The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 57


__ADS_3

...***...


Jika Dubblede dan Adrian bertemu, mereka secara alami akan menjadi musuh. Aku membuat kesalahan dan menggunakan nama Isaac.


Isaac membaca baca surat itu.


"Menunggu kesempatan untuk bertemu lagi, huh?"


Aku melompat dan berkata,


"Umm, mwungkin salah kirim! Lebih dari itu, makan kuenya. Enyak."


Dan kemudian aku mendekatkan kue ke mulut Isaac dan mencoba mengambil surat itu.


Henry tiba-tiba bersuara dengan mata menyipit,


"Di kastil ini, Leblaine satu-satunya gadis yang bisa memakai sepatu itu."


Kemudian ekspresi Isaac berubah drastis. Ayah berkata,


"Bajingan yang mana?"


"Rapalkan sihir pelacakan, Ayah."


"Ayah, aku yang akan memimpin."


...Sejak kapan mereka akur?


Aku berusaha untuk berpura-pura sakit. "Aduh..."


Saat aku meletakkan tangan di perutku dan mengerang, orang-orang berlari dengan cepat ke arahku.


"Kamu baik-baik saja?"


"Apa yang terjadi!"


"Blaine."


Berpura-pura sakit memang memalukan, tapi ini cara terbaik.


Aku berpura-pura sakit. "Perut akuh atit..." Aku bergumam saat ayah menggendongku.


"Dokter!"


Dan dia membawaku ke pusat medis.


Surat yang terlupakan itu tertinggal di taman, dan aku memberi isyarat kepada Lea dengan gerakan tanganku.


'Yang itu! Milikku!'


Lea yang setia melihat sekeliling dan menyelipkan surat itu kedalam celemeknya.


...***...


Perihal tentang sakit perutku teratasi dengan baik dan surat itu segera terlupakan.


Lea, yang membawakanku surat, melihatku dan mulai menginterogasiku.


"Saat akuh di gereja, aku dapet teman! Akwu ingin menyulis surat kepadanya."


Saat aku membuat alasan, Lea yang baik memberiku surat tanpa bertanya lebih lanjut.


Setelah Lea keluar, aku menghela nafas dan menyentuh kertas itu


Aku bisa membayangkan ayah dan kakak akan langsung membunuhnya meskipun mereka tahu dia adalah seorang pangeran.


'Bagaimanapun, aku senang Dubblede dan Adrian tidak bertemu.'


Keduanya adalah musuh di masa depan.


Orang-orang bilang, jika salah satu dari mereka meninggal, yang lainnya juga akan mati.


Faktanya, Dubblede menghadapi krisis besar saat Adrian hampir mati karena tipu muslihat  Dubblede.


Aku membuka suratnya.


Isinya hanya satu baris yang telah dibaca Isaac. Disini bahkan tidak tertulis siapa nama pengirim suratnya.


Hanya melihat ini, aku bisa tahu pikiran Adrian yang menulis surat ini.


Adrian mengenalku sebagai penyihir. Dan jika dia pintar, dia tahu betapa berbahayanya menghubungiku.


Sudah jelas berapa banyak keluarga Kerajaan yang tidak suka berhubungan dengan Penyihir.


'Sepatu... dia melihat sepatuku.'


Sepatu untuk anak bangsawan kualitasnya sangat bagus. Aku tidak sering keluar jadi sepatuku jauh lebih sederhana dari sepatu anak bangsawan lain, dan tidak ada hiasan, tapi dibuat untuk anak bangsawan, jadi tidak akan usang bahkan jika aku menggunakannya  beberapa kali.

__ADS_1


Pada hari itu, aku jalan-jalan ke gunung, jadi kondisi sepatuku kurang bagus saat bertemu Adrian.


Aku tersenyum dan menyembunyikan surat itu di tempat yang tak terlihat.


Aku membalas.


'Sayang sekali kita tidak bisa bertemu sekarang.'


Karena situasi Adrian, aku tidak bisa dengan mudah bertemu dengannya.


Jika dia terlibat denganku, nona kecil Dubblede dan anak takdir, Ibu Suri akan lebih ketat mengawasinya


Jika dia terlibat dalam pertarungan untuk mendapatkan takhta, aku tidak bisa menjamin masa depan Dubblede.


Tapi aku mengkhawatirkannya.


Pemandangan dia duduk di ruangan besar sendirian, memegang benda-benda yang telah kehilangan kekuatannya, terus berada dalam ingatanku.


Aku menulis balasan dengan merobek kertas.


[Terima kasih untuk hadiahnya. Sepatunya cantik dan bunganya juga. Aku akan memikirkanmu sambil melihat hadiah yang kamu kirimkan padaku. Ayo sering-sering bertukar surat!]


Setelah aku selesai menulis, aku menutup surat itu dan meminta ketua untuk mengantarkannya ke gereja tempat Adrian berada.


Sore harinya, Ayah datang menemuiku.


"Bagaimana perutmu?"


"Sudah baikan."


Ayah dengan lembut mengusap perutku dengan tangannya, menarik kursi di dekat tempat tidur dan duduk.


"Blaine, aku secara resmi menyampaikan keinginanku untuk mendidikmu di gereja. Bagaimana menurutmu?"


Dia pasti terburu-buru untuk menyingkirkan Ibu Suri.


"Dubblede memiliki banyak musuh. Kamu akan berada dalam bahaya selama kamu di sini. Jika kamu berada di gereja, kamu tidak perlu dikritik karena berada di sarang penjahat."


"......"


"Sebagai imbalannya Dubblede juga bisa mendapatkan dukungan dari Ibu Suri. Kamu dapat mengembangkan kekuatan sucimu dengan sungguh-sungguh. Itu bagus untuk masa depanmu juga."


"... Ayah ingin akuh pelgi ke gereja?"


Ayah tersenyum tipis.


"Kamu akan terkejut mengetahui apa yang aku dan saudara-saudaramu lakukan untuk menjauhkanmu dari genggaman gereja."


"Karena kamu pantas berada di tempat yang terang."


Dubblede tidak menilai status pelamar dan identitas mereka dalam ujian untuk administrator atau karyawan. Tentu saja, seorang penjahat bisa masuk kedalam kastil.


Dan untuk membuat keluarga makmur, Duke Dubblede melakukan segalanya.


Orang-orang di negara itu menyebut Dubblede sebagai sarang penjahat.


Tapi ayah melindungiku dari gereja.


Theodore Dubblede yang asli tidak akan melakukan hal seperti itu, jadi aku sedikit terkejut.


Aku menyandarkan kepalaku ke tangan ayahku yang besar.


"Akuh bahagia disini."


"....."


"Aku sukak ayah, Kakak, dan oang-oyang di Dubeldi. Aku ndak mau pergi."


Ayah membelai rambutku dan tersenyum tipis.


"Kamu mengingatkanku saat kupikir aku akan menjadi ayah yang baik."


Melihat mata hangatnya, aku terkejut.


'Aku akan tinggal di sini bersama keluargaku.'


Untuk mencapai tujuanku dan aman.


Jadi aku harus bersiap-siap untuk menghadapi dunia.


...***...


Waktu berlalu sangat cepat.


Lima tahun telah berlalu, sekarang aku berusia sembilan tahun.


Suatu pagi yang cerah.

__ADS_1


Duduk di kursi, aku melihat ke cermin dengan rambutku di tangan Lea.


Jari-jariku yang dulunya pendek semakin panjang, dan rambutku yang dulunya hanya mencapai pundak kini menyentuh bagian belakang.


"Apakah Anda ingin mengikat rambut Anda?"


"Yah, aku ingin pita."


Bahkan pelafalan burukku hilang!


Dengan usaha keras latihan pelafalan, aku sekarang bisa berbicara tanpa pelafalan yang buruk.


Aku menutup mulutku dengan kedua tangan saat aku menahan tawa dan menegakkan punggungku.


Para pelayan tertawa dan membawa pita.


"Anda sangat cantik hari ini."


"Nona Blaine, Anda berumur sembilan tahun sekarang, Anda sudah dewasa."


Para pelayan tersenyum saat mereka berbicara.


Umurku sembilan tahun sekarang. Seorang gadis dewasa.


Seberapa keras yang aku alami dalam 5 tahun terakhir? Karena hidup sebagai pengemis, aku hampir melupakan etika bangsawan, jadi aku harus menanggung pelatihan yang mengerikan.


'Hal yang paling sulit adalah mempraktikkan kekuatan suciku...'


Ini adalah pertama kalinya aku benar-benar berlatih sihir.


Karena aku tidak bisa mendapatkan bantuan pendeta, para penyihir di Dubblede membantuku berlatih setiap hari, membaca buku tentang kekuatan suci, dan mengajariku.


Namun, para penyihir tidak dapat memahami kekuatan suci sepenuhnya dan terkadang sihirku gagal dan lututku tergores.


Setiap kali itu terjadi, ayah dan saudara laki-lakiku sangat marah.


Setiap hari aku harus menghibur ayah dan kedua kakakku, yang mencoba mencekik leher penyihir, dengan mengatakan, "Blaine akan sedih setiap hari jika penyihir itu pergi."


Mengingat masa lalu, aku menundukkan bahuku dengan ekspresi sedih.


Saat itulah.


"Tuan Duke sudah kembali!"


Suara cerah datang dari kepala pelayan. Aku segera turun dari kursi dan pergi.


Para pelayan mengikutiku.


Saat aku menuju ke gerbang, aku melihat para Ksatria Dubblede yang telah kembali dari pawai kemenangan.


Di garis depan, aku melihat seorang pria sedang menunggang kuda hitam.


Baju besi yang menopang tubuh kokohnya dan jubah bulu mewah di bahunya.


Wajahnya yang tampan lebih menonjol daripada pakaiannya yang indah.


"Ayah!"


Dimulai dengan pertempuran melawan Kerajaan Kruger, dia adalah ayahku yang menaklukkan sebelas kerajaan.


Tahun lalu, kekaisaran meminta dukungan dari ayahku, yang menaklukkan Kerajaan Kruger hanya dalam delapan bulan.


Dan setelah satu tahun. Musuh menyerah dengan bendera putih dan sujud di bawah kaki Dubblede.


"Dik!"


"Leblaine!"


Kedua kakakku yang ikut bertarung bersama dengan ayahku melompat dari kuda dan lari ke arahku. Aku juga berlari cepat ke arah mereka.


Bukan untuk mereka yang berlari ke arahku dengan tangan terbuka, tapi ke kotak jarahan.


Aku berlari tanpa ragu-ragu, memasukkan tanganku dan mencari di dalam kotak.


Setelah mendengar kemenangan mereka, aku menunggu hari ini datang.


Apakah mereka membawanya?


Aku akhirnya menemukannya setelah mati-matian mencarinya.


Kantong katun yang aku inginkan.


'Hore!'


Saat itu aku memeluk kantong itu. Entah bagaimana suhu di sini sepertinya menurun.


"Sudah setahun kami tidak melihatmu,..."

__ADS_1


Aku bisa melihat kedua kakakku menatapku dengan ekspresi muram.


...***...


__ADS_2