The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 26


__ADS_3

...***...


Aku melirik kasihan pada administrator itu.


"Nona kecil, apa yang membawa Anda ke sini?" Tanya Nos, suaranya yang tegas digantikan dengan kelembutan.


Menyadari tatapan para administrator yang sekarang terpusat padaku, aku dengan cepat membuat alasan.


"Akyu ingin belhajar lebwih banyak kata dari Nyos." (aku ingin belajar lebih banyak kata dari Nos)


"Anda rajin sekali, nona kecil. Mohon tunggu sebentar. Setelah pengarahan selesai, saya akan membawa buku baru untuk Anda dan mengajari Anda kata-kata baru," kata Nos dengan sabar sebelum meninggalkanku dalam asuhan para pelayan.


Ketika Nos mengurusku, para administrator baru saling berbisik dengan suara rendah.


"Itu dia."


"Aku dengar ketika dia bertugas di istana kekaisaran, dia menyelesaikan masalah kekeringan panjang di negara dan diangkat sebagai pejabat termuda."


"Eugene Nos? Yang bekerja di badan intelijen negara?!"


"Wow, aku tidak tahu itu. Aku hanya mendengar bahwa dia jenius."


Semua administrator baru tiba-tiba tampak gugup dan gelisah. Mereka tidak tahu bahwa saat melamar pekerjaan ini, mereka akan bertemu orang yang begitu terkenal.


'Oh, benar. Nos sangat berbakat bahkan ia mampu mengembalikan reputasi istana kekaisaran.'


"Kau tidak perlu gugup. Eugene Nos yang terkenal itu sekarang rekan kerja kita."


Wanita berkacamata itu mengerutkan kening ketika dia mendengar kata-kata pria itu.


"Charlie, perhatikan kata-katamu."


"Seria, kenapa kau selalu mengganggu apa yang aku lakukan? ...Tidak mungkin! Apakah kau menyukaiku?"


"Kau gila?"


Saat perdebatan mereka mulai menaik, nada suara mereka menjadi lebih tinggi, dan itu mulai menarik perhatian para penonton. Merasakan tatapan orang-orang di sekitar mereka, administrator lain menengahi pertengkaran mereka.


"Jangan bertengkar. Lainnya sedang melihat."


"Jacob... Kamu yang paling berisik di antara kita."


Sama seperti orang lain, aku melihat perdebatan mereka bertiga.


'Itu aksen Noxstone (area perbatasan), bukan?'


Saat hari kejadian, salah satu pekerja bersaksi mendengar aksen Noxstone yang terdengar dari kamar tidur. Banyak yang menduga itu adalah suara pelakunya.


Tidak bergerak satu inci pun, aku tetap berada di samping para pelayan sampai Nos menyelesaikan tugasnya. Ketika aku menunggunya, aku mengamati para administrator di sekitarnya, namun tidak lain dari tiga orang itu yang beraksen daerah perbatasan.


Aku menyeringai.


Tersangkanya ada tiga orang.


...***...


Sementara Nos mengajar, kepalaku berada di atas awan. Pikiran lain berputar-putar di dalam kepalaku.


'Aku seharusnya lebih memperhatikan berita seputar penjahat buronan di kehidupan masa laluku.'


Merasa menyesal, aku menegur diri sendiri. Aku hanya bisa mengingat beberapa penjahat terkenal, bahkan ingatan tentang penangkapan dan kejahatan mereka sedikit pudar.


Penjahat yang aku cari didakwa karena pembunuhan. Bukan sembarang pembunuhan, dia dituntut karena membunuh seorang bangsawan.


Insiden itu, yang terjadi awal tahun ini, telah mengundang kemarahan seluruh bangsa.


Itu karena korbannya adalah seorang bangsawan sejati yang dermawan. Di waktu luangnya, ia mengelola sekolah taman kanak-kanak dan memberikan semua kekayaannya kepada orang-orang terlantar, miskin dan cacat.


Seluruh kekaisaran marah. Sayangnya, tidak mudah untuk menangkapnya, karena tidak banyak yang diketahui tentang deskripsi fisik penjahat.


'Bagaimana seseorang bisa menangkap penjahat buronan di Dubblede sebelumnya ya?'


Berpikir keras tentang bagaimana aku seharusnya menangkap penjahat, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu perpustakaan.  Pintu terbuka dan terlihat kepala pelayan.


"Tuan sedang mencari Anda."


"Tentang pekerjaan?"


"Sayangnya iya...."


Nos mengangguk lemah ketika mendengar Duke meminta kehadirannya.


"Nona kecil, maukah Anda-"


"Apa yang kamu lakukan, Nos?"


Isaac dan Henry muncul di belakang kepala pelayan, memotong ucapan Nos.


Isaac berkata kepada Nos dengan tajam.


"Apakah kamu mencoba untuk merusak rencana kami?"


"Tidak mungkin."


Henry hanya tersenyum pada penyangkalan Nos yang canggung.


"Kamu juga bersiap untuk 'itu', ya?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakam, tuan muda."


"Jangan mencoba membodohiku. Jika Eugene Nos tidak tahu, lalu siapa?"


Isaac dan Henry menatap tajam ke arah Nos.


"Maafkan saya. Saya harus pergi menemui Duke. Nona kecil, kita akan ada kelas lusa berikutnya," Nos menghela nafas kekalahan dan memberitahuku.


Aku mengangguk, menyetujui pemberitahuannya kemudian dia meninggalkan perpustakaan setelah minta undur diri pada mereka berdua.


Isaac, yang menatap punggungnya, bergumam.


"Pria murahan."


"...."


Aku hanya bisa menatap dan mendengar kata celaannya. Henry menghentikan kemarahan saudaranya.


"Mau bagaimana lagi. Ayo kita lakukan 'itu' hari ini."


"Oke."


Kedua orang itu menatapku pada saat bersamaan.


"Kenapa kita tidak pergi ke toko hari ini, Leblaine?"


"Ya, ayo pergi."


Aku membuka mata lebar-lebar dengan heran. Orang-orang di kastil ini bertingkah aneh sejak kemarin. Mereka bukan satu-satunya yang berbicara omong kosong. Para pelayan juga terus bertanya kepadaku pertanyaan aneh.


Aku ingat beberapa percakapan yang aku lakukan dengan para pelayan.


"Mainan apa yang paling Anda suka?"


"Ah, tidak, kami hanya penasaran saja...!"


Tidak hanya para pelayan, bahkan para ksatria, juga mendatangiku dan bertanya.


"Nona kecil pernah memegang pedang kayu?"


"Memangnya hadiah semacam itu akan berguna untuk nona kecil?" Mereka bertanya.


Aku mengerutkan alisku dengan bingung sebelum menyadari sesuatu.


'Ah! Besok Hari Anak-Anak.'


Ini adalah Hari Anak pertamaku sejak Dubblede mengadopsiku. Duke, para kakak, dan semua pelayan tampaknya memperhatikan perayaan itu.


Dalam kehidupanku sebelumnya, seperti yang dilakukan para Dubblede, Duke Amity dan Duke Vallua juga merayakan Hari Anak pertamaku.


Duke Amity dan Vallua melakukan apa yang akan dilakukan kebanyakan wali. Mereka menghujani ku dengan bingkisan hadiah.  Semua itu hanya untuk menjaga moral sebagai orang tua yang bertanggung jawab. Mereka tidak ingin dilihat sebagai orang tua yang lalai bagi anak angkat mereka.


Meskipun mainanku yang diberikan oleh Duke telah memenuhi kamar tidur, aku masih ingin pergi ke toko.


"Kamyu ingin akuh pergi denganmyu?" (Kamu ingin aku pergi denganmu?)


"Tentu saja."


"Tapih aku belum minta ijin dari Dyuke..." (Tapi aku belum mendapat izin dari Duke...)


"Tidak apa-apa. Dia tidak akan keberatan karena kami bersamamu, Leblaine."


Karena senyuman hangat Henry, aku tersenyum cerah dan berkata,


"Aku ingin pergi!"


'Jika mereka membelikanku mainan, walaupun aku tidak suka, aku harus berpura-pura menyukainya.'


...***...


Aku mengikuti mereka ke sebuah gedung mewah tanpa tanda. Masuk ke dalam, seorang pria mengenakan topeng setengah wajah membungkuk dalam-dalam.


Aku mengikuti langkah Henry dan Isaac yang percaya diri melangkah masuk dan mengintip ke dalam. Di depan mataku terbentang aula yang mewah. Sebuah panggung besar yang indah dibangun di depan kursi-kursi yang tak terhitung jumlahnya yang berjajar sampai ke pintu masuk, namun hanya sedikit yang kosong.


Alih-alih menuju ke kursi yang kosong, mereka membawaku ke lantai dua, bagian VIP pribadi. Balkonnya didekorasi dengan sangat indah. Sofa besar, jauh lebih mewah daripada tempat duduk biasa, terletak bersampingan.


'Kami di sini bukan untuk membeli mainan... Apakah kami di sini untuk menonton pertunjukan?'


Aku bergelora dengan gembira. Aku ingin pergi ke toko mainan, tetapi melihat rumah opera yang indah, aku segera berubah pikiran.


Meskipun kunjungan itu tidak di rencanakan, aku tidak menyesal ikut mereka kesini.


Yah, aku sudah punya terlalu banyak mainan, jadi jauh lebih baik untuk menonton pertunjukan daripada membeli mainan lain. Dan juga ini hanya pengalaman sekali seumur hidup.


Kekagumanku akan keindahan desain bangunan terganggu oleh seorang pelayan.


"Tuan muda dan nona, minuman apa yang ingin Anda pesan?"


"Teh Earl Grey."


Henry memberikan jawaban singkat, diikuti oleh Isaac.


"Susu-" dia berhenti, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku, "-Tidak, teh hitam."


"Teh hitam jenis apa yang Anda inginkan?"


"Teh hitam paling pahit."

__ADS_1


"Maaf?"


"Teh hitam pahit!"


"Ah... ya, saya akan memberimu yang paling pahit."


Menuliskan permintaan mereka, pelayan kemudian menatapku, menunggu pesananku.


"Susu stroberi!"


Mendengar keinginanku yang kekanak-kanakan, Isaac menyeringai.


"Apa kau masih bayi?"


"Kau juga masih anak-anak."


"Aku sudah dewasa. Aku minum teh hitam. Itu sangat pahit."


Dia tersenyum memuji diri sendiri dan berkata, "Kamu minum susu. Itu berarti kau masih anak kecil."


Aku tidak keberatan dengan perkataannya, di samping kata-katanya tidak menyakitkan, karena memang benar aku seorang anak kecil. Bahkan ketika aku tumbuh dewasa, orang biasa memanggilku "Nak", Karena julukan 'Anak Takdir'.


Tidak lama kemudian minumannya datang. Di bawah susu putih hangat, saus stroberi yang berkilau merah terlihat tenggelam dasar minuman, perlahan-lahan berubah warna menjadi merah muda.


Aku memegang cangkir susu dan menyesapnya.


Segera kehangatan dan kemanisan menyelimuti lidahku.


"Enak?" Henry bertanya dengan senyum lebar.


Aku menganggukkan kepalaku dengan puas.


"Minum itu dengan camilan."


"Owkay."  (Okay.)


Henry dan aku menikmati minuman yang disajikan. Tetapi tidak seperti kehebohan yang biasa terjadi di sekitar ku, Isaac diam.


Cairan hitam tebal itu berputar-putar di cangkirnya, tak tersentuh. Tehnya beberapa kali lebih padat dari pada Henry.  Bahkan aku, dapat melihat bahwa teh itu rasanya sangat pahit.


"...."


Alih-alih menyeruput tehnya, Isaac memegang cangkir itu dengan wajah cemberut.


'Seperti yang kupikirkan, dia bahkan tidak bisa menyesap teh.'


Merasa kasihan dengan wajahnya yang cemberut, aku menawarinya segelas susu.


"Isaak, minum ini."  (Ishak, minum ini.)


"Susu hanya untuk anak kecil."


"Tidyak, orang dewasa jugak syuka susu." (Tidak, orang dewasa juga suka susu.)


"...Benarkah?"


"Iya."


Isaac, yang menerima gelas dariku, mencicipi susu itu.


Wajah gelapnya menjadi cerah seolah-olah mencicipi minuman paling enak di negara ini. Menyadari bahwa moralnya anjlok, dia mengubah ekspresinya dan batuk untuk menyembunyikan kegembiraannya.


"Lumayan."


"Kau bisah memilikinya." (Kau bisa memilikinya.)


"Tapi... Jika aku mengambil minuman ini, lalu kau tidak minum?"


Isaac merasa bersalah dan menyerahkan cangkir susu itu kepadaku. Henry menggelengkan kepalanya dengan putus asa pada pikiran simpel saudaranya, dia kemudian berkata, "Pesan satu lagi, idiot."


"...Aku, aku tahu!" Kata Isaac. Bahkan di ruangan yang remang-remang, aku bisa melihat wajahnya memanas karena malu.


"Leblaine, susu itu sudah terkontaminasi. Mari kita minta pelayan untuk menyiapkan yang baru," kata Henry sambil mendorong cangkir ke arah Isaac.


Seorang pelayan segera datang dengan secangkir susu stroberi baru. Melingkari cangkir hangat dengan tangan kecilku, suara bising perlahan-lahan menghilang. Aku menyeruput susu perlahan, mengharapkan penampilan yang indah.


'Apa itu orkestra? Atraksi? Atau opera?'


Aku pikir itu drama, mengingat mereka membawa anak sepertiku, Jantungku berdebar kencang. Di tengah keheningan, pria bertopeng setengah yang aku lihat sebelumnya di pintu masuk muncul di atas panggung.


"Selamat datang, hadirin sekalian di 'Heaven'."


Pria itu tersenyum misterius ketika dia melihat sekeliling kerumunan.


"Pelelangan budak dimulai!"


Apa?!


'Kau bohong, kan?'


Aku memandangi mereka dengan tatapan tercengang, tetapi Isaac tidak menyadari arti tatapanku. Dia malah tersenyum lebar dan berkata.


"Jika ada yang ingin kau miliki, silakan dan katakan saja. Aku akan membelikanmu segalanya!"


Setelah itu aku baru ingat.


Benar sekali. Itulah mengapa mereka disebut sebagai penjahat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2