisuri menggulung saputangannya.
Dia tidak bisa menahan rasa gatal karena ruam penyakit kulit.
Ruam itu akan membaik menjelang musim semi.
Tapi di tengah musim dingin, ruam muncul di lutut sampai wajahnya, jadi dia harus mengunci dirinya didalam kamar.
Pendeta itu memberitahunya dalam kesedihan. "Lebih setia lah. Tuhan kami pasti akan memberi belas kasihan pada Yang Mulia."
‘Berapa banyak lagi kesetiaan yang harus kuberikan?"
Permaisuri menghela nafas, menekankan saputangan ke sudut mulutnya.
"Tapi anda terlihat lebih baik dari sebelumnya."
"Mungkin karena radang sendi saya membaik."
"Saya dengar anda punya dokter baru. Apakah dia sebagus itu? Tolong perkenalkan pada saya."
__ADS_1
"Bukan karena dokter, tapi karena obat."
Dia tertawa saat berbicara, para wanita di meja menatapnya.
"Maksud Anda obat yang membuat kita lebih muda itu?"
"Ah, Anda juga mengetahuinya?"
"Tentu saja, ini topik hangat. Saya sudah menyuruh seorang pelayan untuk membelinya, tapi pedagang itu tidak akan menjualnya kecuali saya datang kesana sendiri. Pedagang sangat sombong akhir-akhir ini."
"Jangan seperti itu dan pergilah kesana. Obat itu benar-benar berhasil. Suami saya menderita sakit gigi sepanjang hidupnya dan itu efektif."
Kemudian para wanita lainnya menganggukkan kepala.
"Obat itu juga bekerja pada saudara saya, itu juga efektif untuk kulit..."
Mata Ibu Suri melebar setelah mendengar perkataan wanita itu.
"Apakah itu efektif bahkan untuk penyakit kulit?"
"Ya, Yang Mulia. Kakak saya menderita kulit bersisik di perut bagian bawahnya sejak beberapa tahun yang lalu, dan terasa gatal, tapi setelah minum obat itu, kulitnya kembali seperti dulu."
Gejala itu mirip dengan penyakit kulitnya.
‘Mungkin akan berhasil untukku juga...'
"Dimana mereka menjualnya?"
Tanya Ibu Suri.
...***...
Sebelum perjamuan, keluargaku meninggalkan kastil.
"Jangan khawatir tentang kastil dan semoga perjalanan Anda menyenangkan."
Sementara Dubos berbicara pada ayah, ketua mendekatiku.
"Selalu bawa perangkat komunikasimu setiap saat."
"Ya dan ketua harus makan dengan teratur." Aku mengerutkan kening dan berkata demikian, ketua terbatuk.
"Makan dengan teratur, oke?
"…Iya."
Sejak istri dan putranya meninggal, ketua berulang kali melewatkan makan karena tidak ada yang merawatnya.
"Jadi… kamu tidak akan memberi tahu mereka tentang masa lalumu?"
Mendengar perkataan ketua, aku melirik Ayah dan kedua kakak.
"Taruh lebih banyak selimut. Jika putriku terkena flu, satu atau dua kepala akan putus saat itu juga."
"Apa kau bercanda? Taruh lebih banyak bantal, bantal!"
Ketua, yang melihat keluarga dengan mata redup, mengangguk.
"Jika mereka tahu masa lalumu, itu akan menjadi bencana."
Saat aku membayangkan ayah dan kakakku membakar gereja, seluruh tubuhku gemetar.
"Jika kita berperang dengan gereja, semua orang di Dubblede akan mati—"
"Maka kamu harus tetap diam."
Aku mengangguk.
Kami naik kereta kuda, yang dilihat oleh para karyawan yang mengantar kepergian kami.
...***...
Kami butuh dua hari untuk sampai ke ibu kota.
Itu sangat cepat, mengingat aku butuh sepuluh hari saat aku pertama kali datang ke Dubblede dengan kereta Kekaisaran.
Turun dari kereta, aku membuka mulutku lebar-lebar.
Taman tak berujung
Taman yang terawat dengan baik.
Rumah besar itu adalah bangunan terbesar dan termegah yang pernah aku lihat.
Tiga bangunan terhubung satu sama lain, yang hampir setinggi langit.
Pelayan yang tak terhitung jumlahnya membungkuk dalam dua baris di jalan menuju mansion.
"Selamat datang tuan."
"Selamat datang tuan."
Terkejut dengan suara keras para pelayan, aku memeluk lengan ayahku.
Saat itu, seorang pria dengan jas katun, dengan rambut disisir rapi muncul diantara para pelayan.
"Saya menyapa nona kecil Dubblede."
Saat aku bersembunyi dibelakang lengan ayahku, dia tersenyum.
"Nama saya Headerson. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda."
"Namaku Leblaine…"
"Anda lebih cantik dari yang saya bayangkan. Semua orang di mansion menantikan kedatangan Anda."
Ayah memelukku dan bertanya padanya, "Di mana Javelin?"
__ADS_1
Javelin adalah saudara tiri ayah, dan dia bibiku.
Salah satu dari dua orang yang selamat dari pertarungan pedang antara saudara Dubblede di masa lalu.
Dia sekarang bertanggung jawab atas rumah cabang Dubblede.
"Beliau pergi ke pesta."
"Jika bibiku pergi ke pesta, dia akan kembali sekitar empat hari lagi."
Saat Isaac berbicara dengan sinis, Headerson tersenyum.
Kami memasuki mansion bersama. Bagian dalamnya lebih indah dari penampilannya.
Ayah dan kedua kakakku langsung pergi ke perpustakaan dan kamar mereka untuk bekerja, aku mengikuti Headerson untuk melihat kamarku.
"Nona Kecil, kamar anda di sini."
'Luar Biasa!'
Meskipun tidak sebesar kamarku di kastil. Tapi kamar ini terdapat dapur, ruang ganti, kamar tidur, ruang belajar, dan kamar mandi yang semuanya sangat mewah.
Itu lebih seperti kamar untuk seorang gadis daripada kamar untuk tamu.
Aku berlari cepat ke sofa dan memeluk bantal.
Lea, yang ikut denganku, tersenyum dan bertanya, "Apakah Anda menyukainya?"
"Sa~ngat."
"Syukurlah."
"Tapi Lea, pakaianmu berbeda hari ini."
Dia biasanya memakai seragam pelayan, tapi hari ini dia memakai baju besi dan jubah hitam yang melambangkan Dubblede.
"Saat Anda di sini, saya akan menjadi pengawal Anda."
"Wow!"
"Apakah Anda senang?"
"Lea sangat keren…"
Saat Lea dan aku sedang berbicara, kepala pelayan membawa seseorang.
Dia adalah gadis yang menarik dengan rambut merah cerah, mata hijau, dan bintik-bintik di hidungnya. Dia terlihat berusia sekitar lima belas tahun.
"Nama saya Laura, saya telah ditugaskan untuk menjadi pelayan Anda."
Dia adalah anak yang ceria dan cerdas. Lea berbisik padaku, "Dia sepupu Linda."
'Aha.'
Karyawan lain juga datang untuk menyapaku.
Setelah menerima salam dari 50 orang, dari pelayan hingga koki, aku mengajukan pertanyaan paling penting.
"Jadi, apa kejahatanmu sebelumnya?"
...***...
Semua orang berdiri di depan Theodore Dubblede, yang kembali ke mansion setelah lima tahun.
Entah karena dia telah berada di medan perang selama hampir setahun, atau karena dia berusia pertengahan 30-an, Theodore terlihat lebih tua.
Kedua bersaudara, yang berdiri di kedua sisinya, telah tumbuh. Seiring bertambah usia mereka, semakin mereka mirip seperti ayahnya, dan mata mereka pun semakin menakutkan.
Duke melirik ke arah ksatria yang tak terhitung jumlahnya yang sedang berlutut, serta sekretaris dan karyawan setingkat manajer yang berdiri di samping mereka.
Petugas yang lemas oleh tatapan dingin itu, menelan ludah kering.
Duke memanggil semua orang segera setelah dia tiba. Dari Irie yang melindungi mansion dan Ambu (Departemen Informasi), kebanggan Dubblede.
Melihat bahwa semua personel ini berkumpul bersama, tampaknya pekerjaan ini sangat penting.
Apakah akan ada pertempuran dengan keluarga lain?
Atau apakah senat membuat masalah lain?
Akhirnya Duke membuka mulutnya.
"Jika kuku Leblaine rusak, itu salah kalian semua."
Mata orang-orang yang tidak mengerti ucapannya melebar.
Kata sandi?
Sejenis idiom?
'Apa maksudnya?'
Saat mereka kebingungan, dua bersaudara berkata di sisi Duke.
"Ini salah kalian jika Leblaine tidak bisa tidur nyenyak."
"Jika satu helai rambutnya rusak, jangan berpikir untuk mati dengan tenang."
… Apa?
Para petugas, menatap Duke dan dua bersaudara di podium dengan mata bodoh.
Suara rendah Duke jatuh ke telinga orang-orang yang membuat ekspresi bingung di wajah mereka.
"Aku akan mengerahkan seluruh pasukan untuk mengawal Leblaine. Begitu seorang anak laki-laki mendekatinya, identifikasi siapa dia."
...***...
__ADS_1