The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 72


__ADS_3

...***...


"Bi, biar saya jelaskan, ini jelas salah paham... Ini… "


Count Pegnac mencoba menjelaskan dengan gemetar.


"Lucu."


"Ma, maaf?"


"Kamu bahkan belum mendengar satu pun penjelasan dari anakku, kamu juga tidak melihat kejadiannya."


"I, itu…"


"Kamu seenaknya membuat kesimpulan tanpa mendengar keseluruhan cerita."


Seperti yang dikatakan Duke, Billy Pegnac berkata,


"Saya akan menjelaskan! Saya hanya mencoba mendengarkan keinginannya!"


"Keinginan putriku?"


"Dia menyukaiku jadi dia ingin menikah denganku!"


Boom!!


Dinding ruangan disini hancur dengan suara gemuruh.


Semua orang membeku. Kemudian Henry menatapnya,


"Ah maaf. Aku terlalu terkejut sampai gagal membidik dengan benar."


"…..."


"Sayang sekali, padahal aku mengincar kepala orang gila."


Wajah Billy memucat.


"Jadi, Leblaine, apa kau tahu apa yang dikatakan orang gila itu?"


Saat Henry bertanya dengan senyum ramah, aku mengerutkan kening.


"Aku tidak tahu. Dia mengatakan hal aneh sejak tadi. Dia bilang dia akan mengajariku cara merayu seorang pria."


Saat aku berbicara dengan polos, Billy Pegnac berteriak.


"Orang tuaku bilang kamu menyukaiku!"


Count Pegnac dan istrinya memucat.


‘Anak bodoh!’


Seperti menuangkan minyak ke dalam api yang akan menelan seluruh keluarga.


"Tu, tuan Duke ..."


Tepat setelah Count Pegnac membuka mulutnya,


Boom!!


Suara gemuruh lain terdengar dengan pingsannya Count Pegnac. Tangan Duke diselimuti aura hitam.


"Kamu pasti banyak bicara."


Duke Dubblede berbicara dengan ekspresi suram di wajahnya.


...***...


Count Pegnac dan istrinya menyatukan tangan mereka sambil berlutut di bawah kaki ayahku.


Billy yang selalu sombong bahkan melakukannya juga.


Mereka segera mencap dokumen yang menyatakan akan menyerahkan pelabuhan secara gratis, tidak hanya itu, Pegnac juga akan menyerahkan dua rumah atas nama keluarga Pegnac.


Aku menuju ke kamar Isaac.


Tapi ada orang lain yang datang sebelum aku. Itu adalah Henry.


"Bodoh."


"..…."


"Idiot."


"...…."


"Tolol."


"Hei!"


Isaac, yang mendengar sumpah serapah Henry, merasa kesal. Henry mengoleskan salep ke dahi saudaranya yang cemberut.


Luka itu dia dapatkan karena tidak menghindari puing-puing dinding yang runtuh.


"Untung Leblaine menghentikanmu. Jika kamu meneruskannya, kamu sudah berada di penjara sekarang."


"Aku tahu, tapi aku tidak ingin anak itu mendengar kata 'yatim piatu' lagi."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu harus membuat cerita lain."


"Cerita apa?"


"Seperti, dia gila dan memukulmu lebih dulu."


"Tapi dia waras."


"Kebohongan sederhana bisa mengeluarkanmu dari situasi seperti tadi. Insiden bisa dimanipulasi sebanyak mungkin."


'Henry, apa yang kamu ajarkan padanya…?'


Isaac berkata,


"Brengsek kau. Tapi keren."


Kemudian Henry melanjutkan mengoleskan salep pada luka Isaac yang sedang mengangkat kedua jempol tangannya.


"Ngomong-ngomong... Kerja bagus sudah menghabisi bajingan itu."


Mata Isaac membelalak. Segera dia menggaruk daun telinganya yang memerah. Ini pertama kalinya Henry memujinya, jadi dia merasa canggung sekaligus senang


Keduanya rukun karena suatu alasan. Aku menyeringai dan memasuki ruangan.


"Ah, kalian akur hari ini~"


Saat aku berbicara sambil bercanda, Isaac dan Henry langsung mengernyit.


"Tidak!"


"Tidak."


"Kenapa? Akur itu baik."


"…..."


"......"


Keduanya saling pandang.


Di kehidupanku yang sebelumnya, mereka tidak dalam hubungan yang baik, mereka membuat aturan untuk tidak saling mengganggu kecuali urusan keluarga.


Namun dalam kehidupan ini, keduanya cukup dekat. Meskipun mereka bertengkar, mereka sering bersama, dan mereka juga saling menjaga.


'Syukurlah.'


Aku menatap mereka berdua dengan perasaan senang.


'Alangkah baiknya jika kedekatan antara tiga bersaudara semakin dalam.'


Tapi aku belum pernah melihat Johan Dubblede sebelumnya. Bahkan selama liburan akademi, dia tidak kembali ke rumah.


'Tahun depan, dia akan lulus.'


Johan sering bertemu dengan Mina, jadi aku mendengar banyak rumor tentangnya. Tapi aku tidak begitu tahu orang seperti apa dia.


Aku merenung dan melihat ke arah Henry dan Isaac.


"Kak Johan orang yang seperti apa?"


"Kakak tertua? Dia..."


Isaac yang berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik.


"Orang yang tanpa emosi."


"Lebih dari ayah?"


"Mereka berdua sama-sama menakutkan, lagipula, kakak tertua berhati dingin, menakutkan seperti monster, iblis... hmm."


Saat Isaac tenggelam dalam pikirannya, Henry menegurnya,


"Jangan menakuti Leblaine."


"Tapi aku benar. Hei, Dik. Bahkan dia takut pada kakak tertua kita! Ugh!"


Isaac, yang dipukul oleh Henry, mengerang.


Henry adalah pria yang tidak perlu takut kecuali pada ayahnya. Bahkan ketua senat dan Viscount Dubos memperlakukannya dengan hati-hati.


Saat aku menatap ke arah Henry, dia menutup botol salep dan tampaknya sedikit terganggu.


"Kakakku adalah lawan terberat untuk orang sepertiku."


Henry memiliki bakat khusus untuk mengintimidasi, mengubah opini publik, dan pandai membuat strategi, dia adalah tipe orang yang menggali kelemahan dan menghancurkan musuh dengan sendirinya.


'Artinya Johan adalah orang yang sangat kuat tanpa kelemahan.'


Henry berkata sambil menyisir rambutku,


"Jadi Leblaine, jika kamu melihatnya, hindari dia sebisa mungkin."


"Kenapa?"


"Jangan pernah menjadi musuh bagi orang seperti dia. Dia tidak bisa dihentikan oleh siapapun."


"..….?"

__ADS_1


"Jangan sentuh apa pun yang dia anggap berharga, atau dia akan berubah menjadi monster dan membunuhmu."


"Lebih kejam dari Isaac?"


"Bocah ini bukan tandingannya."


Henry mendorong Isaac dengan sengaja, dan Isaac marah.


Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa kepala keluarga Pegnac telah berubah.


Aku tidak tahu bagaimana mereka melakukannya, tapi seorang kerabat yang sangat, sangat jauh, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pegnac sebelumnya, mengambil alih keluarga itu.


Count baru Pegnac menundukkan kepalanya di bawah kaki ayahku dan bersumpah setia.


...***...


Daerah perbatasan.


Pengikut Dubblede, Viscount Myshank dan Baron Sue, memegang tangan mereka dengan erat dan membasahi bibir kering mereka.


Ada segunung mayat yang bertumpuk di depan mereka.


Tanpa ragu, seorang pemuda mengangkat tubuh mayat yang mati dalam keadaan sangat mengerikan dan mengguncangnya.


Pemuda yang menginjak gunung mayat itu lalu membuang mayat di tangannya, bertanya,


"Identitas mereka?"


"Ya? Oh, benar!"


Myshank bergegas ke tubuh itu dengan wajah pucat.


Dia tidak menemukan fitur yang menarik perhatian, tapi pola mencolok di pergelangan kaki tubuh mayat itu menarik perhatiannya.


"Blu, bluebeard! Ya, kami saling berhadapan. Mereka pasti adalah prajurit bayaran Bluebeard!"


Setelah mendengar identitas tubuh itu, wajah Baron menjadi lebih pucat dari sebelumnya.


Tentara Bluebeard setidaknya adalah seorang prajurit bayaran Tingkat 2 atau Tingkat 1, yang memanfaatkan keuntungan geografis mereka di daerah perbatasan.


Para prajurit bayaran itu dihancurkan seperti korek api.


Oleh seorang pemuda yang baru saja melewati masa puber.


Pemuda itu bergerak perlahan. Orang terakhir yang tersisa, yang tidak bisa bergerak saat rekan-rekan prajuritnya sekarat, mundur dengan ketakutan.


"Jangan, jangan mendekat… Jangan mendekat! Monster ini, Argh!!"


Prajurit terakhir dicekik oleh aura hitam yang mengalir keluar dari tubuh pemuda itu.


Dia jatuh dengan keras.


"Argh!"


Pemuda itu menginjak leher prajurit terakhir seolah-olah dia adalah seekor serangga.


Myshank berkata,


"Kenapa kalian berani menabrak kereta dengan lambang Dubblede?"


"Hah... argh…"


Saat prajurit terakhir itu mencoba menjawab.  Tangan pemuda itu dengan kasar masuk ke mulutnya.


Dia menarik lidahnya dan memotongnya.


"Argh... argh!!"


"Sssh—"


Pemuda itu berkata dengan suara yang manis.


"Jangan membuatku tidak tertarik."


Pada saat itu, aura hitam muncul dari tangan yang memegang potongan lidah dan mulai menyerangnya.


Prajurit bayaran yang gemetar seperti serangga di ambang kematian, terkulai tak bernyawa.


Viscount Myshank menelan ludah dan memberinya sapu tangan.


Pemuda itu dengan lembut menyeka darah merah dari tangannya bertanya,


"Sudah berapa lama sejak aku pulang?"


Keduanya buru-buru menundukkan kepala dan tidak mengatakan apapun.


Ucap pemuda yang membuang sapu tangan ke tanah.


"Pergi ke wilayah Dubblede."


Kedua pengikut Dubblede saling bertukar pandang tapi tidak berani mengajukan keberatan.


Rambut perak yang menyerupai Duke Dubblede di masa mudanya, melambai lembut tertiup angin kering perbatasan.


"Ya, tuan Johan."


Viscount Myshank dan Baron Sue membungkuk dalam.

__ADS_1


Setelah 5 tahun, dia akhirnya kembali ke rumahnya.


...***...


__ADS_2