
...***...
Tatapan Roman melihat ke arah ketua dengan tidak bagus.
'Apa yang dia pikirkan?'
Hari ini dia mendengar bahwa anak takdir dan ketua berjalan bersama di kastil dengan suasana yang cukup bersahabat.
Ketua, yang berjalan dengan anak takdir, jarang merasa nyaman, tapi dia terlihat begitu di sana.
'Ini tidak masuk akal. Dia kan Jean Marc Noanoke.'
Dia sangat dingin bahkan pada putra satu-satunya.
Beberapa orang bahkan berpendapat bahwa putranya, Louis Noanoke, mungkin benar-benar bunuh diri.
Anak takdir tidak mungkin bisa membuatnya merasa nyaman.
'Apakah dia berpikir untuk melakukan sesuatu pada anak takdir?'
Harapan Roman naik.
Maka itu adalah hal yang bagus.
Dia sangat ingin keretakan antara ketua dan Duke Dubblede.
Pada awalnya, dewan senat adalah kekuatan yang kuat dalam Dubblede.
Sebelum putranya meninggal, ketua maju kedepan dan mengupayakan kepentingan senat.
Namun, setelah putranya meninggal dan Theodore Dubblede mengambil alih wilayah kekuasaan Duke, ketua berkelakuan seperti harimau ompong.
Bukan berarti dia tidak tertarik dengan keuntungan Senat, tapi dia tidak ingin maju dan menjaga Theodore dalam pengawasan sementara ia mendapatkan kembali kejayaan sebelumnya.
"Ketua."
Saat panggilan Roman, ketua menatapnya dengan tatapan kering.
"Jika Anda bersedia mengambil kesempatan ini, saya akan membantu Anda dari belakang."
"Langsung ke intinya, katakan."
Ketika ditanya apa yang dia bicarakan, Roman tersenyum, berpikir,
'Kau tidak tahu.'
"Akankah Spinel hanya digunakan dalam pertarungan melawan Kruger? Pertahanan dengan Spinel dalam pertempuran tertentu sangat penting bagi militer. Militer Duke mungkin melemah jika gereja tidak membagikan Spinel."
"Jadi?"
"Bukankah Anda memiliki koneksi di gereja?"
"......"
"Jika Anda membawa Spinel tanpa mengetahui itu, pasukan kami akan menertawakan kekuatan Duke."
"Apa kau bermaksud untuk melancarkan perang saudara?"
Roman mengangkat bahunya dengan wajah lemas.
"Itu berarti Senat harus memiliki kekuatan untuk melawan kegilaan Duke."
Saat ketua diam, Roman datang mendekatinya.
"Sampai kapan kita harus tunduk pada Duke?"
"Memang benar aku memiliki koneksi di gereja, tapi mereka tidak bisa membantu kita dengan mudah."
"Anda memiliki anak takdir."
Roman tersenyum dan melihat keluar jendela yang memperlihatkan kastil Dubblede.
"Kekuatan suci anak itu juga sudah diperiksa ulang, jadi entah bagaimana Vatikan ingin membawa anak itu kembali. Tidak ada yang bisa mereka lakukan jika Anda menggunakannya untuk transaksi."
Roman berbicara dengan penuh semangat.
"Ini yang saya pikirkan. Menculik gadis itu, lalu menjadikannya budak, dan berbicara dengan gereja. Jika gereja mendapatkan kembali anak itu, Duke yang mengabaikan perawatan anak takdir akan dibawa pergi, dan gereja akan mengamankan anak itu—"
Namun kemudian.
Tok, tok.
kepala pelayan masuk.
"Tuan, saya membawa surat dari kastil."
"Apakah itu dari Duke?"
"Stempel surat ini bukanlah stempel Duke."
Ini bukan stempel duke, tapi hanya sepucuk surat yang datang dari kastil.
Ketua dengan mata menyipit menerima surat dari kepala pelayan dengan penuh kecurigaan.
Namun, yang dia lihat saat membuka amplop itu adalah tulisan tangan anak kecil yang tidak rapi.
[Kami mengundang Jean Marc Noanoke ke pesta teh pertama Leblaine. Remah kue terlihat seperti kotoran, tapi itu bukan kotoran. Silakan datang sendiri.]
Mata ketua bergetar saat dia membaca surat dengan tanggal dan tempat yang tertulis di atasnya.
"Ayah, remah-remah kue terlihat seperti kotoran. Tapi kenapa mereka tidak suka kotoran?"
Bagaimana dia.
__ADS_1
Bagaimana seorang anak takdir tahu apa yang putranya katakan di masa kecilnya?
"Ketua?"
Tapi ketua berdiri dari duduknya, memasukkan surat ke jaketnya.
"Siapkan kereta kuda!"
Roman sendiri tampak bingung pada ketua saat dia bergegas keluar.
...***...
Aku mencium pipi Yuni sepuluh kali.
Itu harga karena sudah mengirimkan undanganku kepada ketua secara rahasia.
"Tolong lakukan di sini juga."
"Sudah sepuluh ciuman."
"Satu lagi!"
Aku memberi satu lagi ciuman untuk Yuni karena sudah melakukannya dengan sangat baik, karena dia seorang mantan rentenir.
Aku mencium Yuni di pipi yang berlawanan.
"Selesai?"
"Ya~ "
Dia memelukku dengan wajah bahagia, dan meninggalkan ruangan.
'Nah, yang harus kita lakukan sekarang adalah menunggu.'
Aku menunggunya di gazebo di sudut taman untuk memudahkan percakapan saat ketua datang.
Dan saat matahari sudah terbenam, ketua mendatangiku.
Dia terengah-engah, dia mencariku mungkin untuk waktu yang lama.
"Bagaimana, bagaimana kamu tahu ceritanya?"
Tanpa menyapa, dia berkata langsung ke intinya. Suaranya terdengar tidak sabaran.
Aku melompat dari kursi gazebo dan menatap ke arah ketua.
"Aku akan bertanya kepadamu terlebih dahulu."
"Bicaralah."
"Kakwek, sebelapa besar kau merindukan putramu?"
"Jika kamyu bisa bertemu Louis lagi, maukah kamyu membayar berapa pun harganya?"
"Aku akan menjual jiwaku."
'Baiklah, aku sudah menunggu kata-kata itu.'
Kemudian aku memegang Etwal. Ketua mengerutkan kening padaku.
"Sekarang jawab pertanyaanku. Bagaimana kamu bisa tahu cerita itu–!"
"Kamu tidak boleh membentak anak itu..."
Suara yang malu-malu terdengar dari belakang paviliun.
Pupil ketua melebar, dan tak lama matanya melotot padaku.
Seolah-olah dia tidak bisa mempercayainya.
Louis menyembulkan kepalanya perlahan.
"Ayah..."
Louis Noanoke tersenyum lemah pada ayahnya yang pucat.
Ketua hanya menatap putranya tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
"Apa yang kau lakukan? Apakah Duke atau orang lain yang menyuruhmu mengejekku?"
Matanya masih bergetar saat dia berbicara dengan nada dingin yang luar biasa.
Louis menggigit bibirnya seolah-olah dia mencoba menahan air mata, dia menatap ayahnya lagi.
"Aku memintamu untuk makan pancake bersama-sama dulu, dan maaf aku tidak bisa menepati janji itu."
Wajah ketua berubah masam ketika sebuah cerita yang hanya dia dan Louis tahu keluar dari mulutnya.
Bahu ketua, yang selalu tegak, telah menyusut, dan muncul keriput di seluruh wajahnya.
Itu bukanlah gambaran seorang pria berkuasa yang bertanggung jawab atas Senat. Tapi ayah tua dan kesepian yang kehilangan putranya.
"......"
Aku menarik lengan Louis, yang tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
"Katakan sesuwatu. Cepwat!"
"......"
"Cangat sulit mempertahankan jiwamu. Kau akyan segera menghilang!"
Kekuatannya terkuras setelah Boone pergi, dan dia terpaksa mempertahankan jiwanya untuk ketua yang sangat merindukan anaknya.
__ADS_1
Saat Louis mendekat dengan hati-hati, ketua mengertakkan gigi.
"... Kamu jelek."
'Ha? Tidak, bukan itu!'
Aku membuka mata lebar-lebar karena keheranan, dan ketua meninju bahu dan dada Louis.
"Dasar anak jelek! Dasar anak jelek...!"
"......"
"Kau begitu kejam sampai-sampai telah mengecewakanku! Kau bajingan jelek! Kenapa kamu meninggalkanku duluan!"
Wajah ketua menjadi basah.
Louis tidak bisa berkata apa-apa dan hanya berdiri di sana.
Ketua, yang mengerang seolah-olah sekarat karena kesedihan, segera roboh di lantai.
"Apakah... kamu bunuh diri?"
"......."
"Apa benar, seperti kata orang, kamu tidak menemukan penguburan spinel, jadi kamu bunuh diri karena takut padaku?"
Louis berlutut dan menatap ayahnya.
"Aku selalu jahat pada ayah, jadi aku ingin memberimu spinel untuk ulang tahunmu."
"....kau."
"Itu kecelakaan. Aku memang takut padamu, tapi aku lebih menghormati, berterima kasih, dan menyayangimu lebih dari rasa takut."
Ketua menangis seperti anak kecil. Sampai Louis menghilang.
...***...
Aku melirik ke arah ketua yang duduk di gazebo tanpa tenaga.
'Apa yang harus aku katakan dalam situasi ini?'
Saat dia kesulitan memikirkan itu, suara ketua terdengar.
"Kamu itu apa nona kecil?"
"Apa?"
"Aku yakin kamu bukan anak biasa." Matanya yang kering menatapku.
Aku tidak menghindari matanya.
"Apwa yang harus akuh lakwukan agar ketua percaya padaku?"
"Aku serius saat berkata aku akan memberikan jiwaku."
'Aku tahu.'
Matanya tulus.
Itu sebabnya Leblaine mengambil risiko dan menunjukkan Louis kepada ketua.
'lagipula, takkan ada yang percaya padanya, meskipun dia mengatakannya pada orang lain.'
Di atas semua itu, Louis pergi dan menekankan sesuatu padanya.
"Jika kau melakukan apapun yang bisa membahayakan nona kecil, jiwaku tidak akan menemukan ketenangan."
Meskipun dia terlihat sangat berbeda dari ketua, tapi dia adalah putranya. Trik mengancamnya mirip dengan ketua.
Louis mengancam dengan nyawanya sendiri, bukan orang lain, seperti ketua.
Dia pasti sangat berterima kasih padaku karena membiarkan dia melihat ayahnya lagi. Dia adalah orang baik yang akan membalas kebaikan.
Aku meliriknya sambil berpikir begitu.
'Lebih dari itu, aku membutuhkan bantuan ketua.'
Tidak mungkin aku, seorang anak kecil, bisa membawa spinel.
Selain itu, ketua adalah orang yang tepat untuk membantuku.
Seorang pria yang materialistis secara pantas, menempatkan kepentingan pribadi di atas keluarga atau negaranya, dan yang terpenting, seseorang yang tidak akan dirugikan saat aku membelot.
'Tetap saja, untuk berjaga-jaga.'
"Lepaskan jaketmu."
"Maaf?"
"Keluarkan saku celanamu."
"Apa..."
Saya memastikan bahwa tidak ada sihir dan tidak ada benda suci.
Baru saat itulah aku mulai berbicara.
"Aku terlahir kembali sebanyak tiga kali dan dalam kehidupan kali ini aku bisa memanggil iblis."
Ekspresi ketua terlihat sangat terkejut.
...***...
__ADS_1