The Battle Heart

The Battle Heart
depresi pasca melahirkan


__ADS_3

sudah satu bulan lebih faira di rumah sakit. bosan ? tentu saja. jeon benar2 mengurus faira dan anaknya dengan baik, namun faira bukan merasa nyaman ia malah tidak nyaman dengan adanya jeon dan orang tuanya meski kadang ia juga merasa terharu dengan sikap mereka, rasa kesal, kecewa selalu berada di hatinya terlebih saat ia melihat kebaikan jeon, bukannya terharu faira malah berpikir yg bukan bukan, ia berpikir jeon sedang berpura pura.


hatinya terkadang merasa senang dengan sikap jeon sekarang, tapi kadang ia juga sangat takut. "apa kau tulus, atau hanya kasihan karna aku telah melahirkan anakmu" batin faira sambil menangis menatap anaknya yg berada di box bayi.


saat masih dalam lamunannya anak faira yg pertama yg di beri nama zoan menangis faira dengan pelan mengangkat sang buah hati berusaha menenangkannya namun sang anak tak kunjung berhenti menangis zoan terus menangis sehingga sodara kembarnya yg berada di box juga ikut menangis faira benar2 kebingungan, setelah melahirkan ia benar2 tidak ada mengurus anaknya karna kondisinya jadi ia kurang paham bagaimana menangani anaknya. untunglah jeon datang setelah membayar biaya pengobatan faira


"jeon mereka nangis barengan aku gak tau kenapa" ucap faira panik sambil tersedu ikut menangis.


dengan cepat jeon langsung memeriksa anaknya dan bergegas membuatkan anaknya susu, dalam beberapa detik di pelukan jeon kedua anaknya langsung diam menghabiskan susu mereka.


"mereka lapar faira" ucap jeon pelan


faira menutup matanya dan memalingkan wajahnya ia merasa malu sebagai orang tua karna tidak bisa memahami anaknya bahkan saat anaknya lapar ia tidak paham, faira terus menangis di pojokan ruangan. namun jeon dengan sigap menghampirinya dan menenangkan faira. ia memeluk faira yg berdiri sambil menangis "tidak masalah, kau akan memahaminya nanti" jeon berusaha menenangkan faira sambil mengelus rambutnya.


"berhentilah menangis kita akan pulang hari ini" ucap jeon lagi melepas pelukannya dan mengelap pipi faira yg basah karna air mata.


jeon membantu faira bersiap tidak lama ibu jeon pun datang membantu mereka, hari ini mereka akan pulang ke indonesia faira sebenarnya dengan ragu ikut karna permintaan ibu dan ayah jeon yg ingin mengasuh anak anaknya setidaknya sampai anaknya lumayan besar dan faira sembuh total, mereka tidak memaksa faira kembali dengan jeon namun mereka hanya ingin kembali dekat dengan faira dan anak anaknya, tentang hubungan jeon dan faira hanya mereka yg bisa menentukannya.


mereka akhirnya tiba di negara mereka sendiri mobil mewah jeon pun berhenti di sebuah perumahan mewah yg berada di tengah kota


"kenapa kita di sini?" tanya faira heran melihat rumah besar yg berada di depannya


mereka hanya tersenyum dan masuk ke rumah dan langsung di bantu jimmy dan istrinya serta beberapa asisten rumah tangga dan dua wanita paruh baya yg memakai baju seragam menunjukkan kalau mereka adalah baby sitter. faira yg heran tetap mengikuti langkah jeon dan masuk kerumah yg mewah itu.


"ikut aku" ucap jeon sambil menarik faira ke lantai atas.


sesampainya di atas jeon langsung menunjukkan kamar faira yg berdekatan dengan kamar anaknya "ini kamarmu dan di sebelah kamar anak kita, apa kau suka?" tanya jeon sambil tersenyum "aku sudah menyiapkannya semenjak kau setuju untuk kembali" ucap jeon semangat namun faira hanya diam tidak menjawab apapun.


"apa kau tidak suka?" tanya jeon karna faira yg sedari tadi hanya diam


"apa kau ingin membeliku lagi dengan alasan anak" tiba tiba faira cetus pada jeon.


jeon hanya menggeleng mendekati faira perlahan menarik nafas panjang "aku menyesali apa yg telah aku perbuat padamu, apa yg aku lakukan aku tau tidak akan menyembuhkan lukamu, tapi rumah ini bukan maksud apa apa, rumah ini aku membelinya untukmu dan anakmu anggap saja sebagai tunjangan".


"kalau begitu kau tidak akan tinggal disini kan?" tanya faira tanpa menatap jeon


"untuk beberapa bulan kedepan aku akan disini menemani kalian sampai kau bisa mengurus semuanya sendiri, setelah itu aku akan pindah" jelas jeon ia beralasan menunggu faira bisa mengurus semua sendiri tapi itu juga adalah kesempatannya agar bisa membuat faira berubah pikiran dan perlahan menerimanya kembali, meski sebenarnya ia tidak tau hasilnya.


"tapi ingat setelah aku pergi dari sini jangan halangi aku bertemu zoan dan zein" ucap jeon sekali lagi dan di jawab faira dengan anggukan namun sedikit acuh.


beberapa hari setelahnya teman dekat jeon banyak yg berkunjung untuk menemui anaknya, faira dengan ramah menyambut mereka meski sebenarnya terasa tidak nyaman karna statusnya dan jeon yg sudah bercerai dan rumah yg di tempatinya sekarang adalah pemberian jeon sukarela bukanlah tunjangan, beberapa orang mungkin berpikir jika faira memanfaatkan anaknya untuk mendapatkan uang dari jeon, tapi untung jeon benar2 tidak mempublikasikan apapun ia hanya membenarkan jika ia punya anak dengan faira yg baru saja lahir.

__ADS_1


"sudahlah faira jangan berpikir terlalu jauh" faira menyangkal pemikirannya ia lalu pergi ke kamar anak2nya yg sedang bermain dengan pengasuhnya.


"suaranya sangat lucu ya" ucap seorang pengasuh setelah mendengar suara yg di keluarkan anak faira.


" bagaimana kedengarannya" sambar faira yg baru masuk ikut senang mengetahui anaknya mulai mengeluarkan suara yg menggemaskan meski bukan ia sendiri yg mendengarnya.


"ibu banyakin ngoceh sama anaknya bu nanti dia ketawa atau gak nyaut" ucap sang pengasuh


faira mencoba bicara dan berusaha membuat anaknya tertawa tapi anaknya tidak meresponnya kedua anaknya hanya diam sejenak mematung menatap mata faira.


"kenapa gak bisa bi" tanya faira sedikit kecewa


"gak papa kan baru nyoba bu, nanti sering2 main sama anaknya bu" ucap sang pengasuh


faira melamun sedih ia begitu kecewa dengan dirinya sendiri bagaimana bisa seorang ibu yg sudah mengandung dan melahirkan anaknya terasa tidak dekat dengan anaknya padahal mereka tinggal di satu atap. faira menyelasi dirinya yg koma berminggu minggu sehingga tidak bisa menyusui anaknya. "seandainya aku menyusui mereka, mungkin rasanya mereka tidak akan sejauh ini" batin faira


ia pun pergi dan kembali ke kamarnya lalu di susul jeon karna jeon melihat faira sambil menangis kembali ke kamarnya selepas dari kamar anaknya.


"faira ada apa?" mencoba bertanya pada faira yg duduk di sisi ranjang sambil menutup wajahnya.


karna faira tidak menjawab apapun jeon duduk di sebelah faira dan merangkulnya "kenapa, ceritakan saja jangan di pendam" sambil merapikan rambut faira yg menutupi wajahnya.


"siapa?" jeon mulai berekspresi bingung


"zoan dan zein, selalu menangis jika aku menggendongnya"


jeon tersenyum tipis ia menganggap faira sangat lucu dan manja, jeon tidak tau jika faira mungkin saja sedang mengalami baby blues yg rentan terjadi pada ibu yg baru melahirkan, akan berdampak buruk pada faira jika tidak di atasi.


"bukankah sekarang kondisimu mulai membaik, kau harus sering bersama anak anak agar kau paham dan belajar, lama kelamaan kau pasti bisa" jelas jeon perlahan sambil mengelus rambut faira.


faira hanya diam sambil mengusap pipinya yg basah dengan tisu. jeon pun pergi keluar karna orang tuanya sedang di luar faira pun berniat menyusul jeon keluar namun langkahnya terhenti saat melihat di ruang tengah tempat mereka berkumpul ada seorang perempuan yg tidak asing di mata faira ikut berbincang bersama jeon dan orang tuanya. wanita itu adalah jessy seorang designer yg lumayan dekat dengan keluarga jeon, dia juga lah yg mengenalkan clara pada jeon dulu.


"kedua anakmu benar2 mirip kamu jeon" ucap jessy sambil mengelus gemas pipi zoan dan zein yg tengah berbaring di sofa di samping neneknya.


"tentu saja" ucapnya singkat, sambil menatap kedua anaknya yg terbaring


"dimana ibunya?" tanya jessy


"sedang di atas di kamarnya" jawab jeon.


"dia di sini" mengerutkan dahinya terkejut

__ADS_1


"iya memang kenapa" tanya jeon heran


"apa kalian rujuk"


jeon hanya menggeleng memberikan jawaban.


"kalau tidak kenapa dia disini" ucap jessy yg langsung di bekap mulutnya oleh jeon.


jessy menangkis tangan jeon "kenapa jeon, jika kalian tidak kembali kenapa harus satu rumah" ucapnya sedikit berbisik, namun faira yg berada di balik ruangan mendengar pembicaraannya


"aku ingin merawat anak2ku" ucap jeon


"bawa aja anakmu ngapain harus maksa kumpul gini," ucap jessy membuat jeon dan kedua orang tuanya panik takut terdengar faira.


"udah diem aja kenapa sih kamu nih" jeon berdesis menyuruh jessy diam


mendengar ucapan jessy membuat faira kembali melamun, ia berpikir jessy benar jika mereka tidak rujuk tidak sepantasnya mereka satu rumah, meski dengan alasan merawat anaknya, faira melihat sekeliling rumah itu "lihatlah betapa tidak tau malunya aku ini tinggal disini" batin faira langsung berlari ke kamarnya, rasa malunya membuatnya menangis sejadi jadinya ia berpikir jalan keluarnya hanya menerima ajakan jeon untuk rujuk tapi hal itu benar2 ia takuti ia tidak ingin kembali dengan jeon karna luka lama, meski sebenarnya faira tau jika ia juga masih mencintai jeon.


di tengah malam faira belum juga tidur, ia juga tidak keluar kamar setelah mendengar apa yg di katakan jessy jeon dan orang tuanya sudah berulang kali masuk ke kamar meminta faira untuk makan malam namun faira tidak hanya diam membisu membuat jeon dan kedua orang tuanya semakin bingung.


"faira kok makin aneh sih jeon" tanya sang ibu pada jeon yg sedang memainkan ponselnya di sebuah sofaa.


"aku tidak tau bu, aku sering melihatnya menangis sendirian" menaruh ponselnya ke kantong celana.


"apa dia mengalami depresi?"


"depresi,? tapi kenapa" tanya jeon bingung


"itu sering terjadi pada wanita yg baru melahirkan, karna sakit yg ia rasa setelah melahirkan membuat hormonnya jadi berubah, dia akan sering berpikir yg macam macam"


"macam macam gimana?" jeon bingung


"aduh kamu baca di internet aja bingung mama jelasin"


jeon pun kembali meraih ponselnya dan menjelajah internet tentang itu.


"apa faira bakalan separah ini" gumam jeon sendiri. karna merasa panik jeon pun ke atas dan membuka perlahan kamar faira yg di takutinya benar saja faira menangis sendirian duduk di lantai sambil menatap kosong entah apa yg ada di pikiran faira jeon pun kebingungan.


"berhentilah seperti ini faira, apa yg kau tangisi" mengelus rambut faira. namun wanita yg menunduk itu hanya menangkis tangan jeon mengisyaratkan ia tidak suka jeon menyentuh kepalanya.


"beristirahatlah ini sudah sangat malam" ucap jeon lalu beranjak perlahan keluar, berharap faira bisa lebih tenang jika sendiri.

__ADS_1


__ADS_2