The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 54


__ADS_3

...***...


Setelah Henry menyerahkan orang-orang yang memata-matai mereka ke kastil, dia datang ke sini bersama Duke.


Tidak akan terlalu sulit untuk menemukan lokasi ku karena ada alat pelacak pada diriku.


Bersama-sama kami naik kereta kuda kembali ke kastil.


Aku melamun sepanjang perjalanan.


'Apa yang terjadi?'


Mengapa Andy mengetahui taktik Zachary?


Nama anak laki-laki itu Andy. Daftarnya juga jelas menuliskan nama Andy.


'Selain itu, dia sangat lemah.'


Aku takut dia akan dipukuli oleh para pelayan.


Seorang ksatria yang begitu kuat, tulus dan bijaksana, tidak mungkin orang itu adalah Andy.


Saat aku mengkhawatirkan tentang itu, sebuah tangan menyentuh pipiku. Isaac yang melakukannya.


"Maaf, aku seharusnya datang lebih cepat."


"Tidak apwa apa."


"... Dik, kenapa kamu selalu berkata bahwa kamu baik-baik saja?"


"Hah?"


Isaac terlihat sangat kesal.


Aku telah mengalami banyak hal dalam hidup, dan aku pernah mengalami masa-masa sulit. Itu hal yang normal bagiku, yang terjadi tadi di panti asuhan juga tidak terlalu penting.


Kehidupan keempat ku di sini sangat memuaskan. Dan aku siap untuk membelot, jadi aku tidak menginginkan apa pun.


Isaac, yang menatapku, bahunya menurun. Mata Henry sedih, dan Duke tidak mengatakan apa-apa.


Saat aku turun dari kereta kuda, matahari sudah terbenam.


Isaac dan Henry kembali ke kamar dengan ekspresi redup, dan aku mengkhawatirkan mereka.


Kemudian, Duke menekuk lututnya dan melakukan kontak mata denganku.


"Blaine."


"Iya."


"Jangan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya lagi."


Apakah dia marah karena aku dalam masalah?


Aku tidak bermaksud begitu, tapi itu pasti mengganggunya karena aku hampir mendapat masalah beberapa kali.


Dia tersenyum tipis.


"Aku senang kamu tidak terluka."


"......."


"Istirahatlah."


Duke, yang mengatakan itu, membelai rambutku dan berjalan kedalam kastil.


Aku menyentuh tempat tangan duke membelaiku tadi.


Rasanya aneh.


"......"


'Aku tidak punya waktu untuk ini. Aku harus segera menemukan Zachary.'


Tiba-tiba, aku menabrak seseorang.


"Uuhh..."


Saat aku menggosok dahi setelah tabrakan yang cukup keras, aku mendengar suara yang kukenal,


"Nona kecil?"


Itu ketua.


"Ada apa?"


"Aku harus bersiap untyuk membelot. Jadwi..."


"Apakah kecemasanmu ada hubungannya dengan kepulanganmu bersama Duke dan kedua saudara hari ini?"


"Bu, bukan!"


"Aku pasti benar."


"Sudwah kubilang byukan."


Saat aku menjawab sambil menghindari tatapannya, ketua mengerang dan menatap mataku.

__ADS_1


"Mengapa kau menetapkan tujuan yang berbahaya seperti membelot?"


"Karena akuh akan dalam bahaya di masa depan. Jika Mina datang, aku akan dijadikan pengorbanan untyuk roh jahat."


"Dengan perlindungan dari Duke Dubblede, hal seperti itu tidak akan terjadi."


"Aku tidyak mauk mengalaminya lagi."


"Kali ini akan berbeda."


"Dyuke dan anak-anaknya hanya menganggapku sebagai hewan peliharaan."


Rasa sayang mereka sama seperti menyayangi kucing, hanya sementara. Kalau bukan, ini aneh karena mereka tiba-tiba sangat mencintaiku.


Bagaimana mereka bisa tetap mencintai anak orang lain? Aku juga bukan anak yang manis seperti Mina.


"Nona kecil. Tahukah kamu betapa sulitnya melindungimu yang menjadi lebih istimewa dari kehidupan terakhirmu."


"........"


"Kamu memiliki banyak orang yang setia dan berbakat di sampingmu. Bahkan Eugene Nos, yang memiliki bakat yang didambakan bahkan di keluarga kerajaan telah mengesampingkan orang-orang itu dan selalu maju ke depan dalam masalahmu."


"........"


"Aku tahu Theodore Dubblede, dia tidak ingin merepotkan hewan peliharaannya seperti itu."


Aku tidak mengatakan apapun. Ketua menatapku dan berkata,


"Apakah kamu berhenti memercayai siapapun karena kamu akan membelot?"


"Pergi! Aku tidak akan mendengarkan!"


"Kamu takut akan ditinggalkan oleh keluargamu lagi. Lebih dari risiko gagal untuk membelot."


"Jangan lanjutkan!"


"Itulah yang sangat kamu takuti."


Aku memelototi ketua dengan mata basah. Untuk menahan tangisan, aku menggigit bibirku dengan kencang dan menggenggam rokku.


Dia menatapku sebentar dan membungkuk.


Aku segera berlari ke kamarku, aku menutup pintu dan menyembunyikan diriku di bawah selimut.


Ketakutanku, yang telah dirantai dan disembunyikan di dalam diriku, sepertinya telah terungkap.


...***...


Aku terbangun dalam kegelapan dan dengan cepat menyadari.


Ini mimpi. Mimpi jahat yang selalu mengikutiku.


Disini adalah altar istana kerajaan. Disini tempat di mana seluruh tubuhku tercabik-cabik sebagai pengorbanan di kehidupan pertama.


Ada tas gajah di atas altar. Itu tasku, yang aku siapkan untuk membelot.


Kepalaku setengah terpelintir dan seluruh tubuhku penuh luka.


[Leblaine bodoh, apakah kamu ingin percaya pada orang lagi setelah kamu pernah berurusan dengan mereka?]


Versi dewasa Leblaine, menatapku sambil berdiri tegak.


"Tapi.... Tapi, orang-orang di Dubblede tampaknya berbeda."


[Kamu juga bilang hal yang sama dengan Duke Amity. Kau bilang ayahmu berbeda. Sama seperti di Vallua. Kau bilang kamu akan hidup berbeda kali ini.]


"Mungkin kali ini berbeda. Aku belum pernah memiliki orang seperti orang-orang di Dubblede dalam hidupku sebelumnya."


[Kau pikir kamu spesial sekarang?]


"......."


[Jika Mina datang, semua akan berbeda. Jika ketahuan bahwa kamu adalah anak takdir palsu, kamu akan dibuang!]


Aku menutupi telingaku dengan kedua tangan.


Rasanya seperti rasa sakit saat dikorbankan dan rasa sakit saat dicambuk oleh Duke Vallua.


Leblaine dewasa yang mendekatiku tiba-tiba terbagi menjadi tiga dan berubah menjadi Mina, Duke Amity, dan Duke Vallua.


[Akankah kamu mengemis kasih sayang seperti pengemis lagi?]


[Seperti biasa!!]


Wajah teriakan mereka berubah dengan aneh.


Cairan hitam menetes dari seluruh tubuh, dan mulut mereka penuh dengan gigi tajam yang menyeramkan.


'Jangan mendekat kesini. Jangan mendekat!'


Aku bangun dan lari.


Tapi mereka terus mengejar bayanganku.


[Maaf, Leblaine. Tapi ini adalah takdirmu. Untuk kami, untuk negara.]


[Mina adalah anak yang spesial.]

__ADS_1


Benda itu benar-benar hitam dan mulai menelan tubuhku. Aku tercekik.


Aku berjuang untuk keluar dari sesuatu yang telah menelan tubuhku.


'Tolong aku. Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukainya! Tolong aku!'


Mimpi itu selalu berakhir hanya setelah aku benar-benar diliputi kegelapan. Aku yakin itu yang akan terjadi kali ini. Tanganku perlahan mengendur.


Tapi kali ini, aku melihat cahaya di depanku.


"...... Le."


".... Blaine."


Hah!


Aku buru-buru membuka mataku. Seluruh tubuhku dipenuhi keringat dingin.


Di depan mataku, aku melihat Isaac, yang merasa tak berdaya, Henry, penuh kekhawatiran, dan Duke, yang memegang tanganku.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Apakah kamu terkejut dengan apa yang terjadi hari ini?"


"Kendalikan dirimu."


Ini cahaya yang tadi.


Aku menahan air mataku saat aku melihat ketiga pria yang sosoknya diburamkan oleh cahaya lampu.


Meskipun aku tidak melihat mereka dengan jelas, aku merasa wajah mereka akan menunjukkan ekspresi khawatir.


Aku meremas tangan duke. Aku mencoba menahan air mataku, tapi air mata terus mengalir.


"Sniff..."


Isaac mengerutkan kening saat dia melihatku menggigit bibirku erat-erat agar tidak mengeluarkan suara.


"Bodoh! Kenapa kamu menahannya, menangis saja! "


Dia mengatakan begitu, aku menaruh banyak kekuatan di dahiku agar aku tidak meneteskan air mata dari mataku.


Henry berkata dan membelai kepalaku, "Apakah kamu mengalami mimpi buruk?"


"......"


"Kamu pasti sangat takut. Maafkan aku."


Henry terus meminta maaf kepadaku meskipun itu bukan sesuatu yang perlu disesali.


Dia bilang dia minta maaf karena datang terlambat bahkan setelah melindungiku, dan dia bilang dia menyesal karena tidak tahu apa yang aku sukai.


Duke memelukku.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa jika kamu menangis."


"......."


Aku menertawakan kata-katanya.


Duke, yang tidak tahu bagaimana memberi kasih sayang atau bagaimana mencintaiku, membuatnya terlihat lucu dan bermakna untuk mencintaiku dengan cara yang canggung.


'Aku bodoh. Meskipun aku telah hidup empat kali, aku tetap saja bodoh.'


Aku ingin percaya lagi.


Dia tahu mungkin dia akan lebih terluka, dan dia tahu akan lebih mudah baginya untuk melarikan diri, tapi dia tidak ingin melewatkan kehangatan yang menyentuh kulitnya.


'Untuk terakhir kali, sekali lagi.'


Saat aku tertawa, wajah orang-orang Dubblede berbinar.


"...... Papa."


Tatapan Duke bergetar sesaat ketika aku memanggilnya begitu.


Itu adalah gelar pertama yang aku panggil untuknya sejak aku menerima etwal.


"Kakak."


"Ka, ka, kakak.....!"


"Leblaine baru saja memanggilku ......"


"Tidak, dia bicara padaku!"


"Dia bicara padaku, idiot."


Melihat keduanya bertengkar, aku membenamkan wajahku di bahu duke.


Aku berada dalam cahaya. Sekarang mimpi jahat itu tidak terlalu menakutkan.


Malam itu, aku membuang tas gajahku.


...***...


Bonus pict ✨✨✨

__ADS_1



Source Twitter : @dreamer_vill


__ADS_2