The Baby Raising A Devil

The Baby Raising A Devil
Bab 42


__ADS_3

...***...


Sesuai perintah anak takdir, pendeta itu melakukan sesuatu agar kekuatan suci anak itu tidak dapat diukur dengan tepat.


Bahkan setelah tersedak tiang gantungan, hilang dalam sejarah, dan jiwa lenyap, dia dipaksa untuk melakukan sesuatu yang bahkan bisa membuatnya dikritik selama beberapa generasi.


'Kekuatan suci yang melekat pada anak itu bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.'


Seperti danau dengan mata air, tubuhnya dipenuhi dengan kemurnian dan kekuatan suci.


Dia tidak bisa memastikan jumlah pastinya, tapi setidaknya 21 pendeta di gereja pusat—tidak, itu kekuatan suci yang luar biasa yang sebanding dengan seorang kardinal.


Dan semua itu sambil mempertahankan iblis.


Yang lebih aneh lagi adalah gadis mengerikan itu tahu bagaimana memanipulasi hasil verifikasi kekuatan suci.


"Mengarang hasilnya? Itu tidak mungkin!"


"Vewifikasi adalah cara unyuk memeliksa seberapa besar kekuwatan suci milikku. Twapii bagaimana kalaw kamu menarik kekuatan suci ku selama vewifikasi berlangsung? Jwadi pada akhirnya, kekuwatan suci ku tidak akan terlalu besar."


Mereka yakin, para pendeta tidak akan memperhatikan trik mereka.


"Pelacur jahat."


'Apa kau pikir aku akan tetap berdiam diri menderita seperti ini?'


Mata Urso bersinar terang.


'1. Urso tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi di kapel hari ini dan identitas Leblaine.'


Itu adalah salah satu perjanjian kontrak kemarin.


'Dengan kata lain, jika aku tidak menceritakan apa yang terjadi di kapel kemarin—'


Bibir Urso melengkung.


"Krux!"


Saat dia berteriak, seorang lelaki tua dengan punggung lebar masuk.


"A- apa anda memanggil? Ur- Urso."


"Kemarilah dan tulis surat untuk memberi tahu mereka sesuatu saat para pendeta belum tiba."


"A-apa yang harus aku tulis di surat itu?"


Saat Urso menjelaskan keseluruhan situasinya, Krux berkata, "Ah!" dan mengangguk dengan cepat.


"Anak takdir mengurangi kekuatan sucinya dengan sengaja, apakah itu cukup?"


Urso menyeringai mendengar kata-kata Krux.


Krux-lah yang berulang kali mengirim surat palsu ke sistem untuk memeras uang dari orang-orang di sekitarnya.


Mereka sangat selaras tanpa banyak bicara.


Saat Krux menyelesaikan surat itu dan meraih gagang pintu, Urso memberi isyarat padanya.


"Bawa masuk gadis-gadis itu ke kamar tidur sebelum kamu meninggalkan gereja."


"Si- siapa yang harus saya bawa?"


"Gadis-gadis muda rasanya enak."


Melihat Krux bergegas keluar, Urso mengangkat bibirnya.


'Siapa yang berani mengancam siapa.'


Tingkat kecerdasan mereka jauh berbeda.


Saat anggota tubuh anak itu dikoyak di gereja, dia akan menyadari siapa yang telah dia sentuh dan akan menyesali kesombongan yang dia tunjukkan sebelumnya.


Urso menjilat bibir hitamnya dan meninggalkan ruangan dengan seringai.


Setelah beberapa saat, Urso membuka pintu kamar tidur dan masuk.


Krux telah menempatkan gadis itu di tempat tidur.


Urso menutup tirai dan mendekati tempat tidur.


"Gadis tak punya akal. Kamu seharusnya melepas pakaianmu sebelum aku datang–"


Tiba-tiba, kuku yang tajam menembus dadanya.


"Aku bosan menunggumu, pak tua."


"AAGH—!"


Darah merah menetes di punggungnya yang ditusuk oleh kuku-kukunya yang tajam.


"Ke- kenapa... janji, kamu sudah berjanji untuk membiarkan ku.... Hidup..."


Mendengar kata-kata Urso, Boone menjawab sambil memutar tangannya lebih jauh.


"Janji..."


"Artinya anak itu tidak akan membunuhmu, tapi aku tidak pernah berkata bahwa aku akan mengampuni mu tuh."


Urso yang terhuyung-huyung bergidik dan roboh.


"Wajar bagi seorang penganiaya dan penyerang seksual untuk mati," Leblaine mengatakan itu sebelumnya.


...***...


Boone tiba di kapel tempat aku menunggu, dia tersenyum dengan cerah.


"Aku sudah melakukan semua pekerjaan yang kamu suruh."


Lalu dia menyerahkan surat.


Aku membuka amplop itu dan dengan cepat memeriksa apa yang tertulis.


Itu pernyataan tentang kekuatan suci anak takdir.


'Dia bertingkah seperti yang aku perkirakan.'


Aku mengangkat bahu dan membakar surat itu dengan lilin menyala yang ada di kapel.

__ADS_1


"Seperti yang kamu katakan, aku bertemu asistennya dan memindahkannya ke kamar orang cabul itu."


Seorang pria bernama Krux terpaksa mengikuti kata-kata Urso, dan Boone mencoba menyelamatkannya.


Namun, wajah Krux yang meninggalkan ruangan dengan membawa surat, terlihat bahagia. "Ka- kali ini aku bisa membeli rumah besar dan pergi."


"Kerja bagus."


Dengan ekspresi bangga, Boone menyeringai.


"Nona kecil sangat pintar."


Boone sangat naif, meskipun dia adalah seorang iblis.


'Lalu.'


Leblaine membuka sebuah kotak dan sebuah perhiasan muncul di penglihatannya. Dia menyuruh Urso membukanya kemarin, jadi tidak ada kemungkinan sesuatu yang salah dengan itu.


Itu adalah air mata sang Dewi. Dia mengeluarkannya dari kotak dan kembali.


Dengan ini, dia dapat mengirim Boone kembali dan dia juga tidak akan dibawa ke gereja pusat. Dalam prosesnya, dia juga berurusan dengan orang jahat.


'Membunuh tiga burung dengan satu batu.'


Saat aku memikirkan itu, Boone berkata,


"Kamu sangat jahat, seperti iblis! Seperti yang diharapkan, kamu cukup jahat untuk memanggilku. Kuharap kamu akan terus melakukan yang terbaik dan menjadi lebih jahat."


Saat aku melihat matanya yang berkilau karena puas, aku sedikit tercengang.


...***...


Gereja barat laut dalam kekacauan.


Urso, pemimpin gereja, ditemukan tewas, dan pelayannya, Krux, disebut sebagai pembunuhnya.


Selain itu, saat pengakuan Krux dilakukan, dosa Urso terungkap sepenuhnya.


Beberapa bahkan mengatakan bahwa Urso bertanggung jawab atas lenyapnya air mata Dewi.


Dia lah yang sudah menghentikan penghalangnya, jadi hanya masalah waktu sebelum itu dikonfirmasi.


"Nona kecil, muncul masalah, kita tidak bisa mendapatkan izin untuk keluar." Kata Lea dengan tampilan bermasalah.


Sebelum Krux mengakui dosa-dosanya, mereka tidak bisa memperboelhkan siapa pun keluar dari gereja.


Sesuai dengan prediksi ku, jadi aku mengangguk.


"Jika aku memberi tahu Tuan berita ini, dia akan segera membereskannya. Tolong tunggu dan bermainlah dengan ksatria di sini sebentar."


"Iya."


"Jika Anda bersikap baik saat kita kembali ke kastil, saya akan memberimu sepuluh stroberi."


"Iya!"


Saat aku menjawab dengan lantang, Lea tertawa dan meninggalkan taman.


Aku berjalan-jalan di taman gereja sementara para ksatria mengikutiku berkeliling.


Anak kecil dalam diriku ingin berlari seperti kuda liar di taman besar ini, tapi aku menahan diri dan berjalan perlahan.


Saat seorang pelayan Dubblede mengatakan itu, aku menanggapi dengan badai anggukan.


'Ya, aku berperilaku baik, jadi tolong beritahu Lea saat dia kembali.'


Lalu Lea akan memberiku 10 buah strawberry dengan krim di atasnya.


Aku tertawa cerah.


Tapi aneh.


Saat aku berjalan ke depan, aku melihat bekas air di rumput kering, dan tasku menjadi basah seperti terkena hujan.


'Hah?'


Itu Basah, tapi tidak ada lumpur di sepatuku.


Aku berkedip karena kupikir aku melihat sesuatu, dan aku terkagum.


Itu ikan yang terbuat dari air yang aku lihat kemarin.


"Ikan....!"


Saat aku berteriak dengan tidak sengaja, para pelayan dan ksatria menatapku.


"Apa?"


Biasanya orang mungkin kaget melihat ikan seperti ini, tapi mereka diam saja.


[Sepertinya yang lain tidak bisa melihatnya.]


'Aku pikir begitu.'


Ikan itu berputar-putar di sekitarku, mengibaskan ekornya.


'Kamu ingin aku ikut denganmu? Kemana? Apakah terjadi sesuatu pada tuan mereka, Adrian?'


[Itu bukan urusanmu.]


Boone benar. Aku tidak perlu peduli.


Tapi.


Tapi...


'Sulit karena pikiranku yang dulu masih anak-anak, masih punya hati nurani.'


Aku melihat kembali pada para pelayan dan ksatria, dengan menghela nafas dalam-dalam.


"Aku mau maen petak umpett." (Aku mau main petak umpet.)


Aku menyatukan tangan dan menatap orang-orang Dubblede dengan ekspresi putus asa.


Ini gerakan spesialku yang bahkan bisa menggerakkan hati keluarga Dubblede.


"Petak umpet, sekarang juga!"

__ADS_1


"Cepat!"


Sambil mengangguk dengan puas, aku menunjuk pria yang harus pergi jika aku ingin mencari Adrian.


"Letwan jendral jadi pencarinya. Hitung sampek seratus." (Letnan jenderal jadi pencarinya. Hitung sampai seratus.)


"Siap!"


Letnan jenderal, menjawab seolah-olah dia berada di bawah komando Duke, menyembunyikan wajahnya sambil berbalik ke arah pohon dan berteriak, "Satu, dua, tiga—"


Aku berlari terburu-buru.


'Lea bilang dia akan memberiku sepuluh stroberi jika aku berperilaku baik.'


Aku tidak akan membiarkan ikan-ikan itu pergi jika ternyata bukan hal yang penting.


Tempat dimana ikan itu dituju berada di depan lantai kayu yang besar.


Adrian duduk sendirian sambil memegang sesuatu.


Ikan lain yang terbuat dari air tergeletak di tangannya.


'Itu terbuat dari kekuatan suci.'


Seperti sepasang ikan yang datang menjemputku.


Aku bertanya-tanya apakah Adrian terluka parah, atau mungkin kekuatan suci nya berkurang, tapi sepertinya sudah waktunya ikan itu menghilang.


Sesuatu yang diciptakan oleh kondensasi kekuatan suci tidak bisa bertahan lama.


Itu akan lenyap dan akan tersebar ke alam.


Matanya kosong dan tampak lelah.


Aku berjongkok dengan hati-hati dan menatapnya.


"Anda bisa membuwatnya lagi." (Anda dapat membuatnya lagi)


Jadi jangan membuat wajah seperti itu.


Ini menggangguku saat seorang anak memasang ekspresi seperti itu.


Adrian sedikit menatapku.


"....Bagaimana?"


Adrian terdiam seolah-olah tidak tahu.


Hei permisi, membuat penghalang, dan membuat sesuatu dari kekuatan suci itu adalah sesuatu yang berbeda.


Kamu bisa belajar cara membuat penghalang dari gereja atau buku, tapi tidak ada yang mengajarimu cara membuat sesuatu dari kekuatan suci.


Tidak ada gunanya karena tidak sekokoh manusia atau hewan asli. Bahkan jika itu dibuat oleh seorang pendeta, hanya bisa bertahan selama tiga hari. Di atas segalanya, dibutuhkan banyak kerja keras.


"Bagaimana Anda membuatnya?"


Saat ditanya, Adrian melihat ikan yang ada di tangannya.


"Aku hanya... bangun dan itu sudah di sampingku."


"Kapan?"


"Di pagi hari saat aku sedang memulihkan diri dari Rubella."


"Kamu mengirim anak-anak kita ke pesta ulang tahun Pangeran Adrian? Ya Tuhan, sayang! Apa kamu ingin melihat anak-anak kita di mata Permaisuri Yvonne? Pangeran terkena rubella!"


...------- INFO -------...


Rubella : penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Dikenal juga sebagai campak Jerman yang biasanya menyerang anak-anak dan remaja. Menyebabkan ruam kemerahan pada kulit.


...----------------------...


Aku ingat kata-kata Duchess Vallua.


'Kalau itu rubella, itu terjadi saat anak itu berumur enam tahun.'


Tidak mungkin aku salah dengar.


'Jadi, kamu memelihara ikan itu selama dua tahun?'


Biasanya, tidak peduli berapa lama, satu minggu adalah batasnya. Memang, dia memiliki kekuatan yang sangat besar untuk diangkat sebagai kardinal termuda.


Adrian menatapku.


"Bisakah kamu menolong Amy lagi?"


Boone menggerutu mendengar kata-kata bocah itu.


[Dia manusia yang aneh. Kenapa dia memfokuskan pikirannya pada sesuatu yang dibuat dengan kekuatan ilahi? Nak, ayo kembali.]


Boone mencoba membujukku, berkata,


[Sepuluh stroberi berhargamu menghilang.]


Tapi aku tidak bisa bergerak dengan mudah.


Hanya ada satu kasus di mana seorang anak yang tidak memiliki teman bisa menciptakan sesuatu.


Saat kamu merasa putus asa membutuhkan seseorang yang ada di sampingmu.


Adrian pasti sangat berharap seseorang mengelus kepalanya saat dia tengah kesakitan karena penyakit rubella.


Permaisuri, ibunya meninggal, dan kakek dari pihak ibu menganggap cucu mereka hanya sebagai alat kekuasaan.


Kaisar tidak merawat putranya, dan ratu membencinya sebagai penghalang bagi putranya untuk naik tahkta, jadi dia berulang kali berkomplot untuk menjatuhkannya.


Tidak ada yang mengajak bicara pada anak yang terperangkap sendirian di istana besar itu. Tidak ada yang mengulurkan tangan kepadanya, dan tidak ada yang ingin anak itu hidup.


Itulah mengapa dia menciptakan hal-hal itu secara tidak sadar.


'Seperti yang aku lakukan di kehidupan pertamaku.'


Tentu saja, aku tidak sekuat Adrian saat itu, jadi mereka(ikan air) menghilang dalam waktu kurang dari satu jam.


Aku ingat menangis diam-diam di bawah selimut karena mereka menghilang.


Aku yakin Adrian merasakan hal yang sama sekarang seperti yang aku rasakan saat itu.

__ADS_1


Aku menjangkau dia dengan hati-hati.


...***...


__ADS_2