The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 34


__ADS_3

...***...


Saat yang sama di menara kebijaksanaan.


Rapat dewan dipenuhi oleh banyak bangsawan.


"Di mana ketua yang seharusnya memberikan nasihat dalam situasi seperti itu?"


"Dia mengatakan akan mengasingkan diri untuk sementara waktu karena insiden Teramore."


Semua orang menderita karena insiden Teramore.


"Tentu saja, tapi itu karena batas waktunya telah tiba."


Seorang bangsawan berteriak dengan bersemangat, "Jika ketua tidak maju, kita harus menghentikannya sendiri!"


"Kau sangat keras kepala."


"Tapi jika kita membiarkan hal seperti ini, anak takdir akan mengambil alih Dubblede!"


"Tidak masuk akal bagi orang biasa yang diadopsi untuk mengurus kastil atas nama Dubblede..."


"Kalau saja Duke menikah lagi, hal mengerikan ini tidak akan terjadi. Kenapa kau tidak mencari mulai sekarang?"


"Diperlukan setidaknya satu atau dua tahun untuk menemukan keluarga yang cocok."


"Yah, Duchess seharusnya punya putri lagi. Dengan begitu, dia tidak akan terpengaruh oleh gadis yang tidak berkualifikasi."


Tetua, yang duduk di kursi atas nama ketua, mengusap dagunya.


"Tunggu... cukup memiliki putri lain yang memenuhi syarat, kan."


"Maaf?"


Dia kembali menatap Baron Walston, "Berapa umur putrimu?"


"Apa?"


...***...


Kehidupan sehari-hari ku menjadi kacau.


"Nona kecil, karyawan sayap kami telah melayani darah Dubblede dari generasi ke generasi. Saya yakin itu akan membantu jika kita ada."


"Le, Lea, dan kita semua akan merawatnya dengan baik!"


Para karyawan sangat sibuk setiap hari. Aku melarikan diri ke taman untuk melarikan diri dari para pelayan dari sayap barat.


'Aku merasa sangat lelah akhir-akhir ini sehingga aku tidak punya waktu untuk pergi ke rumah kaca untuk melihat uang-uangku.'


Aku berjongkok di belakang pohon besar dan menahan napas sampai para pelayan pergi menjauh.


'Ayo main di sini lalu kembali lagi nanti malam.'


Aku melihat bunga-bunga di taman.


Angin musim dingin belum menghilang, namun bunga-bunga bermekaran. Itu karena Batu Mana.


Semakin jelas warnanya, semakin besar kekuatan yang bisa ditampungnya, batu mana di taman itu sangat jelas. Selain itu, itu sangat besar.


'Akan lebih baik untuk membawa itu bersamaku saat aku membelot nanti.'


'Pasti sangat mahal.'


Itulah yang aku pikirkan saat memetik bunga di taman. Aku membuat karangan bunga untuk Lea.


Lea lebih menyukai bunga liar yang ditemukan di pinggir jalan daripada yang dirawat oleh tukang kebun. Jadi aku mencari bunga liar kecil yang belum pernah dilihat oleh tukang kebun.


Aku begitu fokus pada bunga sehingga aku tiba-tiba menabrak seseorang.


"Waa!"


"Agh!"

__ADS_1


Gadis yang menabrakku berteriak dan jatuh. Itu adalah seorang gadis yang terlihat seusiaku. Dia mengenakan topi bertepi lebar dan gaun renda, yang terlihat mahal.


'Oh, aku harus membantunya berdiri.'


Jadi aku mengulurkan tanganku.


Anak itu menepis tanganku dan mengerutkan kening. Jadi, aku berdiri dan menatapnya.


Gadis itu tiba-tiba berkata, "Apa yang kau lakukan?"


"Hah?"


"Kamu harus minta maaf."


Aku mengangguk pelan dan berkata, "Mari saling meminta maaf."


"Apa?"


"Kita berdua menabrak satu sama lain."


Dia mengerutkan kening, lalu, "Dik!" Aku bisa mendengar suara Isaac.


"Di mana dia..."


Anak yang bergumam itu mencari-cari di taman. Kemudian, matanya berkilau ketika matanya menemukan mataku. Lalu Isaac melompati tanaman.


"Kau disini ternyata."


"Isaak mengikutiku lagi?"


Setelah insiden Jacob, aku diberi alat pelacak.


Perangkat ini tidak hanya mampu mencari lokasi ku sendiri, tetapi juga menunjukkan rute pelarian dan memungkinkan untuk panggilan darurat.


"Oh, kamu marah?"


"Iyah, kau selalu mengikutiku."


Meskipun mereka telah memasang alat pelacak pada ku, kekhawatiran mereka tetap ada. Sesekali, Henry akan memeriksaku. Isaac bahkan lebih buruk lagi, dia selalu berusaha menemuiku di waktu luangnya.


"Kamu tidak akan marah jika kamu tahu apa yang aku katakan pada mereka untuk menyiapkan camilan hari ini."


".....Apa?"


"French toast."


"Kenapa kamu baru datang sekarang?!" Aku menyambutnya dengan hangat.


French toast adalah camilan favoritku, direndam dalam telur setengah matang dan diberi madu dan mentega.


Namun, koki selalu menghancurkan harapanku dengan mengatakan, "Saya tidak bisa memberikan makanan yang hanya dimakan orang biasa."


"Ya ampun, kamu ternyata nona kecil." Gadis yang aku temui tadi tiba-tiba bersuara.


"Aku minta maaf karena tidak menyapamu lebih awal."


Isaac mengerutkan kening. "Apa, kenapa kamu disini?"


"Senang bertemu denganmu lagi."


Anak yang tadi menabrakku tersenyum malu-malu dan menundukkan kepalanya. Lalu dia menatapku.


"Nama saya Cattlea Walston. Saya sepupu ketiga Dubblede."


"Sepupu ketigwa?"


"Iya. Kau terkejut sebelumnya, bukan? Maafkan aku. Aku tidak mengenalmu karena kamu berpakaian sangat sederhana."


Pakaianku memang sederhana. Itu karena jari Duke pernah tersangkut di dekorasi gaun mewah yang kupakai terakhir kali.


Isaac juga mengatakan bahwa gaun ku menjengkelkan, sementara itu Henry hanya tersenyum kepada karyawan yang bertanggung jawab atas pakaianku dan berkata, "Kalau ini terjadi lagi, aku akan menguliti kulitmu dan menjadikan pakaian untuknya."


Setelah itu, aku hanya memakai pakaian yang nyaman dan polos tanpa dekorasi apapun.

__ADS_1


Selain itu, karena aku sedang berjongkok di tanah, gaun ku terlihat kotor. Gadis itu melanjutkan, memegang tanganku dengan kedua tangannya.


"Tolong maafkan aku." Dia melanjutkan ucapannya. "Kita seterusnya akan tinggal bersama di kastil. Mari merasa nyaman satu sama lain."


Tinggal bersama di kastil? Aku dan Isaac saling memandang, mata kami terbelalak.


...***...


Aku kemudian mendengar tentang siapa Cattlea, saat aku memasuki ruangan bersama dengan Isaac. Dia bilang dia berumur dua belas tahun, tapi dia agak dewasa sebelum waktunya. Dia cukup pintar untuk mengungkapkan banyak kata-kata sulit.


Wajah Isaac terlihat bengkok, menusuk stroberi dengan garpu dan menyerahkannya padaku.


"Kenapa mereka kembali melakukan pendidikan silsilah yang biasanya tidak mereka lakukan?"


Aku melihat ke arah Henry. Pendidikan silsilah mengacu pada sistem di mana keluarga mengumpulkan dan mengelola semua anak Dubblede untuk mengontrol keluarga. Sistem di mana Duke tidak punya pilihan selain menyerahkan ketiga bersaudara itu kepada para pendahulunya.


Henry berkata dengan nada acuh tak acuh. "Kudengar itu permintaan sukarela dari Walston."


"Bukankah dia gila? Setiap keluarga selalu merinding karena takut kami akan mengambil anak mereka."


"Benar."


"Aku khawatir Duke akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pendahulunya."


"Jadi, kalau dia akan melakukannya? Memangnya kenapa?"


Henry menatapku dan menoleh pada pertanyaan Isaac. Tiba-tiba suara lembut terdengar.


"Aku harus makan di ruwang makan sekarang."


"Kamu belum kenyang?"


Gaes, ada yang namanya 'perut terpisah untuk camilan dan makanan'.


"Yah tentu saja," Mereka berdua tertawa


"Ayo pergi."


Aku meraih kedua tangan mereka dan menuju ke ruang makan. Ruang makan yang dijuluki bukanlah meja makan biasa. Itu seperti meja untuk rapat.


Ketika aku memasuki ruang makan, aku melihat bangsawan yang kulihat kemarin duduk di sekitar meja. Ketika anak-anak Duke muncul, mereka semua bangkit dari tempat duduk mereka, meletakkan tangan mereka di dada, dan menundukkan kepala.


Aku sedikit gugup memberikan salam sopan kepada mereka yang berkuasa, tetapi saudara-saudara sudah terbiasa dengan ini.


Saat kami duduk di sisi kiri meja, Cattlea, yang berada di seberang sisi, tersenyum cerah dan berkata, "Dia juga di sini."


Kemudian, Duke muncul.


Sapaan sopan lainnya menyusul. Duke duduk dan makan dimulai. Saat orang dewasa membicarakan hal-hal yang sulit, aku fokus pada makanan.


'Daging sapi, aku menyukainya.'


Jenis teknik apa yang digunakan koki ya? Makanan ini... meleleh saat menyentuh mulutku, menyelimuti indera perasa ku dengan kelembutannya. Hanya menyisakan sisa rasa yang beraroma di dalamnya. Itu adalah rasa yang belum pernah aku rasakan bahkan di hari-hari ketika permaisuri memujaku sebelum aku kembali. Itu dulu.


"Ah!"


"Maaf, saya terkejut."


Istri Baron Wilston, ibu Cattlea, bertanya, "Apa yang kau lakukan?"


Cattlea turun dari kursi tanpa menjawab. Kemudian dia mendatangiku dan menyeka wajahku dengan serbet.


"Nah, sudah." Dia berkata saat aku berkedip bingung menatap Cattlea.


'Tapi aku tidak makan dengan banyak saus di wajahku.'


Saat ini adalah makan malam yang penuh dengan orang-orang penting, jadi aku sangat menjaga citra ku.


Cattlea tersenyum dan kembali ke kursinya. Kemudian dia melirik Duke dan meletakkan daging di piringnya dengan ekspresi malu-malu.


"Ini enak, kuberikan pada Duke." Dia tertawa bahagia saat mengatakannya.


Para tetua hanya menyeringai.

__ADS_1


...***...


__ADS_2