The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 25


__ADS_3

...***...


"apwakah ada orang baru nyang dathang ke kastil?" (Apakah ada orang baru yang datang ke kastil?)


"Ya, administrator baru mengikuti tes bulan lalu dan beberapa dari mereka lulus. Babak kedua ujian akan diadakan besok. Jika mereka lulus tes kedua juga, mereka akan menjadi administrator baru Dubblede."


Ketika lowongan itu di publikasikan, orang-orang berbakat dari seluruh negeri segera datang untuk menghadiri tes. Itu merupakan peluang besar bagi mereka. Dubblede tidak pernah peduli dengan latar belakang seseorang, walaupun mereka orang biasa ataupun bangsawan, tidak masalah baginya selama kemampuan mereka bagus.


Dengan cara mempekerjakan orang seperti itu, tak heran Dubblede bisa memiliki begitu banyak orang berbakat di sisinya. Sayangnya, ada beberapa kerugian dari sistem itu. Salah satunya, bahkan penjahat buronan bisa masuk karena betapa lemahnya pemeriksaan latar belakang.


'Menangkap pelaku akan lebih mudah dari yang aku bayangkan.'


Di tengah-tengah sesi belajar yang kulakukan dengan Nos, pintu terbuka ketika Henry dan Isaac datang. Nos, yang melihat keduanya, dengan penuh pertimbangan memberiku waktu istirahat dan menyelinap pergi untuk sementara waktu.


Isaac langsung mendatangiku.


"Hey! Bagaimana keadaanmu?"


"...?"


"Flu itu. Kondisi mu membaik kan?"


"Iya."


Mendengar suaraku yang lemah, Isaac mengerang kesal. Dia memandang Henry lalu bertanya.


"Kenapa dia begitu lemah?"


"Itu karena dia masih kecil, Isaac."


"Tapi aku sangat sehat ketika aku sekecil dia."


"Itu karena kau monster."


Henry mendorong Isaac menjauh dariku dan mengambil tempatnya sebelum mencondongkan tubuhnya, sehingga matanya bertemu dengan milikku. Dia menatap mataku dengan saksama dan menyapa ku.


"Halo, Leblaine."


"Halo...."


"Apakah kau memperhatikan sesuatu yang aneh sejak kamu pingsan? Apa kau menemukan bintik-bintik hitam di tubuhmu, atau ada yang salah dengan kekuatan ilahi mu? Itu gejala orang-orang yang terkena kutukan..."


Sebelum aku bisa menjawab, Henry melanjutkan dengan ekspresi sedih dan penyesalan.


"Maafkan aku... Blaine. Aku mengatakan hal-hal yang sangat kasar padamu terakhir kali."


"Aku ingin meminta maaf. Jika tidak apa-apa, maukah kau memaafkanku?"


Aku teringat ucapan Henry yang tidak berperasaan pada hari itu, kata-katanya sedikit menyakitiku, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan semua jenis penghinaan menyakitkan yang harus aku hadapi dalam kehidupanku sebelumnya. Terutama ketika aku tahu dia bersikap defensif karena kelemahannya.


"Ya, Henli. Tidak apa apwa. Aku memaapkanmu." (Ya, Henry. Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu)


Ekspresi sedih Henry berubah menjadi senyum cerah ketika dia menepuk rambutku dan berkata,


"Kamu yang paling manis, Blaine. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua."


Wow.


Senyum lembutnya yang hangat bahkan berhasil membuat para pelayan menjerit.


Isaac mengerutkan kening pada Henry.


"Mengapa perlakuanmu terhadapnya dan aku sangat berbeda?"


"Karena aku hanya peduli dengan orang-orangku."


"Sejak kapan anak itu menjadi orangmu? Dia adalah adik perempuanku!"


"Adikku."


"Tidak. Punyaku!"


Mereka saling melotot sepanjang perdebatan sengit. Aku, sebagai pengamat, terkejut melihat interaksi yang tidak biasa di antara mereka.


'Apa yang salah dengan mereka berdua!'


Di tengah perselisihan mereka, langkah kaki yang masuk bisa terdengar dari luar pintu. Itu Duke.


Dia tertegun ketika melihat kedua putranya sedang berselisih.


'Duke, anak-anakmu melakukan hal aneh.'


'Tolong bawa mereka pergi.'


Aku mencoba menyampaikan permintaan itu dengan mataku, tetapi alih-alih menyeret putra-putranya pergi, Duke tiba-tiba menggendongku.


"Putriku."


...***...


Henry dan Isaac mengerutkan kening ketika Duke masuk dan mencuri Leblaine dari mereka di lengannya.


'Aku tidak suka.'


'Sangat jahat.'


Keduanya berkeliaran di depan kamar Leblaine selama beberapa hari terakhir ini. Mereka ingin melihat bagaimana keadaannya. Namun, ketika mereka diberitahu bahwa dia perlu pulih, mereka menahan keinginan mereka untuk melihatnya.


Namun, Duke secara teratur mengunjungi kamar untuk memeriksa kondisi Leblaine.


Dan setiap kali dia berkunjung, dia akan membawa makanan ringan yang disukai Leblaine.

__ADS_1


Kedua bersaudara itu hanya bisa mendengar suara Leblaine memuji Duke dari luar ruangan dengan dendam.


Isaac menatap Duke dengan tidak puas.


"Tidak adil."


"Tidak adil?"


"Anda satu-satunya yang bisa melihat anak itu!"


"Apa yang tidak adil tentang seorang ayah melihat putrinya?"


"Itu... tapi..."


Isaac kehilangan kata-kata dan memutar matanya. Melihat kekalahan saudaranya, Henry melangkah kedepan untuk menyelamatkannya.


"Kita juga butuh waktu untuk bersama Leblaine. Pasti terasa canggung baginya untuk selalu ditemani oleh Anda."


"Dia benar!"


Kakak-beradik itu yang biasanya tidak tahan dengan kehadiran satu sama lain, sepenuhnya rukun hari ini.


"Lain kali. Anak ini masih sakit hari ini, jadi kalian berdua harus pergi."


"Anak itu berkata kondisinya baik!"


"Ya, dokter Leblaine mengatakan dia baik-baik saja sekarang."


Perselisihan pendapat antara ketiganya masih berlangsung. Pada akhirnya, mereka bertiga menoleh padaku dan memintaku untuk memilih salah satu dari mereka.


"Leblaine, apakah kamu tidak ingin bersama ayahmu?"


"Hey, kamu tidak mau bermain dengan kami?"


"Siapa yang lebih kau sukai? Hah?"


Leblaine menatap mereka dengan panik, dengan gugup bermain dengan jari-jarinya.


Tiga orang di perpustakaan menunggu dengan penuh semangat respons anak itu.


"Lea!"


Tiba-tiba Leblaine melompat keluar dari lengan Dukeuke dan berlari ke Lea, yang baru saja memasuki perpustakaan.


"Lea ywang terbaek." (Lea yang terbaik)


"Ya ampun, terima kasih banyak, nona kecil.  Saya menyukai Anda juga."


"Bagaimana kalau kita pergi ke ruang makan?"


"Iya."


Leblaine menarik tangan Lea dan keduanya meninggalkan perpustakaan, meninggalkan tiga orang di ruangan itu.


...***...


Dilihat dari luar, mereka seperti ayah dan saudara yang menjenguk putri dan adik mereka yang sakit.


'Tapi aku tidak percaya.'


Salah satu hal yang aku pelajari ketika aku berada di Duke Vallua, adalah setiap kali aku bersemangat dengan gagasan 'keluarga', akhirnya menjadi salah satu cara mereka untuk memeras ku melalui keinginan bodohku.


Lea tersenyum padaku dengan ekspresi kagum di wajahnya.


"Nona kecil, apakah kamu bersemangat untuk makan siang?"


"Kurasya begituh..."  (Kurasa begitu...)


"Ini cream stew favorit Anda. Saya meminta koki untuk menambahkan banyak daging."


Ketika aku mendengar bahwa aku akan memakan sup krim untuk makan siang, pikiran buruk itu menghilang dan aku segera merasa jauh lebih baik. Aku memegang tangan Lea lebih erat saat aku meyakinkan diriku sendiri.


'Tentu saja, Lea yang terbaik.'


Sup yang disajikan oleh staf dapur terasa lebih baik daripada yang aku kira. Setelah makan siang, aku menghela nafas puas sambil menggosok perutku yang mengembang penuh dengan dua mangkuk cream stew.


...***...


Isaac bersama Henry sedang menuju ke tempat latihan. Tidak seperti ekspresi cerahnya yang biasa, raut cemberut terlihat di wajahnya.


"Mengapa anak itu lebih suka bersama pelayan daripada kita?"


Kalau dipikir-pikir, itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali dia diabaikan ketika Lea datang.


"Apakah dia lebih suka bersama pelayan daripada aku, kakaknya? ...Tidak mungkin!"


"Kamu berbicara omong kosong, Isaac."


Isaac, yang mendengar jawaban saudaranya, mengerutkan kening.


"Itu memang benar! Bocah itu bahkan mengatakan bahwa dia paling menyukaiku. Tidakkah kau ingat ketika aku memberikan kue itu kepada anak itu, dia berkata, 'Isaac adalah yang terbaik!', 'Isaac sangat keren'?"


Isaac berkata dengan penuh kemenangan. Henry mempersempit jarak di antara mereka.


"Kamu terlalu besar kepala."


"Aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Anak itu sangat mencintaiku. Dia bahkan berkata, "Isaac, aku senang melihatmu.", Ketika dia melihatku."


Selama ini, tidak ada yang senang bertemu dengan Isaac.


Orang-orang akan selalu menyambutnya dengan kaku karena statusnya yang tinggi. Bahkan anak-anak bangsawan dengan sengaja menghindarinya.

__ADS_1


Henry membalas, mengerutkan dahinya.


"Leblaine juga menyapa orang lain."


Sinar kecil matahari akan muncul di kastil suram Dubblede dan menyapa semua orang dan menghibur mereka dengan senyum gembira nya.


Isaac berhenti berjalan.


"Lalu, anak itu tidak menyukaiku?"


Dia tampak patah hati. Henry mengangkat bahu dengan tidak simpatik,


"Dia tidak membencimu. Aku tidak tahu seberapa dia menyukai mu, tapi kau tidak di daftar teratas."


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya sangat menyukaiku?"


Henry mengerutkan kening atas pertanyaan saudaranya.


"Aku juga ingin tahu jawabannya."


Biasanya, lebih mudah bagi orang untuk berkenalan dengan Henry daripada dengan anggota keluarganya yang lain.


Tidak seperti Duke, Johann dan Isaac, dia hebat dalam bergaul dengan orang lain dan seorang pembicara yang hebat.


Tapi Leblaine berbeda.


Anak itu netral dan objektif.


'Aku perlu melakukan sesuatu untuk membangun hubungan di antara kita.'


Ketika dia merenungkan apa yang harus dilakukan, para pelayan melintasi koridor dengan mainan di tangan mereka.


"Apa kau membelinya?"


"Ya, untungnya aku pergi ke sana lebih awal. Setelah membeli mainan, aku melihat orang-orang mengantri di luar pintu hanya untuk mendapatkan salah satunya. Hari Anak sudah dekat, itu sebabnya toko mainan sangat ramai."


Henry dan Isaac, yang mendengar percakapan para pelayan, mengalihkan pandangan mereka pada hadiah yang berada di tangan para pelayan.


"Isaac."


"Hm. Apa kau memikirkan apa yang ku pikirkan?"


"Iya."


"Bekerja sama?"


"Oke."


Mereka bergaul dengan baik untuk pertama kalinya. Mereka tidak tahu, dari sudut aula, sepasang mata yang tajam mengawasi setiap gerakan mereka.


"Jadi mereka berdua berencana pergi ke toko mainan untuk membeli hadiah."


Duke, yang diberitahu kabar itu oleh Nos, tertawa.


"Aku tidak percaya mereka membeli hadiah untuk nona kecil."


Kata Nos, sambil tersenyum canggung. Dia tidak pernah membayangkan akan ada hari di mana Isaac dan Henry akan membeli seseorang hadiah atas inisiatif mereka sendiri.


"Jadi mereka berusaha mengubah pikiran anak itu dengan sogokan...."


Duke berdecak dengan jengkel, lalu memerintahkan Nos.


"Belikan aku toko mainan terbesar untuk anak itu."


"...?"


Duke menatapnya dengan tatapan tidak senang.


"Apa yang kamu lakukan berdiri di situ?  Pergi belikan aku toko mainan terbesar sekarang."


Nos, yang sekali lagi ditugaskan dengan pekerjaan yang absurd, hanya bisa menghela nafas pasrah.


...***...


Dua hari kemudian


Ketika aku mendengar sekelompok administrator baru telah datang, aku menuju ke lantai pertama tempat mereka menunggu. Aku menempel dekat sudut halaman dan mencoba mengintip para administrator baru.


'Wahai Uangku. Siapa kriminal yang akan menjadi sumber uangku, ya?'


Aku memindai mereka semua dengan cermat, namun semuanya tampak normal. Tak satu pun dari mereka yang menunjukkan perilaku mencurigakan.


Yah, aku seharusnya tidak menentukan mereka hanya dari penampilan mereka.  Hanya karena kau seorang penjahat, itu tidak berarti bahwa tanda seorang buronan akan tertulis di dahimu.


Ketika Nos, manajer umum administrator, mengumumkan agenda mendatang negara untuk bulan ini dan alokasi departemen, mataku bertemu dengan beberapa administrator baru.


"Hah? Itu bocil."


Beberapa administrator baru memperhatikan bahwa aku ada di sana.  Nos dan para pegawai yang ada mengikuti pandangan mereka dan menemukanku bersembunyi di balik dinding. Nos dan para pegawai terkejut menemukanku tetapi segera menundukkan kepala mereka.


Karena ketahuan dari tempat persembunyianku, aku keluar dari balik tembok dan berkata,


"Halo."


Nos menggendongku di lengannya dan menuju ke depan.


"Dia adalah putri bungsu Duke, Leblaine."


Kemudian dia melirik administrator baru yang memanggilku 'bocil' dan menegurnya.


"Dan bukan sembarang bocah."

__ADS_1


...***...


__ADS_2