The Battle Heart

The Battle Heart
salah paham


__ADS_3

jeon pergi menemui clara di apartemennya, clara yg sedari tadi menunggunya mondar mandir sembari menggigit jarinya terlihat nampak jika clara sangat cemas.


"tenanglah" ucap jeon yg baru saja datang dan langsung memeluk clara


"ayahku sangat marah jeon, dia tau semua sekarang dan membenciku" cemas clara sambil menangis


"ini semua karna wanita ****** itu, kenapa dia selalu selangkah di depan kita" ucap clara sambil mengusap air matanya


"aku akan mengalah, tidak masalah karirku akan hancur sekarang asal bersamamu" ucap jeon yg pelan pelan duduk seperti sudah memutuskan rencananya.


"jika kau menyerah karirku juga ikut hancur jeon" clara tidak terima dengan keputusan jeon, clara tetap memaksa jeon mencari jalan lain menyingkirkan faira namun faira selalu memenangkan permainan.


jeon menatap clara dan mengingat apa yg faira katakan, ia mencoba mengetes clara "kita bisa memulai hidup baru, aku punya bisnis kok selain jadi artis" jeon mencoba merayu clara dan ingin melihat tanggapan clara.


"kau pikir bisnismu akan lancar jika scandal baru menerpamu lagi" ucap clara yg langsung menatap jeon dengan wajah tidak senangnya.


jeon hanya diam memperhatikan gerak gerik clara. jeon menarik panjang nafasnya dan berdiri melewati clara ingin mengambil minum, tanpa di sengaja ia melihat ada 2 gelas yg berada di wastafel belum di cuci, ia pun melihat ke bak sampah disana ada 2 botol minuman beralkohol.


"apa kah ada yg datang tadi malam" jeon langsung menanyakannya pada clara sambil membuka minuman soda yg ia pegang.


"tidak ada siapa2" ucap clara mengelak.


jeon hanya diam, dia berpikir dia terlalu banyak pikiran hingga hal kecilpun membuatnya curiga.


hari2 melelahkan berlalu faira memutuskan untuk berkunjung ke rumah mertuanya dia selalu di sambut hangat oleh keluarga jeon, nenek jeon yg tengah memberi makan ikan di akuarium di hampiri oleh faira.


"bisakah kau memijat kepalaku nek, kepalaku. sangat pusing" ucap manja faira pada nenek yg tengah duduk di kursi roda tersebut.


"tentu saja" ucap nenek itu sambil memegang tangan faira dengan erat.


fairapun duduk di lantai dengan menyandarkan kepalanya ke pangkuan nenek yg duduk di kursi roda tersebut. sambil mengelus rambut faira nenek itu sambil melihat foto pernikahan jeon dan faira yg di gantung di dinding tepat di hadapan faira.


"kalian tampak bahagia saat pernikahan itu, apa hubungan kalian baik2 saja akhir2 ini"tanya nenek jeon yg tangannya masih mengelus kepala faira.


"kenapa nenek bertanya seperti itu, kami baik2 saja" ucap faira sambil menutup matanya karna nyaman dengan pijatan sang nenek.


"nenek harap kalian saling memaafkan jika ada yg berbuat salah, jangan saling menyakiti, jika saling menyakiti sebaiknya berpisah, tidak bagus untuk mental kalian" ucap nenek jeon


faira terkejut namun hanya diam sesekali air matanya ingin keluar namun di tahannya.


"kenapa bicara nenek bicara seperti itu" batin faira


di tengah tengah keluarga itu sedang bersantai ibu jeon tengah memperhatikan kalender dan terlihat tersenyum antusias


"lusa ulang tahunnya jimmy lo" ibu jeon yg tadi melihat kalender perlahan menghampiri kami yg tengah duduk di sofa, ia duduk tepat di sebelah kanan faira sembari memangku sebuah bantal.


"sepertinya dia akan sibuk" ucap ayah jeon yg matanya tak berkedip melihat tv.

__ADS_1


"mungkin dia akan bersama teman-temannya berpesta, dia bilang dia sedang menyukai seseorang" ucap nenek jeon dengan tersenyum


"siapa yg sedang dekat dengan jimmy ya, apa kau tau fay?" tanya ibu jeon yg langsung menatap faira


"jimmy tidak pernah menceritakan apa pun tentang itu bu" ucap faira datar sambil mengemil camilan yg ada di pangkuannya.


"apa jeon belum pulang" tanya ayah jeon pada faira yg menghentikan pembahasan tentang jimmy.


"belum, mungkin masih banyak pekerjaan" faira kemudian berdiri ingin ke toilet, ia dengan pelan melewati orang tua jeon yg tengah duduk.


tak terasa hari semakin sore faira memutuskan untuk pulang dan berpamitan dengan keluarga jeon, keluarga jeon memberinya bekal satu tas penuh, faira sangat bahagia meskipun bukan keluarga kandung faira tapi mereka benar benar memperlakukan faira layaknya putri mereka.


keluarga jeon juga menjadi salah satu alasan faira tidak mau berpisah dari jeon, ia baru menemukan kehangatan keluarga namun langsung hancur oleh kenyataan pahit bahwa jeon hanya memperalatinya ia kurang puas dengan kebersamaan itu makanya faira melakukan banyak cara agar tetap bertahan dan mencari solusi lain nantinya tentang ia dan jeon.


"apa yg akan terjadi jika mereka mengetahui yg sebenarnya" batin faira sambil memeluk tas yang berisi makanan tersebut.


satu jam di perjalanan akhirnya faira sampai ke apartemennya, ia langsung memasukkan makanan yg di berikan ibu jeon ke kulkas dan masuk ke kamar berganti pakaian.


saat malam faira tidak bisa tidur ia hanya menatap ponselnya, sesekali ia merubah posisinya mencari kenyamanan agar bisa tertidur, namun ia selalu memikirkan apa yg nenek jeon katakan.


"apa yg nenek ucapkan memang benar, tapi yg salah haruslah meminta maaf, aku tidak ingin jika aku gegabah malah aku yg di salahkan dan di tuntut untuk minta maaf, aku tidak mau" faira bersikeras ingin membuat jeon menyadari kesalahannya dan mengakui sendiri kepada orang tuanya agar faira tidak di salahkan seandainya keluarga jeon mengetahui pernikahan mereka yg kacau dari awal, tentu saja faira berfikir tidak akan ada yg membela dirinya kecuali dirinya sendiri, jadi sebelum itu terjadi ia harus mempersiapkan dirinya dan harus berhasil membuat jeon berlutut padanya agar ia bisa pergi dengan kepala tegak.


esok harinya faira janjian ingin bertemu jimmy, ia merasa hanya jimmy yg punya pemikiran sama dengannya dan lebih nyaman jika berbicara dengan jimmy di bandingkan orang lain.


jimmy yg sedang duduk di samping faira di sebuah cafe mengangkat telpon seseorang faira yg mendengar percakapan jimmy pun hanya diam.


"ya, apa kau mau ikut" ajak jimmy sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"tidak bisa, aku akan bicara dengan jeon malam ini" faira menolak dengan senyum tipis di wajahnya.


"aku besok berulang tahun" ucap jimmy mendadak membuat faira menatapnya.


"kau mau apa" tanya faira lembut sembari memegang tangan jimmy.


"bisa kah kau memasak semur telur puyuh untukku" dengan wajah manja jimmy dengan sedikit mengangkat satu alisnya meminta pada faira


"tentu saja, akan ku buatkan satu wajan penuh" ucap faira sambil tertawa dan menggenggam tangan jimmy.


"padahal aku mau ngasih kejutan, tapi kamu udah request minta di masakin"


"kamu mau ngasih kejutan aku apa" tanya jimmy


"masakin makanan kesukaanmu terus di kirim ke tempatmu kerja"


"romantis ya kayaknya" seringai jimmy membuat faira tertawa.


/gak peka ni cewek/ batin jimmy

__ADS_1


di saat faira dan jimmy sedang bercanda tawa seseorang sedang memperhatikan mereka dari jauh, faira yg merasa di awasi melihat ke orang tersebut namun dia tidak melihat apapun, karna sudah sore faira pun ingin pulang yg di antar oleh jimmy.


"siapa gadis yg kau sukai" faira mendadak menanyakan itu pada jimmy yg tengah menyetir.


"a-apa" jawab jimmy gugup


"nenek bilang kau menyukai seseorang" tanya faira tanpa menatap jimmy ia hanya menatap jalanan.


"bukan siapa siapa" jimmy tersenyum malu.


"apa kau sudah mengajaknya berkencan" faira langsung memperhatikandengan sedikit memajukan wajahnya memperhatikan jimmy membuat jimmy tersenyum grogi


"belum, dia tidak akan mau" ucap jimmy sambil menatap faira sekilas yg memberikan kode bahwa wanita itu adalah faira.


"kau belum mencobanya tapi sudah menyerah" ucap faira yg tidak peka dan langsung kembali menatap jalanan.


jimmy hanya terdiam "jika aku mencobanya kau pasti akan menjauhiku" batin jimmy.


fairapun sampai di apartemennya ia akan bicara dengan jeon malam ini ia menelpon jeon namun tidak di angkat.


"kenapa dia tidak mengangkatnya apa dia tidak ingin mendengar kabar baik" ucap faira sambil memperhatikan ponselnya


faira menunggu sampai larut malam tapi jeon belum juga datang. tttiiiiiiiinnnnggg bel berbunyi, "bukankan dia tau sandinya" ucap faira yg mengira itu jeon sambil berjalan membuka ke arah pintu. baru saja membuka pintu seseorang langsung memeluk faira lemas seperti dalam keadaan mabuk.


"jimmy" ucap faira kaget ketika melihat jimmy yg benar2 tidak sadar.


"kenapa kalian mengantarnya kesini" tanya faira pada 2 orang pria yg tadi membopong jimmy.


"hanya alamat ini yg di berikan" ucap salah satu orang tersebut.


faira kebingungan dengan gerak gerik kedua orang tersebut namun dia enggan memikirkannya ia membopong jimmy ke kamar jeon dan menidurkannya di sana.


"astaga jimmy, kenapa kau minum sebanyak ini" ucap faira sambil melepaskan sepatu jimmy.


fairapun kembali menunggu jeon namun jeon tidak datang hingga larut malam fairapun tertidur semalaman di sofaa.


ttiiiinnnnnggg


suara bell apartemen berbunyi membangunkan faira dari tidurnya, faira yg setengah sadar melihat jam yg menunjukkan pukul 8, ketika membuka pintu ibu jeon dan ayah jeon datang dengan beberapa barang di kedua tangannya.


"kau baru bangun? ibu membawakan ini untuk jimmy" ibu jeon langsung masuk melewati faira yg berada di bibir pintu


"jimmy ?" tanya faira dengan mata melotot ia mendadak mengingat kalau jimmy ada di kamar jeon.


"iya, hari ini kan ulang tahunnya, ibu ke sini dulu karna ibu tidak tau alamat jimmy" ucap ibu jeon sambil tersenyum.


belum sempat faira mengatakan apa pun jimmy keluar dari kamar dengan wajah mengantuk dan dengan kemejanya yg sedikit terbuka. ibu dan ayah jeon yg melihat jimmy keluar dari kamar sontak saling menatap, mereka terdiam beberapa saat terlihat kebingungan dalam wajah mereka, selama ini faira dan jeon pura pura tidur bersama di kamar jeon ternyata faira tidur di kamar sebelahnya, tentu saja hal itu pasti akan membuat semua orang di situ curiga dan berpikir kenapa jimmy tidur di kamar utama saat sang tuan rumah tidak ada di rumah.

__ADS_1


faira benar2 ingin menjelaskan sesuatu namun ia bingung harus mulai mengatakan apa.


__ADS_2