
...***...
Aku meninggalkan mansion sambil bersenandung.
"Suasana hati Anda sedang baik hari ini?" Lea tersenyum dan bertanya.
Aku mengangkat lengan dan berteriak, "Aku sangat bersemangat!"
Setiap pergi keluar, aku harus selalu bersama ayah dan kedua kakakku, tapi hari ini aku keluar sendirian tanpa mereka. Dengan kata lain, aku bisa pergi kemanapun yang aku mau.
'Setelah pergi ke pusat perbelanjaan, aku akan mampir ke puncak hope.'
Akhirnya, aku bisa berjalan dengan percaya diri tanpa harus menggunakan gulungan karpet merah itu lagi.
Aku pergi ke kawasan perbelanjaan dengan naik kereta kuda. Kereta mewah Dubblede tiba dalam waktu singkat. Sebelum turun dari kereta, aku mengetuk sisi tas kecilku.
Ini uang yang diberikan ayah. Dia mengatakan kepadaku untuk membeli apa pun yang aku inginkan, jadi aku akan menikmati kemewahan hari ini.
Aku berkeliling kawasan perbelanjaan bersama Lea dan Laura.
Saat melihat bros di depan kios, aku menunjuk bros berbentuk mawar, pedang, dan singa.
"Aku ingin yang ini."
Aku mengambil sejumlah uang dari tas dan membayarnya.
Aku menyimpan bros berbentuk singa untukku. Bros mawar dan pedang masing-masing kuberikan kepada Laura dan Lea.
"Bisakah kita menerima sesuatu yang begitu berharga?"
"Nona kecil…"
Mereka menatapku dengan mata berlinang air mata.
Ini bros murah dengan harga 10 franc.
Kupikir aku bisa membelanjakan uang sesuka hatiku, tapi tidak mudah bagiku, yang dulu pernah hidup sebagai seorang pengemis.
'Dulu aku berpikir untuk membeli barang kecuali benar-benar diperlukan.'
Aku harus boros di toko selanjutnya!
Aku mengambil keputusan dan berjalan dengan semangat.
"Nona kecil, ada kedai teh di dekat sini. Saya dengar makanan dan tehnya sangat enak. Tempat itu sering dikunjungi bangsawan dan anak-anak muda."
Aku tahu.
Duchess Vallua dan Mina sangat menyukai kedai teh tersebut.
'Tempat untuk menjual informasi.'
Karena itu adalah tempat dimana bangsawan datang dan pergi, mereka menjual beberapa informasi secara diam-diam.
‘Aku akan membeli informasi suatu hari nanti, jadi ayo kita periksa.’
Aku juga ingin mencicipi makanan di sana. Mereka menjual teh dan makanan yang sangat istimewa.
Teh hijau mereka katanya memiliki rasa manis, tidak seperti teh hitam Kerajaan.
Ada banyak jenis makanan yang menarik. Beberapa kue beras kenyal penuh dengan madu dan biji wijen, dan ada beberapa yang berbentuk kotak dengan kacang merah yang dipotong-potong.
‘He, hee... Kue beras isi madu dan jelly kacang merah yang manis!’
Aku terlalu asik memikirkan makanan dan akibatnya kakiku tersandung batu.
'Aah!'
Terjatuh di tengah jalan, aku mengerang, "Aduh..."
"Nona kecil!"
"Astaga!"
Lea dan Laura berlari ke arahku dengan terkejut.
Dug! Dug! Dug! Dug (sfx : langkah kaki :v)
"Nona kecil!" Aku bisa mendengar teriakan para pejalan kaki dimana-mana.
'Apa apaan!'
Terkejut, aku mengangkat tubuhku.
"Nona kecil, Anda baik-baik saja?"
"Apakah Anda terluka?"
"Ada kotoran di bawah kuku Anda!"
"Apa Anda baik baik saja?!"
"Apakah Anda berdarah?"
"Lutut Anda tergores!"
"Bagaimana tangan Anda?"
"Dokter! Dokter!"
"Bawa Nona kecil!"
Tak terhitung orang dari segala arah menatapku dengan wajah pucat.
Dalam sekejap, aku terhanyut dalam kerumunan para ksatria, dan aku mengeras.
Aku bahkan tidak bisa melihat wajah Lea dan Laura.
Beberapa dari mereka bahkan ada yang mengenakan jubah besi Dubblede. Mereka adalah ksatria yang pangkatnya lebih tinggi dari komandan kompi.
'Fakta bahwa orang-orang ini ada di sini...'
__ADS_1
Itu berarti setidaknya ada 5.000 ksatria di pusat perbelanjaan!
Aku tercengang, dan para ksatria menatapku sambil membuat keributan.
"Lutut! Lutut!"
"Tangan!"
"Apa ada kotoran di bawah kukunya!"
Mereka memelukku dan menangis seolah-olah langit telah runtuh, aku mengingat perkataan Javelin.
“Begitu aku meninggalkan mansion, aku merasakan kehadiran ksatria Dubblede. Kupikir sedang terjadi perang.”
Aku mengertakkan gigi, menyadari bahwa setiap kali aku pergi ke suatu tempat, 5.000 orang sedang mengawasiku.
'Ayah... Kakak...!'
...***...
Orang-orang di pusat perbelanjaan memandang dengan wajah takut kearah para ksatria Dubblede. Mereka mungkin berpikir akan ada perang saudara karena begitu banyak ksatria yang berkumpul. Mereka mulai berteriak panik.
"Kita akan mati!"
"Ah, Ibu... Anakmu yang jelek ini akan segera pergi ke surga."
Setelah keributan seperti itu, seorang pria berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Jadi, kami semua telah mengikuti Anda secara diam-diam sejak hari pertama."
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu bila ada 5.000 orang di sekitarku?"
"Beberapa ada yang berpakaian seperti petani, pedagang, badut, dan penjaga."
Dan mereka semua mengepung seluruh tempat ini.
Leblaine menutup matanya dengan erat setelah mendengar jawaban orang itu.
"Ngomong-ngomong, nona kecil, tidakkah kuku jari Anda terkena kotoran? Kami akan memeriksanya..."
"Kenapa kamu terus menanyakan itu?"
"Setiap kali ada kotoran di bawah kuku Anda, Tuan akan membunuh kami satu persatu!"
"……"
"Selamatkan saya, nona kecil! Saya belum melihat putra saya masuk akademi!"
Kemudian para ksatria lainnya berteriak dengan sedih, "Selamatkan saya!"
Leblaine, yang melihat mereka menghela nafas.
"Ayo pergi."
"Kemana…?"
"Memarahi ayah dan kedua kakakku."
Para ksatria menghapus air mata mereka saat menyaksikan Leblaine berjalan dengan percaya diri.
Sosok yang bermartabat itu!
Bukankah dia terlihat seperti pejuang yang akan mengalahkan iblis?
...***...
Aku duduk dan menatap ayah dan kakak yang menghindari pandanganku.
"Jika semua ksatria mengawalku, siapa yang akan menjaga tempat ini?"
"Dik, kami sudah cukup..."
"Siapa! Siapa yang mengatakan itu?"
"……"
Isaac terdiam dan menunduk.
"Leblaine, kami hanya mengkhawatirkanmu..."
"Lalu siapa yang akan peduli dengan mansion ini?"
Kemudian Javelin, yang sedang membaca buku dengan kaki bersilang di sofa lain, menjawab dengan pahit.
"Hanya aku."
Henry mengerutkan kening pada Javelin, tapi kembali diam saat aku melototi matanya.
"Ayah."
".... Lima ribu pasukan bisa mengalahkan Paladin."
Mengapa dia harus mengalahkan ksatria suci…
Bahkan jika Paus sudah gila, dia tidak akan mencoba untuk menculikku dengan menyuruh seorang Paladin.
‘Tidak bisa.’
Jika ini terus terjadi, aku tidak bisa pergi dengan bebas.
Aku tidak bisa terus seperti ini.
Aku bertanya-tanya tingkat intimidasi apa yang harus aku berikan kepada mereka.
Aku akan tidur dengan selimut.
__ADS_1
Aku tidak akan makan.
Aku akan membenci kalian.
—Ketiga pilihan itu bekerja dengan baik, tapi mereka akan mengira aku membenci mereka.
'Lebih baik untuk mengecualikan pilihan terakhir.'
“Oke, tunggu sebentar.”
Aku menarik napas, dan menghembuskannya.
"Aku tidak mau—"
"Aku salah, Dik!"
"Maaf!"
"Aku akan membentuk pengawal baru!"
Padahal aku belum menyelesaikan ancamanku. Para karyawan terkejut melihat mereka bertindak seperti itu.
Aku tercengang tanpa mengeluarkan suara.
Ucapku sambil mendesah,
"Jangan memarahi para ksatria juga?"
"…..."
"…..."
"…..."
"Aku tidak mau—"
"Aku tidak akan memarahi mereka!"
"Tidak pernah!"
"Iya!"
Bagus.
Saat aku mengangguk, wakil komandan pasukan, yang berdiri dengan gemetar, meneteskan air mata lega.
Setelah mereka pergi dengan wajah suram, aku duduk di sofa, merasa lelah.
‘Kamu melakukan pekerjaan dengan baik hari ini, diriku.’
Saat aku melamun, tiba-tiba terdengar tawa seseorang.
Itu Javelin.
'Dia tertawa!'
Aku menutupi pipiku dengan tanganku dengan takjub akan senyumnya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Aku belum pernah melihat mereka gemetaran seperti itu sebelumnya, bahkan saat Risette masih hidup. Itu menyenangkan."
Kemudian Javelin, yang menutup buku di tangannya berkata,
"Kamu akan pulang ke wilayah Dubblede besok."
"Iya, ayah mengatakan bahwa dia harus mengatur sesuatu."
Aku banyak menerima surat dari Ibu Suri. Dia mencoba memanggilku ke istana setiap hari.
Ibu Suri benar-benar memutus hubungannya dengan gereja, banyak orang dari gereja memintanya untuk menyelamatkan hidup Adolf, tetapi Ibu Suri sangat marah dan mengusir mereka.
Tidak heran. Jelas sekali bahwa obat luminous yang mereka berikan padanya benar-benar menghancurkan tubuhnya.
Dia tidak pergi beribadah, dan semua barang yang diberikan gereja padanya, dibuang.
‘Dan jika Ayah menkonfirmasi perbuatan Adolf di sana, gereja tidak akan bergerak untuk sementara waktu.’
Jadi Ayah tidak akan pernah melewatkan kesempatan ini.
Sekarang Ibu Suri memunggungi gereja. Aku selangkah lebih dekat untuk menjadikan Dubblede sebagai keluarga mandiri.
Setelah mencapai satu tujuan, aku tertawa dalam hati.
"Baik." Dia menjawab, menyentuh ujung buku dengan pelan.
"Nak."
"Iya?"
"Bisakah kamu menunjukkan kakimu?'
Benar, kata Lea ada sesuatu di kakiku yang mirip dengan Risette.
Aku mengangguk dan melepas kaus kakiku.
Wajah Javelin menjadi serius saat dia mengamati kakiku dengan cermat.
"Jika putrinya lahir dengan selamat, apakah dia akan seperti dirimu?"
Suaranya sama seperti biasanya.
‘Aku berharap aku adalah putri itu.’
__ADS_1
...***...