
...***...
Hiks.
Hiks.
Aku memakan kue sambil mengeluarkan air mata dan ingus. Aku tidak bisa memikirkan apa pun karena rasanya yang enak setiap kali aku mengunyahnya, tapi setelah menelannya, aku terus menangis karena merasa sedih.
Duke Dubblede benar-benar bajingan murahan. Aku bisa makan roti sisa. Kenapa kamu begitu marah tentang hal itu?
Aku melihat Duke yang duduk di seberangku dengan pandangan sebal.
Lea, yang membawakanku kue atas perintah Duke, berkata dengan nada malu.
"Dia pergi tidur lebih awal dan belum makan. Jadi..."
"Jadi dia mengambil roti yang dibuang oleh para pelayan."
"....."
Wajah Lea membiru. Dia mengerutkan bibirnya dengan erat, terlihat merasa bersalah. Tapi Lea sama sekali tidak bersalah.
Setelah merasa agak kenyang, aku mengulurkan tangan ke Lea.
"Aku mauk perghi..." (Aku mau pergi)
Aku menyesal karena belum menghabiskan kuenya. Tapi aku tidak ingin melihat Lea yang baik dimarahi oleh orang jahat!
Pada saat itu, Duke mengulurkan tangannya ketika aku memeluk lengan Lea. Tangan Duke, yang akan melewati sisa kue kering, berhenti di udara. Di atas meja dengan piring mangkuk dan susu, angin bertiup.
"........"
"........"
"........"
"Ada apa dengannya?"
"Saya pikir dia takut dimarahi."
Lea benar. Aku ketakutan karena merasa terancam oleh Duke. Tatapannya saja membuatku gugup. Duke menatapku dengan tatapan aneh dan aku bahkan menjadi lebih takut. Jadi aku merengek,
"Akuh akyan kwembali." (Aku akan kembali.)
Lea menenangkanku dengan tatapan gelisah, dan satu hal lagi, dia menggigit bibirnya seolah-olah dia telah mengambil keputusan.
"Tu..., Tuan!"
"......."
"Nona kecil harus menyelesaikan makanannya, jadi kami harus kembali!" Lea terdengar seperti seorang ksatria yang berlari menyerang pasukan besar sendirian.
Duke menatapku, dan aku meluncur di belakang lengan Lea. Dia mengangguk.
Setelah kami kembali, Lea membungkuk dan mengangkatku. Kemudian, dia meninggalkan ruangan dengan cepat, dan muntah. Wajahnya biru dan bibirnya bergetar.
Lea, sebagai pelayan Duke Dubblede, baru saja menyaksikan betapa dingin hatinya. Jadi seberapa takutnya dia ketika mengatakan hal seperti itu tadi...
'Orang seperti dia agak langka.'
Lea membawaku ke kamar dan membawakanku sesuatu untuk dimakan. Itu adalah bubur susu dengan kacang kastanye di dalamnya.
Aku menepuk perutku setelah mengosongkan dua mangkuk bubur susu.
"Aku mwinta maap kalena telus merasa lapar." (Aku minta maaf karena terus merasa lapar.)
__ADS_1
Lalu Lea memelukku dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan katakan itu. Nona kecil perlu makan banyak dan banyak tidur."
Dia tertawa dan membaringkan aku di tempat tidur dan menarik selimut sampai ujung leher.
"Semoga mimpi indah, nona kecil."
Setelah kenyang, aku tidur nyenyak dan bangun. Aku merasa turut sedih untuk Lea tadi malam, jadi aku memutuskan untuk menunjukkan padanya kelucuanku.
"Nea, aku menyukyaimu!" (Lea, aku menyukaimu!)
Para pelayan terlihat heboh ketika mereka melihat aku memeluk pinggangnya dengan tangan gemukku yang seperti dua sosis. Sudut mulut Lea naik.
Sementara itu, pelayan yang memandangi pintu menjadi kaku dan tak lama kemudian semua pelayan lainnya melompat terkejut.
'Heuk. Ada orang jahat.'
Duke Dubblede dan letnannya menatapku. Aku buru-buru bersembunyi di belakang Lea dan menjulurkan kepalaku.
"No, nona kecil..." Letnan dan pelayan memanggilku dengan malu.
Tapi aku menggelengkan kepala.
'Dia benar-benar menakutkan....'
Yang dia katakan tadi malam seperti pisau yang memotong tenggorokanku. Letnan, yang berkeringat, berkata dengan canggung.
"Mari kita sebut namanya dengan manis. Agar bayi bisa rileks."
"........"
Duke terdiam. Dia menatapku dan mengerutkan kening sesaat. Dan aku menggelengkan kepalaku ke dalam.
Dalam sepuluh hari terakhir dia tidak pernah memanggilku dengan nama. Dia hanya memanggilku Anak Takdir, kamu, hei, anak kecil, dll. Kamu pasti belum pernah membaca surat-surat yang dikirim oleh Ibu Suri.
"Leblaine." Duke memanggil namaku.
'Kamu tahu namaku?'
Aku tercengang sampai-sampai aku berkedip terus menerus.
Duke punya kisah terkenal bahwa dia tidak ingat nama Mina yang telah berada di istana selama lebih dari tiga bulan. Sungguh menakjubkan bahwa Duke mengingat namaku.
'Tapi sepertinya dia tidak tertarik sama sekali.'
Duke berbicara lagi kepadaku.
"Ada apa? Datang ke sini."
Semua orang yang ada di ruangan itu memperhatikan aku. Aku ragu-ragu dan sedikit mencondongkan tubuh.
"Apakah anda akan memyukul sayah?" (Apakah Anda akan memukul saya?)
"Aku tidak pernah memukulmu."
'Kamu memukulku dengan kata-katamu. Dengan kata-kata!'
Ketika aku menatapnya dengan tatapan curiga, dia mengeluarkan sesuatu. Lolipop.
"Ada banyak di sana."
"........"
Aku berlari ke arahnya dan memeluknya. Entah bagaimana, sepertinya ada seringai arogan menggantung di mulutnya.
__ADS_1
Ya, ini akan sangat mengejutkan bahwa seorang anak yang dikirim oleh Ibu Suri menyelinap di malam hari. Dia juga orang yang menceritakan rahasia Istana Kekaisaran dan gereja.
'Ada berapa permen? Dia kan kaya, mungkin ada sepuluh.'
Dia menggendongku dan berjalan di kastil. Setiap kali mereka melihat kami, mereka membuka mulut lebar-lebar dan menjatuhkan pena dan sapu mereka. Bagiku itu reaksi yang alami, meskipun orang yang bersangkutan sedang berjalan bersama dengan Duke.
Duke, yang sudah berhenti berjalan, menurunkan aku di depan pintu.
'Pasti ada permen di sini!'
Aku membuka pintu dengan bersemangat dan masuk. Lalu mataku melebar dan berkedip. Aku menelan ludah kering ketika aku melihat permen memenuhi ruangan. Aku melirik duke.
'Bolehkah aku memakan semua ini?'
Ketika aku menatapnya dengan mata seperti itu, Duke berkata dengan suara kering.
"Makan sebanyak yang kamu mau."
'Ya Tuhan!'
Aku bergegas ke tumpukan permen. Permen berwarna-warni itu cukup banyak hingga bisa berenang di dalamnya. Seringkali aku menemukan seperti cokelat atau marshmallow dalam kemasan. Aku merobek bungkus emas mengkilap dan memakannya.
'Ini sangat enak.'
Duke mengerutkan kening setelah terkejut untuk sementara waktu. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu.
Apakah orang kaya makan makanan lezat seperti ini setiap saat? Benjolan manis dan asam dengan cepat meleleh di mulut, dan sirup buah di dalamnya terasa di ujung lidah.
Aku memakannya seperti orang gila. Setiap kali aku mengunyahnya, pipiku menggembung. Aku dengan cepat menghabiskan satu lalu mengambil permen lainnya. Kali ini permen tongkat.
Aku mencoba memasukkan permen itu ke mulutku ketika aku merasakan tatapan aneh. Dan kemudian aku melirik duke.
'Jika kamu makan sendirian, kamu terlihat menjijikkan.'
Tidakkah kamu sadar ketika kamu masih seorang pengemis? Bahkan satu makanan pun, kami saling berbagi dan menciptakan kasih sayang. Jadi aku memberikan permen padanya.
"Aku memberikyan ini untyukmu." (Aku memberikan ini untukmu.)
Dia menatapku dengan tatapan aneh dan melihat permen di tanganku.
"Kenapa?"
Aku mendengus dan dia perlahan membuka mulutnya.
"Kamu terlihat aneh."
"........"
Aku merasa pipiku akan meledak.
'Aku akan memukulmu dengan permen dan berpura-pura itu tidak disengaja.'
Aku berpikir seperti itu, tetapi aku mengingat tujuanku disini dan mulai menenangkan diri.
'Aku benar-benar membutuhkan bantuan orang jahat ini jika tidak ingin mati dengan menyedihkan seperti kehidupanku sebelumnya.'
Aku benar-benar harus membangun hubungan yang baik. Meskipun aku bodoh pada saat itu dan hasilnya tidak baik, kali ini aku punya pengalaman.
Aku berpikir sendiri dan melompat ke pelukannya.
"Dyuke, telima acih untuk pelmennya. (Duke, terima kasih untuk permennya.) "
Duke terkejut tetapi kemudian dia mulai tertawa.
...***...
__ADS_1