
...***...
Beberapa hari kemudian, cerita bahwa Teramore yang menjadi gila di tengah-tengah penahanannya menyebar. Aku mencoba mengintip di depan penjara bawah tanah untuk mengkonfirmasi kebenaran rumor itu.
'Sejak insiden Henry, Teramore memiliki kecurigaan mengenai identitasku. Akan sangat baik sekali jika dia benar-benar kehilangan akal, bahkan meskipun dia kehilangan akal, aku lebih baik tidak menarik perhatian untuk sementara waktu.'
Saat aku mondar-mandir di depan pintu masuk. Aku menundukkan kepalaku dan berusaha mencuri pandang pada pintu yang sedikit terbuka.
Kaki seseorang tiba-tiba menghalangi penglihatanku dan Viscount Dubos, kepala penasihat, keluar dari penjara bawah tanah. Dia berdiri tegak di depanku.
"Nona kecil."
"Hallow Tuwan.... Apakah Anda mwasih memarahi kakwek Tewamor?" (Halo, tuan.... Apakah Anda masih memarahi kakek Teramore?)
Pertanyaan itu menyembunyikan pertanyaanku yang sebenarnya bahwa, 'Benarkah Teramore kehilangan akal sehatnya?'
"Tidak, pikirannya... tidak berada di tempat yang benar. Pria itu seharusnya menungguku untuk memotong pergelangan kakinya perlahan dan melemparkannya ke luar —ahem,"
Sir Dubos memalsukan batuknya ketika dia menyadari pikirannya yang sebenarnya terlontar keluar dari mulutnya di depan Leblaine kecil.
Dubos melihat mata polosnya yang berkedip-kedip seolah-olah perkataannya terlalu asing untuk dipahami oleh pikiran kecilnya. Dia tertawa canggung dan menggaruk kepalanya.
"Interogasinya sudah selesai. Saya sudah memastikan dia tidak akan melakukan hal buruk lagi kepada Anda atau Henry. Saya berjanji."
"Wow! Twerima kasih, tuwan Dubos!" (Wow! Terima kasih, Tuan Dubos!)
Beban yang telah membebani pikiranku terangkat, aku melompat pergi dari pintu masuk penjara dengan gembira.
'Aku sudah berpikir apa yang harus kulakukan pada Teramore sejak dia mencurigai identitasku. Itu kesalahanku, ketika aku menunjukkan kepadanya bahwa aku terlalu dewasa untuk anak seusiaku.'
'Dengan ini salah satu masalahku terpecahkan. Ini benar-benar keberuntungan.'
Setelah aku berpisah dengan Viscount Dubos, aku berjalan mengitari kastil, merasakan angin dingin membelai lembut pipiku yang hangat. Taman dan bunga-bunga tampak lebih semarak dari kemarin. Segalanya tampak lebih indah dari biasanya ketika orang jahat Teramore menghilang.
'Ah, rasanya enak untuk bersantai sesekali...'
Pekerja yang lewat tersenyum dan menyapaku dengan riang ketika mereka melihat aku berjalan-jalan di sekitar kastil dengan riang.
"Halo, nona muda. Anda dalam suasana hati yang baik hari ini. Kemana Anda pergi?"
"Aku akyan pergi mencwari camilan." (Aku akan pergi mencari camilan.)
Sejak kejadian dengan Teramore, Lea dan para pelayan memberiku banyak camilan. Khawatir akan perilaku kasar Teramore akan membuatku takut, para pelayan menjadi lebih memanjakan diriku dari sebelumnya.
"Dasar sampah."
"Mati!"
"Kau bangsat!"
Para pelayan itu melontarkan hinaan mengerikan kepada Teramore setiap kali mereka ingat apa yang dilakukan pria busuk itu padaku. Lea adalah satu-satunya yang pendiam di tengah-tengah lontaran kutukan. Tiba-tiba, kursinya jatuh dengan bunyi yang keras ketika dia berdiri dan berjalan ke dapur. Pelayan lainnya terdiam. Mereka melihat aksi Lea yang tiba-tiba dengan cemas.
'Ada apa?'
Baru kemudian Lea keluar.
Dengan membawa pisau dapur....
"Aku akan membunuh Teramore," tatapannya yang menakutkan mengejutkan para pelayan.
Jika saja Lea tidak takut pada Duke, Teramore mungkin akan meninggalkan dunia pada malam yang sama.
'Matanya sungguh menakutkan karena terbakar amarah....'
Ketika memikirkan Lea dengan pisau dapur melintas di benakku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggigil ngeri.
Setelah melampiaskan amarah mereka yang tertekan, para pelayan mengelilingi ku dalam pelukan mereka dan tiba-tiba menangis. Salah satu pelayan menghentikan tangisan dan mengeluarkan pertanyaan yang telah mengganggu pikirannya.
"Bagaimana... bagaimana jika anak itu mengalami trauma?"
"Apa?"
"Bukankah itu sering terjadi? Ketika kau tidak bisa mempercayai orang lain sepanjang hidupmu karena trauma masa kecil."
Sejak malam itu, mereka menghujani ku dengan camilan dan memberi tahuku hal-hal seperti:
"Nona muda adalah yang paling berharga."
"Jangan khawatir nona kecil, orang jahat akan dihukum!"
"Anda tidak perlu takut, nona kecil." dan seterusnya.
'Sikap mereka yang berlebihan terhadapku terasa sedikit membebani, meskipun aku tidak keberatan dengan jumlah camilan yang mereka berikan padaku....'
Aku menyenandungkan lagu bahagia saat aku masuk ke kamarku.
'Camilan hari ini adalah pai acar manis. Aku tidak sabar untuk menikmati salah satu pie lezat itu.'
Ketika aku melompat ke kursi, para pelayan dengan cepat mengepungku seperti seekor lebah dan mulai menyuarakan kata pujian mereka seperti biasanya.
"Kamu sangat berani, nona muda."
"Nona muda kita adalah yang paling pintar."
"Nona muda adalah yang paling berharga."
Aku hanya bisa mengangguk memuji pujian mereka. Aku mengetuk kakiku dengan tidak sabar menunggu sepiring camilan.
__ADS_1
Tapi... sesuatu tampak aneh. Tidak peduli berapa lama aku menunggu, tidak ada camilan yang datang, dan para pelayan mulai menyisir rambutku.
Aku menarik lengan baju Dahlia, salah satu pelayan yang ada disini, dan bertanya,
"Dwi mana camilannywa?" (Di mana camilannya?)
"Camilan hari ini akan disajikan pada sore hari. Duke akan makan siang bersama Anda, jadi dia akan datang lebih awal dari biasanya."
'Kenapa!!!'
Aku bisa merasakan air mata imajiner mengalir di pipiku. Sudah cukup mengecewakan bahwa waktu memakan camilan ditunda, tetapi harus makan dengan Duke sebagai tambahan....
Pikiranku melayang ke pertemuan tak terduga kemarin. Ketika aku tidak sengaja bertemu dengan Duke kemarin, ekspresinya yang mengerikan lebih menakutkan dari biasanya. Mungkin, karena pertemuan dengan para pengikut lebih buruk dari harapannya, sikap intensnya yang biasa menjadi lebih buruk.
"Sepertinya aku sakit perut."
Pada tingkat ini, aku harus minum obat pencernaan terlebih dahulu. Dengan murung, aku bangkit dan meraba-raba tas gajah.
...***...
Dubblede sudah duduk di meja ketika aku akhirnya tiba di ruang makan. Makanan diletakkan di meja panjang, menunggu untuk dimakan. Ketika aku hendak naik ke tempat duduk ku, pintu terbuka. Sosok Isaac terlihat melalui celah di pintu kayu.
"Selamat sore, Duke." Isaac membungkuk ketika dia memberi salam pada Duke. Duke yang tenang itu mengangguk sedikit ke arahnya.
'Isaac di sini. Apakah Henry juga datang untuk makan malam?'
Tepat setelah aku memikirkan Henry, segera, pintu besar ruang makan dibuka sekali lagi dan langkah ringan mendekat dari luar ruangan terdengar.
"Selamat sore, Duke."
Orang yang masuk itu menundukkan kepalanya ke Duke. Seperti biasa, Henry tampil rapi dan elegan dalam pakaiannya yang sederhana.
"Silahkan duduk."
Alih-alih membalas salam Henry, Duke hanya menghela nafas dan menunjuk ke kursi yang kosong. Henry hanya bisa mengangkat kepalanya dan berjalan mendekati tempat duduknya yang sudah ditentukan.
'Apakah kau baik-baik saja sekarang?'
Pertanyaan tentang keadaan Henry membanjiri benakku yang khawatir.
Sepanjang minggu sejak kurungan Teramore, Henry telah mengurung dirinya di kamarnya, sementara itu kastil sedang gempar. Semua pelayan yang sebelumnya melayani dia sementara waktu dilarang memasuki kamarnya. Satu-satunya orang yang diizinkan masuk adalah seorang pelayan dan dokter. Untuk menyajikan makanan dan memeriksa kesehatannya. Selain mereka, tidak ada orang di tanah ini yang diizinkan melewati pintu.
'Memar di lengan... hmm... syukurlah, terlihat jauh lebih baik.'
Perilaku kasar Teramore terhadap Henry sangat mengkhawatirkanku karena aku dulu pernah menjadi korban orang-orang yang sama buruknya dan itu adalah hal terburuk yang pernah aku alami.
Aku duduk dan melirik Duke dan Henry. Terakhir kali aku melihat mereka berdua berinteraksi adalah ketika Duke menginterogasi Henry sebelum dia melarikan diri, tidak ingin memberi tahu semua orang apa yang dilakukan Teramore kepadanya.
'Apa itu mungkin bagi mereka menjadi lebih renggang sejak itu?
Memecah keheningan abadi, Henry berbicara.
'Hah?'
'Apakah dia ingin mengawasi Teramore? Apa itu sebabnya dia lebih suka tinggal di sini?'
Aku dikejutkan oleh permintaannya yang tiba-tiba, tetapi Duke itu menjawab dengan tenang.
"Mengapa?"
"Saya yakin akan ada banyak kesulitan bagi seorang anak semuda saya untuk mengelola perkebunan feodal, tetapi saya pikir saya harus mulai belajar selangkah demi selangkah."
*Feodal : yaitu sebidang tanah yang diberikan yang bersifat sementara kepada seorang vassal (penguasa bawahan atau pemimpin militer) sebagai wujud imbalan atas pelayanan yang diberikan kepada penguasa (lord) sebagai pemilik tanah tersebut.
Baru saat Duke melihat Henry. Matanya tidak penuh amarah, malah dipenuhi dengan kelembutan.
"Baiklah," jawaban singkat itu mengakhiri percakapan antara keduanya.
Sementara semua mata di ruangan itu menatap keduanya, pihak yang diperhatikan tidak terpengaruh oleh pandangan itu. Aku hanya bisa memaksa diri untuk menelan keluhanku.
'Tidak peduli seberapa buruk lingkungan mereka ketika mereka tumbuh dewasa, bukankah terlalu berlebihan bagi Duke, sebagai orang dewasa, untuk berperilaku seperti ini?'
Bukan karena aku tidak mengerti dari mana mereka berdua berasal. Duke dan Henry, keduanya tumbuh di bawah keluarga yang memiliki reputasi baik. Duke, pada usia Henry, hampir mati dalam perang; Sementara itu, Henry dilecehkan oleh gurunya sendiri dalam beberapa tahun terakhir.
'Itu dapat menjelaskan alasan mereka tidak tahu banyak tentang hubungan keluarga.'
'Tapi bagaimana mereka bisa sedikit lebih tau dariku? Aku, yang telah menumpahkan begitu banyak darah, kehidupan demi kehidupan, hanya untuk menemukan kebahagiaan dalam kehidupan keempatku?'
Aku memandang Duke dengan mata melotot, dan Duke itu, yang merasakan tatapan itu, mengira aku sedang menatap stroberi yang mengkilap di piringnya.
"Kamu suka makanan manis, kan? Berikan aku piringmu. Aku akan memberimu beberapa."
Dia kemudian membawa piringku ke sisinya sebelum memindahkan stroberi ke atasnya. Sambil tidak menyadari tatapan tajam yang aku berikan padanya. Aku terus mengkhawatirkan Henry.
Aku, sebagai seorang anak, tidak benar-benar menyukai perhatian orang-orang, namun aku masih percaya bahwa setiap anak membutuhkan perhatian orang tua mereka. Terutama seorang anak seperti Henry, yang lebih suka menyimpan semuanya untuk diri mereka sendiri.
'Apa yang harus aku lakukan?'
Aku buru-buru mengguncang lengan Duke dan berkata.
"Henli jugak syuka strawberwi." (Henry juga suka stroberi.)
"...."
'Apakah Henry suka stroberi? Aku harap dia suka atau semua usahaku akan sia-sia.'
Duke menatapku, tetapi tidak ada jawaban, jadi aku katakan padanya sekali lagi.
__ADS_1
"Henli jugak, strawberwi." (Henry juga, stroberi)
"...."
"Henli! Strawberwi!" (Henry! Stroberi!)
Aku berteriak frustrasi sampai-sampai Duke tersentak. Dia memandang Henry dan memindahkan garpunya perlahan. Gerakannya kaku, seolah-olah itu adalah pertama kalinya dia menggunakan peralatan makan.
Dan....
"...."
Mata Henry bergetar ketika dia mengamati stroberi yang diberikan oleh Duke di piringnya seolah itu tidak nyata. Tak satu pun dari mereka yang memiliki perubahan ekspresi dan tidak ada yang berbicara. Bahkan kecanggungan yang mencekik itu bisa dirasakan bermil-mil jauhnya.
Aku menahan kesal dan menguatkan diri ketika aku mengguncang lengan Duke sekali lagi. Setelah beberapa saat, dia akhirnya memecah kesunyian.
"...Makan."
"...Terima kasih...."
Aku senang.
'Baguslah.'
Hal itu tidak akan meruntuhkan tembok tinggi antara Duke dan Henry, tapi aku harap itu akan sedikit meningkatkan hubungan mereka.
Aku memandang keduanya secara bergantian dengan senyum lebar bahagia di wajahku.
Dengan senyum kekanak-kanakan, aku berkata kepada Duke,
"Apwa yang salah?" (Apa yang salah?)
"Dyuke, kau hwarus memberikan bebwerapa ke Isaak jugwa." (Duke, kau harus memberikan beberapa kepada Isaac juga.)
Kau tidak boleh mendiskriminasi sebagai orang tua.
"......."
Duke menggerakkan alat makannya lagi, hanya kekakuan yang tersisa, ketika dia memindahkan potongan stroberi di piring Isaac.
...***...
Aku menggosok perutku sambil menghela nafas ketika aku meninggalkan ruang makan setelah makan malam yang mencekik.
'Atmosfernya terlalu mencekam untuk sarafku.'
Aku menggelengkan kepalaku sambil berpikir apakah aku harus meminta Lea lebih banyak makanan. Camilan hari ini adalah pai dengan acar persik manis... mungkin aku harus menunggu saja?
'Hmm... apa yang harus aku lakukan sementara aku menunggu camilan?'
Itu lucu melihat diriku merenungkan apa yang harus kulakukan di waktu luangku.
Dalam kehidupan pertama dan keduaku, aku putus asa untuk mendapatkan istirahat, tetapi sekarang aku memiliki terlalu banyak waktu luang dan memikirkan apa yang harus dilakukan.
'Apa yang harus aku lakukan?'
Kebebasan seperti ini dulunya adalah mimpi, yang tidak pernah aku pikir akan terjadi.
'Apakah aku sebenarnya berada di surga?'
Aku merenung dengan penuh pertimbangan serius.
Pemandangan tiba-tiba di depanku membangunkanku dari lamunan, pintu di ujung koridor di lantai pertama telah terbuka.
'Hah?'
Pintu itu adalah yang memisahkan sayap timur dan barat. Sayap timur adalah tempat orang luar dapat datang dan pergi, seperti kantor, aula pertemuan, dan perpustakaan tamu.
Di sisi lain, sayap barat adalah ruang eksklusif hanya untuk kerabat Dubblede. Di sinilah kamar tidur Duke dan kamar saudaraku berada.
Dengan begitu pintu di ujung koridor lantai pertama yang menghubungkan gerbang timur dan barat akan selalu ditutup.
'Sayap barat. Tempat seperti apa itu?'
Aku baru saja diadopsi, dan Duke telah menyiapkan kamarku di sayap barat, tetapi kamarku saat ini sedang direnovasi, jadi sampai perbaikan selesai, aku masih tinggal di kamar VIP sayap timur.
'Lagi pula aku akan tinggal di sana, jadi tidak bisakah aku masuk dan melihatnya?'
Aku melirik ke sekeliling begitu aku memastikan tidak ada orang di sekitar. Dengan sembunyi-sembunyi, aku melintasi koridor dan membuka pintu yang pada akhirnya akan membawaku ke sayap barat.
"Wow...."
Aku meledak dengan kekaguman pada pemandangan di depanku. Tentu saja, sayap timur sangat baik dalam segala hal, tetapi itu didekorasi sebagai bagian depan untuk menjaga martabat dan kebajikan sang Duke karena orang luar datang dan pergi. Sayap barat benar-benar berbeda dari sayap timur.
Marmer halus berwarna hangat bersinar cemerlang, memantulkan sinar matahari yang menembus jendela-jendela yang tinggi. Pohon-pohon yang ditanam di lantai di ujung aula mengeluarkan bau hutan yang menyenangkan.
Jika seorang raja peri tinggal di sebuah kastil, seperti inilah kastilnya.
Sambil memandang berkeliling ke aula yang megah, aku menemukan lorong tanpa pintu dengan lorong yang berbentuk melengkung. Aku menjulurkan kepalaku dari balik dinding.
'Lukisan?'
Sebuah lukisan raksasa memenuhi satu sisi dinding. Tapi ruangan itu terlalu kumuh, kontras dengan aula yang megah, hanya dihiasi dengan lukisan. Hanya ada lembaran bordir tua yang tertempel di tengah atas bingkai.
Aku menatap karya seni yang besar itu. Wajah yang mengisi gambar itu adalah seorang lelaki tua. Meskipun rambutnya abu-abu dan keriput menutupi wajahnya, keanggunan dan keindahan bisa dirasakan bahkan di luar dunia lukisan.
"Siapa disana?"
__ADS_1
...***...