The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 43


__ADS_3

...***...


Leblaine menggelengkan kepalanya.


"Aku tidyak isa menolongnya." (Aku tidak bisa menolongnya)


"Kalau begitu beri tahu aku cara membuatnya lagi."


"Tapih akan berbeda dari Amy." (Tapi akan berbeda dari Amy.) "


Tatapan Adrian jatuh ke lantai.


Aku teringat akan masa lalunya di kehidupanku sebelumnya. Dialah orang yang memimpin parade kemenangan perang suci dengan menunggang kuda.


Wibawanya dapat dirasakan bahkan sebelum penampilan rupawan nya terlihat di mata orang.


Aku saat itu mengira tidak ada yang bisa menyakitinya.


Tapi anak yang aku lihat sekarang diliputi kesedihan. Hanya dengan melihatnya saja membuat hati sakit.


"Tapi kita bisa membuat kuburan untuk mereka."


Saat aku berbicara dengan suara kecil, Boone gelisah, berkata,


[Nak, sepuluh stroberi mu!], Tapi aku berpura-pura tidak mendengarnya.


Adrian mendongak dan menatapku, aku tidak menghindari matanya.


...***...


"Aku akan menggali lebwih dalam."


Adrian memandang gadis yang menunjuk ke tanah sambil menggendong Amy dengan hati-hati di satu tangan.


"Berapa lama kau akan menggali. Sini."


Gadis itu menggeser tangan Adrian, dan dia mengembalikan Amy padanya untuk dipegang.


Kemudian dia berjongkok dan menggali tanah. Dalam beberapa menit, sebuah lubang berukuran dua kali lipat dari yang dibuat Adrian bisa terlihat.


"Nah, sekarang terlihat seperti tanah kuburan."


Dia anak yang sangat aneh. Dia menggali dengan baik seperti seorang petani.


Adrian juga belum pernah melihat orang yang begitu baik padanya.


'Tapi.'


Tapi jika dia tahu siapa aku, sikapnya akan berubah.


Semua orang begitu.


Keluarga kerajaan, bangsawan, dan bahkan orang-orang istana menganggapnya seperti merusak pemandangan.


Perusak pemandangan yang menakutkan untuk disentuh, dan mengganggu.


Sebagai putra tertua kaisar, dan terus-menerus diperiksa oleh Permaisuri Yvonne, putri sulung Duke Marche, Adrian merasa tidak nyaman.


Secara fisik dia masih hidup, tapi pada saat yang sama dia tidak merasa hidup.


Jadi jika dia tahu siapa dia sebenarnya, semuanya akan berbeda.


Tatapan yang menatapnya seperti sampah akan menjadi gelap karena ketakutan, dan matanya yang hidup pasti akan menjadi suram. Aku merasa menyesal, tetapi kupikir aku harus mengatakannya lebih awal.


"Aku putra tertua dari keluarga kekaisaran."


"Oh benarkah?"


"Aku bilang aku adalah anak dari permaisuri yang sudah meninggal, tapi aku,..."


"Terus?"


Adrian tidak bisa berkata-kata.


Aneh.


Dia seharusnya terkejut.


Meskipun dia tidak tahu tentang hubungan politik mereka yang rumit, wajar saja jika takut dengan kata keluarga kekaisaran.


Adrian menatapnya dengan mata aneh, dan anak itu mendengus.


"Apa itu penting sekarang?"


"....Hah?"


"Kalaw tidak masalah, ayo kita kuburkan."  (Kalau tidak masalah, ayo kita kuburkan.)


Anak itu menarik tangannya.


Tiba-tiba Adrian duduk bersama anak itu, dan membiarkan sepasang ikan yang sudah berubah menjadi air itu kembali ke dalam lubang.


Anak itu menepuk-nepuk air.


"Sekalang, ayo berdoa." (Sekarang, ayo berdoa)


Adrian menatap anak itu yang sedang menyatukan kedua tangannya dengan mata tertutup rapat.


"Kami mohon ijinkan kita bersama untuk waktu yang lama di kehidupan selanjutnya."


"......."


"Bahkan jika kita berkelahi dan marah, ijinkan kita bersama di kehidupan selanjutnya,"


"......."

__ADS_1


Anak itu dengan lembut menatap mata Adrian.


"Biarkan anak ini bahagia."


Seolah-olah anak itu sedang berbicara tentang Adrian.


Dia tidak bisa berkata apa-apa dan menatap anak itu. Adrian tidak tahu mengapa matanya lembab. Untuk memperjelas, ini pertama kalinya dia berpikir dia tidak akan pernah melupakan nama seseorang.


...***...


Setelah mengubur ikan dan berdoa, aku bangkit dari tempat dudukku


"Kamu mau pergi?"


Adrian memegang tanganku dan bertanya, jadi aku menjawab,


"Iya."


"....Datang lagi?"


"Hah?"


"....Kumohon datang lagi."


Matanya menatapku.


"Ya, baiklah."


"Tapi jika kamu tidak datang,...."


Mata Adrian berbinar. Bulu matanya yang panjang berkilau di bawah sinar matahari.


'Wow...'


Dia memang tampan yang bisa menyaingi para Dubblede.


Meski aku sudah terbiasa dengan berbagai macam ketampanan, jantungku tetap berdebar kencang


"Sekarang kita adalah teman. Dan teman menepati janji mereka. Jadi, sampai jumpa suatu hari nanti."


"Teman...."


Mau tidak mau aku tertawa dalam hati melihat Adrian bergumam beberapa kali karena dia sangat manis.


Setelah itu, aku melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal, berbalik, dan lari.


'Aku telat, sangat telat!'


Aku datang ke sini dengan dalih bermain petak umpet, tapi setengah jam sudah berlalu.


Saat aku menuju ke taman, aku mendengar sebuah suara berteriak,


"Anda dimana, Nona Kecil?!"


Para ksatria dan pelayan dengan panik mencariku.


Aku melompat dan berteriak, dan orang-orang berlarian.


"Ya Tuhan...."


Lea merasa lega saat melihatku.


"Anda kemana saja? Saya sangat khawatir, saya tidak dapat menemukan Anda tidak peduli seberapa keras saya mencari."


Tempat aku berada tidak jauh dari taman, tapi jika mereka tidak bisa menemukanku, mungkin karena Adrian telah membangun penghalang.


Aku menjawab, "akuh salah..." (Aku salah...)


Lea mendesah dan membersihkan kotoran dari rokku.


"Tidak apa-apa karena anda aman. Tapi tolong jangan lakukan ini lain kali."


"Iya."


"Kita mendapatkan izin untuk pergi. Sekarang ayo pulang."


Saat dia berkata begitu, aku mengangguk dengan ekspresi cerah.


[Stroberi! Nona kecil, tanyakan apa dia akan memberimu sepuluh stroberi.]


Aku menatap Lea.


"Lea, sepuluh stawberri?"


"Itu...."


Mata Lea menyipit.


"Anda melanggar janji, jadi saya hanya akan memberimu lima."


Ya Tuhan.


Saat ekspresi terkejut muncul di wajah Leblaine, tawa meledak di sekelilingnya.


...***...


Aku hanya bisa mendapatkan lima buah stroberi, tapi aku dalam suasana hati yang baik saat ini.


Uang yang dipinjam Urso dikembalikan ke pemilik aslinya, tapi cukup banyak uang yang tersisa bahkan setelah penyerahan.


'Ada 6.000 franc.'


Hadiah penangkapan Seria sebanyak 30.000 franc, yang berarti jumlah total uang yang aku miliki saat ini adalah 36.000 franc.


'Sekarang, aku harus terus mencari cara menghasilkan uang sehingga aku bisa menemukan tempat tinggal nanti.'

__ADS_1


Aku tahu tentang beberapa hal baik yang bisa aku investasikan.


Masalahnya adalah aku terlalu muda untuk menghubungi target investasi.


Inilah alasan mengapa aku hidup dalam kemiskinan saat aku menjadi pengemis.


Tentu saja, aku harus hidup setenang mungkin karena aku tidak ingin menonjol, tapi karena hal itu, aku tidak bisa berinvestasi.


'Aku membutuhkan orang dewasa untuk membantuku.'


Seria salah satu pilihan, tapi dia memiliki keterbatasan karena sekarang dia dicap sebagai kriminal. Dia masih hidup tetapi harus tetap di penjara.


Aku tidak bisa terus mengandalkan Boone untuk mendapatkan bantuan. Kekuatan suci ku tidak memadai, jadi tidak mungkin bagiku untuk mempertahankan bentuknya selama lima hari ke depan.


'Aku perlu memutuskan kapan harus menggunakan kekuatan Boone.'


Itu kemampuan yang sebenarnya tidak aku butuhkan, tapi sayang untuk tidak menggunakannya.


Selagi aku memikirkan itu, kereta kuda berhenti. Kami telah tiba di kastil Dubblede.


Begitu pintu terbuka, Henry dan Isaac mendekatiku.


"Kenapa kamu pulang terlambat?"


Saat Isaac mendekatkan wajahnya dan menanyaiku, Henry mendorongnya ke samping dan memelukku.


"Kamu mengalami waktu yang sulit, bukan?"


Kemudian Isaac membawaku pergi dan memegang tanganku.


"Aku meminta koki untuk menyiapkan daging favoritmu."


Henry berpaling ke sisi lain untuk berdebat dengan Isaac sambil mengarahkan pertanyaannya padaku.


"Bukankah makan larut malam berdampak buruk bagi kesehatanmu? Aku pikir kamu lebih suka makan sederhana di teras dan sarapan yang lezat besok."


"Tidak sehat untuk tidak makan."


"Anak itu lemah. Jangan bandingkan dia dengan monster sepertimu."


Mereka mencoba menjauhkanku dari genggaman satu sama lain, saat mataku melebar seperti piring.


"Aduh..."


Aku mengerang dan tiba-tiba aku dibawa ke pelukan Duke.


"Jangan berkelahi."


Saat Duke berbicara dengan tegas, Henry dan Isaac saling memandang dengan wajah tidak puas, tetapi segera menjawab, "Iya, ..."


'Oh, lagipula aku masih bisa hidup.'


Sulit untuk terjebak di antara mereka berdua karena perjalanannya melelahkan dan aku bekerja keras untuk membuat Boone diam.


Aku menyandarkan wajahku di pelukan Duke.


Aku sangat lelah tetapi aku harus menyapa mereka.


"Aku kembali."


Kemudian tatapan Duke, Henry, dan Isaac melembut.


"Iya."


"Selamat datang."


"Ayo masuk."


Setelah berada di sini selama beberapa bulan, aku benar-benar merasa seperti kembali ke rumah.


...***...


Keesokan harinya, aku mendapat stroberi yang dijanjikan Lea untuk makan siang.


Saat aku melihat dengan mata berbinar pada stroberi yang penuh dengan krim kocok, Boone bersukacita, berkata, [Bagus untukmu, sayangku.]


Lea memberiku kain alas dada dan mengeluarkan beberapa stroberi dari mangkuk.


"....Tiga, empat, lima."


"Lea, aku menyukaimu."


Saat aku mencium Lea di pipinya sebagai tanda terima kasih, para pelayan menjerit.


"Nona kecil, aku membantu Lea mengoleskan krimnya."


Dan kemudian Dahlia mengulurkan pipinya.


"Aku juga memetik stroberi."


Linda mendekatiku.


"Tolong lakukan untukku juga."


Yuni memiringkan kepalanya ke arahku.


Aku mencium pipi mereka sekali lagi dan mengambil garpu itu lagi.


[Aku juga bisa mendapatkan susu untukmu.]


'Apa?'


[Aku juga bisa memetik stroberi. Haruskah aku muncul dalam bentuk manusia?]


"......"

__ADS_1


...***...


__ADS_2