The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 41


__ADS_3

...***...


Itu terjadi saat Boone menyeringai.


"....Hah?"


Tangan Urso dipelintir secara aneh dan,


Boom—!!!


Dia terbang dan menabrak dinding.


Boom, Boom, Boom, Boom!


Kursi yang hancur terbang di atas kepalanya, di bawah kakinya, dan di tangannya. Seperti anak panah.


Itu terjadi begitu cepat sehingga tidak ada waktu baginya untuk berteriak.


'Oh wow...'


Aku mengagumi apa yang dilakukan Boone, tapi Urso berada di ambang kehancuran saat ini.


Di kapel, hanya langkah kaki Boone yang bergema pelan.


Dia menatap Urso, yang wajahnya tampak membiru dengan mata kusam.


"Bodoh...."


Mata Urso membulat. Hanya mendengar suaranya, dia tahu Boone sebenarnya adalah seorang laki-laki.


"Lebih baik menghancurkan buah *****, atau membengkokkan *****, ya?"


"Ap, apa... Apa..."


"Oh, jangan khawatir. Kalau kamu tidak menyukai keduanya, ada juga opsi lain yaitu meledakkan bokongmu, bajingan."


Urso, yang menjadi pucat, segera menatap kearah pintu.


"Di- di luar sana! Ada orang disana?! Hei!  Tolong aku!"


Dia berteriak, tapi di luar sunyi.


'Jika seseorang akan datang, mereka pasti sudah datang daritadi.'


Kehadiran para ksatria di depan pintu menghilang saat Urso masuk. Dia pasti sudah menyuap ksatria di kapel untuk tutup mulut.


Itu ganjaran dari perbuatanmu.


"Siapa, siapa, siapa kamu? Pembunuh yang dikirim dari peternakan Dorie? Atau oleh kepala desa? Eh, tidak masalah dari mana kau berasal. Aku akan memberimu tiga kali lipat emas yang mereka bayarkan!"


"Kamu pasti sudah menyimpan banyak uang. Aku tidak tahu berapa banyak yang sudah kamu curi di sekitar sini."


Tapi Boone sama sekali tidak terkesan. Dia mengangkat leher Urso dan mengangkat tangannya yang lain. Kukunya memanjang, tajam seperti pisau.


"Berhenti!"


Aku buru-buru keluar dari tempat persembunyian.


Mata Urso melebar seolah-olah akan jatuh dalam waktu dekat.


"Kau tidyak bole membunuhnya cekarang." (Kamu tidak boleh membunuhnya sekarang)


"Tapi, ada orang di dunia ini yang tidak layak untuk hidup."


"Aku tauk, tapi tidyak bole." (aku tahu, tapi tidak boleh)


Pria ini seharusnya memeriksa kekuatan ilahi milikku.


Jika terjadi sesuatu pada Urso sebelum pemeriksaan ulang, mereka akan berpikir bahwa Dubblede melakukannya untuk memonopoli kekuatan ilahi ku.


Boone tampak tidak senang, tapi segera melepaskan leher Urso.


Urso jatuh dari dinding, dan terduduk di lantai.


"A- anak takdir?"


Lalu dia menatap Boone seolah dia akan mencabik-cabiknya.


"Oh, jadi kau pengawal Dubblede. Kenapa kamu di sini? Kamu berani mencoba dan menyakiti pendeta?!"


"Sepeltinya orang ini belom tauk situasinya saat ini." (Sepertinya orang ini belum tahu situasinya saat ini.)


Urso, yang berteriak dengan kata-kata kasar, menatapku dengan mata lebar.


Dia pasti menyadari bahwa aku bukan sekedar anak kecil biasa.


"Kamu, kamu..."


Aku menatap Boone.


"Hajar dia, tapi jangawn terlalu banyak agar dia mau membuka mulutnya." (Hajar dia, tapi jangan terlalu banyak agar dia mau membuka mulutnya.)


Wajah Urso menegang, dan wajah Boone menjadi cerah.


...***...


"Peternakan Dowie, Rotwail, Panjiwene, kepala desa, Baron Panoch."


Aku mencubit jariku, menyebut nama orang-orang yang uangnya sudah dicuri oleh Urso.


Lalu aku menatap Urso, yang tampak pucat dan lelah.


"Hanya itu?"


"Ya!"

__ADS_1


"Kamu berbohong. Apa kamu bercanda?"


Saat aku melirik Boone, Urso tersentak dan bergumam,


"Rumah Sakit Modeland dan beberapa pemberi pinjaman uang..."


Dia pasti sudah banyak mencuri.


Aku melihat Boone lagi. Lalu bahu Urso bergetar seolah-seolah akan dipukuli lagi oleh Boone.


'Boone, bisakah kamu membuat 'kontrak', bahkan orang itu tidak memanggil iblis?'


Aku bertanya dalam hati, dan Boone menjawab dalam diam.


[Jika kamu tidak membutuhkan kekuatanku, kamu dapat menggunakan kekuatan ilahi mu untuk menandatangani kontrak.]


Keahlian Boone adalah necromancy. Dia bisa memanggil jiwa yang sudah mati.


"Bisakah pendeta uga menandatangwani kontlak dengan iblis?" (Bisakah pendeta juga menandatangani kontrak dengan iblis?)


"Setiap jenis manusia bisa memulai kontrak denganku."


Aku mengangguk, dan kemudian wajah Urso tercengang.


"I- iblis....?"


"Iya."


"Anak takdir memanggil iblis. Sungguh mengerikan?!"


"Kurasa kau tidak lebih baik dariku, kamu mengantongi uang milik orang lain."


"Bagaimana itu lebih buruk dari memanggil iblis?! Aku hanya akan diberhentikan, tapi kamu akan dipenjara!"


Aku menjawab sambil tersenyum.


"Tidak masalah. Kamu akwan menandatangani kontlak meskipun kamu tidyak menginginkannya."


"Aku pasti sudah gila... membuat kontrak dengan iblis...!"


Saat Urso berteriak, Boone mencengkeramnya dan membenamkannya ke lantai.


"Jika kamu meninggikan suaramu lagi di depan anak itu, aku tidak akan sabar denganmu."


Urso menarik napas dan menjadi lemah.


Aku berjongkok dan menatap Urso.


"Jangwan kawatir. Kamu tidak belada di pihak yang dirugikan dalam kontlak ini."


"Apa, apa yang bisa aku dapatkan jika aku menandatangani kontrak?"


"Kamu tidak akan mati di sini dan kamu bisa pergi."


Aku tertawa cerah.


Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, dan ekspresinya redup.


Aku menatap Boone.


"Beri aku kontraknya."


Boone tampak sedikit tidak puas. Tapi segera dia menghela nafas.


Aku memberi tahu dia isi kontrak.




Urso tidak boleh memberi tahu siapa pun apa yang terjadi di kapel hari ini dan identitas Leblaine.




Urso harus mengembalikan semua uang yang telah diambilnya dari orang-orangnya.




Saat semua persyaratan kontrak dirahasiakan, Leblaine tidak akan membunuh Urso.




"Satu hal terakhir."


Aku membisikkan syarat keempat di telinganya.


...***...


Hari berikutnya.


Aku tertidur sementara Lea memakaikan pakaianku.


"Apa anda lelah?"


Lea bertanya dengan ekspresi khawatir di wajahnya, jadi aku mengangguk.


"Iya."


"Apakah Anda ingin pergi ke pusat kesehatan?"

__ADS_1


Aku dengan cepat menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, akuh hanya melasa mengwantuk." (Tidak apa-apa, aku hanya merasa mengantuk)


"Kita akan kembali ke Dubblede malam ini. Saya akan mengeluarkan selimut baru yang nyaman untukmu."


"Beri aku stawberrie jugak."


Saat aku berbicara dengan sungguh-sungguh, Lea tersenyum dan mencium pipiku.


"Saya akan mengoleskan banyak krim di atasnya."


Menyenangkan!


Aku menggenggam tangan Lea, dan berteriak "Hore!"


Ketika aku melangkah keluar, para pendeta dari gereja pusat telah tiba.


"Akhirnya kita bertemu, Nona Kecil."


Saat kedua pendeta itu menyambutku, pendeta muda itu memandang mereka dengan takjub.


"Wow..."


Ringkasan singkat tentang gereja Kekaisaran Wigentra.


Paus dan kardinal ditempatkan di Vatikan.


Gereja pusat dilindungi oleh 21 pendeta serta gereja kecil dan menengah yang terbentang seperti batang pohon di seluruh kekaisaran.


Posisi pendeta bukan milik rakyat biasa maupun bangsawan.


Meskipun seseorang terlahir sebagai rakyat biasa, mereka bisa menikmati hak seorang bangsawan jika menjadi orang beriman.


Di antara para pendeta semacam itu, di gereja pusat, di mana hanya orang-orang paling terkemuka yang dipilih, menjadi objek kekaguman.


Dulu, semua orang tahu aku palsu, jadi aku tidak tahu kalau pendeta di gereja pusat bisa bersikap seperti ini.


'Sampai ulang tahun kesembilanku, aku diperlakukan dengan baik.'


Aku bahkan pernah dibawa ke Vatikan hanya karena aku jatuh dan lutut ku terluka.


Namun, ketika aku gagal meningkatkan kekuatan ilahi ke tingkat yang mereka inginkan pada ulang tahun kesembilanku, sikap mereka berubah.


Mereka benar-benar kecewa, tidak ada seorang pun, bahkan di gereja, yang menganggapku sebagai anak takdir.


Sekitar waktu itulah Duke Vallua mulai menyiksaku.


Kami menuju ke ruang depan untuk pemeriksaan ulang.


Urso ada di sana sebelumnya.


Para pendeta dari gereja pusat, yang melihatnya mengenakan perban, mendecakkan lidah mereka.


"Harap lebih berhati-hati di hari penting ini...."


Urso menatapku dengan tatapan yang mengandung banyak emosi, tapi segera menghindari mataku saat aku melotot.


Segera setelah aku naik ke mimbar melingkar yang ada di ruangan itu, pendeta dari gereja pusat berkata,


"Kami telah memeriksa kekuatan ilahi mu sebelumnya. Jika kamu duduk diam dan menghitung sampai 100, ini akan segera berakhir, jadi jangan khawatir." Kata pendeta itu menenangkan.


Di belakangku, Lea mengepalkan tangan untuk menghiburku.


Dua pendeta gereja pusat dan Urso mengelilingi mimbar. Dengan satu lutut ditekuk, yang tertunduk mulai berdoa.  Tubuhku semakin panas, dan aku tertelan(?).


...***...


Setelah pemeriksaan, wajah para pendeta yang meninggalkan ruangan tampak cerah. Itu pemandangan yang jelas berbeda dari kehidupan pertamaku saat kekuatan ilahi ku melayang di dasar.


"Aku sangat khawatir bahwa anak takdir mungkin kekurangan kekuatan ilahi.  Akhirnya, kekuatan sucinya meningkat, aku senang. "


"Aku akan segera kembali dan memberi tahu mereka kabar baik."


Para pendeta gereja pusat menekankan peran Urso sebagai pemimpin gereja barat laut.


Gereja di barat laut sedang dalam suasana bergembira setelah pendeta dari gereja pusat kembali ke Vatikan.


Selama anak takdir itu ada, status gereja barat laut dapat dibandingkan dengan gereja pusat.


"Seandainya anak takdir tumbuh dengan aman, bukankah kita akan bisa memindahkannya ke sisi kita?"


"Tidak masalah. Penerima manfaat adalah gereja pusat."


"Bukankah lebih baik bagi Urso, penerima manfaat itu?"


"Ya, sekarang semua gereja di sekitar sini pasti bertekad untuk mengambil alih pendidikan anak itu. Kita perlu mengamankan dia dulu– "


Tapi Urso masuk ke kamar, menutup pintu dengan kasar tanpa menjawab.


Para pendeta menggelengkan kepala, mendecakkan lidah.


"Sementara itu, Urso..."


"Ya, dia sepertinya tidak tahu apa yang terpenting sekarang."


"Sangat disayangkan."


Urso, yang mendengar suara pendeta di luar pintu, dengan keras memukul meja.


'Aku harus menjadi penerima manfaat?  Omong kosong!'


Jika mereka tahu apa yang aku lakukan saat itu, aku akan dibawa ke pengadilan.


'Aku memanipulasi hasil tes anak takdir!'

__ADS_1


...***...


__ADS_2